"kelam" poems
*is there nights still exist..
and helpless cries..
i always remember the part of missing stories...
i slept with dry eyes..
as the sun sets in the sky..
my hopes go along with it..
everything’s seem leaden in solemn..
until i’m alone again without you come into my night..
i guess i should be thankful...
at least we have one thing in common..
all i think of is you..
and i know that you do the same too..
when moon's climb in the leaden night slowly...
i can see your face figure in the stars..
don't you know that i’m always thinking of you..
i wish you’d think of me too..
if i wonder how this will work..
when you think of nothing but,
yourself, your poems, your life
and i can’t help but love the way you telling it into the poems..
but maybe this what the fate is..
a twisted series of two soul and mind's fused..
and maybe i’m destined..
to be the victim of my feelings ..
but how can i blame the fate..?
for something that i have control over...
i know you don’t thinking the same as mine..
and i know i’ve fallen too deep into my imagination of your figure..
you have them lined up..
just another notch on your belt..
am i the fool...?
am i the one who fell...?
but i definitely don't mind at all..
you twist my yearning around your sincerity...
and your lies around my words..
you’re the definition of beauty..
horror, pain, desire and love...
should i run...?
should i give up..?
sometimes i wish i could just sleep...
or never get wake up when i was dream of you..*
┈┈┈┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶ ƦУ »̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈┈┈┈┈┈┈┈
apakah masih ada bentuk malam itu.. .
dan ketidak berdayaan sebuah tangisan...
masih teringat aku akan sepenggal kisah yang hilang itu..
saat kuterpulasi dengan mata yang kering..
bak mentari yang tebenam dilangit..
begitupun keinginanku yang melaju turut..
segalanya tampak kelam dan hening..
hiingga aku sendiri tanpa engkau singgahi malamku..
harus kusyukuri..
setidaknya kita memiliki satu kesamaan ..
aku mengenangmu ..
dan kutahu bahwa engkau melakukan hal yang sama ..
saat rembulan mendaki malam kelam perlahan ...
aku dapat melihat gambar wajahmu diantara bintang ..
tahukah kamu bahwa aku selalu mengenangmu ..
...... dang... why i should made two ver for my poems anyway.. lol.. just writing...
Jan 11, 2014
Jan 11, 2014 at 10:22 PM UTC
Inderalaya, 27 Agustus 2014
Seorang gadis kebingungan di antara kerumunan orang dewasa yang asyik menikmati pesta dansa yang diadakan penguasanya
Matanya biru terang, namun jauh di lubuk hatinya, ia begitu kelam
Seorang yatim yang ditinggalkan ibundanya tuk melayani pria yang bukan pasangannya
Gadis itu terpaku, hanya sendiri di tengah-tengah manusia lain berdansa berpasangan
Namun dia hanya sendirian
Musik telah terlalu lama menyeberangi gendang telinganya
Otot-otot di kepalanya mulai berontak tuk membuat gadis itu pergi meninggalkan tempat ia berada
Namun ia hanya diam, matanya memancar sorot sangat kebingungan
Pikirannya terbang jauh menelusuri kenangan saat ia masih balita dibawa Ayahnya pergi ke taman paling indah di negaranya
Dentuman keras kaki-kaki manusia yang masih berdansa tanpa lelah dan tanpa jeda
Menyadarkan sekali lagi bahwa gadis itu masih sendirian
Kaki gadis itu serasa tak mampu lagi tuk melangkah
Maka ia mulai membuat gerakan tak berarti pada kedua tangannya. ke kanan dan ke kiri, mengitari tubuhnya
Semakin lama gerakan tangannya semakin cepat dan kini gadis itu menari pada akhirnya
Sekali lagi, ia menari sendiri, berputar-putar bagai roda yang diputar pedal sepeda
Kini semakin cepat gadis itu berputar-putar
Semakin cepat
Semakin cepat
Semakin makin cepat
Gadis itu menutup matanya, ia bahkan dapat merasakan detakan jantungnya
Ia memutar makin cepat dan sangat cepat
Sampai akhirnya di antara putaran yang cepat itu, ia berteriak
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH
Ia kemudian terjatuh di pelukan Ayahnya
Sang Ayah yang telah lama pergi meninggalkannya
Sang Ayah kini kembali, namun tiada satupun manusia di sana menyadari kehadirannya
Pesta dansa terhenti dan semua pasang mata tertuju pada pemandangan tak biasa di tengah-tengah mereka
Sang Gadis sedang berdansa dengan Ayahnya
Suasana menjadi hening, hentak kaki manusia yang sedang berdansa kini benar-benar sunyi
Oh kelamnya hidup ini
Aug 27, 2014
Aug 27, 2014 at 12:43 AM UTC
*perempuan datang atas nama cinta,
bonda pergi kerana cinta.
