Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"itulah" poems
Palembang, 18 Desember 2011 Ku tak ingat pertama kali aku membuka mata tuk melihat dunia Yang ku ingat aku hidup bersama keluarga kecil yang bahagia Semasa hidup dunia tak pernah berubah 7 samudera, 7 benua Tetap Bukti kecintaan Sang Pencipta kepada manusia Cinta itu penipu Bisa berperan menjadi apa saja dan siapapun Ombak di laut lepas, itulah cinta Sinar mentari pagi, itulah cinta Tetes embun pagi, itulah cinta Dingin angin malam, itulah cinta Cinta itu tirta Sama seperti air, tak dapat disentuh, hanya bisa dirasakan Cinta itu air sungai yang mengalir Cinta itu jalanan berkelok di pegunungan Cinta itu pepohonan di kaki gunung Cinta itu butiran pasir di Sahara Cinta mampu hidup di mana saja Bak parasit yang mengikuti kemana manusia Cinta itu suci di Mekkah Cinta itu tinggi di Everest Cinta itu luas di Pasifik Cinta itu dingin di Antartika Namun terkadang cinta bisa menjadi liar Tak mau disentuh, pantang diucap Cinta bagaikan Viranha di Amazon Bagaikan Voldemort, The Dark Lord Bagaikan Troll di pedalaman Bagaikan kota hilang di Peru Cinta bagaikan mumi di Mesir Bagaikan terowongan di Jalur Gaza Bagaikan Titanic yang tenggelam Bagaikan laut mati di Yugoslavia Aku merenung,, diam Memandang jam,, terus berdetak Ku akan tinggal di Laguna indah Jauh dari semua,, jauh dari cinta
0
Dec 19, 2011
Dec 19, 2011 at 1:26 AM UTC
CINTA dan Dunia
4:00 pagi kita bangun solat subuh, kemudian kita bersiap2 utk ke tempat kerja, sampai kantor pukul 7:00 pagi, hari masih gelap. Mungkin kita anggap hari ini akan hujan, jadi abaikan. Masuk kantor, bekerja dan kita lihat pukul 12:00 siang, sudah waktunya makan siang, tapi keadaan masih tetap gelap. Keluar pintu kantor, suasana masih gelap, hitam pekat seperti malam..mungkin masih bisa dianggap hari ini akan hujan lagi. Jadi abaikan saja. Tapi kalo jam 14:00 pm pun hari masih gelap.. pertanda apa itu?..keesokkan pun sama, nonton tv semua orang kalang kabut menceritakan bahawa dunia ini sudah tidak ada lagi siangnya..dan begitu juga dengan lusa..masih tidak ada lagi matahari.. Tetapi pada hari keempat kita bangun pagi, kita dapat melihat matahari, tetapi jangan terkejut karena matahari telah terbit dari sebelah barat.. Kehebatan ahli dunia akan mengatakan itu fenomena alam, tapi sadarkah, itulah pertanda besar yang paling awal sebelum tibanya hari kiamat!! Maka telah tertutuplah pintu taubat.. Saat itu, kita akan lihat satu fenomena luar biasa di mana golongan kaya akan keluarkan semua harta utk diinfakkan, golongan yang tidak pernah baca quran, 24 jam baca quran, golongan yang tak pernah solat jemaah akan berlari2 menunaikan solat secara berjemaah..tapi sayangnya semuanya sudah tidak berguna lagi.. Bismillahirrahmanirrahim.
