Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"lantas" poems
Palembang, 16 Maret 2013 Serasa aku kembali ke masa lalu Membaca pesanmu, dan menerka bentuk wajahmu Kamu kembali lagi Menyirami kebun senyumku yang mekar kini Membuatku ingin terus terjaga Tuk menunggu pesan darimu lagi Kini aku di sini lagi Mengagumimu, untuk alasan yang tak pasti Membanggakanmu, betapa kau peduli padaku Aku hanya bayangan bagimu Kamu hanya bayangan bagiku Interaksi yang membuat kita jadi nyata Aku mencintaimu, untuk alasan yang tak masuk akal Aku sungguh mencintaimu, melebihi rasa yang kau berikan padaku Aku sangat mencintaimu, namun ku tak berharap memilikimu Aku mencintaimu, seperti dia mencintaimu Dulu aku masih lugu Menyatakan cinta padamu Dan kau menertawakanku hahahaha Aku pun juga begitu Lantas aku merasa malu, Aku memutuskan komunikasi denganmu Mencoba tuk berhenti mencintaimu Berhenti mengagumimu Ya, meski hanya beberapa bulan Aku tak sanggup lama-lama mengacuhkanmu "Thanks, we're friends again." Itu kata pertama yang kamu ucapkan padaku Setelah aku memutuskan untuk kembali mengagumimu Mencintaimu adalah hal yang selalu membuatku rindu Aku selalu malu jika mendapatkan pesan darimu Aku takut selalu salah jika membalas pesanmu Tapi ku coba apa adanya dihadapanmu Terima kasih kamu mau menjadi temanku Andai aku bisa mengerti perasaan ini Aku ingin sekali saja mencintaimu, yaitu kali ini Aku tak ingin berlama-lama mengagumimu Itu hanya akan membawa dukaku di kemudian hari Aku beruntung bisa mencintai orang sepertimu Kamu tahu? Tak sedetikpun aku tidak memikirkan kamu Andai aku bisa mengerti perasaan ini
0
Mar 16, 2013
Mar 16, 2013 at 2:58 AM UTC
Andai Aku Bisa Mengerti Perasaan Ini
Palembang, 16 Maret 2013 Serasa aku kembali ke masa lalu Membaca pesanmu, dan menerka bentuk wajahmu Kamu kembali lagi Menyirami kebun senyumku yang mekar kini Membuatku ingin terus terjaga Tuk menunggu pesan darimu lagi Kini aku di sini lagi Mengagumimu, untuk alasan yang tak pasti Membanggakanmu, betapa kau peduli padaku Aku hanya bayangan bagimu Kamu hanya bayangan bagiku Interaksi yang membuat kita jadi nyata Aku mencintaimu, untuk alasan yang tak masuk akal Aku sungguh mencintaimu, melebihi rasa yang kau berikan padaku Aku sangat mencintaimu, namun ku tak berharap memilikimu Aku mencintaimu, seperti dia mencintaimu Dulu aku masih lugu Menyatakan cinta padamu Dan kau menertawakanku hahahaha Aku pun juga begitu Lantas aku merasa malu, Aku memutuskan komunikasi denganmu Mencoba tuk berhenti mencintaimu Berhenti mengagumimu Ya, meski hanya beberapa bulan Aku tak sanggup lama-lama mengacuhkanmu "Thanks, we're friends again." Itu kata pertama yang kamu ucapkan padaku Setelah aku memutuskan untuk kembali mengagumimu Mencintaimu adalah hal yang selalu membuatku rindu Aku selalu malu jika mendapatkan pesan darimu Aku takut selalu salah jika membalas pesanmu Tapi ku coba apa adanya dihadapanmu Terima kasih kamu mau menjadi temanku Andai aku bisa mengerti perasaan ini Aku ingin sekali saja mencintaimu, yaitu kali ini Aku tak ingin berlama-lama mengagumimu Itu hanya akan membawa dukaku di kemudian hari Aku beruntung bisa mencintai orang sepertimu Kamu tahu? Tak sedetikpun aku tidak memikirkan kamu Andai aku bisa mengerti perasaan ini
Continue reading...
