Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"keraguan" poems
Dengarlah gemuruh hujan pada malam hari ini; Dengan irama tetesannya kebisuan dicurahkan; Dalam kegelapan jua para pencari melangkah; Menyusuri persimpangan jalanan yang basah; Mungkinkah sudah keraguan mereka terhapuskan? Ataukah praduganya telah menjadi satu bentuk prasangka, Yang sekiranya kembali menolak untuk lagi-lagi berbicara? Dengan satu sapuan halusnya kembalilah dikau sunyi menjadi hening, Hening menjadi tiada, seperti tiada memunculkan hampa; Lalu hampa pergi meninggalkan luka yang menganga pada dikau; Hanya kesembuhan dari hujan yang dinanti mereka yang terluka; Seperti juga berkat yang dinantikan dikau yang tak lelah menanti; Memegang erat setiap butiran yang mungkin tak mampu dimiliki; Mendengar irama yang selamanya tak mampu dimengerti; Bersabdalah hujan pada semesta di malam hari ini; Hanya kesunyian yang terus ia ajak bicara dalam isyarat; Hanya kegelapan yang selamanya tak mampu ia lihat; Pengheningan resah telah menjadi gundah sang hujan; Seperti gundah itu sendiri menjadi gulana dikau; Seperti dikau yang hadir dan hilang dalam rimbanya hujan, Kembali dicari namun tak mampu dihilangkan.
0
Jun 24, 2017
Jun 24, 2017 at 5:56 AM UTC
Perbincangan Dengan Sang Hujan
Kemarin malam Keheningan datang merayu Untuk memulai sebuah percakapan denganmu Dengan topik ringan tentang kehidupan Duduk di atas motor berboncengan Sesekali kamu mencuri pandang melalui kaca spion sambil tersenyum Sedangkan aku berusaha mengendalikan debar  di dada Ah, senyummu sungguh mempesona Tapi, apakah kita bisa bersama?
0
Nov 1, 2019
Nov 1, 2019 at 4:38 PM UTC
Keraguan.
Bandung begitu kelabu, dadaku kosong rentang fokus kabur entah kemana ada kacau yang meruang di tubuhku tersisip kicau yang kian gaduh kepalaku terus menerus menimbang mempertanyakan perkara ranah juang bolak balik singgah pada keraguan lalu sebentar mampir pada keyakinan ia, aku, terpicu keras sekali kilas balik membeludak dalam benak beririsan dengan manisnya kenyataan yang juga selalu menjagaku erat aku benci terpicu seperti ini, guru geografi pernah ajarkan ketika panas bertemu dingin, terjadilah puting beliung ada puting beliung yang meruang di tubuhku lalu hembusan nafas mengembalikan sadarku cepat-cepat harus kukerdilkan imajinasi ya Bapa di Sorga, bebaskan aku dari kekang gelisah aku hanya ingin melepaskan apa yang perlu dilepaskan aku lelah mengunci diri dalam kegelapan
0
Mar 2, 2020
Mar 2, 2020 at 1:44 PM UTC
Residu Rasa
Tak sepeserpun lirih iba singgah Apa yang seadanya, Kabur! Kata batin Persimpangan demi persimpangan Masih kuikatkan Nyatanya, Adakah kita bertukar rasa Atau hanya terperangkap Biarkan aku menari dengan cahaya Erang perihmu Gema tangisamu Menyulam keraguan Palsu palsu palsu Kulihat buram me-muak-kan
0
Sep 20, 2025
Sep 20, 2025 at 1:42 PM UTC
Arah
Mungkin benar adanya, menantang ketidaktahuan telah dengan pasti menggiring kesadaran pada sebuah langkah menuju keberanian bersikap. Yang karenanya juga, telah turut menjadikan hati begitu lapang di ruang yang begitu sempit, menempatkan intuisi dalam usaha menyeimbangkan ego dan benci, menuntun arah pikiran menuju muara kebijaksanaan. Sebuah pertanyaan akan kegelisahan, berhak untuk ditelusuri muasal kebenarannya. Semua berhak akan hal itu. Untuk sebuah dinding yang membatasi penglihatan indrawi, merobohkannya adalah kepatutan. Untuk sebuah ketidaktahuan yang memenjarakan, manusia yang berjuang atas akal pikirannya sendiri—berhak untuk terbebas dari kungkungannya. Meminjam dari Aristoteles, terbang menuju keselarasan ide serta realitas yang tidak terbatas! Jangan biarkan gelap menguasai malam. Usaha demi setitik cahaya harus selalu terpatri dalam diri. Melekatkan sikap keraguan-raguan pada pikiran adalah sebuah keharusan. Hanya itu bahan bakar yang paling mungkin, untuk menyalakan setitik cahaya yang dimimpikan. Biarlah menjadi berbeda, biarlah diasingkan. Karena bagi mereka yang merindukan merdeka, beranjak dari ketidaktahuan adalah sebuah keniscayaan!
0
Feb 22, 2021
Feb 22, 2021 at 10:24 AM UTC
MENANTANG KETIDAKTAHUAN
Dibawah hujan kamu berdiri memandangi cahaya langit yang mulai berjatuhan memudar harapan dan kenangan mulai hilang ditelan waktu yg tidak pernah berakhir tangisanmu terefleksi diatas genangan dengan kilauan dan tertiup angin mereka semua yang memiliki keterbatasan mempunyai hati seperti bintang-bintang sangat luas dan dalam setiap cahayanya memiliki cerita ketika hatimu memiliki keraguan kamu memandangi langit mengharapkan sebuah keajaiban dan melemparkan pertanyaan : "jika setiap hal akan memudar, apakah kita harus menyimpan semua itu sebagai kenangan?" "jika satu keajaiban terjadi, apakah kita bisa memilikinya selamanya?" "waktu memang harus berjalan, tapi apakah kita sedang berada di jalan yg memiliki arti?"
0
Mar 9, 2020
Mar 9, 2020 at 9:32 AM UTC
Harapan, Kenangan...