0
Mar 25, 2015
Mar 25, 2015 at 11:14 PM UTC
MUHASABBAH
Palembang, 21 September 2012 Jika cinta adalah air, maka kamulah dahagaku Jika cinta adalah padi, maka kamulah lapar ku Jika cinta adalah rumah, maka kamulah tujuanku Jika cinta adalah hati, maka kamulah sakitku Jika cinta adalah hidup, maka kamulah matiku Jika cinta adalah waktu, maka kamulah hidupku Jika cinta adalah jiwa, maka kamulah ragaku Jika cinta adalah kekuatan, maka kamulah lemah ku Jika cinta adalah masa tua, maka kamulah sehat ku Jika cinta adalah kesalahan, maka kamulah sempurnaku Jika cinta adalah perpisahan, maka kamulah lahirku Jika cinta adalah kamu, maka itulah kesalahan terbesarku
0
Sep 21, 2012
Sep 21, 2012 at 7:31 AM UTC
Jika Cinta
Palembang, Kamis 6 Januari 2011 Aku tak mengerti apa arti dari Cinta Sejati Yang ku tahu hanya cinta itu membuat kita sakit hati Tapi, mengapa rasa ini lain, tak seperti yang lalu Ku cemas bagaimana bila aku jatuh cinta dengan nya? Jatuh cinta... Cukup umurkah aku tuk mengenalnya? Aku takut itu akan berujung penyesalan Tapi, selama ini aku hanya diam tak ada gairah Diakah yang akan membuatku bangkit dan berdiri? Cinta... Cinta... Cinta... Hanya cintakah yang paling mudah di dunia ini? Mudah untuk mencintai, mudah tuk menyayangi Mudah tuk melukai, mudah tuk menyakiti Dan mudah-mudah lainnya... Aku heran, mengapa aku harus kenal cinta Bila ujung-ujungnya ku harus menyesal Semoga cepat ku dapatkan jodoh ku Supaya penyesalan, penantian, semuanya! Tidak berlaku lagi dan ku hidup bebas Cepat katakanlah cintamu Mungkin itulah yang ku tunggu Mungkin? Ya, bisa iya Bisa juga tidak I'm waiting all alone here
0
Nov 4, 2011
Nov 4, 2011 at 1:52 AM UTC
Tentang Cinta 1
Sebetulnya tidak ada yang terlalu berbeda pada Jogja malam itu, namun memang spesial. Ada kamu di hadapanku, diterangi remangnya lampu kedai kecil tempat kita berdua berteduh dari gerimis dan dinginnya kota Jogja malam itu. Kamu tidak banyak bicara, sibuk dengan sepiring gudeg dan segelas wedang jahe favoritmu. Aku tidak bisa berhenti memandangi parasmu. Meski hanya diterangi lampu remang-remang, dan peluh yang basah akan air hujan, bagiku kamu tetap nomor satu. Sang pemilik kedai pun memutar piringan hitam miliknya, terlantunlah ‘Berdua Saja’. Aku masih ingat betul tatapanmu malam itu seiring dengan alunan lagu. Sederhana, teduh, dan penuh dengan kehangatan. Malam itu, aku sadar bahwa rumah tempatku pulang bukanlah bangunan bata beratap dengan satu pintu dan dua jendela. Malam itu aku sadar, Sepasang mata bola yang teduh dan hangat itulah tempatku pulang. Kamulah tempatku pulang.
0
Oct 22, 2016
Oct 22, 2016 at 12:20 AM UTC
11.00 - Aku, Kamu dan Jogja.
