Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"dirumah" poems
sungguhlah rumah adalah tempatku dan aku adalah tempat singgahmu aku tinggal dirumah rumah yang ku ciptakan agar kau bisa terus singgah aku tidak pernah lelah menjadi tempat singgahmu mendengar segala usahamu keluh kesahmu adalah hal yang kusuka saat kamu semak hati aku akan menjadi tempat bernaung membantumu menggapai rasa singgahlah jika sedang risau aku akan bersuka cita menjadi tempat singgahmu pergi lah jika sudah merasa cukup sungguh menunggu adalah hal biasa datang semaumu pergipun begitu aku adalah tempat singgahmu dan aku akan terus menyambutmu dengan meriah
0
Mar 16, 2019
Mar 16, 2019 at 2:11 PM UTC
Tempat Singgah
Bapak, aku ingin pulang Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah Tapi kau telah mempunyainya. Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak. Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan. Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu; yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini. Kau tak akan menemukannya disana Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu Kau adalah rumahmu Tapi kau adalah bukan tempat singgah Badanmu bak ruang luas tak terbatas Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka Ribuan pintu tersebut tertutup adanya Terkunci dengan rapat Namun kuncinya telah kau telan   Dibalik pintu itu, Lagi-lagi ribuan misteri Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran Tersimpan terlalu aman Jiwamu adalah fondasi Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan Namun parasmu, anakku sayang, Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap Hati-hati dalam memberi izin Jaga rumahmu Bersihkan Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
0
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 1:23 AM UTC
RUMAH
Bapak, aku ingin pulang Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah Tapi kau telah mempunyainya. Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak. Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan. Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu; yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini. Kau tak akan menemukannya disana Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu Kau adalah rumahmu Tapi kau adalah bukan tempat singgah Badanmu bak ruang luas tak terbatas Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka Ribuan pintu tersebut tertutup adanya Terkunci dengan rapat Namun kuncinya telah kau telan   Dibalik pintu itu, Lagi-lagi ribuan misteri Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran Tersimpan terlalu aman Jiwamu adalah fondasi Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan Namun parasmu, anakku sayang, Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap Hati-hati dalam memberi izin Jaga rumahmu Bersihkan Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
Continue reading...
36
berawal dari waktu memaksaku menyeret kakiku melangkah gontai sambil pergi aku merengek, terisak ! dan mengadu pada-Nya tunggu ini secepat aku berkedip barusaja ya, dulu memang aku kecil nyaliku memang masih payah masih terjerat pada keduanya bahkan sekarangpun.. keduanya ingin aku yang terbaik aku tak tahu yang dirasa mereka tapi aku sendiri berontak menyalahkan waktu yang jelas tak akan berhenti aku kutuk waktu mengapa begitu kilat ragaku masih ingin tetap dirumah tunggu, sejenak aku merasa keliru bukankah ini baik aku juga ingin membuat keduanya senang mimpi harus coba kupanjat tangga itu sudah dihadapanku aku termasuk yang beruntung bersyukurlah! batinku melerai aku meyakinkan diriku sekuat tenaga "ini bukan rumahku" gertakku saat aku tiba ditempat asing itu akupun terpaksa tinggal demi pengetahuan yang ingin kuraup iya, jika belum paham akan kujelaskan aku seorang mahasiswa sekarang predikat yang melekat padaku kini berat.. pandangan semuanya akan berbeda terhadapku sungguh aku menemui teman baik berjuang sama sama, namun tetap harus sendiri aku menarik nafas.. waktuku kini juga telah memaksaku rasanya pagi sudah menjadi sore agaknya aku harus selesaikan hariku mengerjakan tugas akhirku disana...
0
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 11:28 PM UTC
GARIS WAKTU
Daniel, Waktu panorama nyata cerah merona Aku termenung dungu Malu, cemas tak pernah begini Atau entah pernah namun kulupa Kala aku berlari menuju hilang Cerah itu muncul, kupikir selesai semua Berpapasan sosokmu, membelai pipimu Ku tak becus Yang terasa dijiwa makin bermakna yang ada dihati makin berarti Tak harap lebih berjumpa denganmu Dimimpiku Dipelaminan Atau dirumah kita nanti Rasa cintamu sudah cukup Sungguh, Terima kasih Buatmu, 2017.
0
Sep 18, 2017
Sep 18, 2017 at 12:15 PM UTC
Buat sayangku, Daniel
Hoam....sudah jam 4 pagi Alarm sudah berbunyi Memanggilku untuk segera berdiri Keluar dari hangatnya selimut Hoam....aku masih mengantuk sayang Dan dengarlah suara rintik hujan Dan riuhnya gemuruh diatas Bertanda hujan belum akan usai Hoam....berilah aku beberapa menit lagi Untuk mengumpulkan kekuatan dan kemauan Mengalahkan segala bisikan Untuk tetap tinggal saja dirumah Hoam....baiklah, baiklah Alarm kembali berbunyi Kenapa kau paksa aku pergi Sedangkan tubuhku begitu pedih Untuk mendapat sekucur air dingin Membuka mata lebar-lebar Menggerakkan tangan dan kaki Untuk berkarya dan bekerja kembali
0
Mar 22, 2017
Mar 22, 2017 at 9:12 PM UTC
Pagi yang dingin
Kenapa diam? Matamu berisik ingin berbisik—perasaanku ini asing, mengusik—tapi kamu tahu, kan? Kamu masih diam. Kenapa menjauh? Aku bukan rumah tak bertuan—aku ini sudah dirumah—tapi kamu salah rumah, kan? Kamu diam lagi. Kenapa mengelak? Setiap kenangan ada di angan, kamu langsung meninggalkan ruangan—jangan, jangan kamu, tidak boleh kamu—dirapalkan terus menerus seperti denting jam dinding tua diujung jalan, kamu takut, kan? Kamu diam lagi. Kenapa menyerah? Rautmu tidak terbaca, saat iris kita beradu lewat kaca. Begitu pula dengan langkahmu, yang berhenti setelah ujung sepatu kita bertemu. Inginku kita bertemu lagi besok pagi, nyatanya mulutmu hanya tahu elegi—karena aku maunya dia, makanya aku meninggalkan ruangan, cukup dia—rasa ini mati sebelum sempat mendapatkan hati.
0
Feb 6, 2021
Feb 6, 2021 at 1:48 PM UTC
—bukan aku.