Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"kasih" poems
Palembang, 16 Maret 2013 Serasa aku kembali ke masa lalu Membaca pesanmu, dan menerka bentuk wajahmu Kamu kembali lagi Menyirami kebun senyumku yang mekar kini Membuatku ingin terus terjaga Tuk menunggu pesan darimu lagi Kini aku di sini lagi Mengagumimu, untuk alasan yang tak pasti Membanggakanmu, betapa kau peduli padaku Aku hanya bayangan bagimu Kamu hanya bayangan bagiku Interaksi yang membuat kita jadi nyata Aku mencintaimu, untuk alasan yang tak masuk akal Aku sungguh mencintaimu, melebihi rasa yang kau berikan padaku Aku sangat mencintaimu, namun ku tak berharap memilikimu Aku mencintaimu, seperti dia mencintaimu Dulu aku masih lugu Menyatakan cinta padamu Dan kau menertawakanku hahahaha Aku pun juga begitu Lantas aku merasa malu, Aku memutuskan komunikasi denganmu Mencoba tuk berhenti mencintaimu Berhenti mengagumimu Ya, meski hanya beberapa bulan Aku tak sanggup lama-lama mengacuhkanmu "Thanks, we're friends again." Itu kata pertama yang kamu ucapkan padaku Setelah aku memutuskan untuk kembali mengagumimu Mencintaimu adalah hal yang selalu membuatku rindu Aku selalu malu jika mendapatkan pesan darimu Aku takut selalu salah jika membalas pesanmu Tapi ku coba apa adanya dihadapanmu Terima kasih kamu mau menjadi temanku Andai aku bisa mengerti perasaan ini Aku ingin sekali saja mencintaimu, yaitu kali ini Aku tak ingin berlama-lama mengagumimu Itu hanya akan membawa dukaku di kemudian hari Aku beruntung bisa mencintai orang sepertimu Kamu tahu? Tak sedetikpun aku tidak memikirkan kamu Andai aku bisa mengerti perasaan ini
0
Mar 16, 2013
Mar 16, 2013 at 2:58 AM UTC
Andai Aku Bisa Mengerti Perasaan Ini
Palembang, 16 Maret 2013 Serasa aku kembali ke masa lalu Membaca pesanmu, dan menerka bentuk wajahmu Kamu kembali lagi Menyirami kebun senyumku yang mekar kini Membuatku ingin terus terjaga Tuk menunggu pesan darimu lagi Kini aku di sini lagi Mengagumimu, untuk alasan yang tak pasti Membanggakanmu, betapa kau peduli padaku Aku hanya bayangan bagimu Kamu hanya bayangan bagiku Interaksi yang membuat kita jadi nyata Aku mencintaimu, untuk alasan yang tak masuk akal Aku sungguh mencintaimu, melebihi rasa yang kau berikan padaku Aku sangat mencintaimu, namun ku tak berharap memilikimu Aku mencintaimu, seperti dia mencintaimu Dulu aku masih lugu Menyatakan cinta padamu Dan kau menertawakanku hahahaha Aku pun juga begitu Lantas aku merasa malu, Aku memutuskan komunikasi denganmu Mencoba tuk berhenti mencintaimu Berhenti mengagumimu Ya, meski hanya beberapa bulan Aku tak sanggup lama-lama mengacuhkanmu "Thanks, we're friends again." Itu kata pertama yang kamu ucapkan padaku Setelah aku memutuskan untuk kembali mengagumimu Mencintaimu adalah hal yang selalu membuatku rindu Aku selalu malu jika mendapatkan pesan darimu Aku takut selalu salah jika membalas pesanmu Tapi ku coba apa adanya dihadapanmu Terima kasih kamu mau menjadi temanku Andai aku bisa mengerti perasaan ini Aku ingin sekali saja mencintaimu, yaitu kali ini Aku tak ingin berlama-lama mengagumimu Itu hanya akan membawa dukaku di kemudian hari Aku beruntung bisa mencintai orang sepertimu Kamu tahu? Tak sedetikpun aku tidak memikirkan kamu Andai aku bisa mengerti perasaan ini
Continue reading...
47
Senja djakarta enam belas januari dua ribu lima belas . di hadapan leptop , aku merangkai kata demi kata untuk menghasilkan sebuah karya yang indah . ku tatapi sekelilingku ... benda mati , sepi, lengang ... andai printer yang disampingku itu berbicara... gunting itu berkata, dan pulpen ini berteriak , akan aku ceritakan sebuah kisah klasik ini di hadapan benda-benda itu . entah apa yang aku rasakan saat ini . abstark sepertinya . aku pernah berangan-angan menikmati teh rosela bersama bapakku didalam dekapan senja hangat mengantarkan mentari itu pulang , dalam dekapan . bapak yang aku rindukan kasih sayangnya melebihi apapun di dunia ini . Maafkan aku mama, aku tidak pernah serindu ini kepada bapakku . tapi percayalah , kedudukanmu dihatiku selalu ku prioritaskan bak malaikat yang selalu menjagaku setiap hari . Mama... bisakah engkau wakilkan rasa ini kepada bapakku , bahwa aku ingin mencium tangannya . kemudian ia tersenyum merasakan hangat cinta anakknya . rasa apa yg lebih berarti daripada menahan rindu ini , menahan rindu akan sosok bapakku yang genap 8 tahun sudah tidak pernah menyapaku lagi . aku tidak ingin mengingatnya dengan kenangan buruk , tetapi aku akan mencoba menguburnya ,dan ini lah saatnya aku menjadi pribadi yang berubah . bapak, tahukah engkau pak , aku sudah beranjak dewasa, dr dewasa itu aku menemukan siapa diriku sebenarnya . sadar bahwa aku bukanllah apa-apa tanpamu pak . sadara bahwa aku di dunia ini karena mu dan ibu . maafkan aku yang tidak pernah mendegarkanmu . Senja ... saksikanlah bahwa aku ingin sekali bapak duduk di pelaminan bersama ibu , dan aku berada tepat di bawah kakiknya . sembah sungkem merestui pernikahanku bersama pria yang dikirimkan ALLAH untukku .