Fadil sungguh memilikinya Akan bahagia terasa selamanya Dihiasi lirik lagu yang indah Itulah momen special sepanjang masa, dengan Luapan cinta kasih di sekelilingnya Angkasa, bagai terbang melayang Nuansa hati hadir tercipta Ejaan kata terhias di awan-awan Sungguh indah langit terhias Pegang tangan erat-erat Untuk menantang tornado yang datang Tak terlepas, bahkan jangan sampai Riang selalu walau terhempas Agar cinta kan sampai bersama di surga
0
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 10:13 AM UTC
F.A.D.I.L A.N.E.S P.U.T.R.A
Jakarta Senin 7 Mei 2007 Suatu ketika tak sengaja Aku terbayang seseorang Yang indah dengan senyuman Sejak itu pun Aku mulai menulis kata-kata Dan aku rangkai Sehingga menjadi kalimat-kalimat yang indah Itulah puisi yang akan kupersembahkan Hanya untuk dirinya Di suatu tempat terindah di langit sana Betapa senangnya hati ku T’lah ku sampaikan isi hati ku Lewat puisi yang indah Yang tak pernah ku lupakan sepanjang waktu
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:49 AM UTC
PUISI
Aku harus mendaki tebing bernama proses; menaklukannya. Legenda berkata bahwa diujungnya tinggallah sesuatu yang baik. Namun memang semua pendaki tau bahwa tebing yang satu ini tidaklah mulus. Bebatuan, dataran curam, udara dingin, debu menyesakkan, silahkan kau sebut semua hal itu. Mereka ada di tebing ini, selalu. Semesta kejam dan kamu sendirian. Setidaknya itulah yang harus aku ingat. Aku tidak mau berujung hanya sebagai seonggok jasad dengan nama tertulis. Maka dari itu datanglah keharusan untuk mengejar sesuatu yang baik ini. Aku takut. Aku takut. Sebenarnya aku takut. Karena semacam tebing bukanlah rumahku. Tebing kurang akan rasa nyaman dan rasa cukup tau. Sungguh tak pula aku paham benar dengan apa yang dimaksud dengan 'sesuatu yang baik'. Namun semua orang tetap harus mendaki, entah kenapa.
0
Nov 7, 2015
Nov 7, 2015 at 5:52 AM UTC
Sajak #1
Mereka hanya terduduk di lantai berlumut Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka Bekas-bekas kekalahan Tidak berucap akan siapa yang mati Dan siapa yang berhak hidup Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati Yang disayangi sudah tiada Mereka jadi menyesal Pergi jauh tak kunjung balik Mendadak ditatapnya sebuah sumur Tempatnya menimba air dahulu Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup Di atasnya. Hantu-hantu wanita sejak dahulu Kekal bersolek di atas sumur Meskipun telah mengering airnya Dan pantulan mereka fana adanya. Mereka hanya terduduk di lantai berlumut Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka Bekas-bekas kekalahan Tidak berucap akan siapa yang mati Dan siapa yang berhak hidup Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati Yang disayangi sudah tiada Mereka jadi menyesal Pergi jauh tak kunjung balik Mendadak ditatapnya sebuah sumur Tempatnya menimba air dahulu Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup Di atasnya. Hantu-hantu wanita sejak dahulu Kekal bercermin di atas sumur Meskipun telah mengering airnya. Konon karena mereka menyukai Kehangatan yang dirasakan Dari dalam rumah senyap kala ada kehidupan Sesederhana bagaimana mereka tak lagi Dapat hidup Lantas mengapa lepas mereka pergi Tak dijaga kekekalannya dari serentetan ledakan pilu dan kepulan asa? Hantu-hantu cuma pembohong Pelindung tak berdaya Mereka menghargai bising dan jerit tangis Itulah alasan mereka Terus tinggal dan bersolek Menunggu sakit dalam sakit Karena air matalah yang sebenarnya menjaga agar dasar sumur tetap terisi Agar mereka dapat bercermin Agar kekal bayang mereka Air mata, menggenang bersama darah Bukan mata air yang merasuk dari qalbunya." Jadi dipanggillah Segenap jiwa gugup gelisah itu Dalam kesunyian dan sesal mereka Hantu-hantu wanita Kembali besolek di atas sumur Mereka melompat, Untuk lebur Dalam ketiadaan. Menyusulmu Mencarimu.
