"dekat" poems
Palembang, Kamis 6 Januari 2011
Hari ini aku seneng banget
Aku sedang dekat dengan seseorang
Dan aku tak yakin menyebutnya cinta
Karena aku tuk saat ini tak percaya dengan cinta
Cinta memang indah sih
Tapi aku sedang tidak beruntung saat aku dengan mantan
Aku sekarang bisa merasakan dua belas rasa cinta
Sayang, kangen, senang, kecewa, cemas, marah, perih,
sedih, menyesal, bimbang, benci, dan lain-lain
Oleh karena iti aku tak sanggup bertemu cinta
Lebih baik tunggu saja hingga aku siap
Tapi bila aku mendapatkan satu kesempatan lagi
Aku berjanji tuk mengambilnya
Tak akan ku sia-siakan kesempatan itu
Sungguh aku berjanji
Aku tak sanggup untuk bercerita tentang nya
Karena ku takut rasa itu akan berubah
Dan yang ku rasa akan berbeda
Pasti itu akan menyakiti hatiku
Sangat
Dan yang manusia tahu
Mereka tidak mau tersakiti
Apalagi oleh cinta :)
Nov 4, 2011
Nov 4, 2011 at 2:06 AM UTC
Kau ini siapa?
Aku berbicara seakan sangat mengenalmu
Menyebut namamu penuh kerinduan,
seakan dua sahabat yang sudah lama tak bertemu
Aku serius bertanya, Kau ini siapa?
Menceritakanmu ke teman-teman ku di sekolah,
seakan kau ini seseorang yang ku kenal di dekat rumah
Aku sekali lagi bertanya, Kau ini siapa?
Tahukah kamu aku mencintaimu tidak sengaja,
mengenalmu memandangmu hanya dari kata-kata
Kau ini terbuat dari apa?
Mencintaimu sungguh menyakitkan
Ingin rasanya aku mati saja
Terkubur bersama rasa ini
Rasa sakit yang entah mengapa,
sakit karena mencintaimu terlalu dalam
Jun 11, 2012
Jun 11, 2012 at 3:01 AM UTC
Kau... membenciku kah?
tidak menyukaiku? atau mungkin kau iri padaku?
Kau begitu munafik!
dulu aku selalu bercerita tentangnya padamu, meskipun aku dan dia sudah tak lagi bersama kau pun tahu aku masih sangat sangat menyukainya. Kau tahu aku mengaguminya berbulan bulan, kau juga tahu untuk mendapatkan hatinya seperti berlari mendapatkan satu bintang kecil. Walau pada akhir nya aku hanya jadi pelampiasan perasaannya, tapi aku masih sangat menyukainya pada waktu itu meski kenyataannya harus seperti itu.
Aku teman mu, dan aku juga tahu kau juga temannya lebih dekat dari sekedar pertemananku denganmu.
tapi apa kau tak bisa mengahargai perasaanku sebagai temanmu?
kau tahu semua isi hatiku tentangnya, tapi mengapa kau sekarang?
memadu kasih dengan dirinya yang sampai detik ini kau tahu aku masih sangat mengaguminya!
kau jahat! kau benar-benar penghianat bertopeng pertemanan!
kau bukan lagi temanku sekarang. Itu terlalu sakit, sangat sakit untuk ku percaya.
kau bahkan hanya mengatakan maaf hanya untuk sekali seumur hidupmu?! itukah dirimu yang sebenarnya? menikamku tanpa ampun.
kalian berdua sama saja, tak ada gunanya aku mempertahankan seorang teman penghianat, dan sorang pengagum yang gila perempuan.
'seorang pencuri kekasih sesungguhnya mencuri seorang penghianat!'
Oct 10, 2013
Oct 10, 2013 at 11:30 PM UTC
Aku suka kamu,
Dalam diam, sejak dulu lagi.
Aku terpikat dengan puisi kamu.
Tiap coretan indah kamu buat aku tersenyum.
Sungguh aku teringin bercakap dengan kamu,
Apakan daya rezeki belum nak ada,
Entah bila kita boleh berjumpa lagi.
