Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"lautan" poems
Untukmu Cinta Sejuta kata tercipta untukmu Segenap jiwa ku serahkan padamu Hingga akhir waktu ku sembahkan hanya untuk mu Meski tak kau terima Cinta dalam hati ku Terhempas begitu saja Bagai dari langit ku jatuh Ingin ku berenang di lautan Arungi samudera bersama ombak Desir pasir melagukan alunan daun Lambaian tangan untuk berselancar Indah cinta mengikat raga Satu aliran nadi di salam darah Mulut mengucap selalu kata cinta Hati pun akan selalu bahagia
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:53 AM UTC
Untukmu Cinta
tidak disadari, langit yang biru berubah menjadi warna oranye dan ungu muda. perpaduannya pun sangat indah, ditemani pula oleh kicauan burung yang sunyi. selang waktu berjalan, hati semakin berat, pena dan kertas, aku bertemu lagi denganmu. langit yang indah tiba tiba berteriak, seperti singa yang mengaung ditengah ladang. apakah mungkin, bahwa kita melihat langit yang sama? perbedaan waktu yang tidak masuk akal, ingin membuatku menguras air di lautan yang biru, yang menghalangi pertemuan kita. gila, bukan? aku berbicara kepada kertas putih, layaknya kertas ini adalah sahabatku, atau kuping yang selalu mendengar. tangisan hati pun terlalu keras, malam ini. langit yang indah, sekarang bersaturasi, menjadi warna abu abu yang gelap, jadi ini, toh. ini, yang dinamakan berbicara kepada kertas, saat air mata milik senja, turun dari langit.
0
Feb 20, 2019
Feb 20, 2019 at 8:15 AM UTC
air mata milik senja
***Jika kau tanya siapa aku Bagaimana harus kujawab?*** *Tiada hari tanpa kukenakan kedok tebal ini Menebar senyum, canda, berpesta Aku meraung sambil tertawa Riasan mata dan bibir dengan berbagai opsi warna Jangan! Jangan terlalu pucat juga jangan terlalu mencolok Nanti orang tidak senang Kau kan harus memuaskan setiap mata Jangan lupa pasang tameng itu tanggal demi tanggal Jika tak lalai kalungkan secercah pamor dan aga Bagaimana jika terlalu pucat? Ah ya orang  tidak suka Cakap nista kan menghardik Memekik Menghamun Siapa monyet abu kucam menjijikkan didepanku? Namun jika terlalu mencolok Jua hinaan berkunjung ada Biar ku beritahu Mereka tak suka kau lebih darinya Aku benci dunia Aku berantakan Kecurian Namaku hilang dimakan cacian Bagaikan karang tertutup berjebah rumput lautan Aku mahkota yang hilang Ah! Omong kosong semua! Enyah kau kepala cemar Umbi harus kembali didekat akar Aku berkenan rujuk atas jasadku Biar aku melalak tinggal abu Aku enggan gemang Aku punya Sembilan nyawa Jika kau tanya siapa aku Aku namaku Jangan berani-berani hina nama itu! Marcapada boleh berlimpah belang dan muka dua Aku  jijik serupa dengan dunia*
0
May 11, 2016
May 11, 2016 at 8:54 AM UTC
Jika Kau Tanya Siapa Aku
ia telah berusaha menjadi sesuatu yang berguna bagi orang-orang terdekatnya ia membasuh kepalanya yang penuh dengan keringat dan menuangkannya di sebuah mangkuk, dan ia menyuruh orang yang ia sayangi untuk meminumnya ia meminum air kebahagiaan, sebuah benda cair yang sangat ia tunggu. ia kembali pergi untuk melakukan tugasnya menemukan logika dan akal pikiran. ia akhirnya temukan di tengah lautan. ia lepaskan jangkarnya kedalam air. ia melompat dari perahu kecilnya, menyelam ke dalam lautan jiwa. dari jauh ia temukan sebuah cahaya kecil. cahaya tersebut tersenyum. ia yang bersemangat berenang semakin cepat. hingga akhirnya ia temukan logika dan akal pikirannya hanya sebuah…. cinta.