0
Jun 23, 2016
Jun 23, 2016 at 8:21 AM UTC
Aku Melihat Anak-Anakmu Kembali dari Perang
Mereka hanya terduduk di lantai berlumut Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka Bekas-bekas kekalahan Tidak berucap akan siapa yang mati Dan siapa yang berhak hidup Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati Yang disayangi sudah tiada Mereka jadi menyesal Pergi jauh tak kunjung balik Mendadak ditatapnya sebuah sumur Tempatnya menimba air dahulu Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup Di atasnya. Hantu-hantu wanita sejak dahulu Kekal bersolek di atas sumur Meskipun telah mengering airnya Dan pantulan mereka fana adanya. Mereka hanya terduduk di lantai berlumut Halaman belakang rumah tuanya yang berupa puing belaka Bekas-bekas kekalahan Tidak berucap akan siapa yang mati Dan siapa yang berhak hidup Mereka terlambat, tak ada satupun orang hidup di sini Mereka jadi ingin ikut-ikutan mati Yang disayangi sudah tiada Mereka jadi menyesal Pergi jauh tak kunjung balik Mendadak ditatapnya sebuah sumur Tempatnya menimba air dahulu Katanya sudah mengering berpuluh tahun lalu Dan bibirnya bergerak perlahan, teringat; "Riak air yang tinggal di dasar sumur Tidak pernah membenci roh yang berkeliar singup Di atasnya. Hantu-hantu wanita sejak dahulu Kekal bercermin di atas sumur Meskipun telah mengering airnya. Konon karena mereka menyukai Kehangatan yang dirasakan Dari dalam rumah senyap kala ada kehidupan Sesederhana bagaimana mereka tak lagi Dapat hidup Lantas mengapa lepas mereka pergi Tak dijaga kekekalannya dari serentetan ledakan pilu dan kepulan asa? Hantu-hantu cuma pembohong Pelindung tak berdaya Mereka menghargai bising dan jerit tangis Itulah alasan mereka Terus tinggal dan bersolek Menunggu sakit dalam sakit Karena air matalah yang sebenarnya menjaga agar dasar sumur tetap terisi Agar mereka dapat bercermin Agar kekal bayang mereka Air mata, menggenang bersama darah Bukan mata air yang merasuk dari qalbunya." Jadi dipanggillah Segenap jiwa gugup gelisah itu Dalam kesunyian dan sesal mereka Hantu-hantu wanita Kembali besolek di atas sumur Mereka melompat, Untuk lebur Dalam ketiadaan. Menyusulmu Mencarimu.
Continue reading...
67
Dear Heart. Janganlah kamu terlalu berharap Cinta itu bukan harapan tetapi kepastian Jangan pula kamu terlalu menyimpan rasa Rasa itu bisa saja tak tepat bahkan salah Bersikaplah seperti akal, yang mengalah Tidak mengharap pada kebahagiaan cinta Tetapi senantiasa waspada jikalau terluka Akal menjagamu, Heart Dari sakitnya dilukai cinta Dari perih kejamnya perasaan Dear Heart, jiwa ini tahu kau mencintainya Tetapi akal ini yang paling tahu mana yang tepat Jangan gegabah, Heart Jangan terlalu senang dulu, kau bisa saja salah Kau bisa saja terluka Kau bisa saja jatuh Akal akan terus melindungimu Dear Heart, Simpan saja rasamu untuknya Jangan sekali-kali kamu membongkarnya Maka akal akan bertindak Ia akan berbohong untuk melindungimu Ia akan menutupi kebenaranmu Itulah yang akan dilakukan akal untuk melindungimu, Heart (Palembang, 12 Januari 2015)
0
Jan 12, 2015
Jan 12, 2015 at 12:59 AM UTC
Dear Heart
31 Oktober 2016 Dini hari, Jakarta-Surabaya, Pukul 00.45 30 menit yang lalu, kau bertanya kepadaku, "apa yang membuatmu bahagia?" secangkir kopi, malam dan hujan jawabku lalu kau mengernyitkan kedua alismu dan bertanya, "kenapa? kopi itu pahit, malam itu sendu dan hujan hanya membawa pilu" "Karena aku menyukai kejujuran pada kopi, Ia jujur akan dirinya. ia yang pahit rasanya. ia yang hitam parasnya. tanpa bersandiwara. tapi itulah hal yang mencandu darinya. Karena aku menyukai kesederhanaan malam, Ia tak perlu harus bersinar, ia cukup indah dengan bintang di dalamnya tanpa dengki ingin menjadi siang. Karena aku menyukai keikhlasan hujan, Ia tetap ikhlas menjatuhkan dirinya meski banyak yang memaki dirinya dan berharap ia tak pernah datang." kau termenung kembali, dahimu berkerut memikirkan sesuatu "apakah hanya itu?" tuturmu lagi dan aku hanya tersenyum, "aku hanya ingin menjadikan diriku seperti mereka, tidak berlebih pun tidak mengapa, hanya ingin menjadi dan merasakan kejujuran seperti kopi, kesederhanaan seperti malam dan keihklasan seperti hujan." kau tersenyum mengejek "Kau terlalu naif" tandasmu dan aku hanya tergelak, seperti itulah aku, jawabku pada akhirnya, kau turut tergelak jua bersamaku menutup pembicaraan dini hari kita kala itu.