Surat khabar sahaja yang buat aku rasa aku dekat dengan kamu,
Itu sudah cukup buat aku tersenyum, bahagia.
Maaf,puisi tidak cukup hipster tapi ni saja yang ku mampu tulis untuk kamu sebab kamu suka puisi deep lahanat melayu.
Nov 2, 2015
Nov 2, 2015 at 7:26 AM UTC
Palembang, 3 November 2011
Aku bersabar . . .
Tetap berusaha dengan penuh harap
Supaya bisa melihat wajah mereka
Mendengar suara mereka
Menyaksikan kekompakan mereka yang sangat aku cinta
Aku tidak menangis . .
Hampir,
tetapi ku hapus air mata dan ku pasang senyum bahagia ku
tersenyum sesekali, tertawa bersama mereka
Aku tidak mengerti bahasa mereka
Tapi aku mengetahui yang mereka bicarakan
Aku tidak pernah bertemu mereka
Tapi aku bisa merasakan mereka sangat dekat
Aku tidak mengenal mereka
Tapi aku sangat mencintai mereka
Dari dulu hingga sekarang rasa ini tak akan berubah
Meskipun aku belum beruntung
Doa membantuku memberitahu-Nya
Bahwa aku sangat merindukan mereka
Sekarang,,,
Aku sedang memandang mereka
Merekam setiap kata, gerak, dan ekspresi mereka
Hal terindah yang pernah aku rasakan
Terima Kasih Tuhan, , ,
Hadiah ku datang
Created by. Aridea P
Nov 3, 2011
Nov 3, 2011 at 11:57 AM UTC
Palembang, Senin 7 November 2011
Bagaikan berharganya air mataku
Hanya terjatuh bagi para berlian hatiku
Yang sangat berarti bagiku
Yang sangat dekat dengan ku
Bagaikan rapuhnya hati ini
Terasa sesak setiap mengingat dia
Serasa ingin mati saja
Tak mau lagi hidup jika ada dia
Doaku tak sering ku panjatkan
Hanya bisikan hati yang sering terngiang
Rasaku sudah cukup tak perlu diberitahu
Toh orang pun tak mau tahu
Selalu minta yang terbaik
Sungguh aku menginginkannya
Agar tak lagi aku menangis sepi
Supaya tak perlu aku berpura-pura
Bagaikan tak terjadi apa-apa
Padahal hati ini penuh luka
Nov 7, 2011
Nov 7, 2011 at 10:30 AM UTC
(Palembang, 28 Oktober 2015)
Halo,
Halo??
Aku bilang, Halo
Lihat aku!
Aku sedang berkemas.
Kemas hati yang telah meleleh karena kata-katamu.
Berantakan,
Berceceran di lantai hingga menghalangi perasaan ini tuk hilang.
Halo~~~
Aku cukup gagal memperbarui hati yang pernah bahagia.
Hati yang pernah merona-rona ketika dekat denganmu.
Hati yang selalu merindu ketika jauh darimu.
Coba lihat hatiku sekarang ini!
Rusak,
Parah~ !!
Tak bisa ku perbaiki.
Halo lagi,
Tanggung jawab atau kau akan aku lupakan selamanya!
Tak percaya lagi denganmu.
Halo, ini yang terakhir kali.
Aku pergi tanpa membawa hati.
Jan 6, 2016
Jan 6, 2016 at 9:31 AM UTC
Malam larut tak ku rasa kini
Hanya duduk merenungi sepi
Aku pun berdiri
Mendekati cermin di dekat ku
T'lah ku lihat kini
Bayang lain pengkejut hati
Namun, tak kuasa ku tahan tangis
Ingat-ingatmimpi yang lalu
Bintang-bintang kabur berkejaran
Bulan pun tak lagi berjanji pada ku
Untuk selalu menyinari aku
Malam larut hilang berganti pagi
Menusuk raga saat raga menyinari
Membunuh jiwa saat tak lagi kini
Ku rasakan malam yang hening
Di mana ku selalu teringat Belahan Jiwa
Yang dulu slalu mengiasi malam
Created by,
Aridea Purple
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:56 AM UTC
Segenap usia t'lah ku pegang. Namun, akankah telepas? Usia akhir hampirkah dekat. Apakah raga akan terbunuh?
