"kupikir" poems
Setahun yang lalu kupikir kita akan bersama
Menjadi satu persahabatan yang tak terkalahkan
Walaupun jalanmu berbeda
Aku tetap mengikuti dengan senyuman
Berharap kita memang untuk selamanya
Dua tahun yang lalu aku masih rabun
Berjalan tanpa suara
Berhenti hanya untuk menangis
Tanpa istirahat, terus saja
Menyalahi diri sendiri
Tiga tahun yang lalu aku sendiri
Meluapkan amarah
Dan mau menangnya sendiri
Masih buta akan siapa yang salah
Masih berdarah luka di hati ini
Dari semua jalan yang kutempuh
Kehilangan seperti mati
Tanpa rasa tanpa cahaya
Kemarin tersenyum sekarang bisu
Kemarin bersama sekarang sendiri
Apakah adakah
sedikit saja di pikiranmu
keinginan untuk memelukku,
sebelum kau pergi?
Mar 6, 2016
Mar 6, 2016 at 9:47 AM UTC
Daniel,
Waktu panorama nyata cerah merona
Aku termenung dungu
Malu, cemas tak pernah begini
Atau entah pernah namun kulupa
Kala aku berlari menuju hilang
Cerah itu muncul, kupikir selesai semua
Berpapasan sosokmu, membelai pipimu
Ku tak becus
Yang terasa dijiwa makin bermakna
yang ada dihati makin berarti
Tak harap lebih berjumpa denganmu
Dimimpiku
Dipelaminan
Atau dirumah kita nanti
Rasa cintamu sudah cukup
Sungguh,
Terima kasih
Buatmu, 2017.
Sep 18, 2017
Sep 18, 2017 at 12:15 PM UTC
pasal VI: tentang aku dan kau; sebuah rasa dalam diam.
- yang aku percaya, skenario tuhan selalu indah walau tak kelihatan di awal, sebab tentu saja, pemandangan akan lebih nampak anggunnya dari ketinggian. dan ini perkara melihat sesuatu dari direksi yang berbeda, atau bahkan berlawanan. rasa dalam diam.
- perihal rasa yang terus saja terpendam, anggap saja aku hanyalah secuil makhluk yang kagum kepadamu, terlepas dari senyummu yang menawan, atau paasmu yang santun, dan hal "wah" yang mereka utarakan lainnya. rasaku apa adanya, tanpa menuntut apapun darimu.
- mengingat kau dan aku tak pernah bersua dengan sengaja, kurasa, rasarasa yang kumiliki hanya akan bertepuk sebelah rasa, sekedar sapa, dan berujung tanpa kata. toh nyatanya entah aku yang sanggup bertahan ataukah memang aku yang terlalu bodoh karena masih saja bertahan, hitungan tahun tanpa jawaban terus saja membuatku beradaptasi dengan keadaan.
- dan jika dilihat, mungkin hanya usahakulah yang terus membuatku bertahan, melihat segalanya hanya jarak dan jarak yang membuat kita dekat, walau kau masih saja entah purapura tak peduli, atau mungkin memang tak peduli. tapi kuharap kau tak bosan menjadi tempat rasaku bermuara.
- menuntut kejelasan? oh, tentu bukan caraku bermain dengan memaksa kehendak. karena dimataku, rasa bukan hanya sekedar hasrat, melainkan suatu hal yang sensitif, terlepas dari rasionalnya akal. takutku kemudian hari, salah rasaku menetap, kemudian menjadikanku lupa arah pulang sebenarnya.
- sampai nanti di akhir cerita, kau menjawab segala tanya yang tak kuharap terjawab. rasa mu sedikitbanyak memiliki kesamaan denganku, sama2 dalam diam, memilih berdiam diri dalam kediamannya. hanya saja kau lebih mahir, sedangkan aku memilih nyaman dalam zona amatir.
- bahagia? kupikir begitu, mengingat rasa kita sudah samasama berirama, terlepas dari tujuanku yang enggan menjalin hubungan (entah apa alasannya). kukira jawab yang membuatku senang, namun haluan berubah arah. justru jenuh yang kurasa, lelah, dan memilih berpaling di kemudian hari.
prdks.
Apr 2, 2018
Apr 2, 2018 at 9:10 PM UTC
Jemari mulai gemulai
Dikala ia mulai melambai
Bahasa tubuhku tidak diragukan lagi
Lika likunya sudah tertebak dari haluan pertama bapak satpam
Dia mulai menyapa
Aku teriak keras
hatiku yang teriak
Hawa panas tubuh beriringan membara bersama
Peluh terbawa jatuh dipipi
bisa bayangkan, bagaimana wujudku waktu itu....
Kini, segala fana itu harus di nikmati, entah menarik, suram, dan basi
Aku pikir, kapan lagi akan bertemu dan beradu argument sedekat itu
Kapan lagi berdialog serius dengan elokan tubuh cukup dekat
Kapan lagi aku bisa pandangi wajahnya 4 cm lebih dekat dengannya....
Jadi kupikir, aku harus syukuri, jika nanti tak bisa lagi. Yasudah ku kenang saja....
Nanti senja jadi pelengkap saat mulai mengenang moment itu, sudah ku jadwalkan
Apr 14, 2018
Apr 14, 2018 at 5:25 AM UTC
Minggu, 18 November
Siang menuju sore, panas.
Halo,
Aku lulu 18 tahun
masih bingung
masih belum terbiasa
dengan kehidupan 18 tahun ini
akhir november ini aku lebih suka sendiri
tidak ada keinginan untuk bersinggungan dengan sesama manusia
semangat hidup ? apalagi
bukan ingin mati,
tepatnya tidak ada niat untuk berbuat suatu apa
tidak mau mati dulu
kasihan keluarga yang membiayai pemakaman, mahal.
utangku kepada mereka juga belum ada satupun yang lunas
malah bertambah
iya,
utang seluruh hal yang bersifat rohani dan materi
aku tidak ingin diikhlaskan
bukan, tidak bisa diikhlaskan
kupikir semua yang diberikan adalah utang
terkecuali hal hal dari mereka yang sekiranya memang ikhlas.
oiya, kecuali juga kalau aku pergi untuk yang ini harus ikhlas
hahahaha
aku ?
selalu mencoba untuk belajar ikhlas
doakan ya !
oiya aku juga sudah stabil sepertinya
aku sudah tidak membuat badanku sakit
semoga bertahan
tapi yang ada mereka terus hadir
tidak begitu kuat, namun sering
dibilang ghoib ya bukan
dibilang kasat mata ya bukan
sepertinya sugestiku
hmmm
sudah hiraukan saja
Nov 18, 2018
Nov 18, 2018 at 2:43 AM UTC
seperti biasa..
suatu rutinitas yang kupikir
tidak akan berubah
hari kemarin, sekarang, ataupun esok
aku melihat mu
duduk di kursi yg sama
di samping jendela yang sama
lelah, tertidur lalu terbangun
lalu bersandar dan menatap langit luar
menantikan sebuah perhentian
tapi hari ini kamu berbeda
aku menangkapmu melirik padaku
lalu membuangnya kearah yg lain
tersipu malu..
dibalik rambutmu
kamu menyembunyikan senyummu
aku pun mulai menerka-nerka
sesuatu yang kupikir tidak biasa
bertanya dalam hati "kamu ini kenapa?"
ya. kita memang selalu bersama
namun tidak pernah bercengkrama
"apakah ini saatnya kita untuk
saling mencairkan suasana?"
Feb 28, 2020
Feb 28, 2020 at 6:24 PM UTC