0
Oct 30, 2016
Oct 30, 2016 at 2:05 PM UTC
Jakarta - Surabaya
waktu tidak serta merta memberi salam maupun pamit ia berjalan saja mengikuti poros dan terkadang aku tak merasanya cepat.. kemarin rasanya aku baru akrab denganmu, setalah kebungkaman yang berbicara menahun aku hanya bisa tertawa, jika aku ingat dulu. kamu dan aku kemudian dibawa waktu untuk saling bicara untuk pertama kali sebenernya aku dipaksa karena aku membutuhkan bantuanmu aku memanfaatmu..agar kita dekat mungkin itulah cara-Nya maaf.. sampailah kita diakhir studi kuliah topi bertali dan jubah sudah mantap kita kenakan tapi dihari itu aku tak melihatmu mauku melihatmu dengan jas hitam dan kemeja merah mudamu yang manis tapi aku senang. semoga kamu gapai maumu selalu dan selamat.. aku masih merepotkanmu hingga detik ini
0
Nov 30, 2018
Nov 30, 2018 at 9:44 AM UTC
Untitled
*Ini aku, gambaran hatiku Kusertakan padamu, kusisipkan untukmu* Sejenak aku rebah, luka tanpa daya Aku didera puluhan cabikan Aku kalah dalam perang Perang melawan hatiku Gersang namun hujan Tandus namun ranum Itulah hatiku Malam demi malam kulalui Dengan mata terjaga Hari demi hari kulewati Ditemani gundah gulana *Aku yang hanya menunggu, bagaikan menantang murka laut* Tiang layarku patah dihantam ombak Kain layarku robek diterjang badai Aku terombang-ambing antara suka dan duka Ombak bergulung-gulung menanti di depanku Aku menoleh ke belakang, Menimang untuk merubah haluan Kutak rela
0
Aug 29, 2017
Aug 29, 2017 at 1:47 PM UTC
Gambaran Hatiku
Pasir memeluk kakiku, tak mau melepaskanku. Licinnya pasir berkali-kali membuatku terhisap. Sama seperti pelukanmu kala itu, yang terus mengunciku, berontak tiada artinya sampai akhirnya jiwaku tunduk pula padamu. Kita pernah bahagia, Bagai burung-burung yang terbang rendah, bermain-main diantara air, Mengintip manisnya pantulan diri air biru. Yang lama terasa singkat. Seperti langit merah muda yang lama lama termakan kabut pindah ke kegelapan malam yang menenangkan hanya dalam hitungan detik. Bagai kapal yang mengapung terombang ambing kencangnya ombak, Ia tetap teguh karena telah menjatuhkan jangkarnya. Begitulah aku ketika pada akhirnya hanya kau dijiwaku. Namun arus laut begitu kuat, begitu sulit untuk berenang pada arah tujuan. Semesta punya ceritanya, berkali-kali kupaksakan tubuhku tak terbawa arus, namun kakiku lemah, terus menerus terobek tajamnya batu karang yang tak kelihatan. Mungkin itu cara semesta beritahu bahwa disana bukan tempat yang aman bagiku. Aku menyerah. Seperti butiran pasir yang kugenggam erat dibawah air laut, satu per satu rontok, aku tergoda untuk membuka tanganku di bawah air dan menyaksikan kemegahan pasir-pasir kecil yang jatuh menghilang terseret air. Itulah kau. Laut punya caranya. Semuanya akan terjadi alami. Semesta poros pengaturnya. Biarlah laut hapuskan kau. Tenang saja, aku akan kembali baik-baik saja. Seperti debur ombak yang menyapu kasarnya pasir, ia mampu mendatarkan lintasannya yang sebelumnya hancur teracak-acak angin. Bagai tapak kaki di basahnya pasir, berjejak namun akan segera hilang begitu terhanyut ombak ataupun angin yg berhembus.
