Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"gemuruh" poems
Sabtu, 14 Agustus 2010 Sekarang jam 1.21 pagi Ku masih di ruang TV yang sekaligus dapur Ku duduk di kursi meja makan Masih tak mau tertutup mata ini Ku membaca, membahas soal Sendiri... Terdengar suara-suara aneh Kicauan burung, gemuruh atap Cat cit cut tikus Suasana, uh, terasa seram Tapi aku tak peduli Karena bulan ini adalah Ramadhan Tak mungkin ada yang terlepas Namun, kapan aku bisa terlelap? Created by. Aridea .P
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 11:32 AM UTC
Elegi Pagi Buta
Palembang, 31 Desember 2011 Ku tak berharap malam ini akan spesial Mengingat kembang api tak mau memperlihatkan sinarnya Terompet pun enggan mengumandangkan suara nyaringnya Apalagi, arang bersumpah takkan membara malam ini Jahat sekali mereka padaku  Aku sudah mengira malam ini akan menjadi bosan Ditinggal sendirian di rumah Dilarang pergi ke rumah teman Ditambah modem tak mau konek Jahat sekali kalian padaku  Baiklah Aku hanya bisa bermimpi saja Mendengar gemuruh kembang api Melihat cahaya indahnya Menghirup wangi jagung bakar Menyantap ayam panggang Dan ketika aku kenyang, aku tertidur Esok pagi Yang ku temui hanya sepi
0
Jan 2, 2012
Jan 2, 2012 at 4:39 AM UTC
Malam Tahun Baru 2012
Kesendirian menyelimuti tubuh Menarikku kembali menuju angan yang tak pernah usai Sampai kapan harus ku tahan? Gemuruh rasa rindu yang tak tertahan Lelah aku Sampai kapan ini akan berlangsung? Bayang-bayang wajah di masa lalu Tak pernah usai mengganggu Menampakkan kembali sebuah kisah yang telah lalu Kala ku titipkan rindu ini pada senja Melepas segala gundah yang akan membuncah Lisan tiada mampu berucap Hanya kata merangkai hati
0
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 3:08 AM UTC
Buah Rindu
Dengarlah gemuruh hujan pada malam hari ini; Dengan irama tetesannya kebisuan dicurahkan; Dalam kegelapan jua para pencari melangkah; Menyusuri persimpangan jalanan yang basah; Mungkinkah sudah keraguan mereka terhapuskan? Ataukah praduganya telah menjadi satu bentuk prasangka, Yang sekiranya kembali menolak untuk lagi-lagi berbicara? Dengan satu sapuan halusnya kembalilah dikau sunyi menjadi hening, Hening menjadi tiada, seperti tiada memunculkan hampa; Lalu hampa pergi meninggalkan luka yang menganga pada dikau; Hanya kesembuhan dari hujan yang dinanti mereka yang terluka; Seperti juga berkat yang dinantikan dikau yang tak lelah menanti; Memegang erat setiap butiran yang mungkin tak mampu dimiliki; Mendengar irama yang selamanya tak mampu dimengerti; Bersabdalah hujan pada semesta di malam hari ini; Hanya kesunyian yang terus ia ajak bicara dalam isyarat; Hanya kegelapan yang selamanya tak mampu ia lihat; Pengheningan resah telah menjadi gundah sang hujan; Seperti gundah itu sendiri menjadi gulana dikau; Seperti dikau yang hadir dan hilang dalam rimbanya hujan, Kembali dicari namun tak mampu dihilangkan.
