"cermin" poems
Palembang, 21 Oktober 2012
Aku berjalan,
menyusuri lorong gelap dan dingin
Menatap lurus pada satu tujuan
Pintu berukiran abstrak
Tanpa kunci aku bisa masuk dengan mudahnya
Tanpa kode aku lolos dari tes keamanan
Aku terus berjalan,
menapaki lantai yang lembap
Menuju suatu benda tinggi besar yang datar
Aku berhenti.
Berdiam diri cukup lama
Terpaku tanpa mampu berkata
Aku berdiri di depan cermin
Aku melihat diriku
Lihat Dia!
Dialah aku yang haus akan cinta
Dialah aku yang menadah kasih sayang
Aku berlutut dan meminta
Bawa dia ke sini Tuhan
Ke hatiku
Aku masih terdiam terpaku
Menyaksikan apa yang ada di hadapanku
Berpikir, betapa bodohnya aku
Aku berbalik tanpa berkata sepatah pun
Dan pergi meninggalkan aku yang masih terperangkap di cermin itu
Masih bisa kuubah, ucapku pada diriku
Takkan ku biarkan penderitaan menyentuh hidupku,
sedikitpun
Aku akan berbalik dan melupakan semua
Melanjutkan perjalanan hingga tugasku usai
Oct 21, 2012
Oct 21, 2012 at 12:49 PM UTC
Malam larut tak ku rasa kini
Hanya duduk merenungi sepi
Aku pun berdiri
Mendekati cermin di dekat ku
T'lah ku lihat kini
Bayang lain pengkejut hati
Namun, tak kuasa ku tahan tangis
Ingat-ingatmimpi yang lalu
Bintang-bintang kabur berkejaran
Bulan pun tak lagi berjanji pada ku
Untuk selalu menyinari aku
Malam larut hilang berganti pagi
Menusuk raga saat raga menyinari
Membunuh jiwa saat tak lagi kini
Ku rasakan malam yang hening
Di mana ku selalu teringat Belahan Jiwa
Yang dulu slalu mengiasi malam
Created by,
Aridea Purple
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:56 AM UTC
Aku berdiri kaku di depan cermin menatap nanar dirimu.
Bertanya...
Berapa banyak malam yang kau habiskan untuk mencaci tubuh tak bersalah itu?
Mencabiknya agar kau tetap bisa merasa hidup.
Biru dan ungu selalu menjadi tanda bahwa kau menang melawanku.
Aku ingat beberapa orang
mengubahmu menjadi kelabu,
membunuhmu dengan kejam,
lalu membuangmu jauh ke jurang hitam.
Kita berjalan beriringan dengan kapak berlumur kata-kata tak dimaksudkan,
tapi kau bilang kau telah mati jauh sebelum kita berdamai.
Lalu bagaimana denganku?
Seperti ruang kosong yang hilang ditelan kesendiriannya,
aku berjalan menuju ujung lorong yang tak pernah sempat kau injak.
Menari-nari di bawah binar harapan seperti aku lupa bahwa kau tak lagi diam di sana.
Ingatkah kau saat kita duduk di meja makan bersama dua orang asing?
Kau sibuk bermain dengan gelisahmu,
sementara aku tersenyum lebar berperan sebagai hantu.
Kau melahap habis semua isi di sana, tetapi hanya berakhir pada kamar air yang sengaja kau sembunyikan.
Kau mati.
Lalu bagaimana denganku?
Oct 4, 2016
Oct 4, 2016 at 7:24 AM UTC
1/
Biasanya aku melihatmu di pojokan ruang itu. Melamun betapa sedih dan merananya jika jadi dirimu. Senyummu usang, sudah selayaknya kau buang. Atau paling tidak, kau gadaikan ke pasar loak. Pertimbangkan, aku bahkan menawarkan diri untuk jadi gerobak rombengnya.
2/
Mengamatimu bagai meneliti susunan arsitektur sarang semut, bercabang rumit walau sekelumit rahasiamu tak terungkit, atau paling tidak cerita masa lalu mu tak pernah terkuak.
Omong-omong, sudah tiga hari aku datang dan duduk di bangku yang sama, bahkan meja dan kursinya tak segan menyapaku dari kejauhan "kawan, mari duduk sini dan amati keindahan". Aku tak begitu paham bahasa furnitur, jadi ku jawab seadanya.
