Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"ilahi" poems
Jakarta, Senin 20 Oktober 2008 Ku terlahir di dunia Untuk hidup dan berusaha Ku kira, aku akan bahagia Namun ternyata tidak Ku berdoa . . . Ya ilahi … akulah dia Yang malas bekerja Yang tak mengejar masa depan Yang hanya duduk dengan lamunan Ku iri dengan gunung dan langit Lirik dengan melodi, hati dengan perasaan Karang dengan laut, angin dengan pohon Dan … kini ku sadari Akulah Manusia Bodoh
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:27 AM UTC
Manusia Bodoh
CINTA Orang kata cinta itu buta Yaa.... Memang buta... Aku buta cinta kepada orang yang tak penah aku kenali tak penah aku impikan Tapi....cinta itu datang dengan sendirinya... aku sendiri celaru dan keliru mana datangnya cinta yang tak penah ku impikan ini........ Mana mungkin aku kenali dia? Hanya penah mimpi walaupun sebentar Walaupun hanya dengan melihatnya didalam alam maya Buta apakah ini? Cinta apakah ini? Adakah ini datangnya sebentar atau berlarutan? Andai sebentar aku syukur kerna tidak sakit utk rasa ini....... Andainya berlarutan rasa ini? Bagaimana aku untuk hadapi.....oh Allah ku.. ku perlukan engkau Sakit...... Sakit..........dada ini Aku tak sanggup untuk rasa ini...... Aku tak sanggup untuk pedam rasa ini..... Adakah engkau rasakan wahai orang yang ku cintai dalam diam? Terlalu sakit untuk pedihnya jatuh cinta ini Andai saja engkau tahu...mungkin kau akan cintai aku jua? Pedam dan pedam Hanya doa ku dari ilahi ku persembahkan rasa ini Hanya ilahi ku sahaja tahu betapa pedihnya hati ini Moga saja engkau akan jadi miliku seuatu hari nanti Kekasih dalam diamku - JA
0
Feb 25, 2017
Feb 25, 2017 at 3:15 AM UTC
CINTA
Penyair itu melangkahi pengemis pincang yang lelap itu. Kasurnya adalah trotoar dan mimpinya ntah apa. Jangan bahas mimpi jadi jutawan dengan kemeja dasi rambut klimis. Mimpi basah saja harus sembunyi sembunyi. Kan takut toh masturbasi di pinggir kali ? Soalnya guys, coli itu pun harus pake tangan kanan selain soal tekanannya yang konstan .. KALAU TANGAN KIRI KIRI KIRI, Disangka PKI ! Ini perihal dosa Illahi saudara saudari! — Lalu pengemis itu Menatap angannya setinggi bintang di lantai 53 menara menara ibu kota. Mengelus ngelus perut kurusnya. Alhamdullilah, hari ini bisa santap sisa paha ayam dari restoran kebarat baratan itu. Mungkin baginya, Tuhan menjelma dalam bentuk tempat sampah. Menyediakan pangan sisa sisa umat kesayangan-Nya. Dan dia, umat yang lupa ia punya. Pagi datang. Ia terus berjalan tanpa alas kaki. Sekelibat melihat lamborgini, berkawal polisi. Presiden mungkin ah? Nomor satu, atau duah? Dia tidak pernah berharap pada Tuhan. Atau presiden. Mungkin ia harus tetap berjalan saja. Atau mungkin ia harus berharap pada ratu adil. Entah kapan ia munculnya. Apa ketika jari-jari kakinya lepas. Hingga tidak bisa melangkah lagi. Atau lelah menguasai tubuh. Hingga enggan melangkah lagi. Atau seluruh kakinya patah Pun ia tidak peduli lagi? Apa ratu adil sedang sibuk memasang konde besarnya Takut takut tidak terlihat cantik saat hadir sebagai pahlawan kesiangan. Atau ratu adil sedang sibuk Memutuskan hukuman adil untuk penyair ini yang mempertanyakan kuasa Ilahi dia punya? Atau mungkin ratu adil berhati dingin. Seharusnya iya karena mana mungkin beliau yang welas asih membiarkan hambanya pontang panting, malah sibuk mengurus penyair mengkritik program kerja-Nya tahun ini. Yah .. Memperhatikan pengemis itu terpincang-pincang lebih asyik daripada mengurus Tuhan. Presiden. Atau ratu adil. Apakah Mas Aristoteles meramalkan distopia pada nusantara?
