Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"bumi" poems
Jika aku berdosa Tuhan Hati tak ingin disalahkan Karena jiwa yang serakah Telah terbelah menjadi dua Ingin hati terbang ke Surga Apadaya terbelenggu senja Mentari panasi dunia Bagai raga ku yang mulai gersang Tuhan... Tolong... Teriakan ku memohon Hujanilah raga ku yang gersang ini Beri tanda jiwa yang asli Jiwa keras bagai karang Terhempas ombak baru mengalah Jiwa lembut bagai awan Terhempas angin baru tersadar Sadar akan 2 jiwa yang terbagi Begitu berbeda bagai langit dan bumi Amat berbeda bagai air dan api Ku sadari, aku manusia yang Munafik Created by Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:39 AM UTC
Munafik
"Dunia ini terlalu indah untuk dilukis, Sayang," Begitu katanya "Dunia ini juga terlalu luas untuk dipahami, Sayang," Begitu pula katanya Aku tetap tak mengerti Mengapa masih ada orang yang merasa dunia ini Terlalu sempit untuk diketahui Terlalu sulit untuk dijelajahi Apakah jendela cakrawala mereka saja yang sempit? Atau nyali mereka saja yang tak bisa berdiri sendiri? Hanya berani menguntit ditemani mata menyipit? Barangkali pikiran mereka juga hanya bisa mengintip? "Dunia ini dipenuhi orang aneh, Sayangku," Ujarnya kemudian Secangkir teh diteguknya perlahan "Dunia ini juga dipenuhi orang berotak kosong, kamu tahu itu," Kukatakan dalam hati bahwa aku tahu Tentu saja kami berdua tahu Bumi ini dihuni benak-benak yang melayang liar di balik masing-masing bahu Yang tak bisa diam walau hanya menunggu waktu Menunggu pikiran gila lainnya merayap masuk ke dalam kepalanya Membuat secarik kertas dan sebuah pulpen meleleh di tangannya Melantunkan kalimat-kalimat indah menjadi sebuah sajak Menyulapnya menjadi sebuah mahakarya yang terus menanjak Kukatakan sekali lagi dalam hati bahwa aku tahu Tentu saja kami berdua tahu Bumi ini juga dihuni benak-benak licik yang tak punya dinding malu Yang meraup beribu untung tak kenal waktu Diam-diam aku bertanya juga Di manakah jiwa-jiwa kotor itu bisa membeli dinding malu? Mengapa mentalnya tak beda jauh dengan mental para benalu? Orang-orang aneh itu masih terus menunggu waktu Orang-orang berotak kosong itu malah berlari meninggalkan waktu Orang-orang aneh itu terus menciptakan karya Orang-orang berotak kosong itu malah dibicarakan di berita pagi dan dunia maya Orang-orang aneh itu terus menumbuhkan bunga di atas nama bangsa Orang-orang berotak kosong itu malah menumbuhkan duri di bawah nama bangsa Seperti yang saat ini banyak terjadi, Seniman dan Koruptor.
0
Jan 18, 2014
Jan 18, 2014 at 2:37 AM UTC
Dunia, Seni, Koruptor
"Dunia ini terlalu indah untuk dilukis, Sayang," Begitu katanya "Dunia ini juga terlalu luas untuk dipahami, Sayang," Begitu pula katanya Aku tetap tak mengerti Mengapa masih ada orang yang merasa dunia ini Terlalu sempit untuk diketahui Terlalu sulit untuk dijelajahi Apakah jendela cakrawala mereka saja yang sempit? Atau nyali mereka saja yang tak bisa berdiri sendiri? Hanya berani menguntit ditemani mata menyipit? Barangkali pikiran mereka juga hanya bisa mengintip? "Dunia ini dipenuhi orang aneh, Sayangku," Ujarnya kemudian Secangkir teh diteguknya perlahan "Dunia ini juga dipenuhi orang berotak kosong, kamu tahu itu," Kukatakan dalam hati bahwa aku tahu Tentu saja kami berdua tahu Bumi ini dihuni benak-benak yang melayang liar di balik masing-masing bahu Yang tak bisa diam walau hanya menunggu waktu Menunggu pikiran gila lainnya merayap masuk ke dalam kepalanya Membuat secarik kertas dan sebuah pulpen meleleh di tangannya Melantunkan kalimat-kalimat indah menjadi sebuah sajak Menyulapnya menjadi sebuah mahakarya yang terus menanjak Kukatakan sekali lagi dalam hati bahwa aku tahu Tentu saja kami berdua tahu Bumi ini juga dihuni benak-benak licik yang tak punya dinding malu Yang meraup beribu untung tak kenal waktu Diam-diam aku bertanya juga Di manakah jiwa-jiwa kotor itu bisa membeli dinding malu? Mengapa mentalnya tak beda jauh dengan mental para benalu? Orang-orang aneh itu masih terus menunggu waktu Orang-orang berotak kosong itu malah berlari meninggalkan waktu Orang-orang aneh itu terus menciptakan karya Orang-orang berotak kosong itu malah dibicarakan di berita pagi dan dunia maya Orang-orang aneh itu terus menumbuhkan bunga di atas nama bangsa Orang-orang berotak kosong itu malah menumbuhkan duri di bawah nama bangsa Seperti yang saat ini banyak terjadi, Seniman dan Koruptor.