0
Jan 16, 2015
Jan 16, 2015 at 6:09 AM UTC
Senja
Senja djakarta enam belas januari dua ribu lima belas . di hadapan leptop , aku merangkai kata demi kata untuk menghasilkan sebuah karya yang indah . ku tatapi sekelilingku ... benda mati , sepi, lengang ... andai printer yang disampingku itu berbicara... gunting itu berkata, dan pulpen ini berteriak , akan aku ceritakan sebuah kisah klasik ini di hadapan benda-benda itu . entah apa yang aku rasakan saat ini . abstark sepertinya . aku pernah berangan-angan menikmati teh rosela bersama bapakku didalam dekapan senja hangat mengantarkan mentari itu pulang , dalam dekapan . bapak yang aku rindukan kasih sayangnya melebihi apapun di dunia ini . Maafkan aku mama, aku tidak pernah serindu ini kepada bapakku . tapi percayalah , kedudukanmu dihatiku selalu ku prioritaskan bak malaikat yang selalu menjagaku setiap hari . Mama... bisakah engkau wakilkan rasa ini kepada bapakku , bahwa aku ingin mencium tangannya . kemudian ia tersenyum merasakan hangat cinta anakknya . rasa apa yg lebih berarti daripada menahan rindu ini , menahan rindu akan sosok bapakku yang genap 8 tahun sudah tidak pernah menyapaku lagi . aku tidak ingin mengingatnya dengan kenangan buruk , tetapi aku akan mencoba menguburnya ,dan ini lah saatnya aku menjadi pribadi yang berubah . bapak, tahukah engkau pak , aku sudah beranjak dewasa, dr dewasa itu aku menemukan siapa diriku sebenarnya . sadar bahwa aku bukanllah apa-apa tanpamu pak . sadara bahwa aku di dunia ini karena mu dan ibu . maafkan aku yang tidak pernah mendegarkanmu . Senja ... saksikanlah bahwa aku ingin sekali bapak duduk di pelaminan bersama ibu , dan aku berada tepat di bawah kakiknya . sembah sungkem merestui pernikahanku bersama pria yang dikirimkan ALLAH untukku .
Continue reading...
4
*lagi, aku menulis untukmu. tidak pernah bosan jemari ini menari diatas kertas putih merangkai kata hanya untukmu, seseorang yang lebih berharga dari sebutir berlian termahal di duna ini. teruntuk seseorang yang namanya masih belum mampu aku tulis diatas kertas ini, selamat hari minggu. semoga minggu depan lebih baik dari minggu ini. tenang saja, aku sudah meminta kepada Tuhan untuk menukar seluruh kesedihanmu selama seminggu ke depan dengan kebahagiaanku. ah, tenang saja. aku bisa menahan rasa sedih sebanyak apapun itu. apa kabar? bagaimana senjamu kemarin? apakah mengesankan? ah, sangat disayangkan. bagiku, setiap senja datang mengunjungi mengintip dari sela-sela jendela kamar, sinarnya selalu mengingatkanku kepadamu. aneh, bukan? hah, mengapa setiap hal yang aku lihat selalu mengingatkanku padamu? mau sampai kapan kamu tetap bersarang dibenakku? tapi aku berjanji, setelah kamu selesai membaca surat usang ini, aku sudah melupakanmu dan seluruh kenangan indah tentangmu. tujuanku kali ini adalah untuk mengucapkan terima kasih. terima kasih telah mengajariku bagaimana rasanya dijaga dan diperhatikan. bagaimana rasanya jatuh hati. bagaimana rasanya ditinggalkan begitu saja. bagaimana rasanya mengukir rindu diatas batu. aku ingin berterima kasih kepadamu. dan aku berterimakasih kepadamu. karenamu, aku dapat paham bagaimana rasanya mencintai seseorang tanpa timbal balik. aku hendak pergi. maka itu, aku menulis surat ini sebagai tanda perpisahan denganmu. aku akan pergi meninggalkanmu di belakang. aku akan melepasmu pergi, membiarkanmu mencari