Cintaku belum tergapai. Bisik hasut baik, terngiang di telinga. menyerukan kata indah tentang cinta. Agar ku tak merasa terikat usia.
Belum lama ku cicipi dunia. Akankah kandas bagai tergilas. Tiupan angin menjadi puing. Terbakar api menjadi debu.
Nyawa kini menjadi asap. Tak berguna tanpa cinta. Menangis haru karena suara indah. Dan tersenyum bahagia bermimpi cinta.
Created by. Aridea Purple
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:55 AM UTC
waktu tidak serta merta memberi salam maupun pamit
ia berjalan saja mengikuti poros
dan terkadang aku tak merasanya
cepat..
kemarin rasanya aku baru akrab denganmu, setalah kebungkaman yang berbicara menahun
aku hanya bisa tertawa, jika aku ingat dulu.
kamu dan aku kemudian dibawa waktu untuk saling bicara untuk pertama kali
sebenernya aku dipaksa karena aku membutuhkan bantuanmu
aku memanfaatmu..agar kita dekat mungkin itulah cara-Nya
maaf..
sampailah kita diakhir studi kuliah
topi bertali dan jubah sudah mantap kita kenakan
tapi dihari itu aku tak melihatmu
mauku melihatmu dengan jas hitam dan kemeja merah mudamu yang manis
tapi aku senang.
semoga kamu gapai maumu selalu
dan selamat.. aku masih merepotkanmu hingga detik ini
Nov 30, 2018
Nov 30, 2018 at 9:44 AM UTC
Aku ingat awalnya
Mimpi itu aku simpan
Mimpi itu aku timbun
Aku tidak berasumsi
Aku tidak berekspektasi
Tapi kau datang
Di malam yang tidak kusangka
Mencari celah untuk masuk
Mencari cara untuk dekat
Ya, kamu waktu itu
Saat awal mula tahun ini
Secepat angin ku ada di pelukmu
Ku terbaring di kasur
Ku merasa hangatmu
Ku ada di sisimu
Ku memilikimu
Mungkin memang benar,
kata Kafka waktu itu
"He who seeks does not find, but he who does not seek will be found."
Memang mungkin,
tak perlu susah payah
tak perlu menunggu
apalagi mencari
Karena bila takdir
Ia akan datang sendiri
Sep 24, 2016
Sep 24, 2016 at 8:16 AM UTC
Aku tak pernah anggap kau penting tau,
langsung tak pernah.
Balik-balik muka kau,
Balik-balik muka kau,
Pastu satu hari kau takde,
Aku mula cari kau.
Tiba-tiba kau jadi penting,
Sampaikan tertoleh-toleh kiri kanan cari kau.
Pastu tengok kau,
Dekat belakang tembok pandang aku,
Senyum.
Celakanya,
Berdegup jantung aku.
Mar 3, 2015
Mar 3, 2015 at 11:51 AM UTC
Masih kubayangkan seperti apa jadinya aku apabila suatu saat aku benar-benar bisa memiliki dia. Mencintai dia begitu dekat. Sedekat tarikan napas dari setiap udara segar yang aku hirup di pagi hari. Masuk ke dalam paru-paru. Kemudian bercumbu di sana.
Benar apabila aku memang sangat ingin bisa memiliki, segala hal yang mungkin tidak pernah bisa aku miliki.
Begitu naif apabila kita sedang belajar mencintai seseorang.
O wajahnya. O matanya. O hidungnya. O pipinya. O bibirnya. O rambutnya yang panjang tergerai jatuh di bahunya. Begitu jelas, hingga mimpi seperti realita.
Dia begitu jelas terlihat. Dia begitu nyata, bahkan kurasakan sesuatu berdetak begitu cepat dan kencang, seperti angin yang menyibak rambutnya.
Senyumnya membuat segala yang hancur menyatu kembali, tetapi tidak, tidak untuk setiap kali.
Aku masih mencintainya, begitulah cinta yang semestinya aku akan katakan apabila memang dia benar ada di sini. Tetapi dia tidak di sini. Dan aku tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintainya.