0
Jun 24, 2017
Jun 24, 2017 at 5:56 AM UTC
Perbincangan Dengan Sang Hujan
Hoam....sudah jam 4 pagi Alarm sudah berbunyi Memanggilku untuk segera berdiri Keluar dari hangatnya selimut Hoam....aku masih mengantuk sayang Dan dengarlah suara rintik hujan Dan riuhnya gemuruh diatas Bertanda hujan belum akan usai Hoam....berilah aku beberapa menit lagi Untuk mengumpulkan kekuatan dan kemauan Mengalahkan segala bisikan Untuk tetap tinggal saja dirumah Hoam....baiklah, baiklah Alarm kembali berbunyi Kenapa kau paksa aku pergi Sedangkan tubuhku begitu pedih Untuk mendapat sekucur air dingin Membuka mata lebar-lebar Menggerakkan tangan dan kaki Untuk berkarya dan bekerja kembali
0
Mar 22, 2017
Mar 22, 2017 at 9:12 PM UTC
Pagi yang dingin
Pertama kalinya kugenggam tanganmu Satu kembang api dipantik dari ulu hatiku Seribu lainnya menyusul saat jemari kita saling bertaut Menghiasi langit malam dengan pendar menggoda Hitam pekat dibasuh percik api warna-warni Kusaksikan dengan jelas saat kutatap wajahmu lekat-lekat Kala itu tak satupun kata berhasil kita ucapkan Namum dalam hati, tiap detik kulayangkan ribuan doa dan segala mantra : "Tuhan sang empunya dunia ini, hendaklah hentikan waktu sejenak untuk hambamu ini. Atau panjangkanlah malam sebelum mentari terbit nanti. Terima kasih Engkau turunkan bidadari, tepat disebelah hambamu ini". Rambutmu bagaikan ombak musim panas Bergulung-gulung indah harum manis bergairah Namun dadaku layaknya laut dikala badai Gemuruh layaknya seribu ksatria berkuda Inginku berteriak sekencang-kencangnya Gemanya terdengar sampai kampung Ayah-Ibuku Jikalau nun jauh di belahan dunia sana Seseorang berhasil menginjakkan kakinya di bulan Inginku umumkan pada dunia Malam itu akulah manusia pertama yang berhasil menggenggam bulan Akulah pungguk yang melawan seluruh hukum gravitasi Akulah pungguk yang tak lagi merindukan bulan Kalau saja bisa, saat itu juga Ingin kutuliskan berlembar-lembar puisi cinta Ingin kupetik gitar dan bersenandung mesra Karena bisikan lembutmu melantunkan hasrat hidup Tatapan sayumu membiaskan mimpi-mimpiku Senyuman indahmu melukiskan harapan-harapanku Mimpi dan harapan seorang lelaki biasa Menghabiskan hidup dengannya, tuan putriku ratuku, malaikatku, wanitaku yang istimewa
0
Jun 4, 2018
Jun 4, 2018 at 12:31 PM UTC
Kugenggam Tanganmu
Pertama kalinya kugenggam tanganmu Satu kembang api dipantik dari ulu hatiku Seribu lainnya menyusul saat jemari kita saling bertaut Menghiasi langit malam dengan pendar menggoda Hitam pekat dibasuh percik api warna-warni Kusaksikan dengan jelas saat kutatap wajahmu lekat-lekat Kala itu tak satupun kata berhasil kita ucapkan Namum dalam hati, tiap detik kulayangkan ribuan doa dan segala mantra : "Tuhan sang empunya dunia ini, hendaklah hentikan waktu sejenak untuk hambamu ini. Atau panjangkanlah malam sebelum mentari terbit nanti. Terima kasih Engkau turunkan bidadari, tepat disebelah hambamu ini". Rambutmu bagaikan ombak musim panas Bergulung-gulung indah harum manis bergairah Namun dadaku layaknya laut dikala badai Gemuruh layaknya seribu ksatria berkuda Inginku berteriak sekencang-kencangnya Gemanya terdengar sampai kampung Ayah-Ibuku Jikalau nun jauh di belahan dunia sana Seseorang berhasil menginjakkan kakinya di bulan Inginku umumkan pada dunia Malam itu akulah manusia pertama yang berhasil menggenggam bulan Akulah pungguk yang melawan seluruh hukum gravitasi Akulah pungguk yang tak lagi merindukan bulan Kalau saja bisa, saat itu juga Ingin kutuliskan berlembar-lembar puisi cinta Ingin kupetik gitar dan bersenandung mesra Karena bisikan lembutmu melantunkan hasrat hidup Tatapan sayumu membiaskan mimpi-mimpiku Senyuman indahmu melukiskan harapan-harapanku Mimpi dan harapan seorang lelaki biasa Menghabiskan hidup dengannya, tuan putriku ratuku, malaikatku, wanitaku yang istimewa
Continue reading...
30
ramai sekali seperti diskon akhir tahun dimana lantainya berakhir kotor diinjak-injak hingga pukul 1 pagi ricuh dimana-mana hanya gemuruh hancur ternyata cuma pikiranku.
0
Jun 19, 2020
Jun 19, 2020 at 12:40 PM UTC
Jakarta
Langit memberi kesan Bahwa kesedihan membawa Warna ungu pucat di pipinya Tanpa seorang teman Tanpa awan kelabu untuk Berkabung dengan kesendiriannya Hujan dikenal sebagai pembawa sendu Namun dia tak datang untuk bersyair diantara gemuruh guntur yang berkilat Diantara gemerlap air yang ditangisinya Langit tetap merindu Bersedu sedan dan menderu Memanggil-manggil nama yang tidak diketahui oleh siapapun Meninggalkan ruam ungu Diantara pucat pasi di pipinya
0
Jun 15, 2017
Jun 15, 2017 at 2:27 PM UTC
Kala Langit Ungu Pucat