kebahaigaanmu sendiri. karena aku akan berkelana mencari kebahagiaanku. aku akan mengikuti kemana angin akan membawaku. aku ingin bebas leluasa mencari penggantimu. tidak mungkin selamanya aku akan hidup di dalam bejanamu. sudah cukup banyak air mata yang tertahan karena diam mengagumi dari jauh. hal itu sudah cukup membuat hati tersayat sangat dalam. bahkan dengan kecupan macam apapun tidak akan memperbaikinya. satu hal yang aku minta darimu. berbahagialah dengan siapapun itu perempuan pilihanmu. hargai dia dan perlakukan dia seperti dia adalah perempuan terakhir yang akan kamu lihat. aku tidak akan pernah berhenti mendoakan kebahagiaanmu. dimanapun kamu berada, berbahagialah. selamat tinggal. terima kasih untuk 1.700 hari ini. aku belajar sangat banyak. aku tidak akan melupakanmu seutuhnya. aku akan selalu mengingatmu sebagai senja favoritku.*
0
Mar 13, 2016
Mar 13, 2016 at 9:12 AM UTC
sepucuk senja januari
*lagi, aku menulis untukmu. tidak pernah bosan jemari ini menari diatas kertas putih merangkai kata hanya untukmu, seseorang yang lebih berharga dari sebutir berlian termahal di duna ini. teruntuk seseorang yang namanya masih belum mampu aku tulis diatas kertas ini, selamat hari minggu. semoga minggu depan lebih baik dari minggu ini. tenang saja, aku sudah meminta kepada Tuhan untuk menukar seluruh kesedihanmu selama seminggu ke depan dengan kebahagiaanku. ah, tenang saja. aku bisa menahan rasa sedih sebanyak apapun itu. apa kabar? bagaimana senjamu kemarin? apakah mengesankan? ah, sangat disayangkan. bagiku, setiap senja datang mengunjungi mengintip dari sela-sela jendela kamar, sinarnya selalu mengingatkanku kepadamu. aneh, bukan? hah, mengapa setiap hal yang aku lihat selalu mengingatkanku padamu? mau sampai kapan kamu tetap bersarang dibenakku? tapi aku berjanji, setelah kamu selesai membaca surat usang ini, aku sudah melupakanmu dan seluruh kenangan indah tentangmu. tujuanku kali ini adalah untuk mengucapkan terima kasih. terima kasih telah mengajariku bagaimana rasanya dijaga dan diperhatikan. bagaimana rasanya jatuh hati. bagaimana rasanya ditinggalkan begitu saja. bagaimana rasanya mengukir rindu diatas batu. aku ingin berterima kasih kepadamu. dan aku berterimakasih kepadamu. karenamu, aku dapat paham bagaimana rasanya mencintai seseorang tanpa timbal balik. aku hendak pergi. maka itu, aku menulis surat ini sebagai tanda perpisahan denganmu. aku akan pergi meninggalkanmu di belakang. aku akan melepasmu pergi, membiarkanmu mencari kebahaigaanmu sendiri. karena aku akan berkelana mencari kebahagiaanku. aku akan mengikuti kemana angin akan membawaku. aku ingin bebas leluasa mencari penggantimu. tidak mungkin selamanya aku akan hidup di dalam bejanamu. sudah cukup banyak air mata yang tertahan karena diam mengagumi dari jauh. hal itu sudah cukup membuat hati tersayat sangat dalam. bahkan dengan kecupan macam apapun tidak akan memperbaikinya. satu hal yang aku minta darimu. berbahagialah dengan siapapun itu perempuan pilihanmu. hargai dia dan perlakukan dia seperti dia adalah perempuan terakhir yang akan kamu lihat. aku tidak akan pernah berhenti mendoakan kebahagiaanmu. dimanapun kamu berada, berbahagialah. selamat tinggal. terima kasih untuk 1.700 hari ini. aku belajar sangat banyak. aku tidak akan melupakanmu seutuhnya. aku akan selalu mengingatmu sebagai senja favoritku.*
Continue reading...
