Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"doaku" poems
Palembang, Senin 7 November 2011 Bagaikan berharganya air mataku Hanya terjatuh bagi para berlian hatiku Yang sangat berarti bagiku Yang sangat dekat dengan ku Bagaikan rapuhnya hati ini Terasa sesak setiap mengingat dia Serasa ingin mati saja Tak mau lagi hidup jika ada dia Doaku tak sering ku panjatkan Hanya bisikan hati yang sering terngiang Rasaku sudah cukup tak perlu diberitahu Toh orang pun tak mau tahu Selalu minta yang terbaik Sungguh aku menginginkannya Agar tak lagi aku menangis sepi Supaya tak perlu aku berpura-pura Bagaikan tak terjadi apa-apa Padahal hati ini penuh luka
0
Nov 7, 2011
Nov 7, 2011 at 10:30 AM UTC
Air Mata Ku
Katanya langit akan berbintang malam ini, "Pulanglah dalam remangmu dan duduklah termangu. Berdoalah menghadap langit; jika sungguh kau berdoa, barulah ia akan berpijar." Katanya langit akan berbintang malam ini. Bisa jadi doaku yang kurang hening. Bisa jadi aku salah merapal namamu dalam doa. Katanya, langit akan berbintang malam ini. Katanya juga, kau akan pulang, kembali ke dalam remangku. Aku lihat langit. Aku intip karam malam dalam diriku. Di langit tak ada bintang. Di gelapku tak ada kau. Di doaku sajalah namamu disebut-sebut sekian kali. Katanya langit akan berbintang malam ini. Bisa saja mereka berbohong, dan aku tak akan pernah tahu. Seperti dahulu, kau beri aku bintang. Dahulu bintang cumalah batu.
0
Sep 8, 2016
Sep 8, 2016 at 9:15 AM UTC
Redup
Hai... Kau mungkin tak akan tahu siapa aku Dan sejujurnya aku tak akan mengenalmu Namun kau dan aku memiliki suatu kesamaan Ia yang kau perjuangkan, yang kau sayangi hingga hatimu sakit Dulu pernah menjalani hari demi hari bersamaku Ia juga pernah ku perjuangkan hingga raga ini tak mampu lagi Ia yang selalu ku sayangi hingga hati ini tak merasa sakitnya Aku hanya ingin menitipkan sebuah pesan untukmu Sebuah pesan kecil yang bisa saja kau abaikan jika kau mau Jangan pernah merasa lelah untuk memperjuangkannya Jangan berhenti menyayanginya walau mungkin ia menyakitimu secara tak sadar Karena jika aku masih mampu dan ia masih membuka hatinya Aku pun tak akan berhenti melakukan kedua hal tersebut Apa yang bisa ku lakukan sekarang adalah menyisipkan namanya disela doa-doaku agar ia bahagia dengan hidupnya Dan agar kau tetap terus menjaganya sebagaimana aku akan menjaganya
0
Jan 3, 2016
Jan 3, 2016 at 8:23 AM UTC
Memo
Cinta Mungkin adalah hal yang paling sakral di kehidupan Terjadi ketika 2 insan bertemu Saling menerangi sesama Rindu Mungkin adalah hal yang paling ajaib di kehidupan Terjadi ketika dirimu terlintas di benakku Turbulensi yang bergejolak di hati dan pikiran Doa Adalah saat ketika keajaiban akan terjadi Ketika kuucapkan namamu yang begitu indah di doaku Agar didengar oleh Allah SWT Dirimu Sebuah anugerah yang sangat dijaga Begitu sucinya dirimu untuk dilihat Seolah-olah menggugurkan segala bintang Diriku.. Lelaki yang mendambakanmu Seperti kerumunan semut yang berciuman dan yang mencubit Pada waktu satu anak kecil yang menggigit-gigit kuku jari Rindu adalah bulu matamu, bergulung-gulung layaknya ombak Perempuan ciptaan cahaya Perempuan semua anggrek kesayangan Kau layaknya labuhan terjauh, pekat, tidak berujung Bolehkah aku berlayar disana?
0
Nov 11, 2017
Nov 11, 2017 at 8:33 AM UTC
Seseorang.