Continue reading...
39
ketika berjalan di atas rumput waktu seakan melambat seakan aku melangkah terseok seakan bumi berusaha menelan kakiku kubiarkan tubuhku terjatuh sementara mataku memanah langit menunggu alam menjamahku menggerogoti nadiku tulang sumsumku nyawaku biarlah darahku menjadi nutrisi bagi tanah mungkin dagingku bergizi bagi hewan liar sementara tubuhku membusuk bersatu dengan hara tunas-tunas mungil muncul dari dalam dan bunga-bungaan bermekaran di antara tulang rusukku
0
May 7, 2014
May 7, 2014 at 9:03 AM UTC
untitled
Kemarin aku mengajakmu melihat senja. Katanya kamu suka warnanya merah jambu bercampur oranye seperti jeruk mandarin kesukaan ibu. Kamu selalu ceriwis membahas senja ini dan itu. “Jangan lupa kopi dan puisi! Kita harus merayakan isi bumi.” Celotehmu. “Kamu mau kan melihat senja bersamaku?” Kemarin aku mengajakmu melihat senja. Telah kupersiapkan sekian lama. Aku rakit sendiri senjaku dengan kopi manis dan puisi cinta yang kau sebut - sebut itu. Aku merangkai pelan-pelan sambil menghayal bola mata emas yang berbentuk kenari kesukaanku dan lengkung pelangi bibirmu. Cukup lama buatnya, tapi senjaku sangat cantik. Dan sedikit rapuh. Aku harap kamu senang. Kemarin aku mengajakmu melihat senja. Tapi kau pergi ke laut dan menjelajahi waktu. Terhanyut malam. Aku tidak ada di sana. Kamu menolak senjaku. Katamu ada senja yang lebih bagus. — Senja, senja, senja. Muak dengan puisi senja. Aku bukan anak indie regional, aku pendengar Ed Sheeran, top 50 ,Danilla Riyadi dan Sapardi ! Aku ya begini begini begini!
0
May 15, 2019
May 15, 2019 at 3:13 PM UTC
Bukan Puisi Senja
“I am just not afraid of being alone,” Dia datang dari bumi sebelah sana, jauh ke sini untuk mencari lupa pada dunia. Pada suatu sore menjelang senja, dia menyari bahwa bentuk ganda muncul karena rasa takut pada tunggal semata. Menjadi sendiri bisa membawa resah, terlebih ketika semua berkata ini sudah waktunya. Harga diri bisa membantah, namun di dalam hati takut memang menjadi jawab untuk sebuah tanya; ketika kondisi belum menyajikan jalan untuk berpasangan, apa yang sebenarnya di khawatirkan? Bila sendiri berupa satu kalut yang perlu dihindari, adakah untuk meraih tenang memang lewat menjadi dua? Bila bahagia adalah satu titik yang telah dilimitasi, apakah untuk mencapainya harus melalui sebuah jika? Para pendaki bisa menemukan damai pada puncak walau tanpa kawan, petapa sengaja menyepi demi bertemu tenang, biksu bisa merasa teduh walau tanpa sandingan, mereka yang khusyuk menemukan tentram dalam sujudnya yang panjang. Sendiri, walau secara manusiawi. "Now, I’m just enough with myself," Melihat keberpasangan sebagai sebuah hasrat memang tak akan pernah bertemu lengkap, karena bersua dengan damai hanya lewat kata cukup. Setelah kata cukup dipungut, menjadi sepasang bukanlah lagi sekedar penawar kalut. "So, isn’t this enough?"
0
Mar 6, 2015
Mar 6, 2015 at 4:14 AM UTC
self
Orang-orang bilang Burung hanya datang untuk bernyanyi, Membangunkan setiap jiwa dan menghancurkan alam mimpi, Tapi bagiku Nyanyian burung menandakan kebahagiaan tersendiri, Mereka datang untuk menyambut pagi, Bukan sebagai alarm alami, Bukan juga untuk menghancurkan alam mimpi, Tapi untuk menyambut pagi, Memanggil mentari Cahaya pun datang menyingsing Senyum mentari lantas menari-nari, Menghiasi langit bumi, Secercah senyum penuh cinta tiba mengawali, Ada sebuah lembaran baru yang menanti kami, Yaitu hari ini. s.g.