3/
Duduk diam mengawasi kerumunan, siapa tahu kau kembali terlihat, tanpa terhalangi punggung, atau ransel. Pintu maupun kerudung. Jangan bilang aku penguntit, karena aku tak bermaksud buruk. Aku hanya tak tahu apa yang harus ku lakukan untuk sekedar bertukar sapa, atau paling tidak tatapan mata. Menurut ku matamu cukup layu jika tak ada kawanmu yang menemani. Air mukamu tak pernah kulihat benar-benar menikmati hidup merdeka, mereka tetap saja terjajah. Entah karena sedih atau kecewa.
4/
Hari ini kau tak ada di antara kerumunan, tak ada dalam ruang, tak ada diantara rekan, tak pula hadir dalam lamunan. Aku takut telah menculikmu tanpa sengaja dengan tatapan. Aku terus memandang kedepan, mendengar percakapan.
5/
Tak ada. Aku tahu. Tak berharap pula aku akan tibamu di dalam ruang.
6/
Aku mendengar gosip dan rumor, bahwa kau yang di ujung ruang telah berpindah ke lain ruang. Ujung koridor. Aku bergegas kesana.
7/
Hari ini aku berhasil mengejarmu, berbicara padamu. Tapi kau tampak tak senang, dan hanya mengulang kata-kataku. Aku juga tak sengaja menemuimu di toilet. Masih mengulang kata-kataku. Sore ini aku berjanji akan menemuimu di ruang ujung koridor.
Kala itu, dia menghadap cermin. Menyapa citranya sendiri. Di ruang ujung koridor.
Oct 18, 2017
Oct 18, 2017 at 11:08 PM UTC
Hiruk-pikuk menjual dirinya
Pada hening yang mengekang
Ia mulai merindukan
Wujudnya
Diam-diam,
Diintipnya cermin
Yang tergeletak di ujung
Taman bunga
Sudah sebagian layu,
Tua, takhayul, dan
Ngeri,
Tapi di sanalah satu-satunya tempat
Di mana perwujudan
Berani menampakkan diri sejujur-jujurnya
Maka dipanjatkannya
Beribu pekikan isyarat namanya:
Hiruk-pikuk
Ramai
Gegap-gempita
Gelegar.
Dan diintipnya cermin itu
Dilihatnya wujudnya:
Masih tiada.
Ia telah dihilangkan.
Hanya ada bising
Yang terus bergulir.
Kau tahu dirimu
Adalah keberisikan,
Siapa suruh menjual diri pada hening?
Jun 23, 2016
Jun 23, 2016 at 8:22 AM UTC
Kerap kali kita bertanya,
Tuhan, apakah angka adalah pengukur semua?
Waktu, umur, nominal saldo, nilai,
Jarak, kecepatan, durasi, *****
Apakah angka pengukur semua?
Bagaimana dengan kenikmatan, kebahagiaan?
Apakah angka mampu,
Mengukur segala nikmat dan bahagia,
Yang kita jumpai setiap harinya
Lalu, bagaimana dengan ketepatan?
Apakah waktu yang tepat untukku,
Tentu tepat untuk orang lain?
Kembali aku menoleh ke cermin
Kadang aku berlari,
Namun orang lain terhenti,
Resah aku dibuat,
Lalu aku ikut berhenti
Orang lain mulai berlari,
Aku masih nyaman di sini,
Resah aku dibuat,
Aku pun masih berhenti
Bagaimana cara kerja nasib, Tuhan?
Apakah hidup ini memang sebuah perlombaan?
Mengapa aku selalu dituntut stigma,
Bahwa yang paling cepat adalah yang paling bahagia
Sep 1, 2020
Sep 1, 2020 at 11:48 AM UTC
Salah apa cermin padamu
hingga kau membenci itu
Salah apa cermin padamu
padahal hati yang sedang biru
Salah apa cermin padamu
padahal ia hanya membisu
?
