Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"jingga" poems
Waktu aku kecil Dunia adalah kubus empat belas inci Yang menayangkan gambar warna-warni Penuh imajinasi Waktu aku kecil Dunia adalah permen loli warna pelangi Merah jingga kuning hijau biru nila ungu menari Rasanya manis seperti senyum mentari Waktu aku kecil Dunia adalah bulir-bulir air hujan Yang jatuh mengaliri selokan Disambut riang tawa kawan-kawan Waktu aku kecil Dunia adalah daun-daun kering Tertiup angin ketika fajar menyingsing Lalu berputar seperti gasing Waktu aku kecil Apalah arti politik dan ekonomi Tak mengerti sengketa dan perang sana-sini Yang aku mau boneka Barbie! Sekarang.. Waktu dan Aku sudah tidak kecil lagi Waktu tambah berisi Aku bertambah tinggi Harus lalui gejolak emosi Tak bisa bicara seenak hati Harus menyadari Banyak tanggung jawab masih menanti Waktu.. maukah berputar bersamaku? Biarkan angin bertiup Kembali ke masa itu
0
Jul 17, 2013
Jul 17, 2013 at 10:13 AM UTC
Waktu Aku Kecil
*perempuan datang atas nama cinta, bonda pergi kerana cinta. digenangi air racun jingga adalah wajahmu, seperti bulan lelap tidur di hatimu, yang berdinding kelam dan kedinginan ada apa dengannya ? meninggalkan hati untuk dicaci, lalu sekali ini aku lihat karya surga, dari mata seorang hawa ada apa dengan cinta ? tapi aku pasti akan kembali dalam satu purnama, untuk mempertanyakan kembali cintanya. bukan untuknya bukan untuk siapa, tapi untukku , karena aku ingin kamu, itu saja* rangga
0
Jun 9, 2013
Jun 9, 2013 at 4:48 AM UTC
perempuan
kau masih melukiskan jingga di kepala bertanya pada sudut jalan yang tak pernah sepi “seperti apa senja di kota?” ya seperti ini tak dingin oleh kabut tak terasa oleh waktu kau akan sibuk menyeberang jalan sebelahmu akan mati kejang – kejang dan mereka masih akan meliput gedung metromini memainkan dendang dengan kencang selagi pengamen berteriak minta makan “dan kamu?” mataku ini akan merah berair “kenapa?” apa beda aku dengan senja di kota?
0
Jan 10, 2016
Jan 10, 2016 at 9:54 AM UTC
serpihan senja di jakarta
Dalam diam kau mencari sosokku Dekat namun tak tergapai Aku ingin menyentuhmu Namun kau hanyalah sebatas suara bagiku Aku menatap wajahmu Sorot tajam diasah sepi Dalam kesendirianmu kau mencari sosokku Namun aku hanyalah sebatas kenangan bagimu Hujan yang memancing air matamu Daun gugur yang menemani ratapanmu Aku ingin kau melihatku Kau ingin aku menyentuhmu Aku ingin kau tersenyum untukku Kau ingin aku tertawa untukmu Waktu akan menghampiri Tanpa bisa diingkari Aku menemani dirimu Walau hanya suara Kau memberikan hangatmu Sedih dan duka Lalui, tidur dan lewati Suatu hari nanti katakan padaku Dengan suara lembutmu Aku yang larut dalam air mata Gemerlap berkaca-kaca   Semburat jingga langit sore Gelap langit malam sewarna abu Menjadi tinta dalam hatiku Mengukir dengan indah hari-hari itu Saat kau bersama denganku
0
Dec 5, 2017
Dec 5, 2017 at 8:40 AM UTC
Suaramu Tinta Dalam Hatiku
Melihatmu melukis warna Merah cerah dan jingga Mengangkat kedua ujung bibir Membawa bahagia dengan sihir Namun kini bukanlah yang lalu Melihatmu menyobek raga Merah darah dan infeksi Menggebuk harapan memfana Mengenakan topeng yang berseri
0
Jan 3, 2019
Jan 3, 2019 at 5:23 AM UTC
Topeng
"Senja dan jingga kembali bertemu, aksara tentang rindu terlantun hingga senja kembali ke peraduannya. Ada jeda diantaranya yang tak bisa dieja, gelap meleyapkan, bulan menggantikan.." Surabaya, 31 Juli 2019
0
Nov 5, 2019
Nov 5, 2019 at 9:59 PM UTC
Senja dan Jingga
putih warna duplikat hatimu merah merepresentasikan perasaanmu biru unsur yang menyertaimu setiap hari, cerah! kuning, tebaran keceriaan yang kau percik selalu jingga, warnamu yang selalu kurindu kau membuatku sejuk, dengan hijaumu merah muda adalah gambaran kasih yang kau beri akutak sedang memuji pelangi tak juga coba memikatnya aku tak sedang menjual kata tanpa sadar, orang ini sedang mendeskripsikan dirimu kau tak perlu tersipu apalagi coba untuk membalikannya cukup saja dengarkan jika tak senang, bolehlah tutup saja telingamu
0
Aug 21, 2017
Aug 21, 2017 at 12:48 PM UTC
warna
Jikalau bisa Aku ingin menuliskan untukmu sebuah puisi cinta Tiap baitnya kupetik dari bunga-bunga layu sebelum mekar Tiap sajaknya sendu layaknya angsana musim gugur Dan kaupun akan bertanya "cinta apakah ini begitu menyiksa?" Tanyakan pada nyanyian malam Yang dilantunkan angin membelai rambutmu Yang melukis garis wajahmu selembut sinar rembulan Yang mangecap dingin kening dan bibirmu Tanyakan pada rintik hujan Yang menemanimu melewati sore Yang mengajarimu melupakan malam Yang membawakanmu aroma hangat padang seberang, degup berdebar dari sela-sela ilalang. Rayulah bulan dan bawalah pulang Renggutlah cahaya terakhir milik sang malam Sembunyikan untaian puisinya yang sepekat hatimu, Rangkaian kisahnya yang sehitam langitmu Namun malam tak perlu bulan Ketika seribu lilin berpendar sendu Samar melampiaskan jingga Menyala atas bara apimu
0
Jul 7, 2018
Jul 7, 2018 at 2:09 AM UTC
Kau Memilih Hujan