47
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
0
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 3:15 AM UTC
Hujan Pembawa Rindu
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
Continue reading...
29
Mereka hanya terduduk di lantai berlumut Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka Bekas-bekas kekalahan Tidak berucap akan siapa yang mati Dan siapa yang berhak hidup Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati Yang disayangi sudah tiada Mereka jadi menyesal Pergi jauh tak kunjung balik Mendadak ditatapnya sebuah sumur Tempatnya menimba air dahulu Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup Di atasnya. Hantu-hantu wanita sejak dahulu Kekal bersolek di atas sumur Meskipun telah mengering airnya Dan pantulan mereka fana adanya. Mereka hanya terduduk di lantai berlumut Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka Bekas-bekas kekalahan Tidak berucap akan siapa yang mati Dan siapa yang berhak hidup Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati Yang disayangi sudah tiada Mereka jadi menyesal Pergi jauh tak kunjung balik Mendadak ditatapnya sebuah sumur Tempatnya menimba air dahulu Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup Di atasnya. Hantu-hantu wanita sejak dahulu Kekal bercermin di atas sumur Meskipun telah mengering airnya. Konon karena mereka menyukai Kehangatan yang dirasakan Dari dalam rumah senyap kala ada kehidupan Sesederhana bagaimana mereka tak lagi Dapat hidup Lantas mengapa lepas mereka pergi Tak dijaga kekekalannya dari serentetan ledakan pilu dan kepulan asa? Hantu-hantu cuma pembohong Pelindung tak berdaya Mereka menghargai bising dan jerit tangis Itulah alasan mereka Terus tinggal dan bersolek Menunggu sakit dalam sakit Karena air matalah yang sebenarnya menjaga agar dasar sumur tetap terisi Agar mereka dapat bercermin Agar kekal bayang mereka Air mata, menggenang bersama darah Bukan mata air yang merasuk dari qalbunya." Jadi dipanggillah Segenap jiwa gugup gelisah itu Dalam kesunyian dan sesal mereka Hantu-hantu wanita Kembali besolek di atas sumur Mereka melompat, Untuk lebur Dalam ketiadaan. Menyusulmu Mencarimu.
0
Jun 23, 2016
Jun 23, 2016 at 8:21 AM UTC
Aku Melihat Anak-Anakmu Kembali dari Perang
Mereka hanya terduduk di lantai berlumut Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka Bekas-bekas kekalahan Tidak berucap akan siapa yang mati Dan siapa yang berhak hidup Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati Yang disayangi sudah tiada Mereka jadi menyesal Pergi jauh tak kunjung balik Mendadak ditatapnya sebuah sumur Tempatnya menimba air dahulu Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup Di atasnya. Hantu-hantu wanita sejak dahulu Kekal bersolek di atas sumur Meskipun telah mengering airnya Dan pantulan mereka fana adanya. Mereka hanya terduduk di lantai berlumut Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka Bekas-bekas kekalahan Tidak berucap akan siapa yang mati Dan siapa yang berhak hidup Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati Yang disayangi sudah tiada Mereka jadi menyesal Pergi jauh tak kunjung balik Mendadak ditatapnya sebuah sumur Tempatnya menimba air dahulu Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup Di atasnya. Hantu-hantu wanita sejak dahulu Kekal bercermin di atas sumur Meskipun telah mengering airnya. Konon karena mereka menyukai Kehangatan yang dirasakan Dari dalam rumah senyap kala ada kehidupan Sesederhana bagaimana mereka tak lagi Dapat hidup Lantas mengapa lepas mereka pergi Tak dijaga kekekalannya dari serentetan ledakan pilu dan kepulan asa? Hantu-hantu cuma pembohong Pelindung tak berdaya Mereka menghargai bising dan jerit tangis Itulah alasan mereka Terus tinggal dan bersolek Menunggu sakit dalam sakit Karena air matalah yang sebenarnya menjaga agar dasar sumur tetap terisi Agar mereka dapat bercermin Agar kekal bayang mereka Air mata, menggenang bersama darah Bukan mata air yang merasuk dari qalbunya." Jadi dipanggillah Segenap jiwa gugup gelisah itu Dalam kesunyian dan sesal mereka Hantu-hantu wanita Kembali besolek di atas sumur Mereka melompat, Untuk lebur Dalam ketiadaan. Menyusulmu Mencarimu.