0
Mar 29, 2012
Mar 29, 2012 at 10:41 AM UTC
Selami Logika
kiranya semua cintaku yang tak terbantahkan ini tak luber, keluar dari hatiku ke lidahku yang busuk ini kiranya telingamu tak mendengar dan hatimu tak merasakan cinta ini kiranya aku bisa menyimpan ini sendirian, dalam tangisan nelangsa sebelum tidur yang mengoyak kepalaku kiranya lautan menelanku jika ada saat dimana kau mengerti semua yang kupendam dalam ini
0
Jul 13, 2016
Jul 13, 2016 at 1:53 PM UTC
kiranya
Tenggelam dalam riak nafasmu Bagai ombak bertalu-talu di tepian kalbu Terbuai oleh lantunan irama kehidupan Bersenandung dibalik kerangkeng iga Aku perahu di lautan luasmu Tanpa dermaga yang hendak ku tuju Hening malam tak kuasa membungkam Detak yang berteriak memuja semesta _______________________________ *Engulfed in the ripples of your breath Tides pulsing at the shorelines of soul Lulled by the chanting rhythm of life Strumming against the rib cage I am a boat in your vast ocean Without a harbor to go to The silence of night can't hold in the heartbeats that bellow praises to universe*
0
Jul 22, 2014
Jul 22, 2014 at 11:43 AM UTC
Perahu
bukan dentuman rasa yang membuat ini indah hatiku tidak berdegup kencang didekatmu perutku tidak melahirkan kupu-kupu dalam pelukanmu semuanya setenang lautan, kini meski orang bilang sepi sama dengan bosan tapi air beriak tanda tak dalam, sayang dan tak ada yang pergi jauh melewati arung jeram aku mencintaimu dalam kesunyian aku harap kau merasakan hal yang sama, juga
0
Feb 2, 2014
Feb 2, 2014 at 11:30 AM UTC
tenang
Pukul 02.30 Aku terdiam tanpa berbahasa Memikirkan sejuta hal yang seharusnya kulakukan Aku terbiasa bermimpi Namun kini aku tak mampu Pukul 02.30 Andai waktu adalah lomba Maka aku selalu kalah Lagi-lagi aku tidak dapat terpejam Pukul 02.30 Aku dan semua lamunanku Terhenti sejenak oleh suara dengkuran disebelahku atau mungkin suara angin sejuk dari mesin diatasku Pukul 02.30 Aku ingin berlari ke dalam lautan Menantang ombak berderu kencang Lalu terhempas oleh bayang-bayang Pukul 02.30 Aku berurai air mata Berusaha mengartikan rasa Pencarian yang tak berujung Pukul 02.30 Katanya Tuhan itu Mahakuasa Maka aku percaya jawaban itu ada Dan kupejamkan mataku Harap semua ini sirna -wonderwall-
0
Aug 12, 2019
Aug 12, 2019 at 3:53 PM UTC
Pukul 02.30
habisnya seluruh suara lenyap ditelan Samudra bersembunyi di ujung lidahku satu lautan cinta untuk kamu ngga akan aku ucapkan kamu ngga perlu tau
0
Mar 21, 2016
Mar 21, 2016 at 7:02 AM UTC
Rahasia
aku tenggelam di dalam lautan kenangan indah masa lalu yang sangat sangat pahit untuk diingat kirim aku sebuah sampan agar kubisa mendayung ke seberang sana dan berlabuh bersamamu
0
Aug 2, 2014
Aug 2, 2014 at 9:45 AM UTC
kapal selam
bahawasanya semua binasa angkara nafsu tinggal sisa-sisa hayat angkasa dan masa semakin jauh meninggalkan manusia dengan angka dengan strata hikayat termaktub bermaharajalela.
0
Sep 13, 2018
Sep 13, 2018 at 7:24 PM UTC
Bintang Gering di Lautan
Aku mengejarmu ke tempat bayanganmu pernah singgah Mencari suaramu di tengah hiruk pikuk kota yang tak pernah tidur Sepi menoreh di tengah keramaian Ketika orang mabuk oleh ilusi, Aku sadar akan ketiadaan Ketika mereka tenggelam dalam lautan cahaya, Aku pudar dalam kelamnya sunyi Mengejarmu ke kota yang telah kau tinggalkan ------- I'm chasing you to the place your shadow once alighted Finding your voice in the midst of cacophony of the city that never sleeps Solitude incised through the crowd People are drunk with illusion Alone I am aware of the void They are drowned in a sea of lights I am fading inside the leaden silence Chasing you to the place you've left behind
0
Jul 22, 2014
Jul 22, 2014 at 11:42 AM UTC
Solivagus
Sepucuk surat berisi tentang mu Kalimat - Kalimat yang kususun Surat cinta untuk mu Yang lama kupendam Terlahirnya dirimu di dunia ini Diantara milyaran manusia Hatiku menemukan mu Kubuat sebuah perahu kertas, berlayar kepada mu Berlayar membawa kata-kata indah Mengarungi lautan berombak Menjaga surat cinta Untuk berlabuh di hatimu Tiada halangan bagiku Untuk mencintaimu Mimpi - Mimpiku, duniaku Melewati lautan, untuk dirimu.