10
Palembang, 25 Desember 2011 For my beautiful Mom: Mama, kamu cantik Tanganmu melentik indah saat mencuci baju kami Mama, kamu sungguh cantik Badanmu bagus melenggok saat memasak untuk kami Mama, kamu benar-banar cantik Sekalipun kamu sedang terlelap di tidurmu Mama, kamulah harta tak ternilai bagi kami Harta wajib yang harus kami bawa kemanapun kami melangkah Kamulah semangat pagi kami tuk menghadapi dunia Kamulah alasan kami bertahan hidup sampai sekarang Harapan kami adalah tuk membahagiakanmu selamanya Pikir kami kata Terima Kasih takkan pernah cukup tuk membalas kasih mu Mama, kamu cantik setiap hari Di mata kami kamulah hal yang terindah yang kami punya Di dunia ini tak ada pahlawan seikhlas dirimu Kamu terus bertahan meskipun kadang air mata menyertaimu Kamu terus menebarkan senyummu di waktu kami resah Mama, kamu tegar setegar batu karang Mama, kamu bersinar mengalahkan sinar Matahari Mama, kamu sejuk sesejuk embun di pagi hari Mama, kamu sehangat dekapanmu pada kami Mama, kami mencintaimu Mama, terima kasih atas cintamu selama ini Terima kasih atas pengorbanan mu kepada kami Maafkan kami yang pernah membuatmu menangis Maaf atas tingkah kami yang menjengkelkan hatimu Kami percaya dan tahu bahwa kamu tahu betapa kami mencintaimu, Mama
0
Dec 30, 2011
Dec 30, 2011 at 7:41 AM UTC
Mama I
Kau... membenciku kah? tidak menyukaiku? atau mungkin kau iri padaku? Kau begitu munafik! dulu aku selalu bercerita tentangnya padamu, meskipun aku dan dia sudah tak lagi bersama kau pun tahu aku masih sangat sangat menyukainya. Kau tahu aku mengaguminya berbulan bulan, kau juga tahu untuk mendapatkan hatinya seperti berlari mendapatkan satu bintang kecil. Walau pada akhir nya aku hanya jadi pelampiasan perasaannya, tapi aku masih sangat menyukainya pada waktu itu meski kenyataannya harus seperti itu. Aku teman mu, dan aku juga tahu kau juga temannya lebih dekat dari sekedar pertemananku denganmu. tapi apa kau tak bisa mengahargai perasaanku sebagai temanmu? kau tahu semua isi hatiku tentangnya, tapi mengapa kau sekarang? memadu kasih dengan dirinya yang sampai detik ini kau tahu aku masih sangat mengaguminya! kau jahat! kau benar-benar penghianat bertopeng pertemanan! kau bukan lagi temanku sekarang. Itu terlalu sakit, sangat sakit untuk ku percaya. kau bahkan hanya mengatakan maaf hanya untuk sekali seumur hidupmu?! itukah dirimu yang sebenarnya? menikamku tanpa ampun. kalian berdua sama saja, tak ada gunanya aku mempertahankan seorang teman penghianat, dan sorang pengagum yang gila perempuan. 'seorang pencuri kekasih sesungguhnya mencuri seorang penghianat!'
0
Oct 10, 2013
Oct 10, 2013 at 11:30 PM UTC
Dikamusku ada 'MANTAN TEMAN' sekarang!
dari awal memang aku hanya kertas kosong bagimu tak bisa digambar, tak bisa ditulis yang terlupakan, yang tertinggal yang terbuang, tak berharga meski ku coba tuk tulis sendiri kau hapus begitu saja, dan kau buang nama ku tak pernah kau sebut mungkin karena kau lupa mungkin karena kau tak suka aku Erikaa kau bisa panggil ku apa saja sesukamu tapi jangan, jangan kau tak menyapaku ku baca statusmu diam-diam, dari akun temanku, teman baikku kau benar suka dia? haha tentu saja! kau kembali ke kampung halaman, besoknya kau pergi lagi menjemputnya oh betapa beruntungnya dia dicintai malaikat sepertimu jika kau menikah, apa ada kau akan mengingatku? mengingat kekonyolanku? menertawai kebodohanku? kini semuanya ku buang, semua tentangmu senyummu, candamu, tapi ku mohon, izinkan aku menyimpan foto-foto mu bukan foto dirimu, tapi foto mu, pohon, jalanan, Samudera Atlantik, yang kau foto No! Akan ku hapus semua! Terima kasih tuk selama ini. Kau tlah berikan 0.5% cinta mu padaku Terima kasih telah 99.5% membenciku sehingga aku sadar akan kedudukanku Terima kasih sudah 100% mencintai dia aku yakin kau takkan menyakitinya ""Selamat G----- F--------- F-------- Semoga kamu BAHAGIA""
0
Sep 24, 2012
Sep 24, 2012 at 11:35 AM UTC
love 0.5%
Jumat, 1 Oktober 2010 Alangkah gembiranya aku Ingin ku tak henti tuk tersenyum Tertawa, bahagia karena mereka Terima Kasih Tuhan,,, Kini banyak yang sayang pada ku Mereka begitu berarti bagiku Yang hiasi hari-hari di sekolahku Terima Kasih Tuhan... Mereka tidak kehilanganku Mereka selalu memuat ku tersenyum Dan selalu tersenyum untukku ku Bersyukur aku atas yang ku dapat Aku sayang kalian, Sahabat-Sahabat ku... Created by. Aridea .P
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:49 PM UTC
Sahabat Ku