Continue reading...
67
Orang-orang bilang Burung hanya datang untuk bernyanyi, Membangunkan setiap jiwa dan menghancurkan alam mimpi, Tapi bagiku Nyanyian burung menandakan kebahagiaan tersendiri, Mereka datang untuk menyambut pagi, Bukan sebagai alarm alami, Bukan juga untuk menghancurkan alam mimpi, Tapi untuk menyambut pagi, Memanggil mentari Cahaya pun datang menyingsing Senyum mentari lantas menari-nari, Menghiasi langit bumi, Secercah senyum penuh cinta tiba mengawali, Ada sebuah lembaran baru yang menanti kami, Yaitu hari ini. s.g.
0
Oct 13, 2013
Oct 13, 2013 at 5:05 AM UTC
Hari Ini
Upaya faal semesta Beginilah adanya Insan di dalamnya Begitulah hadirnya Katamu semesta tiada pernah salah Dan aku percaya padamu, pada semesta Bahkan ketika waktu terus pergi Dunia lantas berevolusi Kalakian musim bersilih Keyakinanku padamu tak lantas lenyap Lain halnya dengan waktu, dunia, musim, dan cinta Katakan Kau dan aku, apa kita pernah mengkhianati buana? Sehingga menjadi kami adalah kesulitan berarti Arkian, cinta ubah wujudnya jadi bersyarat Insan, iman, susila, keharusan Sedang cinta terlampau luas layak angkasa Semesta tak salah, aku percaya Begitu juga cinta
0
Nov 10, 2018
Nov 10, 2018 at 8:26 AM UTC
Saya Asing Bagimu.
Aku mengingatmu di sela waktuku bertualang di setiap spasi dalam kalimat 'kita' aku mengingatmu. Kau buatku menetap tanpa alasan. Lantas pergilah aku bertualang; pergi terbang ingin kau tau kau tidak mengekang ingin kau tau aku bisa, kapan saja, terbang. Tapi di setiap kepakan sayap, aku merindu. Di labuhanku yang berganti-ganti, aku menemukanmu. Duduklah kau rapih, sambut ku yang selalu pulang.
0
Jun 24, 2015
Jun 24, 2015 at 4:13 AM UTC
Terbang Lalu Pulang
melihat kamu meluru laju dan melambai biarpun jauh, hatimu aku baca lantas aku bilang maaf pantas dan cepat aku meluah jelas setiap rasa aku khabarkan sayangku, hakikat dunia tiada siapa mahu sunyi namun aku harus gagahi jua rasa ini andai ada hari kita tidak bersua seperti ini lagi dalam tidur aku sentiasa ku rasa dakapmu dan dalam setiap hariku, sentiasa indah dengan wujud imaginasi aku tentang kamu sayang, bukan kah amaran dunia pada kita sudah jelas? tentang rindu yang tak bersahutan cerita perasan yang sentiasa dan selamanya tak pasti dan sentiasa aku pinta kamu untuk terus percaya aku lalu lembut tanganmu menyapa aku meminta aku berhenti entah kenapa dalam diam dan biacaraku berhenti aku rasa nyaman dalam dakapmu mungkin ada pekara yang patutnya aku diamkan --mungkin ragu aku adalah sama resah hatinya mungkin. ? -f 1030pm oct 2nd
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 10:08 AM UTC
keliru
indah nyaman yang menyapa buat kamu tenang lantas kau tersenyum indah terukir anugerah Tuhan yang satu ini syukur aku punyai kamu yang menyenangkan sentiasa genggam lah hati ini sematlah cinta dan kasih
0
Feb 6, 2017
Feb 6, 2017 at 10:30 AM UTC
Untitled
Bahkan hembusan angin berbahana Dua tiga pasang jiwa bercakap Tertawa pun berteriak Bila mata terpejam tenangnya Alam tak lagi bisu Kau dan aku Mengunci tatapan dan suara Kita adalah bisu Diam dalam kesunyian yang kekal Debaran jantung berdetak sepi Jangankan seulas senyum Mata saja enggan berbicara Lantas satu di antara kita akan sadar Diam juga bagian dari percakapan yang tidak berujung.