Jul 7, 2020
Jul 7, 2020 at 9:36 AM UTC
Penghujung hari tiba
Kau menutup tirai panggung
Mengganti naskah dan cerita
Siap untuk kau mainkan kembali
Penghujung hari tiba
Hangat sentuhanmu menguap
Kecupanmu memudar
Kau rebut kembali rasa yang kau titipkan
Namun kitalah kepura-puraan yang sempurna
Dua tokoh utama dalam naskah drama
Aku cermin pecah yang berkali-kali direkatkan
Kaulah sang pandai kaca
Malam akan segera berlalu
Kau tutup tirai, siapkan panggung baru
Rias kembali wajah serta tubuhmu
Aku siap melupakan hari semalam
Dec 23, 2018
Dec 23, 2018 at 5:20 AM UTC
REKTOR SEKALIGUS SIASAT BODOHNYA. USAHA KERAS YANG PERCUMA IA KAN RAWAT SEHIDUP SEMATINYA. DI BAWAH tuhan IA MIRIP DI ATAS TUHAN. REKTOR MEMBUNGKAM SI PENAKUT KURUS YANG BERPURA-PURA NYARING SEPERTI DUA CERMIN YANG NYATANYA MEMANTUL LEMAH. BUDAK-BUDAK LAHIR DARI REKTOR YANG NYATANYA KERUH ISI PERUTNYA. DARMA NAN BAIK TERNYATA 3750. ASAP KOSONG DENGAN INJAKAN KERAS BAGI KAUM INTELEKTUAL PALSU. SEKALI LAGI, BIAR KUPASTIKAN LAGI, REKTOR BESERTA SIASAT BODOHNYA.
Oct 7, 2020
Oct 7, 2020 at 4:36 PM UTC
Bukankah kita terlihat begitu jauh?
sementara jarak sudah melipat dirinya begitu lekat, supaya Kau dan Aku
melupakan bahwa semuanya
pernah terjadi dan sudah selesai.
Apa yang diinginkan kata dari Kita berdua?
sepertinya mereka ingin Kau mengeja namaku yang sama sekali sulit diucapkan lidahmu, katamu lidah itu kelu dan kaku. Kau bohong.
Pernahkah Kau menenggelamkan diri
dalam bayangan yang terpantul dari cermin?
seakan mataku mengambang di sana
dan senyumku persis terpahat di bibirmu.
Jawabannya
Aku tahu dan Kau juga tahu.
Mar 7, 2021
Mar 7, 2021 at 7:23 AM UTC
Kursi menjadi penghalang
Diriku untuk duduk melongok
Mengintip dalam celah
Dan melihat pantulan wajahku
Di cermin yang ada
Dalam matamu
Pintu menjadi penghalang
Kakiku untuk melangkah kabur
Berhambur kearah cahaya itu
Namun, sepatu apapun
Yang aku pakai
Selalu meninggalkan bekas
Langkah kakiku di pasir pantai
Dan ketika mataku mengerling
Kakiku pun berhenti berlari
Akan ku selesaikan satu hidup ini
Menjadi diriku
Yang benar-benar palsu.
Jun 15, 2017
Jun 15, 2017 at 2:28 PM UTC
/I/
Tik, tik, tik, angka-angka berdetak di tengah malam yang riuh dalam sunyi.
Aku melukis senyum pada langit pirau yang terjebak dalam ruang-ruang gelap.
Jendela mempersilahkan gagak masuk menyampaikan rekam tawa dari orang-orang yang melukis kesedihan di birai bibir.
Seolah parade, bergembiralah seisi ruangan yang hanya ada aku saja di dalamnya.
/II/
Kota mulai curiga kepada siapa saja yang mencoba menetap.
Berlari dan tergesa adalah cara bunuh diri dalam kota yang melaju cepat dan semakin cepat.
Aku memilih menjebak diriku dalam ruang tak berpintu, yang lantainya kususun dari debur gelombang bulan purnama.
Ranjangnya mencekik kerongkonganku di pagi hari yang tak pernah tiba.
/III/
Apakah terlambat untuk menjadi diriku sendiri?
Ataukah terlalu cepat untuk menemukan diriku dalam tubuh yang nirmakna?
Jika kesunyian berbunga makna, seharusnya aku menemui makna atas diriku pada suatu pagi di ujung simpul tali.
Aku melayang, engkau menerka udara.
Aku hidup, engkau perdebatkan prosesi pemakaman dalam daftar-daftar tak kasat mata.
/IV/
Seekor nyamuk menganggu kewarasaannya dalam menghitung berapa bintang yang tak pernah melempar cahaya.
Keningnya menjelma komidi putar, menjauh, mendekat, pergi dan kembali.
Suara-suara berbaris, mempersempit lorong waktu dan jembatan kota yang mulai menua.
Telapak tangannya bergetar seiring detak jantung yang terus mempercepat kembang-kempisnya.
/V/
Senang pernah bersua, tapi aku tak ingat.
Di antara aku dan lainnya, siapa yang memperkenalkan diri di awal pertemuan?
Begitu juga esok hari, wajah siapa yang tergores dalam cermin?
Siapa yang mengucap selamat tinggal dalam jumpa yang seharusnya tak pernah menjadi sebuah perpisahan?
Aug 1, 2020
Aug 1, 2020 at 12:28 AM UTC