Jakarta, 1986 Wanita berambut cokelat muda sebahu itu terlihat sedang asyik mengamati asap rokok yang ia keluarkan sebelum membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. Jalanan di Jakarta memang selalu ramai tapi tak satupun mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang itu akan berhenti dan menghentikan apa yang akan ia lakukan setelah jam menunjukkan pukul lima pagi. Masih terngiang di kepala apa yang orang-orang katakan tentangnya selama ini.. sampah, pelacur memang tidak pantas hidup enak, ingat ya, kau itu cuma pelacur ia memejamkan mata sambil perlahan menghitung berapa kali ia telah mendengarkan cacian setiap pulang. Jam yang berada di tangan kirinya masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, ya lima belas menit yang ia gunakan untuk akhirnya mengingat perkataan Abimanyu. Laki-laki terakhir yang memberikan segalanya, harta, kasih sayang, dan waktu tapi ia tak dapat menikmati itu semua walau sudah mencoba beribu kali aku tidak akan pernah berubah menjadi laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu ,kau tahu bahwa seberapapun mahalnya berlian apabila yang memakainya tidak pantas maka akan terlihat murah?, kau terlihat cantik dengan apapun, aku melakukan semua ini karena aku tak sanggup melihatmu sedih, aku akan terus mencintaimu walau kau tak akan pernah bisa membalas perasaanku yang hanya akan selalu ia balas dengan aku sudah tak percaya cinta atau aku sudah tak punya hati hatinya telah membeku dicabik-cabik sejak dulu, sebelum bertemu Abimanyu. Air mata perlahan mengalir dari mata yang tertutup itu, lima menit lagi batinnya sebelum mengusap air mata yang sudah membasah pipi dan meluruskan gaun putih rancangan desainer terkenal yang diberikan sebagai hadiah untuknya tak dipungkiri gaun itu bernilai lebih dari penghasilannya selama satu bulan namun apalah arti uang disini? Ia kembali melirik jam yang sekarang menunjukkan dua menit sebelum pukul lima, diatas jembatan layang itu masih ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan.  Tenanglah tak akan ada yang mampu menyelamatkanmu. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tanpa berpikir panjang ia melepas pegangannya dari pagar yang menopang tubuh dan terjun bebas tanpa ada perlawanan terhadap gravitasi. Tak semua bidadari hidup bahagia di surga
0
Mar 5, 2016
Mar 5, 2016 at 7:57 AM UTC
Bidadari Fajar
Jakarta, 1986 Wanita berambut cokelat muda sebahu itu terlihat sedang asyik mengamati asap rokok yang ia keluarkan sebelum membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. Jalanan di Jakarta memang selalu ramai tapi tak satupun mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang itu akan berhenti dan menghentikan apa yang akan ia lakukan setelah jam menunjukkan pukul lima pagi. Masih terngiang di kepala apa yang orang-orang katakan tentangnya selama ini.. sampah, pelacur memang tidak pantas hidup enak, ingat ya, kau itu cuma pelacur ia memejamkan mata sambil perlahan menghitung berapa kali ia telah mendengarkan cacian setiap pulang. Jam yang berada di tangan kirinya masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, ya lima belas menit yang ia gunakan untuk akhirnya mengingat perkataan Abimanyu. Laki-laki terakhir yang memberikan segalanya, harta, kasih sayang, dan waktu tapi ia tak dapat menikmati itu semua walau sudah mencoba beribu kali aku tidak akan pernah berubah menjadi laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu ,kau tahu bahwa seberapapun mahalnya berlian apabila yang memakainya tidak pantas maka akan terlihat murah?, kau terlihat cantik dengan apapun, aku melakukan semua ini karena aku tak sanggup melihatmu sedih, aku akan terus mencintaimu walau kau tak akan pernah bisa membalas perasaanku yang hanya akan selalu ia balas dengan aku sudah tak percaya cinta atau aku sudah tak punya hati hatinya telah membeku dicabik-cabik sejak dulu, sebelum bertemu Abimanyu. Air mata perlahan mengalir dari mata yang tertutup itu, lima menit lagi batinnya sebelum mengusap air mata yang sudah membasah pipi dan meluruskan gaun putih rancangan desainer terkenal yang diberikan sebagai hadiah untuknya tak dipungkiri gaun itu bernilai lebih dari penghasilannya selama satu bulan namun apalah arti uang disini? Ia kembali melirik jam yang sekarang menunjukkan dua menit sebelum pukul lima, diatas jembatan layang itu masih ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan.  Tenanglah tak akan ada yang mampu menyelamatkanmu. Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tanpa berpikir panjang ia melepas pegangannya dari pagar yang menopang tubuh dan terjun bebas tanpa ada perlawanan terhadap gravitasi. Tak semua bidadari hidup bahagia di surga
Continue reading...