Dia begitu dekat, tetapi juga begitu jauh. Dia jauh dari mataku. Dan dia begitu jauh untuk bisa merasakan perasaanku padanya.
Mar 23, 2021
Mar 23, 2021 at 5:57 AM UTC
Palembang, 24 November 2013
Suara itu
Suara yang tak terdengar, suara yang membeku
Menyentuh dalam kalbu
Miris, suara itu
Bau itu
Bau yang tak tercium, bau yang melebur
Menyayat hatiku
Kasihan bau itu
Pandangan itu
Pandangan yang terpaku, hanya diam membisu
Mengabaikanku
Tak menoleh sedikitpun
Sentuhan itu
Senyuhan palsu, yang tak tersentuh
Memukulku, di sini
Di arah sini, dekat hatiku
Pikiran ini
Pikiranku, yang tak berujung
Memikirkanmu
Membuat aku ragu
Nov 24, 2013
Nov 24, 2013 at 10:15 AM UTC
Jumat, 1 Oktober 2010
Aku punya banyak teman dekat
Mereka semua baik pada ku
Tapi ada saat aku bingung
Bingung akan saran yang mereka beri
Yang ini bilang ACD
Yang satu kembali ke ABC
Yang itu bilang jangan
Ada lagi yang bilang coba dulu
Semua membuat ku bingung
Aku berkata, dibilang salah
Aku diam saja, dibilang tambah salah
Ku ambil keputusan sendiri
Tapi aku tak yakin
Oh... Hidup memang sulit
Penuh pilihan dan tantangan
Created by. Aridea .P
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:48 PM UTC
Disini aku masih di bawah langit milik bumiku
Tapi berbeda tempat dan aroma tanah
Aku merasa di atmosfer era abad pertengahan
Melihat banyak kastil dengan arsitektur tua
Pemandangan yang indah di Montmartre, sebuah kerajaan seni
yang siap memanjakan mataku seketika
Musim gugur menciptakan lukisan indah secara alami
Tempat itu seperti kanvas
Diciptakan oleh kuas ajaib anugrah yang kuasa
Meski Claude Monete dan Renoir sudah tidak ada lagi
Aku bisa melihat perpaduan warna cantik di musim gugur dengan mata telanjang
kuning, oranye, merah dan coklat
Lukisan yang begitu indah
Biarkan aku memakai jaket hari ini
Sebab udara membuatku cukup dingin
Aku berjalan-jalan di pedesaan Prancis
Pohon-pohon gugur di sepanjang jalan
ditemani oleh nyanyian burung yang menyemarakan hariku
Ini sudah waktunya panen
Aku menyukai labu di ladang
Memilih apel dan pir di kebun dekat benteng Talcy
Prancis seperti harta karun emas
Paris di musim gugur bulan ini
Menara Eiffel sudah menungguku
kali ini aku berjalan di atas dedaunan
Begitu renyah di bawah kakiku
Pohon maple di atas saya memayungi meski hari tak hujan
Daunnya yang tersentuh angin berputar-putar
Mengirim mereka untuk menari di udara
Sangat romantis
Aku sedang duduk di bangku kayu
Ah jika September tiba...
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 12:24 PM UTC
Anak gadis tunggal kau
Nyamuk pun kau tak biar dekat sama dia.
Tapi kau
pijak, henyak hati
tabur janji angkat kaki
palit lumpur paling likat
pada hidup
anak gadis orang lain.
Nampak benar
jadi bapa tu tak merubah apa-apa
kalau kau biar setan dalam diri
duduk tinggi atas takhta.
Mar 26, 2015
Mar 26, 2015 at 4:32 AM UTC
Untuk yang merindukan Rumah, lebih dari apapun.
Rumah bukan lah tentang bangunan, ruang, pintu-pintu yang kokoh, atau jendela-jendela yang ditata.
Bukan tentang jenis kayu apa yang digunakan untuk pintu-pintu, jendela-jendela, entah itu jati, sigi atau mahoni.
Ini tentang apa yang hidup di dalam sana.