Baru saja tubuh beserta ruh ini menggelar ritual yang dianggap kekal Ritual dimana aku bisa merasakan tubuhku merukuk, merunduk, menekuk-nekuk seikhlasnya tanpa meminta apapun kecuali untuk tubuh ini dibimbing Nya Tak peduli jika doaku belum juga dijabah Sesungguhnya Tuhan hanya ingin jiwa ini pasrah Sebiadab-biadabnya laku ku sebagai manusia, terkadang haus juga akan ibadah Disaat kedua tangan ini hendak selesai menggulung kain sajadah, Muncul pesan berisi alamat. “Sampai ketemu.” Seakan lupa terhadap perihal ritual kekal dunia akherat Ujung kepala sampai ujung kaki ini sepakat untuk berangkat Mengapa akal sulit digunakan jikala merindu? Aku bersumpah, tak ada yang tahu. — Dalam sesingkatnya waktu aku menjadi saksi akan kehadiran tubuhku di ruang serba asing Satu-satunya yang tak asing adalah rupanya. Ditengah kegaduhan batin yang luar biasa, Hati ini hanya bisa berkata; “Akhirnya aku kembali melihat matanya.” Setengah sayup setengah berbinar, Sepasang bola mata itu menatap milikku, Suara familiar yang sekarang terdengar serak parau dibabat dunia itu bercerita; “Aku lelah.” “Aku tahu.” Tak sampai tiga puluh menit diriku kembali menjadi saksi akan ingkarnya sumpahku, Karena aku bisa melihat tubuh ini kembali merukuk, merunduk, menekuk berliuk-liuk Di momen itu, segala pengetahuan lucut bersama pakaian. Saat pakaianku dilempar ke lantai, Harga diri yang kupeluk erat ikut jatuh bersamanya. Adegan pengingkaran sumpah itu berlangsung entah berapa lama Buah sinar Matahari mulai mengintip untuk meberitahu bahwa hari baru sudah nampak Aku bergegas mengambil seribu jejak, Di jalan pulang aku menerima pesan; “Terima kasih.” “Kembali.” Butuh seribu tahun untuk hancur ini diperbaiki. Semua ini, sedangkan aku hanya ingin melihat matanya.
0
May 27, 2019
May 27, 2019 at 12:42 AM UTC
Sumpah Dibayar Mata
Baru saja tubuh beserta ruh ini menggelar ritual yang dianggap kekal Ritual dimana aku bisa merasakan tubuhku merukuk, merunduk, menekuk-nekuk seikhlasnya tanpa meminta apapun kecuali untuk tubuh ini dibimbing Nya Tak peduli jika doaku belum juga dijabah Sesungguhnya Tuhan hanya ingin jiwa ini pasrah Sebiadab-biadabnya laku ku sebagai manusia, terkadang haus juga akan ibadah Disaat kedua tangan ini hendak selesai menggulung kain sajadah, Muncul pesan berisi alamat. “Sampai ketemu.” Seakan lupa terhadap perihal ritual kekal dunia akherat Ujung kepala sampai ujung kaki ini sepakat untuk berangkat Mengapa akal sulit digunakan jikala merindu? Aku bersumpah, tak ada yang tahu. — Dalam sesingkatnya waktu aku menjadi saksi akan kehadiran tubuhku di ruang serba asing Satu-satunya yang tak asing adalah rupanya. Ditengah kegaduhan batin yang luar biasa, Hati ini hanya bisa berkata; “Akhirnya aku kembali melihat matanya.” Setengah sayup setengah berbinar, Sepasang bola mata itu menatap milikku, Suara familiar yang sekarang terdengar serak parau dibabat dunia itu bercerita; “Aku lelah.” “Aku tahu.” Tak sampai tiga puluh menit diriku kembali menjadi saksi akan ingkarnya sumpahku, Karena aku bisa melihat tubuh ini kembali merukuk, merunduk, menekuk berliuk-liuk Di momen itu, segala pengetahuan lucut bersama pakaian. Saat pakaianku dilempar ke lantai, Harga diri yang kupeluk erat ikut jatuh bersamanya. Adegan pengingkaran sumpah itu berlangsung entah berapa lama Buah sinar Matahari mulai mengintip untuk meberitahu bahwa hari baru sudah nampak Aku bergegas mengambil seribu jejak, Di jalan pulang aku menerima pesan; “Terima kasih.” “Kembali.” Butuh seribu tahun untuk hancur ini diperbaiki. Semua ini, sedangkan aku hanya ingin melihat matanya.