0
Dec 15, 2017
Dec 15, 2017 at 8:29 AM UTC
Perahu Kertas II.
Dirimu bagaikan api yang membara Panas jika disentuh sembarang, Tapi indah jika aku menatapnya dengan benar. Dirimu bagaikan lautan yang luas Tenggelam jika tidak berhati-hati, Tapi bisa membuatku menghargai keindahanya. Bagiku dirimu adalah keindahan Tapi bagimu diriku hanyalah sepotong cerita masa lalu.
0
Jun 23, 2018
Jun 23, 2018 at 1:14 PM UTC
Keindahan Sendiri
Dalam lembut cahaya hidup yang temaram, Dengan yang tercinta di dekat, hati tetap bimbang. Di balik senyum, ada kehampaan, Saat malam tiba, menyelimuti kesunyian, Engkau berdiri sendiri dalam kesulitan, Jiwa terombang-ambing di lautan kehidupan. Di ruang riuh, sulit memeluk percaya, Seribu wajah, namun jiwa tetap waspada. Pada akhirnya, hanya dirimu, Yang menanggung langit biru. Dalam kesendirian, kita belajar menangis, Karena kesepian tak pernah habis.
0
Aug 18, 2024
Aug 18, 2024 at 10:55 PM UTC
Kesepian Sendirian
Kamu; Perempuan cantik yang terdiam diantara langit dan segala keindahanya, tersenyum sendiri saat melihat luasnya lautan selat jawa diatas kapal yang membawamu ke Jakarta. Aku; Laki-laki biasa yang terdiam diantara bukit-bukit kecil di gelapnya malam ini, tersenyum sendiri saat melihat gemerlap lampu-lampu kecil tersebar dibawahnya. Kita; Terpisah beribu-ribu kilometer diantara laut dan bukit di negara ini, tersenyum sendiri saat merasakan hal yang sama. Bercinta tanpa harus mengeluarkan kata.
0
Jun 11, 2019
Jun 11, 2019 at 9:05 AM UTC
Aku; Kamu; Kita.
Sahabatku selalu bilang, hidup adalah sebuah gedung yang ditempa oleh mimpi. Mimpi adalah pilar terkuat untuk hidup. Struktur gedung sahabatku sangat apik bagai dirancang oleh arsitek terkemuka, setiap sudutnya dikalkulasi dengan baik, interior gedung tertata dalam estetika yang berkelas. Setiap lantai gedung itu, memiliki cerita mimpi yang berbeda. Namun, gedung milik sahabatku tak pernah lepas dari sebuah warna cat yang ia sebut sebagai motivasi. Nama gedung sahabatku adalah Kebahagiaan. Sehari-hari gedung itu dipenuhi tawa dan senyum tiap orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Tak jarang gedung itu mendapati kunjungan oleh Mimpi Yang Terkabul yang membikin gedung itu makin meriah dibuatnya. Sahabatku selalu memberiku petuah bagaimana cara merawat gedungku, hidupku, dengan memiliki mimpi yang harus kuraih, meskipun jauhnya di ujung lautan sana, dan tetap harus ku kejar walaupun kemampuanku hanya sebatas merangkak. Ketika ia bicara tentang pilar, ia tak tahu aku tak ingin punya gedung. Kematian berbicara bagai gedung yang direnggut dari eksistensi. Dirubuhkan fisiknya. Dihancurkan. Namun, aku tak ingin punya gedung. Aku tak ingin ada di dalam lanskap kehidupan yang rumit ini. Skenario merawat, menjaga, dan mengasihi sebuah gedung membuatku bingung dan pusing. Gedungku bahkan tak bisa dibilang gedung, hanya empat tembok kumuh yang lebih cocok disebut kandang. Aku tak punya pilar, hanya ada empat onggok tiang bambu yang perlahan dimakan rayap. Lantainya bukan dari marmer, tapi tanah becek yang bau ketika dicium hujan, tidak ada orang tertawa atau tersenyum di dalam gedungku, hanya ada aku dan rasa lapar yang berteriak sampai telingaku lelah. Lantas, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak pernah nyenyak dan disambut kegelapan, tanpa gedungku, tanpa ocehan sahabatku yang berkata sembari menutup mata dari kenyataan yang ku alami, aku bernapas lega. Dalam incognito yang ku peroleh, aku merasa tenang. Terombang-ambing di tengah ada dan tiada. Menyatu dengan hitam, bersaru dengan putih. Aku tersenyum dan perlahan berterima kasih kepada Tuhan yang akhirnya memahami bahwa aku tak punya mimpi, selain menjadi tidak ada. Namun, hatiku mencelos ketika Tuhan berbisik dengan lirih, bahwa aku hanya punya batas waktu hingga empat puluh delapan jam sebelum kembali pada kehidupan yang rumit. “Tuhan,” kataku, “untuk apa aku ada, ketika orang-orang sibuk dengan gedung, sementara yang ku punya hanya seonggok bilik?”