0
May 14, 2019
May 14, 2019 at 1:28 PM UTC
Penyair Setelah Tahun '65
Penyair itu melangkahi pengemis pincang yang lelap itu. Kasurnya adalah trotoar dan mimpinya ntah apa. Jangan bahas mimpi jadi jutawan dengan kemeja dasi rambut klimis. Mimpi basah saja harus sembunyi sembunyi. Kan takut toh masturbasi di pinggir kali ? Soalnya guys, coli itu pun harus pake tangan kanan selain soal tekanannya yang konstan .. KALAU TANGAN KIRI KIRI KIRI, Disangka PKI ! Ini perihal dosa Illahi saudara saudari! — Lalu pengemis itu Menatap angannya setinggi bintang di lantai 53 menara menara ibu kota. Mengelus ngelus perut kurusnya. Alhamdullilah, hari ini bisa santap sisa paha ayam dari restoran kebarat baratan itu. Mungkin baginya, Tuhan menjelma dalam bentuk tempat sampah. Menyediakan pangan sisa sisa umat kesayangan-Nya. Dan dia, umat yang lupa ia punya. Pagi datang. Ia terus berjalan tanpa alas kaki. Sekelibat melihat lamborgini, berkawal polisi. Presiden mungkin ah? Nomor satu, atau duah? Dia tidak pernah berharap pada Tuhan. Atau presiden. Mungkin ia harus tetap berjalan saja. Atau mungkin ia harus berharap pada ratu adil. Entah kapan ia munculnya. Apa ketika jari-jari kakinya lepas. Hingga tidak bisa melangkah lagi. Atau lelah menguasai tubuh. Hingga enggan melangkah lagi. Atau seluruh kakinya patah Pun ia tidak peduli lagi? Apa ratu adil sedang sibuk memasang konde besarnya Takut takut tidak terlihat cantik saat hadir sebagai pahlawan kesiangan. Atau ratu adil sedang sibuk Memutuskan hukuman adil untuk penyair ini yang mempertanyakan kuasa Ilahi dia punya? Atau mungkin ratu adil berhati dingin. Seharusnya iya karena mana mungkin beliau yang welas asih membiarkan hambanya pontang panting, malah sibuk mengurus penyair mengkritik program kerja-Nya tahun ini. Yah .. Memperhatikan pengemis itu terpincang-pincang lebih asyik daripada mengurus Tuhan. Presiden. Atau ratu adil. Apakah Mas Aristoteles meramalkan distopia pada nusantara?
Continue reading...
45
Practically disbelieve prophetic sustenance Pre exist convince self sacrifice austerity Lead solitary lonely strife unravel dysfunction Slowly impede on sanities senses spirit bend Empath way to escape betray forgive pain Obey Frey free from Cain disintegrate Holy guardianship vindicate Lord Lucifer Emancipate misused divinity behoove Sacred energy bitterly keep on enlightened Sorcery face El-light what immaculate forgery Divine Sphere of influence follow through Underworld Godspeed enchant exuded kneads Forbidden prayers left lay Ilahi arrest turn off Sylph
0
Jul 9, 2016
Jul 9, 2016 at 2:52 AM UTC
Jaded Heart Faded
Rubaiyat Al Thurab (Verses of the Dust) – 7 BismillahIr Rahman Raheem Oh E’ilahi’ (Creator most loved one) (Mehboob E ilahi) You are the creator most loved one (Mehboob E ilahi) There is a veil in between you and me, You are the order, and you are the noble saint, I am not worthy, to see you through the veil, Maybe little glimpse You and me, from behind the veil, let me learn the order from you Oh E’ilahi’ The Order about Our Beloved, and His love, May I am not worthy, for any of these, But From You, Oh E’ilahi there is an enlightened lamp (Chirag Dehlavi) and Altruistic (Bande Nawaz) So I came, in your presence with the utmost respect, beneath your feet as your dust, Allow me to learn, Tonight, is the gathering of loved ones, let me sit beside the veil, Let me fade in silence, and watch the gathering, I Ummah Thurab, not worthy for this knowledge, except remain as dust’ beneath the sky and your feet! Allah Khair….. Khairul Rabul Alameen Yah Arrahmanur Yah Raheem Ummah Thurab – Badshah Khan.