0
Jun 1, 2018
Jun 1, 2018 at 12:43 AM UTC
Deru Hati yang Telah Usai
ingin punya teman, tapi kadang menyebalkan ingin ditemani, tapi sering menjauhi. ingin jadi diri sendiri, tapi mayoritas memandangnya jijik. lantas ia menjadi banyak elemen mencoba cocok pada semua hal memaksakan diri untuk pantas tapi tetap saja, lihat saja ikan dan sapi sama sama milik sang empuNya sama sama Rabb yang menciptakan sama sama Ia yang memberi ruh ikan diletakan di daratan rumput sapi diletakan di laut lepas bagaimana ? mau seruwet apa kamu mengatur jika memang tidak pantas yasudah cari yang disuruhNya pantas untukmu toh, kualitas lebih diminati daripada kuantitas. itu kalo aku gak tau kalo kamu.
0
Dec 7, 2018
Dec 7, 2018 at 9:22 AM UTC
siapa ?
Kau membuatku bingung Raja. Sebentar bersikap sehangat matahari pagi, sebentar sedingin tiga perempat malam. Kau membuatku bimbang Raja. Aku tak tahu harus bersikap bagaimana. Aku sudah bertanya pada jalan yang setia menyaksikan kau mengantarku pulang. Mereka diam. Aku semakin gelisah. Karena bahkan jika jalan yang setia diam jika kutanya, bagaimana mungkin kau punya jawaban Raja? Hatimu tak lebih teguh dari daun yang tertiup jatuh. Lantas aku harus bagaimana?
0
May 12, 2016
May 12, 2016 at 4:33 PM UTC
Raja
Suatu saat kulihat ronanya Atau barangkali komposisinya Dan jikala hati terpaut, tak ragu kurupainya. Kurupai serupa-rupa Karena perupa adalah aku. Warnai kanvas kosong biar tak nelangsa Karena perupa adalah aku. Kelak di lain saat kulihat ronanya Atau barangkali komposisinya Dan jikala hati terpaut, tak ragu kurupainya. Kurupai serupa-rupa; merupai hal baru Lantas kubuang rupa lampau Kulupakan tanpa mengindahkan Kulupakan selupa-lupa Karena pelupa adalah aku. Menghapus kanvas berhuni biar nelangsa Karena pelupa adalah aku
0
Nov 11, 2014
Nov 11, 2014 at 7:24 AM UTC
Perupa dan Pelupa
Dia ingin bermain kata-kata ternyata. Sampah! Mari kita permainkan dia bersama kata-kata! Akankah takut siapa yang tahu jika tidak pernah kita coba! Kita perlu membencinya! Membenci kebohongan busuk akal manusia. Mari kita bermain kata-kata! Siapa yang takut jika ia sering di cerca oleh pertanyaan mengapa! Baiklah, bunyinya seperti ini. Kau busuk akal rupa juga canda tawa tidak pernah ada artinya. Kalimat yang kau lontarkan tidak pernah bermakna lantas apa arti jika harus hidup tak bisa bebas dan merdeka! Bebas dan merdeka hanya kata-kata, tindakan ada setelahnya, apa yang kau perbuat setelah bermain lantas kau bereskan semua permainan yang ada! Kau dalang permainan yang sejak awal kau ingin menang di dalamnya! Masih ingin bermain? Masih ingin bermain atau kau tak punya lawan main? Seperti apa kata-kata kita cipta seperti apa kau punya wewenang kuasa! Lupa cara, buta aturan semua kau yang pegang! Itu ujaran kebencian katanya!
0
Feb 11, 2021
Feb 11, 2021 at 4:33 AM UTC
Ini ujaran kebencian katanya!