6
Jakarta, Minggu 18 Mei 2008 Dulu diary ku indah Sekarang telah ku ubah Tapi, saat gagal bertemu kau Ku satukan diary yang terpisah Sebagai bukti dariku Yang kan ku berikan untukmu Agar kau tau Seberapa besar cintaku Kasih ku t’lah tercurah Berdetik-detik, berjam-jam Bahkan berhari-hari lamanya Semoga dapat kau terima Meski terluka akhirnya Biar ku pergi saja Lupakan kenangan indah Dan yang paling menyakitkan Tapi, takkan ku biarkan Diary ku berubah indahnya
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:42 AM UTC
Diary
Palembang, 21 Oktober 2012 Aku berjalan, menyusuri lorong gelap dan dingin Menatap lurus pada satu tujuan Pintu berukiran abstrak Tanpa kunci aku bisa masuk dengan mudahnya Tanpa kode aku lolos dari tes keamanan Aku terus berjalan, menapaki lantai yang lembap Menuju suatu benda tinggi besar yang datar Aku berhenti. Berdiam diri cukup lama Terpaku tanpa mampu berkata Aku berdiri di depan cermin Aku melihat diriku Lihat Dia! Dialah aku yang haus akan cinta Dialah aku yang menadah kasih sayang Aku berlutut dan meminta Bawa dia ke sini Tuhan Ke hatiku Aku masih terdiam terpaku Menyaksikan apa yang ada di hadapanku Berpikir, betapa bodohnya aku Aku berbalik tanpa berkata sepatah pun Dan pergi meninggalkan aku yang masih terperangkap di cermin itu Masih bisa kuubah, ucapku pada diriku Takkan ku biarkan penderitaan menyentuh hidupku, sedikitpun Aku akan berbalik dan melupakan semua Melanjutkan perjalanan hingga tugasku usai
0
Oct 21, 2012
Oct 21, 2012 at 12:49 PM UTC
Cermin Tarsah
Pukul satu, kakiku melangkah ke sudut warung kecil itu Sunyi, lalu ku pilih tempat duduk di ujung sana Setelah memesan kopi, pilot ku menggores kertas Yang sama putihnya dengan kulitmu Tak lupa kubakar ujung rokokku Yang namanya sehangat pelukanmu Lalu kuhembuskan kepulan asap tembakau Menguar sama harumnya dengan tubuhmu Sepekat nikotin di pembuluhku Ku tulis kisah kita, dari awal mula hingga akhir bersua Yang terdampar di sudut kenangan dan rindu, dan kupaksakan masuk ke dalam loker kerjaku Sehingga lupa ku adalah tabu, dan memoir adalah ***** Dirimu ku lukis dalam surat ini; "Di hingar bingar kota, dimanakah kau berada? Jika lelahmu beradu, dimakah kau berteduh? Aku disini kasih, Surabaya tempatmu lari Menolehlah jika kau ada di sudut persimpangan Mungkin, aku disitu mencari dan mencari Sisa-sisa cintamu jika itu memang terjatuh Menadah air matamu, jika itu memang tercecer. Temui aku, jika berkenan menjumpa nostalgia" Kuhembuskan uap-uap tar yang menguning Menerawang di bohlam remang-remang. Ketika kabut itu pergi, begitu pula aku Saat api ini padam, redup juga jiwaku Pukul tiga aku beranjak, Bayar dan pergi Surat itu kutinggalkan di atas meja.
0
Apr 7, 2016
Apr 7, 2016 at 2:05 AM UTC
Secarik Surat Cinta dan Sebatang Rokok Surya
Fadil sungguh memilikinya Akan bahagia terasa selamanya Dihiasi lirik lagu yang indah Itulah momen special sepanjang masa, dengan Luapan cinta kasih di sekelilingnya Angkasa, bagai terbang melayang Nuansa hati hadir tercipta Ejaan kata terhias di awan-awan Sungguh indah langit terhias Pegang tangan erat-erat Untuk menantang tornado yang datang Tak terlepas, bahkan jangan sampai Riang selalu walau terhempas Agar cinta kan sampai bersama di surga
0
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 10:13 AM UTC
F.A.D.I.L A.N.E.S P.U.T.R.A
Palembang, 3 November 2011 Aku bersabar . . . Tetap berusaha dengan penuh harap Supaya bisa melihat wajah mereka Mendengar suara mereka Menyaksikan kekompakan mereka yang sangat aku cinta Aku tidak menangis . . Hampir, tetapi ku hapus air mata dan ku pasang senyum bahagia ku tersenyum sesekali, tertawa bersama mereka Aku tidak mengerti bahasa mereka Tapi aku mengetahui yang mereka bicarakan Aku tidak pernah bertemu mereka Tapi aku bisa merasakan mereka sangat dekat Aku tidak mengenal mereka Tapi aku sangat mencintai mereka Dari dulu hingga sekarang rasa ini tak akan berubah Meskipun aku belum beruntung Doa membantuku memberitahu-Nya Bahwa aku sangat merindukan mereka Sekarang,,, Aku sedang memandang mereka Merekam setiap kata, gerak, dan ekspresi mereka Hal terindah yang pernah aku rasakan Terima Kasih Tuhan, , , Hadiah ku datang Created by. Aridea P
0
Nov 3, 2011