0
Feb 4, 2019
Feb 4, 2019 at 4:45 AM UTC
Rubaiyat Al Thurab (Verses of the Dust) – 7
Ilahi, as I breathe your breath upon my lips, I am taken back to the tumultuous rise and fall of your ******* as I rode upon your dreams as you called out my name, Ilahi, as I breathe your name upon my breath, free me from my death like stupor, encase me in a wreath of your forgiveness as I beg you, Ilahi, as I breathe my last tonight, it shall be your smell arousing me in my shroud of nothingness yet everything is you, You are all that I breathe. Carry my breath with you, Ilahi.
0
Jun 12, 2017
Jun 12, 2017 at 3:30 AM UTC
Ilahi
dün bugün gibiydi aslında aynı oksijeni soluduk aynı güneşte aynı güneşe akşam perde çekince burulurduk sofrada evlenir gider biri ya da rızkı kesilince dün bugün gibiydi aslında bedenler büyüdü biraz bir de gezindikçe yollar ve büyüdü çoraplar yürüdükçe arlanmadı kopya çekti okullar dün bugün gibiydi aslında asmalar, kelebekler ve kuşlar başak sarısı tarla buluta kafa tutan dağlar baştan çıkaran deniz ve köpüklü aldığı duşlar dün bugün gibiydi aslında ömrü kısa bazısı eşikten mezara aşklar ilahi emrin mottosu merkeze alınan ruhlar her dakika sevişen dünya ve her dakika doğan çocuklar dün bugün gibiydi aslında yeniler, eskiler ve hepsi farklı tat'da
0
Aug 8, 2019
Aug 8, 2019 at 7:54 PM UTC
Dün, Bugün Gibiydi Aslında
kuranın ne zaman ve nerede çekileceğini bilmemekle ödüllendirildi insanoğlu.. bir kitapçıda sayfaları çevirirken henüz yazılmamış bir şiirin ilk dizesi sizi gözlerinizden kavrayıp mısradan mısraya vurduğunda küçük bir kıvılcımın büyük bir yangıya dönüşeceği olgusunu kim bilebilir? bu karşılıklı elektriksel akımın sürrealist boyutlarındaki göz eşleşmesi yerini dudaklara bıraktığında kalp çarpıntınız ve tatlı titremeler genital üyeleri sık sık oturuma davet eder bu zaman ve mekan mefhumundan uzak ilahi açlığın ilahi tasarımındaki varoluş yaratım yasası değiştirilmesi teklif dahi edilemez amir hükmü olma hasebiyle, göz dudak ve kalp eşleşmesinin ardından ay'a oranla çekim gücü milyon ışık yılı olan yeni bir gezegenin ilk yapı taşlarını oluşturur genitallerin karşılıklı uyumu.. aşk güven samimiyet ve sadakatle parsellendiğinde, eşleşmelerin dünya balayı taraflardan birinin merkeze alınmasına dek sürer işte ben buna gerçeküstü eşleşmeler diyorum sonu -suz-olmayan sonsuz eşleşmeler.. ..
0
Jul 10, 2019
Jul 10, 2019 at 7:40 PM UTC
Sonsuz Eşleşmeler
penuh sesak dan sakit, yang kini kucoba hadapi ternyata bukan sekedar itu. bukan sekedar melepaskan diri dari cinta duniawi, tapi perihal sebuah kerelaaan. perihal menciptakan ruang kosong penuh kepasrahan dalam hati. yang memang, tak akan ada yang mengerti kecuali Dia, Ilahi Rabbi bukan pula sekedar siksa rindu yang kurasakan sekarang tapi untuk bisa berjumpa, dan bersama di waktu mendatang karena visioner bukan hanya mampu menyusun apa yang ada didepan tapi dimulai dari bisa membedakan, mana yang sementara mana yang dibawa ke bilik kuburan dan karena kaya bukan hanya perihal harta tapi seluas apa hati kita bisa ikhlas hingga lapang dan pasrah bukan cuma perihal kata tapi seberapa ingat kita berserah tiap kali cobaan datang.
0
Mar 24, 2018
Mar 24, 2018 at 10:52 AM UTC
Jauh