0
Apr 6, 2019
Apr 6, 2019 at 1:49 AM UTC
Laut punya caranya
Pasir memeluk kakiku, tak mau melepaskanku. Licinnya pasir berkali-kali membuatku terhisap. Sama seperti pelukanmu kala itu, yang terus mengunciku, berontak tiada artinya sampai akhirnya jiwaku tunduk pula padamu. Kita pernah bahagia, Bagai burung-burung yang terbang rendah, bermain-main diantara air, Mengintip manisnya pantulan diri air biru. Yang lama terasa singkat. Seperti langit merah muda yang lama lama termakan kabut pindah ke kegelapan malam yang menenangkan hanya dalam hitungan detik. Bagai kapal yang mengapung terombang ambing kencangnya ombak, Ia tetap teguh karena telah menjatuhkan jangkarnya. Begitulah aku ketika pada akhirnya hanya kau dijiwaku. Namun arus laut begitu kuat, begitu sulit untuk berenang pada arah tujuan. Semesta punya ceritanya, berkali-kali kupaksakan tubuhku tak terbawa arus, namun kakiku lemah, terus menerus terobek tajamnya batu karang yang tak kelihatan. Mungkin itu cara semesta beritahu bahwa disana bukan tempat yang aman bagiku. Aku menyerah. Seperti butiran pasir yang kugenggam erat dibawah air laut, satu per satu rontok, aku tergoda untuk membuka tanganku di bawah air dan menyaksikan kemegahan pasir-pasir kecil yang jatuh menghilang terseret air. Itulah kau. Laut punya caranya. Semuanya akan terjadi alami. Semesta poros pengaturnya. Biarlah laut hapuskan kau. Tenang saja, aku akan kembali baik-baik saja. Seperti debur ombak yang menyapu kasarnya pasir, ia mampu mendatarkan lintasannya yang sebelumnya hancur teracak-acak angin. Bagai tapak kaki di basahnya pasir, berjejak namun akan segera hilang begitu terhanyut ombak ataupun angin yg berhembus.
Continue reading...
36
Terkadang bukan fisik yang terpenting. Walaupun tanpa fisik, rasa tak kunjung muncul. Mungkin aku menyayangkan cinta yang tak kian bersatu. Keraguanmu menahanku bagai angin yang menderu. Di penghujung jalan pun 'ku tersadar, keraguanmu bukan untukku. Karena cinta untukku sudah tiada sejak dulu. Aku bukan pejuang cinta, aku hanyalah pecinta yang setia. Ketika cinta pergi, itulah saat dimana pecinta undur diri. Karena untukku, cinta kita harus diperjuangkan dan cintaku seorang haruslah dilenyapkan. Bukan oleh waktu, tapi oleh angin dan debu bercampur air mata.