0
Jun 23, 2020
Jun 23, 2020 at 10:03 AM UTC
Gedung
Sahabatku selalu bilang, hidup adalah sebuah gedung yang ditempa oleh mimpi. Mimpi adalah pilar terkuat untuk hidup. Struktur gedung sahabatku sangat apik bagai dirancang oleh arsitek terkemuka, setiap sudutnya dikalkulasi dengan baik, interior gedung tertata dalam estetika yang berkelas. Setiap lantai gedung itu, memiliki cerita mimpi yang berbeda. Namun, gedung milik sahabatku tak pernah lepas dari sebuah warna cat yang ia sebut sebagai motivasi. Nama gedung sahabatku adalah Kebahagiaan. Sehari-hari gedung itu dipenuhi tawa dan senyum tiap orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Tak jarang gedung itu mendapati kunjungan oleh Mimpi Yang Terkabul yang membikin gedung itu makin meriah dibuatnya. Sahabatku selalu memberiku petuah bagaimana cara merawat gedungku, hidupku, dengan memiliki mimpi yang harus kuraih, meskipun jauhnya di ujung lautan sana, dan tetap harus ku kejar walaupun kemampuanku hanya sebatas merangkak. Ketika ia bicara tentang pilar, ia tak tahu aku tak ingin punya gedung. Kematian berbicara bagai gedung yang direnggut dari eksistensi. Dirubuhkan fisiknya. Dihancurkan. Namun, aku tak ingin punya gedung. Aku tak ingin ada di dalam lanskap kehidupan yang rumit ini. Skenario merawat, menjaga, dan mengasihi sebuah gedung membuatku bingung dan pusing. Gedungku bahkan tak bisa dibilang gedung, hanya empat tembok kumuh yang lebih cocok disebut kandang. Aku tak punya pilar, hanya ada empat onggok tiang bambu yang perlahan dimakan rayap. Lantainya bukan dari marmer, tapi tanah becek yang bau ketika dicium hujan, tidak ada orang tertawa atau tersenyum di dalam gedungku, hanya ada aku dan rasa lapar yang berteriak sampai telingaku lelah. Lantas, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak pernah nyenyak dan disambut kegelapan, tanpa gedungku, tanpa ocehan sahabatku yang berkata sembari menutup mata dari kenyataan yang ku alami, aku bernapas lega. Dalam incognito yang ku peroleh, aku merasa tenang. Terombang-ambing di tengah ada dan tiada. Menyatu dengan hitam, bersaru dengan putih. Aku tersenyum dan perlahan berterima kasih kepada Tuhan yang akhirnya memahami bahwa aku tak punya mimpi, selain menjadi tidak ada. Namun, hatiku mencelos ketika Tuhan berbisik dengan lirih, bahwa aku hanya punya batas waktu hingga empat puluh delapan jam sebelum kembali pada kehidupan yang rumit. “Tuhan,” kataku, “untuk apa aku ada, ketika orang-orang sibuk dengan gedung, sementara yang ku punya hanya seonggok bilik?”
Continue reading...
