Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"degup" poems
Sesekali Malam bersaksi Ialah yang kau pandang Lewat satu-satunya Jendela hatimu Jam dinding Pada tiap detiknya Merana Setelah menghitung Detak jantungmu Tembok kerap Meniup nestapa Saat kau di pembaringan Meliuk pada Hamburan mimpimu Selamat tidur, Degup duka. Aku sebuah gelas Di ujung kamarmu Yang terlalu penuh Minumlah sebelum Terlelap Agar aku dapat juga Bersaksi perihal Kecup dan detak jantungmu
0
Mar 19, 2016
Mar 19, 2016 at 3:41 AM UTC
Angan
Hening, pikirku Aku sendiri di kerinduan malam Bunyi kota malang melintang di pikiranku Suara penyanyi jalanan memecah sunyi Hening, pikirku Aku sendiri di gelapnya ibu kota Bunyi senyap pedagang memekik di telingaku Suara hentakan kaki berirama melawan arus Hening, kataku Aku sendiri tanpa arah Bunyi dentuman keras degup jantungku dan Suara muramnya hatiku memenuhi pikiran Hening, ku terdiam Bisingnya ibu kota malam ini Itu semua untuk mengitung harapan Seberapa besar kesempatanku untuk bersamamu Sampai aku mengabaikan gemilangnya malam ini Sampai aku melupakan kesempatan lainya Bising, aku tersadar
0
Aug 7, 2017
Aug 7, 2017 at 9:35 AM UTC
Pemuda itu Mengabaikan Segalanya untuk Sesuatu yang Fana
Jikalau bisa Aku ingin menuliskan untukmu sebuah puisi cinta Tiap baitnya kupetik dari bunga-bunga layu sebelum mekar Tiap sajaknya sendu layaknya angsana musim gugur Dan kaupun akan bertanya "cinta apakah ini begitu menyiksa?" Tanyakan pada nyanyian malam Yang dilantunkan angin membelai rambutmu Yang melukis garis wajahmu selembut sinar rembulan Yang mangecap dingin kening dan bibirmu Tanyakan pada rintik hujan Yang menemanimu melewati sore Yang mengajarimu melupakan malam Yang membawakanmu aroma hangat padang seberang, degup berdebar dari sela-sela ilalang. Rayulah bulan dan bawalah pulang Renggutlah cahaya terakhir milik sang malam Sembunyikan untaian puisinya yang sepekat hatimu, Rangkaian kisahnya yang sehitam langitmu Namun malam tak perlu bulan Ketika seribu lilin berpendar sendu Samar melampiaskan jingga Menyala atas bara apimu
0
Jul 7, 2018
Jul 7, 2018 at 2:09 AM UTC
Kau Memilih Hujan
Aku menciptakan bingkisan berbentuk hati, membungkusnya dalam rusuk rapat melengkung agar tidak ada celah sedikitpun untuk kesedihan itu terlihat padamu. Puisi-puisi kita pernah menjadi hadiah untuk duka dan luka yang samar-samar, lalu air mata adalah bentuk kebahagiaan itu sendiri. Kita adalah kado untuk perayaan perpisahan di tiap hidup seseorang. Awal kita adalah degup jantung kencang yang membuat rasa penasaran, sebelum akhirnya napas kita tersengal-sengal.
0
Jan 31, 2021
Jan 31, 2021 at 1:59 AM UTC
KITA ADALAH KADO UNTUK PERAYAAN PERPISAHAN