0
Jul 13, 2016
Jul 13, 2016 at 11:09 PM UTC
Ketika Cinta Pergi
Tahukah kamu, di tepi jendela itulah Cinta dan kasih kusimpan Lalu kau terbang semilir dan mencuri Setiap tak ku tutup jendelanya Tahukah kamu, berembun juga kaca Jika di tepi jendela kau tiup rasa Menjadi buram, dan tak sejernih air pula Pandangan matanya? Jika nanti ku kunci engselnya Engkau tak bisa meluncur seenaknya Meniup gundah keluar kamar Hingga sinar senja membayang pudar Jika nanti kau masuk Sebagai kupu-kupu lembayung Yang terhuyung hinggap di tepi jendela Temani aku, sebentar saja Ditepi jendela aku kehilangan Cinta kasihku, ketika Kau bersemilir masuk Dan mencuri keduanya
0
Sep 12, 2016
Sep 12, 2016 at 1:21 PM UTC
Di Tepi Jendela
Selamat ulangtahun anakku Sudah dewasa kau kini.... Bertambah2lah kau bijak Pandai2lah kau bergaul Biarlah ucap dan lakumu baik Orang akan memperhitungkan engkau Selamat ulangtahun anakku Dewasa bukanlah jumlah umur Bukan pula besar tubuh Apalagi tinggi badanmu Rendahkanlah hati Berbagi dan peduli yang lain Itulah dewasa yang sesungguhnya Selamat ulangtahun anakku Terbanglah tinggi setinggi citamu Lepaskalah segala belenggu yang mencekam dan menahanmu Untuk maju dan maju Menapak dikesuksesan yang menunggu Selamat ulangtahun anakku Ingin kuucapkan kata2 ini Sampai usiaku tinggi Menggapai Sang Khalik
0
Mar 22, 2017
Mar 22, 2017 at 9:32 PM UTC
Ulang tahun
#‎Seringkali‬ saat bersama 'kekasih palsu(pacar)', kita merasa nyaman, Padahal itu bukan kenyamanan tapi ketertawanan. Bersama 'kekasih' tlah sering dijadikan tolak ukur kenyamanan, maka makin matematis mengukur kesenangan. Sadari, ini kepalsuan. Krna makin matematis, kita makin tidak puas dan makin tinggi standar hidup. Saat itulah dalam diri sinyal keberadaan Allah telah meredup. Mendengar kata 'putus' seperti kilat menyambar di siang hari. Tidk pernah siap dan tak pernah menyiapkan diri. Keterlanjuran yg mendalam dengan 'kekasih' mnjadikan buta. Tak pernah lagi bisa menghadirkan Allah dalam hati. ‪#‎YUK‬ MOVE ON
0
Feb 24, 2015
Feb 24, 2015 at 10:09 PM UTC
Apalah
Aku telah belajar banyak dari sunyi. Bagaimana menyimpan sendiri hal - hal yang orang lain susah mengerti. Kau boleh berfikir aku penuh teka teki, tetapi memang itulah satu - satunya cara agar ketika aku kecewa, aku tidak akan menyalahkan siapa - siapa.