Aku pernah memiliki rumah, dan selalu ingin kembali pulang kesana, tapi seseorang yang memiliki peranan sangat penting di rumah, pergi meninggalkan, anggaplah ia sebagai jantungnya, dan ketika jantung tersebut sudah berhenti berdetak, mati lah yang akan kau temukan. Barangkali ia sudah menemukan rumah barunya, dan benar saja.
Baginya aku dan ibu hanyalah tamu, dan kau tidak pernah benar-benar menerima tamu, mereka lalu lalang disana, ia menemukan rumah barunya, bukan aku bukan juga ibu.
Saat aku berusaha sekuat tenaga untuk kembali pulang dan mengingat-ingat jalan menuju rumah, aku menemukannya, namun rumah itu sudah terkunci sangat rapat, aku megetuknya, tak juga si pemilik membukakan pintunya, beberapa waktu aku masi mencobanya, mungkin tidur di teras rumah ini dan berharap suatu waktu pintunya akan dibuka oleh sang pemilik, namun waktu yang ku tunggu itu tak pernah datang. Aku mencoba mengintip lewat jendela-jendela yang kokoh, aku melihat seorang anak kecil laki-laki berlarian di ruang tengah dekat perapian. Aku tersingkir.
Hujan turun dengan derasnya, bukan dari langit, melainkan dari pelupuk mataku, sepertinya awan hitam menyelimuti seluruh ruang hatiku, aku tersadar bahwa ia sudah benar-benar pergi meninggalkan rumah lamanya, dan sudah benar-benar juga menemukan rumah barunya.
Saat ini aku sedang mencoba untuk membangun rumah yang lebih kuat, kokoh, dan indah. Aku tidak akan kembali pulang atau kembali mengingat-ingat jalan menuju rumah lamaku.
Aku akan membuatnya sendiri, dan semoga rumah baruku tidak pergi lagi.
Apr 25, 2019
Apr 25, 2019 at 5:39 AM UTC
Dalam diam kau mencari sosokku
Dekat namun tak tergapai
Aku ingin menyentuhmu
Namun kau hanyalah sebatas suara bagiku
Aku menatap wajahmu
Sorot tajam diasah sepi
Dalam kesendirianmu kau mencari sosokku
Namun aku hanyalah sebatas kenangan bagimu
Hujan yang memancing air matamu
Daun gugur yang menemani ratapanmu
Aku ingin kau melihatku
Kau ingin aku menyentuhmu
Aku ingin kau tersenyum untukku
Kau ingin aku tertawa untukmu
Waktu akan menghampiri
Tanpa bisa diingkari
Aku menemani dirimu
Walau hanya suara
Kau memberikan hangatmu
Sedih dan duka
Lalui, tidur dan lewati
Suatu hari nanti katakan padaku
Dengan suara lembutmu
Aku yang larut dalam air mata
Gemerlap berkaca-kaca
Semburat jingga langit sore
Gelap langit malam sewarna abu
Menjadi tinta dalam hatiku
Mengukir dengan indah hari-hari itu
Saat kau bersama denganku
Dec 5, 2017
Dec 5, 2017 at 8:40 AM UTC
Pagi disemat dingin sejuk
Terbit matahari menghangatkan
Melihat senyum indah darimu
Apakah raga ini terbangun di surga ?
Memulai hari dengan imajinasi yang menghanyutkan
Memandang Sang Penerang bangkit dengan dirimu
Sungguh menyempurnakan elemen dunia ini
Khayalan di dunia nyata
Nyata atau mimpi
Dirimu sungguh sempurna di dua dunia
Satu yang memandang dekat
Lainnya yang memandang jauh.
Oct 28, 2017
Oct 28, 2017 at 10:56 AM UTC
Andaikata aku adalah seekor burung
Terbang membentangi praja
Menapaki ribuan ruang impian
Melekang langit senja nan dekat
Tak akan kulakukan
Andaikata aku adalah seekor burung
Yang tentu ialah
Aku rindu dengan potret otentikku
Kedua kaki, kedua tangan, akal dan pikiran
Andaikata aku adalah manusia
Menyandang kedua sayap putih bak malaikat
Tanpa lelah, tanpa sakit, tanpa keluh
Peran satria menjaga fisik juga hati
Angan jauh sebab manusia itu aku
Andaikata aku berjaya nanti
Ada di puncak emas dengan berlian sebagai udaraku
Seraya senyum lagak hormat
Akankah aku merindu sosokku yang sederhana kala itu?