Nov 3, 2011 at 11:57 AM UTC
Hadiah Ku Datang :)
Palembang, 21 Oktober 2012 Kini aku menulis dari sudut kiri Memalingkan mukaku dari hadapanmu Tak ingin terlihat olehmu Di sini, aku membaca sembunyi-sembunyi Menahan kedip, Tak ingin melewatkan membaca namamu Di sini dingin, hujan baru saja turun Membasahi jalanan yang terlalu lama kering Aku tak ingin pergi keluar Hanya ingin di sini Merasakan rasa ini lagi Rasa seperti ini Sekarang ini, saat aku menulis ini Rasa yang sulit tuk diungkapkan Lebih sulit dari berjalan di atas bara Lebih sulit dari mengingat namamu Sangat sulit daripada menulis namamu Sangat amat sulit daripada menyebut namamu Rasa, yang tak akan pernah berhenti membuatku menulis Rasa, yang tak mampu ku ucapkan sendiri Rasa ini Rasa yang sulit tuk dimengerti Rasa yang tak akan pernah hilang Rasa yang sulit tuk tak dibahas Terima kasih tlah membuatku menulis dari kiri
0
Oct 21, 2012
Oct 21, 2012 at 6:22 AM UTC
Rasa 2
Jumat, 13 Agustus 2010 Sekarang aku makin dewasa Bapak... Mamak... Aku... Anakmu kini 15 tahun Ya Allah Terima Kasih atas Rahmat-Mu Bapak, maaf bila esok ku tak berguna Mamak, maaf bila esok ku gagal Ya Allah, ampuni Hamba Semakin dewasa, semakin ku berdosa Tak sanggup aku melawan rasa itu Aku telah bercinta... Bercinta dengan nya Ku tahu dia tak pernah di sini Tuhan... Tuntunlah aku pada-Mu Aku merasa hina di hadapan-Mu Aku merasa hina di belakang orang tua ku Ampuni Hamba Ya Allah... Ku tahu t'lah berdosa Oh Tuhan, Aku bercinta dengannya di dalam khayal Creates by. Aridea .P
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 11:38 AM UTC
#>Umur;>Dosa#
Kala malam tampakkan luka Terlapis kasih, beringsut malu Ia terbakar gugur lebur Dan tidak termaafkan Sesap tangismu sendiri, Relung jiwa telah berkeluh Sembahyang doakan maut Akan pilu cinta dursilamu Dengarlah tembang petaka Perlahan menggoda luhur Gapai lika-liku serapahnya Dan kenakan sebagai selambu senja kini Jika malaikat merasuk pada Sekuntum bunga di pelupuk mata Rimba ruak ini tak akan lebih Besar dibanding seuntai rindu durjana Maka dengan itu, Akan kuajak berpesta pora Sedu-sedan iblismu Di taman mahakama bersimbah dosa Lepaskan genggaman tangan itu Dari lentera di sunyi gulita Karena sinarnya yang rupawan Telah meleleh dalam lumrah darah getir Ikutlah denganku, Kita kan menari semalam suntuk Sampai yang tercium dalam hati Hanya bau anyir perpisahan
0
Nov 24, 2015
Nov 24, 2015 at 9:07 AM UTC
Despondensa Amoris
Jakarta, Selasa 8 April 2008 Kerlip indah di malam Awal hidup bahagia Melukiskan kata cinta Indah cinta tercipta Bagai bintang di surga Cinta ku indah di atas Bintang yang bercahaya terang Membawa kasih cinta Menebarkan padanya Cinta ku suci padanya Surga-Mu indah penuh bintang Membawa kasih cinta Tuk sampaikan padanya Bercahayalah tenang Hingga akhir jiwa ku Hingga hati kan terluka Indah cinta terlukiskan Bagai bintang di surga
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 10:02 AM UTC
Bintang
Cinta… Betapa sayang ku lebih Kau tak tau berada di sini Bahwa sayangku tersembunyi Cinta… Lama sudah ada di sini Kau tak dengar jeritan ini Lirikmu yang selalu mewakili Kasih… Lebih indah saat ku bermimpi Tapi, tidak pernah terjadi Aku, hanya duduk sendiri Kasih… Lamunanku tertuju padamu… Tak sadar aku inginkan kamu Dan selamanya aku Cinta kamu Kasih… by. Aridea Purple
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 9:01 AM UTC
Cinta Kasih
Matahari mungkin bosan Bintang mungkin terlalu ramai Bulan mungkin kurang hingar-bingar Aku mungkin tidak tahu Mereka bukan Tuhan, dan aku Adalah hantu dalam tanah; Tak tahu apa-apa akan yang lampau Dan yang akan datang kemudian Seandainya lebih dahulu aku memahami Kalau kita saling mencintai senja, Alangkah baiknya bila di awal Kita mengurungkan niat suci yang menggelora Untuk dapat menjadi bulan (Yang ternyata terus mengejar dalam senyap, Namun, Tak sekalipun dapat ia gapai kasih dari petang.) Alangkah baiknya bila dahulu Kita terbenam bersama-sama Dalam genangan nila dan lembayung Itu jauh lebih indah. (Terbenam, bukan gugur.) Tapi, sudahlah, Matahari mungkin bosan Bintang mungkin terlalu ramai Bulan mungkin berserah pada gemerlap Dan aku tak tahu apapun Tentang kuasa Tuhan.