11
cintaku yang dalam melebihi dalamnya lautan,, selalu merindumu sampai jantungku tak mampu berdetak lagi:)
0
May 15, 2013
May 15, 2013 at 4:47 AM UTC
cintaku yang dalam
Seorang lelaki Pemilik pabrik gula Jatuh miskin malam ini Penyebabnya; ia terlalu sering menyuguhkan lautan gula
0
Apr 12, 2020
Apr 12, 2020 at 8:00 AM UTC
Bangkrut
Ahh, judul... Kuliat ia akhir-akhir ini begitu menyebalkan Begitu merangah, berusaha mencolok Aku tidak yakin dia melakukannya dengan tidak sadar Aku tahu dia menginginkan sesuatu Kuasa! Aha, itu sudah pasti kuasa Kuliat ia begitu sombong hanya karena posisinya yang sedikit diatas Memandang rendah kata-kata serumpun yang ada di bawahnya Acuh melihat titik dan koma yang baginya tak ada apa-apanya Hanya karena font yang sedikit tebal dan size yang agak besar Membuat masyarakat kata memilihnya untuk mewakili suara mereka Pun merasa tak sebanding dengan apa yang dimiliki ‘Si Congkak’ itu Kata merasa rendah, titik koma tak berdaya Dan mereka... Kalah atas kedaulatannya sendiri Padahal judul hanya tak sadar Bahwa kuasa yang dimilikinya itu bukan karena dirinya sendiri Ia lahir karena keresahan kata Yang terombang-ambing bagai kapal di ganasnya lautan Menggantung bagai kepompong, terpenjara dalam ketidaksempurnaan Melayang-layang bak daun jatuh ditiup angin, tak tentu arah Mendambakan hidup yang bahagia dan tenteram untuk merdeka Karena ketakutan kata-lah Judul hadir sebagai jawaban Agar kata dilirik pembaca Agar kata digunakan dalam ruang diskusi Agar kata hidup dalam kepala Mengakar kokoh dan menjadi abadi Judul adalah cerminan pemimpin di negeri ini Seperti kacang yang acuh pada kulit, lupa diri Bahwa dirinya ada untuk mendengar keresahan Bukannya malah menjadi dalang kerusuhan Bahwa dirinya ada untuk mengerti suara yang dimarjinalkan Bukannya malah membuang muka, lalu lantas pergi meninggalkan Lihatlah ibu yang telah melahirkan Yang terpinggirkan mengandung harapan Yang menanti dengan merapal doa disetiap malam Anak baik jadilah baik Wahai kalian yang duduk manis di kursi tahta Bangkitlah! Kata-kata dan rakyat jelata yang dipandang sebelah mata Mendengarlah! Wahai judul "Si Congkak" juga para pemimpin negeri yang berlagak sok kuasa
0
Feb 27, 2021
Feb 27, 2021 at 11:55 AM UTC
JUDULNYA ADALAH JUDUL
Ahh, judul... Kuliat ia akhir-akhir ini begitu menyebalkan Begitu merangah, berusaha mencolok Aku tidak yakin dia melakukannya dengan tidak sadar Aku tahu dia menginginkan sesuatu Kuasa! Aha, itu sudah pasti kuasa Kuliat ia begitu sombong hanya karena posisinya yang sedikit diatas Memandang rendah kata-kata serumpun yang ada di bawahnya Acuh melihat titik dan koma yang baginya tak ada apa-apanya Hanya karena font yang sedikit tebal dan size yang agak besar Membuat masyarakat kata memilihnya untuk mewakili suara mereka Pun merasa tak sebanding dengan apa yang dimiliki ‘Si Congkak’ itu Kata merasa rendah, titik koma tak berdaya Dan mereka... Kalah atas kedaulatannya sendiri Padahal judul hanya tak sadar Bahwa kuasa yang dimilikinya itu bukan karena dirinya sendiri Ia lahir karena keresahan kata Yang terombang-ambing bagai kapal di ganasnya lautan Menggantung bagai kepompong, terpenjara dalam ketidaksempurnaan Melayang-layang bak daun jatuh ditiup angin, tak tentu arah Mendambakan hidup yang bahagia dan tenteram untuk merdeka Karena ketakutan kata-lah Judul hadir sebagai jawaban Agar kata dilirik pembaca Agar kata digunakan dalam ruang diskusi Agar kata hidup dalam kepala Mengakar kokoh dan menjadi abadi Judul adalah cerminan pemimpin di negeri ini Seperti kacang yang acuh pada kulit, lupa diri Bahwa dirinya ada untuk mendengar keresahan Bukannya malah menjadi dalang kerusuhan Bahwa dirinya ada untuk mengerti suara yang dimarjinalkan Bukannya malah membuang muka, lalu lantas pergi meninggalkan Lihatlah ibu yang telah melahirkan Yang terpinggirkan mengandung harapan Yang menanti dengan merapal doa disetiap malam Anak baik jadilah baik Wahai kalian yang duduk manis di kursi tahta Bangkitlah! Kata-kata dan rakyat jelata yang dipandang sebelah mata Mendengarlah! Wahai judul "Si Congkak" juga para pemimpin negeri yang berlagak sok kuasa
Continue reading...