Continue reading...
35
Kalau saja kau sempat. Pandang, bagaimana mulut ini bisa saja menegur, tersenyum? Tapi otak membeku bungkam bagai impuls macat karena motor neuron salah menghantar ke jalur yang tak seharusnya Aku coba pulang, balik bak kala kau amati sosokku yang periang dan sayang Bukannya aneh waktu dulu semua lihat ku dan kamu serupa kawan tanpa ada salah tingkah didalamnya Ceritakan sekali lagi bagaimana diriku yang dulu Agar aku kembali, jadi kita, aku yang mudah, kau yang tak ada apa-apa. Tiap pertama bertemu, doaku kutak lagi buat kesalahan yang sama. Semata-mata memang karena, kau teman yang begitu berharga.
0
Mar 12, 2018
Mar 12, 2018 at 11:36 PM UTC
Lewat kita
Obrolan ceria menyambut pagi Memaksaku menguap untuk terakhir kalinya Suaramu bergetar lembut melalui sambungan telepon Kau menceritakan mimpi semalam Sambil menyanyikan sebuah lagu Tak kau biarkan dunia melihatmu bersedih Walau aku tahu, Semalam tak sedikitpun kau mampu pejamkan mata Derik jangkrik bertukar dengan kicau burung Namun aku tak ingin apapun menukar dirimu Kau adalah malaikat kala mimpi burukku Kau layaknya bintang di siang hariku, Surya pada malam-malamku Kau nyanyikan sebuah lagu cinta Suaramu menghangatkan sejuknya embun Nafasmu menghidupkan diriku Memberi warna pada duniaku Membirukan langitku yang selalu hitam Memerahkan hatiku yang biru Kita akhiri percakapan hari ini Kau menutup panggilan telepon dan melanjutkan harimu Aku meresap sisa-sisa suaramu yang menggema dalam kepalaku Kubawa suara itu dalam doa-doaku Semoga suara itu masih bisa kudengar lagi nanti Semoga masih ada lagu cinta untukku
0
Sep 13, 2018
Sep 13, 2018 at 1:40 AM UTC
Lagu cinta
Hiruk pikuk kebencian Menjadi bagian dari malam ini Suara-suara lantang itu Berhasil memenuhi gendang telinga ini Atas dua insan yang berkecamuk Penantian keadilan serta merta Aku bersembunyi dalam doaku yang terburu-buru Sabar, katamu. Bagai asupan yang bahkan aku tidak lapar sekalipun
0
Dec 19, 2019
Dec 19, 2019 at 10:47 PM UTC
Dua Insan
Biar rintik tangis langit membawa ceritaku ke awan dan dijatuhkannya di depan matamu. Sampai basah tersimpan pada kelamnya aspal Gudang Utara malam ini. Sudah berendam pada firman-firman Bapa, untuk pudarkan namamu dari jiwaku. Pikiranku bulat, doaku tegak. Jadi, sampai disini saja pementasanmu, kamu bukan lagi lakon utama ataupun lakon pendukung ceritaku. Koper ini kutinggalkan, terlalu lelah pundakku menanggung beban pikiran atas kemungkinan yang fana. Biar bumi berkisah tentang kekosongan yang pernah tak kupahami. Memoriku telah lalu, kini terisi dengan yang baru.
0
Mar 6, 2020
Mar 6, 2020 at 10:46 AM UTC
Baggage.
Kau dan dirinya pasti melihatku menangis malam itu dan mungkin dibalik punggungku, Kau dan dia bertanya-tanya, sambil menangis juga “kenapa?” karena dibawah peluhnya, matanya membuatku teringat dirinya melambai dan memanggil “sayang” kekasihnya “kenapa?” karena tak banyak waktu yang bisa kusewa dan ku tau, setelah waktu bayaran itu, dia akan kembali mengasingkanku “kenapa?” Kau tau yang paling mendera? karena malam itu, Kau menjawab doa-doaku tapi saat itu juga, aku kembali mengkhianatiMu.
0
Mar 24, 2018
Mar 24, 2018 at 10:48 AM UTC
Tangis