0
Feb 8, 2016
Feb 8, 2016 at 10:15 AM UTC
Mungkin Terlambat Terbenam
Jumat, 1 Oktober 2010 Terima Kasih Opa... Kau luangkan sedikit waktumu Untukku di sela waktu istirahatmu Terima Kasih Opa... Tak pernah engkau marah padaku Meski ku pulang terlambat Atau terlambat bangun di pagi hari Terima Kasih telah menjaga ku Selama ku di perantauan ini Ku pikir hanya mengandalkan raga ini Namun ku pasti tak mampu tanpa bantuan mu Beribu-ribu Terima Kasih untuk mu... Opa Created by. Aridea .P
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:45 PM UTC
Terima Kasih Opa
Setia ku hingga akhir waktu Cinta ku tak mati meski hancur Kasih ku tak habis slalu merindu Diriku kan mati ditinggal mu Suara hati ini bisu Jejak langkah ini lumpuh Tapi tetap kepakkan sayap Menuju surga hidup kebahagiaan Lagu cinta hilang Berasa hening kali ini Suara indah berhenti Hatipun bersedih Luapan cintaku tak berakhir Sampai nanti, sampai aku mati
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:50 AM UTC
Untitled
Kau Hadir Dan bahkan pada saat seperti ini. Pada masa kebingungan memuncak. Kalut yang berkecamuk. Hilang arah tak tahu kemana harus melangkah. Letih yang minta sudah. Kau hadir. Ketika aku sudah tak tahu mana yang kepastian dan bualan Merasakan jatuh ke jurang kebodohan paling dasar. Mengemis kasih dan mendamba cinta. Kasih cinta yang semu dan membuatku semakin terluka. Kau hadir. Panas wajah menanggung malu. Pening kepala memikirkan sikapku. Bagaimana aku bisa terlena dan membiarkanmu sirna? Membiarkanmu tersingkir untuk sementara. Namun kau, seperti biasa, akan senantiasa hadir. Hadir melalui kata-kata Hadir melalui nada-nada Hadir melalui tanda dari alam semesta Hadir dan terasa nyata. Hadir dan membuatku terjaga.
0
Mar 21, 2016
Mar 21, 2016 at 4:20 PM UTC
Kau Hadir
Bapak, aku ingin pulang Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah Tapi kau telah mempunyainya. Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak. Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan. Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu; yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini. Kau tak akan menemukannya disana Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu Kau adalah rumahmu Tapi kau adalah bukan tempat singgah Badanmu bak ruang luas tak terbatas Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka Ribuan pintu tersebut tertutup adanya Terkunci dengan rapat Namun kuncinya telah kau telan   Dibalik pintu itu, Lagi-lagi ribuan misteri Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran Tersimpan terlalu aman Jiwamu adalah fondasi Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan Namun parasmu, anakku sayang, Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap Hati-hati dalam memberi izin Jaga rumahmu Bersihkan Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
0
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 1:23 AM UTC
RUMAH
Bapak, aku ingin pulang Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah Tapi kau telah mempunyainya. Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak. Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan. Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu; yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini. Kau tak akan menemukannya disana Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu Kau adalah rumahmu Tapi kau adalah bukan tempat singgah Badanmu bak ruang luas tak terbatas Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka Ribuan pintu tersebut tertutup adanya Terkunci dengan rapat Namun kuncinya telah kau telan   Dibalik pintu itu, Lagi-lagi ribuan misteri Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran Tersimpan terlalu aman Jiwamu adalah fondasi Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan Namun parasmu, anakku sayang, Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap Hati-hati dalam memberi izin Jaga rumahmu Bersihkan Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
Continue reading...
36
T'lah kumiliki nurani bopok dan renta Warisan ibu ayah Membungkus kasih, dengki, segan, damai, resah, amarah Begitu bancuh dan arau Sang aku berbagi pada kekasihnya Sosok gagah terpercaya Aku dan gagah melanglang Beriringan menggandeng nurani Nurani amat bahagia Demikian puas ceria Hingga sosok gagah itu mulai muak Jemu, bosan katanya Menghempas jemari aku Dan mencampakkan nurani serupa buangan Cakapnya aku bersalah Tak jago mengenyangkan Tak tega setilik pun menengok nurani Menepis muka, aku bertanya "Apa nurani tak apa-apa?" Dengan terisak, nurani menyinyir menjawab "Terlihat nestapa dan pilu dari matamu Aku tak seberapa Pikirkan saja dirimu"
0
Jul 1, 2016
Jul 1, 2016 at 2:21 PM UTC
Sang Aku yang Bodoh
Dengarkan ketika kau merasa takut, akan semua ketulian, Gosip dan kata-kata tak bermakna, Semua berita peperangan Maupun musik tanpa nada. Telingamu seharusnya takut. Lihatlah ketika kau merasa takut, akan semua kebutaan, Kebajikan yang munafik, Imajinasi yang berlebihan Terlebih jika kau tampik Matamu selayaknya takut. Ucapkan ketika kau merasa takut, akan semua puisi dan syair, Mantra yang mereka panjatkan, pada setan dimana mereka lahir Semua bisu yang kau nyanyikan Bibirmu seharusnya takut. Cintai ketika kau merasa takut akan semua iba dan nestapa, Mabuk dengan segelas kasih, Mereka yang bertelanjang jiwa Sehingga matipun tertatih Hatimu selayaknya takut Pikirlah ketika kau merasa takut akan semua yang dungu, dimana nuklir-nuklir itu mereka sesap, dan kebijaksanaan para ***** dituju Ketika para pendeta tergagap. Otakmu seharusnya takut Rasalah ketika kau merasa takut akan semuanya yang berbentuk, menyerupakan tawa dengan doa, Yang menyayat hiruk pikuk Derap dan tangis yang fana Dirimu selayaknya takut Maka biarkan aku berani Karena kau hidup, dan aku tak punya diri.
0
May 7, 2016
May 7, 2016 at 2:26 PM UTC
Takut