0
Jun 26, 2018
Jun 26, 2018 at 3:52 AM UTC
Untitled pt.1
Sejak kecil mereka aku kasihi dengan sangat Tak boleh ada  masalah dan persoalan yang didapat Aku memberi yang dibutuhkan Walau kadang agak dipaksakan Melalui hari-hari sekolah kalian ku bimbing Melalui waktu-waktu susah kau ku bina Mengarungi saat-saat penting kau kutemani Tak ada saat dimana kau kutinggalkan Masuk masa perkuliahan kau dapatkan dimana kau ingin melanjutkan pendidikanmu Walau seakan mustahil tapi Tuhan memberi itulah yang aku ingatkan Masa perkuliahan kau jalani juga gadisku Pergaulan yang susah kau lewati Kau dapati teman-teman sendiri Yang memenuhi hari-hari yang dilewati Kau dapati juga seorang jaka Yang kau suka karena berbeda Pandai dan dapat dipercaya Kau kenalkan dia sebagai pacar
0
May 2, 2017
May 2, 2017 at 12:08 AM UTC
Semua ada waktunya (3)
Sejak kecil mereka aku kasihi dengan sangat Tak boleh ada  masalah dan persoalan yang didapat Aku memberi yang dibutuhkan Walau kadang agak dipaksakan Melalui hari-hari sekolah kalian ku bimbing Melalui waktu-waktu susah kau ku bina Mengarungi saat-saat penting kau kutemani Tak ada saat dimana kau kutinggalkan Masuk masa perkuliahan kau dapatkan dimana kau ingin melanjutkan pendidikanmu Walau seakan mustahil tapi Tuhan memberi itulah yang aku ingatkan Masa-masa kuliah kau jalani Walau banyak protes sana sini Karena inginkan sesuatu yang lebih lagi Kau salahkan kami Lulus sudah kuliahmu nak... Kau sandang gelas sarjanamu Pakailah itu sebagai modah untuk hidupmu Memasuki dunia kerja yang baru
0
May 2, 2017
May 2, 2017 at 12:01 AM UTC
Semua ada waktunya
Sejak kecil mereka aku kasihi dengan sangat Tak boleh ada  masalah dan persoalan yang didapat Aku memberi yang dibutuhkan Walau kadang agak dipaksakan Melalui hari-hari sekolah kalian ku bimbing Melalui waktu-waktu susah kau ku bina Mengarungi saat-saat penting kau kutemani Tak ada saat dimana kau kutinggalkan Masuk masa perkuliahan kau dapatkan dimana kau ingin melanjutkan pendidikanmu Walau seakan mustahil tapi Tuhan memberi itulah yang aku ingatkan Masa-masa perkuliahan kau jalani juga nak... Ada rasa berontak yang tak terperi Ingin mencoba dunia seni Dimana banyak hidup berseri Tepuk tangan dan kata-kata manis Kau terima dengan senang hati Untuk kebanggaan diri pribadi Untuk kejayaan yang kau ingini
0
May 2, 2017
May 2, 2017 at 12:01 AM UTC
Semua ada waktunya (2)
Apa yang terjadi ketika minyak tanah bertemu api? Kebakaran. Itulah yang terjadi pada kami Saling menghabisi sampai terlalu sering. Tapi terkutuklah! Tiada habis-habisnya sumber daya kami, mungkin baru habis kala reyot nanti!/ ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ Saat-saat kami melebur menghasilkan bunga api yang berkobaran— saling mengadu tinggi lidah api, hingga disembur air mata dari mulut sang jawara, itu lebih berharga dalam sarekat ini dibandingkan bercokol bagai sahaya di kelas./ Sungguh absurd. Sepertinya kami harus jauh-jauh dari lahan gambut, biar tak ada lagi karhutla bersengkarut. Sebab Lautan pun membara dekat-dekat kami./ Tapi Jangan serius-serius betul lah Kami lucu benar, percayalah. Kami lebih suka berkelakar, daripada diciduk karena jadi makar. ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ #ReformasiDikorupsi
0
Sep 27, 2019
Sep 27, 2019 at 9:23 PM UTC
#ReformasiDikorupsi
Di hatimu ada tulisan yang tak pernah selesai. Tentang rindu yang lumpuh di tengah jalan dan perasaan yang mekar di tempat lain. Jauh dari yang tak akan kembali. Jauh dari yang tak pernah terjadi. Kau seperti sebuah bayangan Yang tak pernah bisa ku kejar Kau seperti sebuah angin Yang tak pernah bisa ku gapai Kau hanyalah harap Yang hanya bisa aku dambakan. Tak dapat di raih. Hanya dapat dirasa. Itulah kamu. Orang yang ku kagumi.
0
Jun 12, 2019
Jun 12, 2019 at 5:54 AM UTC
Engkau.