digenangi air racun jingga adalah wajahmu,
seperti bulan lelap tidur di hatimu,
yang berdinding kelam dan kedinginan ada apa dengannya ?
meninggalkan hati untuk dicaci,
lalu sekali ini aku lihat karya surga,
dari mata seorang hawa ada apa dengan cinta ?
tapi aku pasti akan kembali dalam satu purnama,
untuk mempertanyakan kembali cintanya.
bukan untuknya bukan untuk siapa,
tapi untukku ,
karena aku ingin kamu,
itu saja*
rangga
Jun 9, 2013
Jun 9, 2013 at 4:48 AM UTC
Jakarta, Minggu, 13 Mei 2007
Dulu sebelum aku dan kawanku merasakan dunia
Ku lewati dulu masa-masaku yang suram dan kelam
Namun... setelah Tuhan menegurku
Ku tinggalkan semua kebiasaan burukku
Aku dan kawan-kawanku
Tersentak akan suara adzan itu
Kami pun mencoba menjadi orang yang beriman
Kami pun terus melewatinya
Sampai... kami telah menemukan rasa dunia
Kami telah menjadi orang yang berkarya dan beriman
Namun... kami pun tak pernah melupakan masa dulu
Yang penuh kesengsaraan
Semua... itu kami ungkapkan dalam sebuah lagu
Yang berisi tentang suka-duka yang kami lewati dulu
Semoga... cara kami ingin berbagi cerita
Akan sukses dan dapat di terima semua orang
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:48 AM UTC
Desember bersambut hujan, menderas berlukiskan mendung. Sejuk menusuk tulang, yah hujan desember memang tak main
- main dan tak tanggung - tanggung, serius. Memelukmu dingin bertubi - tubi.
Belajar dari 'hujan desember'
Pengorbanan seperti apa yang akan kau ukir untuk membuka pintu kemenangan dakwah ?
Setergenang jalan setapak kah, dengan guyuran hujan ?
Atau, sesemangat hujan desember kah ? Dengan turunnya susul menyusul melembabkan tanah tahun depan, menyusun rencana agar tanah tak mengering dan gugurlah dedaunan karena cuaca tak menentu ..
Segemuruh deras hujan kah ? Berirama dan memberi isyarat bahwa lagi - lagi akan menggenang walau ada saja suara sumbang "aah, hujan turun lagi, sampai kapan "
Dan entah akan kembali kah ia, dengan desember yang sama atau justru tertelan waktu dan mati ..
Maka, prestasi apa yang telah terukir setahun ini dan rencana - rencana apa yang telah tersusun rapi untuk mendobrak peradaban kelam ini ?
Mengembalikan peradaban gemilang "KHILAFAH ISLAMIYAH" ..
Mengubur Demokrasi Kapitalisme Sekularisme dan tak bergairah lagi untuk bangkit ..
Jangan sampai waktu tak menggenapkan umur .
Jangan sampai terlanjur gigit jari, menyesal.
Dan, jangan pernah bosan untuk tetap menyeru walau terus dihujat . Demi terterapkannya syari'at islam dan hidup sejahtera dalam naungannya ..
Maka, jangan lupa sedekapkan kedua tangan dan berdoalah akan kemenangan islam dipercepat ..
Karena hidup adalah IBADAH, AMANAH, dan MUHASABAH ..
Allahumma Shayyiban Naafi'an ..
Feb 23, 2015
Feb 23, 2015 at 4:51 AM UTC
bukalah samudra putihmu untuk sepenggal bayangan hitam ini
Biarlah ia arungi pusaran ombak dahagamu
Bawakan salam duka bahwa aku penuh luka
Luka, yang ku balut sepenggal bayangan hitam itu.
lukislah doa di pundak bayang hitam
Biarpun itu kelam akan ku beri salam
Akulah lukamu, di alam
bukalah putihmu untuk sepenggal bayang hitam ini...