I am but a rainbow splash on a canvas later photographed and printed in black and white Aku hanya warna pelangi kau percik di kanvas lantas menjadi santapan lensamu dan akhirnya kau cetak hitam putih
0
Mar 25, 2014
Mar 25, 2014 at 1:57 PM UTC
B&W (Bilingual)
pergi pergi yang menyepi menyendiri di tengah sunyi sunyi sunyi yang mati terlelap dalam lamunan diri siapa peduli? sayup sayup yang menderu menyatu khidmat dalam sendu sendu sendu yang biru membisikan kata rindu apakah itu kamu? yojana yojana yang dalu torehkan gelak berbalut sedu sedu sedu yang maksum mengantarkan kamu kepadaku lantas siapa aku?
0
Sep 22, 2016
Sep 22, 2016 at 11:58 AM UTC
Ran·tai
Sahabatku selalu bilang, hidup adalah sebuah gedung yang ditempa oleh mimpi. Mimpi adalah pilar terkuat untuk hidup. Struktur gedung sahabatku sangat apik bagai dirancang oleh arsitek terkemuka, setiap sudutnya dikalkulasi dengan baik, interior gedung tertata dalam estetika yang berkelas. Setiap lantai gedung itu, memiliki cerita mimpi yang berbeda. Namun, gedung milik sahabatku tak pernah lepas dari sebuah warna cat yang ia sebut sebagai motivasi. Nama gedung sahabatku adalah Kebahagiaan. Sehari-hari gedung itu dipenuhi tawa dan senyum tiap orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Tak jarang gedung itu mendapati kunjungan oleh Mimpi Yang Terkabul yang membikin gedung itu makin meriah dibuatnya. Sahabatku selalu memberiku petuah bagaimana cara merawat gedungku, hidupku, dengan memiliki mimpi yang harus kuraih, meskipun jauhnya di ujung lautan sana, dan tetap harus ku kejar walaupun kemampuanku hanya sebatas merangkak. Ketika ia bicara tentang pilar, ia tak tahu aku tak ingin punya gedung. Kematian berbicara bagai gedung yang direnggut dari eksistensi. Dirubuhkan fisiknya. Dihancurkan. Namun, aku tak ingin punya gedung. Aku tak ingin ada di dalam lanskap kehidupan yang rumit ini. Skenario merawat, menjaga, dan mengasihi sebuah gedung membuatku bingung dan pusing. Gedungku bahkan tak bisa dibilang gedung, hanya empat tembok kumuh yang lebih cocok disebut kandang. Aku tak punya pilar, hanya ada empat onggok tiang bambu yang perlahan dimakan rayap. Lantainya bukan dari marmer, tapi tanah becek yang bau ketika dicium hujan, tidak ada orang tertawa atau tersenyum di dalam gedungku, hanya ada aku dan rasa lapar yang berteriak sampai telingaku lelah. Lantas, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak pernah nyenyak dan disambut kegelapan, tanpa gedungku, tanpa ocehan sahabatku yang berkata sembari menutup mata dari kenyataan yang ku alami, aku bernapas lega. Dalam incognito yang ku peroleh, aku merasa tenang. Terombang-ambing di tengah ada dan tiada. Menyatu dengan hitam, bersaru dengan putih. Aku tersenyum dan perlahan berterima kasih kepada Tuhan yang akhirnya memahami bahwa aku tak punya mimpi, selain menjadi tidak ada. Namun, hatiku mencelos ketika Tuhan berbisik dengan lirih, bahwa aku hanya punya batas waktu hingga empat puluh delapan jam sebelum kembali pada kehidupan yang rumit. “Tuhan,” kataku, “untuk apa aku ada, ketika orang-orang sibuk dengan gedung, sementara yang ku punya hanya seonggok bilik?”