Jun 4, 2018
Jun 4, 2018 at 12:01 PM UTC
Banyak hari telah kita lewati bersama
Aku mengamatimu cukup dalam, entah dengan kamu
Dari mulai caramu membuka mata setelah bangun dari tidur,
Caramu memperhatikanku ketika sedang berbicara,
Caramu tertawa ketika aku mengatakan sesuatu konyol,
Dan hal-hal lain yang kuanggap obat dari segala masalahku.
Aku tahu, kita dekat bukan dalam hal lumrah dalam sepasang manusia yang saling memiliki rasa cinta.
Aku hanya mengagumi.
Menjadi pengagummu adalah pilihanku.
Mencintaimu dim-diam hanya sebatas itu kuasaku.
Tak meminta apa-apa darimu
Bahkan ketika rindu meminta temu.
Maaf jika aku menjadi pengagummu
yang mungkin membuatmu merasa bersalah akan hal itu,
Tapi tak apa.
Asalkan kau baik-baik saja, akupun begitu
Terimakasih pada waktu yang telah memberikan kenangan cukup indah tentan aku yang bersamamu kala itu.
Jun 10, 2017
Jun 10, 2017 at 3:45 AM UTC
Dalam lembut cahaya hidup yang temaram,
Dengan yang tercinta di dekat, hati tetap bimbang.
Di balik senyum, ada kehampaan,
Saat malam tiba, menyelimuti kesunyian,
Engkau berdiri sendiri dalam kesulitan,
Jiwa terombang-ambing di lautan kehidupan.
Di ruang riuh, sulit memeluk percaya,
Seribu wajah, namun jiwa tetap waspada.
Pada akhirnya, hanya dirimu,
Yang menanggung langit biru.
Dalam kesendirian, kita belajar menangis,
Karena kesepian tak pernah habis.
Aug 18, 2024
Aug 18, 2024 at 10:55 PM UTC
Rumah joglo di tengah sawah.
Dengan cahaya remang yang berasal dari pojok ruangan ini.
Pemutar piringan hitammu baru selesai kau perbaiki.
Ku memilih untuk mendengarkan album Chet Baker Sings dengan vokalnya, seingatku itu milik mendiang kakekmu.
Gelas-gelas tinggi sudah kau siapkan, sebotol anggur dari Bordeaux sudah ku buka.
Makan malam kita sudah tandas, dua piring penuh berisi daging sapi yang sore tadi ku panggang, hampir matang penuh, bersama hancuran kentang yang sedikit dibubuhi garam dan lada, dengan saus krim jamur.
Jasmu sudah kau tanggalkan dan sampirkan di sisi sofa coklat tua itu.
Gaun hitamku masih rapih melekat pada tubuhku, namun rambutku, yang hanya sepanjang bahu, sudah ku urai, agar kau bisa menghirup harum bunga sakuranya.
Kita menari, pelan, sembari menengguk asam dan manisnya anggur Bordeaux itu.
Ku kira Chet Baker telah letih bernyanyi dan bermain trumpet, suaranya perlahan hilang, digantikan oleh suara jangkrik dari luar sana.
Aku pun lelah, ku rebahkan tubuhku di sofa coklat itu, menyandarkan kepala di dekat sampiran jasmu, menghirup bau cendana yang hampir hilang.
Kau menghampiriku, memelukku erat, menghirup leherku, pipiku, dan mengecup bibirku.
Pelan-pelan, satu per satu pakaian kita tanggal, di bawah cahaya temaram, ditemani suara jangkrik, kita melebur, melebur jadi satu.
Tanah Ubud, tak pernah gagal membuatku jatuh cinta, sengaja maupun tidak.
Jun 5, 2020
Jun 5, 2020 at 1:57 PM UTC