May 6, 2014
May 6, 2014 at 6:02 PM UTC
Malam-malam kelam
Perempuan dan kenaifannya
Terperangkap dalam cinta yang tak ada ujungnya
Ia mengalir hingga ia ingin bermuara
Namun ia rindu dalam dekapan sang kekasih
Perempuan itu lenyap dalam mimpi yang gelisah
Nov 27, 2017
Nov 27, 2017 at 7:31 AM UTC
di dalam kata-kata yang hilang
di dalam mimpi-mimpi yang kelam
di dalam benak yang terdalam
tak ku temukan jiwa yang hidup
yang kutemukan hanya sisa-sisa harap
aku merasa hilang
Mar 27, 2018
Mar 27, 2018 at 8:39 AM UTC
Puisikan
Semerbak hujan
Merangsang ingatan
Menggantikan kelam
Menunggu Sang Surya datang
Namun lelah menunggu ketidakpastian
Kini yang tersisa luapan tangisan
Hingga merasa distorsi yang tidak terbendung
Membius raga dengan memori kelam
Rasa ingin sendiri
Terbang menuju dunia baru
Meninggalkan realita
Oct 25, 2017
Oct 25, 2017 at 9:55 AM UTC
Saat hatimu dilanda kegelapan
Yakinlah penerangmu tiada lain
Selain Allah SWT
Penerang dari segala kegelapan
“Dan kami turunkan dari Al-Qur’an
Suatu yang menjadi penyembuh
Dan rahmat bagi orang-orang yang beriman
Dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim
Selain kerugian. “
Lantunan ayat tersebut
Bismillah...
Bawa aku pergi dari kelam
Selamat diriku
Ya Allah SWT.
Dec 17, 2017
Dec 17, 2017 at 6:33 AM UTC
Aku bukanlah siapa-siapa
Hanya seorang pria berdasi merah
Yang mencintai perempuan berambut coklat
Aku bukanlah siapa-siapa
Hanya seorang pria bertopi hitam
Yang hanya ingin merasakan cinta
Aku bukanlah siapa-siapa
Hanya seorang pria menyedihkan
Yang masih terjebak masa lalu kelam
Aku bukanlah siapa-siapa,
Hanya seorang pria yang masih mencintaimu
Yang tidak akan pernah bisa melupakanmu
Sep 10, 2018
Sep 10, 2018 at 12:29 PM UTC
Menatap kelabu pada hati
Membawa ringan pada tangan
Berpangku usaha bertopang doa
Terang tiada kelam
Berangan tanpa andil
Andai...
Teman indah berangkul lembut
Berjanji, mengikat dan utuh
Sep 20, 2015
Sep 20, 2015 at 7:33 AM UTC
Teruntukmu Kirana...
Entah harus kemana aku mencari
Kau bagai hilang dalam kelam.
Kirana,
Apa kabarnya dirimu?
Andai kau berbicara padaku
Aku kini berkawan sunyi.
Kiranaku,
Kapan kau nampak lagi?
Aku bosan memandang malam.
May 13, 2017
May 13, 2017 at 6:01 AM UTC
Tawa renyahmu di sela-sela bisikan lembut
Menghangatkan malam yang dingin
Ingin kumiliki sepasang sayap di belakang pundakku
Agar bisa kubawa tubuhku ke hadapanmu, kapanpun kau katakan rindu
Kupasrahkan seluruh ragaku atas senyummu yang menyihir
Kurelakan setiap jengkal kata yang kuucapkan,
setiap detik yang kulewatkan,
setiap nafas yang kuhembuskan,
setiap detak dari jantungku,
Untuk kau kuasai
Malam-malam yang membelaiku dengan lembut
Memberiku alasan untuk terlelap dengan nyaman
Namun kau datang meretas mimpiku
Suaramu selembut angin memetik dedaunan musim gugur,
menggema dalam kepalaku
Senyummu semanis madu mengaliri relung-relung hatiku
Sentuhanmu sedahsyat guntur menggelegar
Memaksaku terbangun seketika dan menyadari
Kaulah mimpi yang tak ingin kusudahi
Kau menumbuhkan taman bunga di tengah padang pasirku
Kau memaksa bulan muncul di saat pagi hariku
Kau memutar badai pada lautku yang tenang
Kau memancing senyum saat hari-hari kelam
Kau bara apiku yang terus meradang
Kau kicau merdu yang menyambut sejuknya pagi
Kau bintang-bintang yang menutup dinginnya malam
Kau cinta yang mengisi hatiku hingga memerah
Aug 28, 2018
Aug 28, 2018 at 9:26 AM UTC
Kertas putih kosong,
Cat putih kosong
Cat merah menyala
Cat hitam yang kelam
Warna-warni
Langit dalam hati
Tangis tawa
Ruang hampa penuh maaf
Tak dihargai
Diulangi lagi
Berkali-kali
Lemas terkulai
Hati ragu
Langkah berhenti
Pergi saja
Pergi
Ingin saya pergi
Atau kamu yang pergi
Kemudian berlalu
Berlabuh
Garis pantai dan pohon rindang
Hangat
Cerah
Dalam rangkulnya
Matahari bernyanyi
Satu ruang penuh tawa
Ruang hampa bersajak cinta
Penuh harapan penuh asa
: Jatuh cinta.