0
Jun 23, 2020
Jun 23, 2020 at 10:03 AM UTC
Gedung
Sahabatku selalu bilang, hidup adalah sebuah gedung yang ditempa oleh mimpi. Mimpi adalah pilar terkuat untuk hidup. Struktur gedung sahabatku sangat apik bagai dirancang oleh arsitek terkemuka, setiap sudutnya dikalkulasi dengan baik, interior gedung tertata dalam estetika yang berkelas. Setiap lantai gedung itu, memiliki cerita mimpi yang berbeda. Namun, gedung milik sahabatku tak pernah lepas dari sebuah warna cat yang ia sebut sebagai motivasi. Nama gedung sahabatku adalah Kebahagiaan. Sehari-hari gedung itu dipenuhi tawa dan senyum tiap orang yang berlalu-lalang di dalamnya. Tak jarang gedung itu mendapati kunjungan oleh Mimpi Yang Terkabul yang membikin gedung itu makin meriah dibuatnya. Sahabatku selalu memberiku petuah bagaimana cara merawat gedungku, hidupku, dengan memiliki mimpi yang harus kuraih, meskipun jauhnya di ujung lautan sana, dan tetap harus ku kejar walaupun kemampuanku hanya sebatas merangkak. Ketika ia bicara tentang pilar, ia tak tahu aku tak ingin punya gedung. Kematian berbicara bagai gedung yang direnggut dari eksistensi. Dirubuhkan fisiknya. Dihancurkan. Namun, aku tak ingin punya gedung. Aku tak ingin ada di dalam lanskap kehidupan yang rumit ini. Skenario merawat, menjaga, dan mengasihi sebuah gedung membuatku bingung dan pusing. Gedungku bahkan tak bisa dibilang gedung, hanya empat tembok kumuh yang lebih cocok disebut kandang. Aku tak punya pilar, hanya ada empat onggok tiang bambu yang perlahan dimakan rayap. Lantainya bukan dari marmer, tapi tanah becek yang bau ketika dicium hujan, tidak ada orang tertawa atau tersenyum di dalam gedungku, hanya ada aku dan rasa lapar yang berteriak sampai telingaku lelah. Lantas, ketika aku terbangun dari tidurku yang tak pernah nyenyak dan disambut kegelapan, tanpa gedungku, tanpa ocehan sahabatku yang berkata sembari menutup mata dari kenyataan yang ku alami, aku bernapas lega. Dalam incognito yang ku peroleh, aku merasa tenang. Terombang-ambing di tengah ada dan tiada. Menyatu dengan hitam, bersaru dengan putih. Aku tersenyum dan perlahan berterima kasih kepada Tuhan yang akhirnya memahami bahwa aku tak punya mimpi, selain menjadi tidak ada. Namun, hatiku mencelos ketika Tuhan berbisik dengan lirih, bahwa aku hanya punya batas waktu hingga empat puluh delapan jam sebelum kembali pada kehidupan yang rumit. “Tuhan,” kataku, “untuk apa aku ada, ketika orang-orang sibuk dengan gedung, sementara yang ku punya hanya seonggok bilik?”
Continue reading...
11
sedang ingin menulis tapi tidak ingin disebut puitis saya gamau, terkesan najis tapi saya masih ingin menulis gusti.. lantas harus apa? hanya haha huhu cinta yang melintas saya gamau, terkesan najis sekali lagi hobi sekali menulis tanpa arti percuma kalian mengamati penulisnya saja tidak bisa mengerti dasar otak angin.
0
Sep 2, 2019
Sep 2, 2019 at 9:45 AM UTC
gak ada ide, tapi pengen
terasa sesak dalam benak saat kata 'sampai jumpa' tak terelak terasa sedih dalam raga ketika berhenti saling menjaga akan terasa siksa dalam kalbu saat nanti tiba rasa rindu yang menyerbu kawan, ingatlah, jumpa ini takkan terlupa segala hal yang telah ditempa segala hal yang berujung nestapa semua insan yang telah menjadi siapa-siapa takkan bisa terlupa candaan berhasil mencairkan ujian berhasil menguatkan kebencian hilang dalam percakapan kesedihan hilang dalam dekapan kawan, jangan sesali jumpa ini isak tangis kini jangan biarkan membebani kawan, masa depan menanti impian tak mungkin berhenti si pelerai jumpa memang tak punya hati namun, jangan berkecil hati percayalah kita kan berjumpa lagi nanti semesta pasti mengerti bahwa ini adalah bagian dari rencana si takdir pasti mempertemukan lantas memisahkan tetapi tenang rencana si takdir yang dicanang takkan dibuatnya kita terus berlinang terima kasih kepada semua insan yang berpapasan yang telah menjadi panduan yang telah memberi acuan yang telah berlisan merajut angan