43
Apa yang terjadi ketika minyak tanah bertemu api? Kebakaran. Itulah yang terjadi pada kami Saling menghabisi sampai terlalu sering. Tapi terkutuklah! Tiada habis-habisnya sumber daya kami, mungkin baru habis kala reyot nanti!/ ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Saat-saat kami melebur menghasilkan bunga api yang berkobaran— saling mengadu tinggi lidah api, hingga disembur air mata dari mulut sang jawara, itu lebih berharga dalam sarekat ini dibandingkan bercokol bagai sahaya di kelas./ Sungguh absurd. Sepertinya kami harus jauh-jauh dari lahan gambut, biar tak ada lagi karhutla bersengkarut. Sebab Lautan pun membara dekat-dekat kami./ Tapi Jangan serius-serius betul lah Kami lucu benar, percayalah. Kami lebih suka berkelakar, daripada diciduk karena jadi makar. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ #ReformasiDikorupsi
0
Sep 27, 2019
Sep 27, 2019 at 9:23 PM UTC
#ReformasiDikorupsi
Andaikan aku dirimu Akan kulangkahkan kakiku keluar pintu Melayang seringan bunga kertas Kan kupenuhi hari-harimu dengan warna indahku Andaikan aku dirimu Akan kujelajahi setiap sudut kota Kutelisik namamu di papan-papan pengumuman Kucari wajahmu dalam setiap poster iklan Kan kuceritakan padamu hargamu bagiku Sambil mengantarmu pulang ke rumah Andaikan aku dirimu Aku akan berkawan dengan malam Kutangisi bintang-bintang jauh yang berpendar lemah Kemudian kupeluk rembulan dengan erat Kurayu agar ia mau menyinari jendela kamarmu Dan sinar lembut sewarna perak menerpa wajahmu Indah menemani kau yang terlelap Andaikan aku dirimu Jikalau nanti kau tak melihat diriku Aku sedang mencari pulau yang tak dikelilingi air Biar kuisi dengan lautan kembang api Agar kau menyaksikan letupan-letupan rindu penuh warna Merasakan jarak indah yang menyiksa
0
Jan 31, 2018
Jan 31, 2018 at 10:21 AM UTC
Teori Galaksi
Semalam aku melihat harimau Harimau kalut Gugup menyeberangi lautan kembang api Hari ini aku melihatmu Membawa angan Melangkahkan kakimu ke dalam mimpiku Semalam aku melihat bidadari Tersenyum manis Melambungkan angan ke khayangan Hari ini aku menimbang hati Lebih berat Karena ia terbelah dua Semalam aku merangkai kata Puisi manis Untuknya gulali arum manis Hari ini musim berganti Angin bertiup Menyapu namamu yang tersangkut dalam hatiku
0
Feb 5, 2018
Feb 5, 2018 at 1:22 PM UTC
Melepas Bidadari
Aku ingin bertemu tuhan dengan tubuh kering berkafan Bukan sebagai bangkai terurai Di rumahku yang kini lautan
0
May 4, 2020
May 4, 2020 at 4:12 AM UTC
Matiku
Mulai mengelilingi lautan pagi ini Berusaha menjernihkan pikiran Mencoba mengumpulkan akal sehat Sembari menemani nelayan berlayar Membayangkan beberapa hal menarik Bersamamu Berlayar bersama Hingga petang lalu menikmati beberapa lauk pauk disamping lautan Berulang kali mengurungkan impian Demi kenyataan Yang membungkam ekspetasi Hanya perjalanan waktu yang dapat menjawab semua Sembari merenungkan cara agar kau dapat disampingku kembali
0
Jul 2, 2019
Jul 2, 2019 at 6:41 AM UTC
Segenap Harapan.