Mar 1, 2018
Mar 1, 2018 at 9:29 AM UTC
Semua begitu suram,
Semua begitu kelam,
Semua begitu buram.
Kupu-kupu tak lagi berkumpul di kebun,
Lebah tak lagi menghasilkan madu,
Burung tak lagi berkicau merdu.
Ditanyakan pada alam,
"Apahal semua ini?"
Ditanyakan pada malam,
"Apa yang terjadi?"
Ditanyakan pada siang,
"Mengapa seperti ini?"
Tapi percuma saja,
Semua hanya bisa membisu.
Bagai abu sisa bara yang masih menyala.
Jul 20, 2019
Jul 20, 2019 at 12:47 PM UTC
"dasar kamu anak biadab"
sekali,dua kali aku tersakiti
sekali,dua kali aku ingin mati
sekali,dua kali aku hanya ingin disayangi
siang ini aku mati
malam ini aku mati
bulan sebagai saksi
tetes,tetes aku pun senyap
kelam hidup ini
hampa,sunyi aku tidak ingin sepi
sekali dua kali,aku tidak hidup lagi
tuhan,maaf aku tidak kuat lagi
senyap senyap jiwaku ini
ditelan oleh bumi
Oct 31, 2017
Oct 31, 2017 at 11:24 AM UTC
bunga itu
biru atau kelabu?
merah itu
darah atau memar di dada?
mengapa kau menutupinya dengan
biru dan legam,
apakah kau betul berkabung
atau hanya ikut berseragam?
bebungaan
menyatu dalam diam
menyaru ke alam
realm nun kelam
bebungaan bicara
dengan warna
dan bermekar-mekaran
Dec 13, 2019
Dec 13, 2019 at 9:46 AM UTC
Sedari kecil, aku mendambakan sepasang sayap di belakang punggung.
Ingin aku arungi langit yang melintang dengan bebas. Ingin aku jelajahi awan yang seperti gumpalan kapas. Ingin aku miliki sepasang sayap agar anganku lepas.
Burung-burung yang mengambang melantunkan tawa bahagia. Ketika aku menengadah, pandangan mereka jatuh menimpa iris jelaga. "Kenapa kamu tidak terbang?" kicauan mereka membentuk kalimat tanya.
"Aku ingin, tapi takdir menyuruh aku menapaki tanah," timpalku sedikit berteriak.
Burung-burung tertawa, melingkari kepalaku dengan serangkai gelak. Aku termenung, menatap sayap-sayap yang terbang menjauh.
Andai aku bisa terbang, akan aku susul mereka yang mengambang. Akan aku lintasi awan sampai berlubang. Akan aku imbangi laju mereka tanpa secuil bimbang.
Sayangnya, aku tidak bisa terbang.
Aku cuma bisa menengadah, menatap biru dan biru dan biru yang membentang. Aku pandangi tirai biru sampai warnanya bergeser jadi abu.
Siang yang biru diganti malam yang kelabu. Mirip seperti mimpi-mimpi yang dengan cepat menjadi semu.
Pikirku, sedari dulu mimpiku selalu gagal bertaruh. Mungkin aku terlalu belagu? Terlalu banyak menaruh harap pada hidup?
Aku berusaha maklum, berdamai dengan gagal yang mengikuti aku seperti hantu. Namun, terbang seperti burung adalah satu-satunya mimpi yang tidak mau aku buat luruh.
Aku ingin terbang, menyapa semilir angin yang menerpa wajah. Aku ingin terbang, merangkai kapas di atas awan untuk menutup luka.
Aku ingin terbang. Aku ingin terbang. Aku ingin damai datang ketika tubuhku melayang di udara.
Maka, kepada Tuhan yang tinggalnya jauh di atas semesta, aku mohon dengan amat sangat agar aku bisa terbang.
Aku menaiki undakan, menatap gemerlap kota yang mengimitasi kawanan kunang-kunang. Kedua tangan aku rentangkan, berharap Tuhan menjahit sayap yang kilau gemilang. Aku melompat, menantang kelam yang memenuhi langit malam.
Aku terbang.
Apr 3, 2025
Apr 3, 2025 at 10:24 AM UTC