0
May 27, 2019
May 27, 2019 at 10:53 PM UTC
jumpa takkan terlupa
Ahh, judul... Kuliat ia akhir-akhir ini begitu menyebalkan Begitu merangah, berusaha mencolok Aku tidak yakin dia melakukannya dengan tidak sadar Aku tahu dia menginginkan sesuatu Kuasa! Aha, itu sudah pasti kuasa Kuliat ia begitu sombong hanya karena posisinya yang sedikit diatas Memandang rendah kata-kata serumpun yang ada di bawahnya Acuh melihat titik dan koma yang baginya tak ada apa-apanya Hanya karena font yang sedikit tebal dan size yang agak besar Membuat masyarakat kata memilihnya untuk mewakili suara mereka Pun merasa tak sebanding dengan apa yang dimiliki ‘Si Congkak’ itu Kata merasa rendah, titik koma tak berdaya Dan mereka... Kalah atas kedaulatannya sendiri Padahal judul hanya tak sadar Bahwa kuasa yang dimilikinya itu bukan karena dirinya sendiri Ia lahir karena keresahan kata Yang terombang-ambing bagai kapal di ganasnya lautan Menggantung bagai kepompong, terpenjara dalam ketidaksempurnaan Melayang-layang bak daun jatuh ditiup angin, tak tentu arah Mendambakan hidup yang bahagia dan tenteram untuk merdeka Karena ketakutan kata-lah Judul hadir sebagai jawaban Agar kata dilirik pembaca Agar kata digunakan dalam ruang diskusi Agar kata hidup dalam kepala Mengakar kokoh dan menjadi abadi Judul adalah cerminan pemimpin di negeri ini Seperti kacang yang acuh pada kulit, lupa diri Bahwa dirinya ada untuk mendengar keresahan Bukannya malah menjadi dalang kerusuhan Bahwa dirinya ada untuk mengerti suara yang dimarjinalkan Bukannya malah membuang muka, lalu lantas pergi meninggalkan Lihatlah ibu yang telah melahirkan Yang terpinggirkan mengandung harapan Yang menanti dengan merapal doa disetiap malam Anak baik jadilah baik Wahai kalian yang duduk manis di kursi tahta Bangkitlah! Kata-kata dan rakyat jelata yang dipandang sebelah mata Mendengarlah! Wahai judul "Si Congkak" juga para pemimpin negeri yang berlagak sok kuasa
0
Feb 27, 2021
Feb 27, 2021 at 11:55 AM UTC
JUDULNYA ADALAH JUDUL
Ahh, judul... Kuliat ia akhir-akhir ini begitu menyebalkan Begitu merangah, berusaha mencolok Aku tidak yakin dia melakukannya dengan tidak sadar Aku tahu dia menginginkan sesuatu Kuasa! Aha, itu sudah pasti kuasa Kuliat ia begitu sombong hanya karena posisinya yang sedikit diatas Memandang rendah kata-kata serumpun yang ada di bawahnya Acuh melihat titik dan koma yang baginya tak ada apa-apanya Hanya karena font yang sedikit tebal dan size yang agak besar Membuat masyarakat kata memilihnya untuk mewakili suara mereka Pun merasa tak sebanding dengan apa yang dimiliki ‘Si Congkak’ itu Kata merasa rendah, titik koma tak berdaya Dan mereka... Kalah atas kedaulatannya sendiri Padahal judul hanya tak sadar Bahwa kuasa yang dimilikinya itu bukan karena dirinya sendiri Ia lahir karena keresahan kata Yang terombang-ambing bagai kapal di ganasnya lautan Menggantung bagai kepompong, terpenjara dalam ketidaksempurnaan Melayang-layang bak daun jatuh ditiup angin, tak tentu arah Mendambakan hidup yang bahagia dan tenteram untuk merdeka Karena ketakutan kata-lah Judul hadir sebagai jawaban Agar kata dilirik pembaca Agar kata digunakan dalam ruang diskusi Agar kata hidup dalam kepala Mengakar kokoh dan menjadi abadi Judul adalah cerminan pemimpin di negeri ini Seperti kacang yang acuh pada kulit, lupa diri Bahwa dirinya ada untuk mendengar keresahan Bukannya malah menjadi dalang kerusuhan Bahwa dirinya ada untuk mengerti suara yang dimarjinalkan Bukannya malah membuang muka, lalu lantas pergi meninggalkan Lihatlah ibu yang telah melahirkan Yang terpinggirkan mengandung harapan Yang menanti dengan merapal doa disetiap malam Anak baik jadilah baik Wahai kalian yang duduk manis di kursi tahta Bangkitlah! Kata-kata dan rakyat jelata yang dipandang sebelah mata Mendengarlah! Wahai judul "Si Congkak" juga para pemimpin negeri yang berlagak sok kuasa
Continue reading...
43
Kita yang menyirnakan kenyataan. Manusia yang melenyapkan kemanusiaan, lantas kemudian kita saling menunjuk perihal keadilan. Kami bertanya mana yang perlu di salahkan, kehidupan, pemimpin atau justru Tuhan?
0
Apr 26, 2019
Apr 26, 2019 at 3:06 PM UTC
kita hanya lupa menatap diri.
Bahkan, kita belum memulainya. Lantas, mengapa kamu berlagak bahwa semua ini telah berakhir?
0
Aug 17, 2017
Aug 17, 2017 at 2:33 PM UTC
-
Dalam ke-tiga ratus empat puluh empat meter per detik kecepatan suara, ternyata tak ada bibirmu didalamnya. Sebab kabar tak lebih cepat dari suara, dan tak lebih lambat dari jatuh cinta. Apakah mungkin, suara dapat merasuk lebih cepat jika dia merangkak di dalam air mata? Mungkin juga sebaiknya kita perhatikan bagaimana suara merambat melalui dua puluh satu derajat selsius suhu udara, menjadi sebuah rangkaian gelombang kata-kata yang melambat dan merangkai dengan sendirinya. Apakah mungkin getaran suara dapat lebih cepat, jika kulitku tidak menjadi sehangat ini? Jika kamu bukan getaran suara, lantas mengapa sepersekian detik nama mu bergaung dalam kenangan?
0
Jun 15, 2017
Jun 15, 2017 at 2:31 PM UTC
Kecepatan Suara
[2/6 22.08] SITO FOSSY BIOSA: Perempuanku yang Sendu, sebuah puisi. [2/6 22.12] VINDA MAYA: Lantas Senja menenggelamkannya [2/6 22.12] VINDA MAYA: Malam....dan hilang [2/6 22.15] SITO FOSSY BIOSA: Kukan hilang pun bersamamu. [2/6 22.19] VINDA MAYA: Bunga bunga layu itu jatuh ditaman berduri [2/6 22.19] VINDA MAYA: Lalu ditelan angin berbisik [2/6 22.21] SITO FOSSY BIOSA: Hujam Jantung, Hujan Rindu [2/6 22.24] VINDA MAYA: Pilu....Berantakan....Tak terselamatkan [2/6 22.27] SITO FOSSY BIOSA: Aku sengaja tak mau tahu tentang tuhan, sebaliknya, kau sepenuhnya kutelusuri sedalam hati. [2/6 22.32] VINDA MAYA: Wajahmu ada di kening....rinduku sepanjang jalan [2/6 22.32] SITO FOSSY BIOSA: Padaku? [2/6 22.34] VINDA MAYA: Lalu pada siapa [2/6 22.34] VINDA MAYA: Adakah selain bayangmu menyapa [2/6 22.35] SITO FOSSY BIOSA: Lebur. [2/6 22.36] VINDA MAYA: Berkeping-keping [2/6 22.41] SITO FOSSY BIOSA: Tuntas.
0
Jun 2, 2020
Jun 2, 2020 at 11:46 AM UTC
OKLASASADU
Perihal perasaanku yang mulai mati rasa.. berhentinya aku untuk menulis tentang luka ini, bukan aku mulai melupakan mu. hanya saja aku sedang menjadi pembohong besar, yang berpura-pura bahagia untuk mendapat perhatian mu kembali.. lantas sekarang aku sudah tahu, kita hanya memutar balikan cerita, yang ternyata faktanya kita masih saling berharap.
0
Nov 16, 2018
Nov 16, 2018 at 12:08 AM UTC
mati rasa