0
Oct 13, 2013
Oct 13, 2013 at 5:05 AM UTC
Hari Ini
Jakarta, Minggu 31 Agustus 2008 Jika malam ini indah … Ku kan memuji bintang-bintang Tanpa sakit ku sementara Ku beri senyum indah tuk mereka Namun bila sebaliknya Ku kan jatuh dari langit Dan tertimpa sakit selamanya Aku kan menangis tuk mereka Dunia ku memang tak indah Bagai hancur saat bumi berputar Hati ku pun bertahan Tuk tetap indah selamanya Dan biarkan cinta Ku tunggu darinya
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 10:09 AM UTC
Cinta Dari-Nya
Tujuh lapis langit, Tiga lapis bumi, Petualang mengembara, Jauh dari tanah, Menjelajah samudera, Rindu pada darat, Ku lepaskan pada laguna, Hujan di libas badai, Sanubari hati ini Impikan haruman cindai, Oh Juwita, Tiap detik pasti rindu, Lafas tiada noktah ataupun koma, Hanya ombak dan bayu berlagu, Awan berarak syahdu, Bintang malam menjadi arah, Ku harap, Aku tidak sesat ke jalan yang salah.
0
Jul 1, 2023
Jul 1, 2023 at 2:56 AM UTC
Juwita
Hati sang dewi kembali pulih Tak lagi pedih, tak lagi perih Berbumbung cinta bertirai kasih Berambang cita suci bersih Sang dewi setia menanti Sang bulan mengambang di malam hari Sebagai teman penyejuk hati Menghapus sepi yang memakan diri Bisikan malam bulan dan dewi Memecah sunyi dari langit ke bumi Berjanji setia sehidup semati Selagi bulan mengambang lagi
0
Sep 26, 2015
Sep 26, 2015 at 2:23 PM UTC
Sang Dewi
aku ini bagai puisi usang bukan? yang kian terlupakan seiring berjalan nya waktu. hingga akhirnya, dianggap telah lenyap dari bumi. tapi sebenarnya, aku tidak benar-benar lenyap, aku hanya sedang menghilang, dan tidak ingin di temukan. bagaimana rasanya kini? setelah aku mencoba tuk sembunyi. adakah kau berbalik mencari? hei, bahkan untuk sekedar melirik pun kau enggan bukan? aku ini seperti tengah berharap kepada batu. karna kamu akan tetap diam, dan tidak akan pernah berubah. apa kau tahu?, puisi yang dulu kau campakkan, kini telah berubah menjadi syair lembut yang mematikan.
0
Nov 23, 2018
Nov 23, 2018 at 3:21 AM UTC
Puisi usang
Angin berbisik berita, Cerita satu baris kata, Disini berakhir segalanya, Senyum mu, Gelak tawa mu, Sedih dan Amarah Menghempas bumi, Kini tinggal di masa lalu, Luka yang telah mati, Tidak kembali berdarah, Coretan di hati ini, Kekal sebagai parut sesal, Kesilapan aku mencipta memori, Pada khayalan yang tidak pasti. Wahai dunia yang mengkhianati, Seandai aku tidak berdaya lagi, Izinkan teladan ini menjadi nukilan, Pada jalan yg tidak dijulang.
0
Mar 26, 2024
Mar 26, 2024 at 11:41 PM UTC
Luka
Palembang, 19 Juni 2012 Oh Tuhan, siapakah dia? Laki-laki yang rendah hati Garis senyumnya selalu terlukis di bibir Amat mulia hatinya membantu orang lain Sentuhan hatinya terjatuh di pipi Yang berbentuk air mata suci Amal ibadahnya pastilah tinggi Putra Adam yang sangat rendah hati Utamakan orang lain daripada diri sendiri Tak kenal siapa yang ia kasihi Rasa sayang dicurahkannya setiap hari Allah menciptakannya sebagai penolong di Bumi
0
Jul 6, 2012
Jul 6, 2012 at 9:01 PM UTC
OLGA SYAPUTRA
Lalu ia sadar. Ia menggenggam erat juwita pujaannya, menyediakan tempat bersandar serta kebutuhan pokok. Semua indah, semua nyenyak. Ia dan juwita melampaui batas, menghasilkan surga di atas bumi. Namun suatu titik membangunkannya. Alam sadarnya kini berfungsi, seraya berbisik 'surga di atas bumi itu tidak pernah ada'. Ia bangun dari tidurnya yang nyenyak. - - Lalu ia sadar. Ia beranjak meninggalkan dalam senyap tak berencana Ia sadar; ia pergi. Tanpa ada kata kembali.
0
Nov 8, 2015
Nov 8, 2015 at 1:03 AM UTC
Beranjak Pergi
*do i  not ever come to you ..? although only a jiffy night ..? dark current visible universe embroider .. when the earth and the moon would not come together .. don't you know ..? and why we do not accept each other ..? though i still want to be together during the yearnings ..? differences that make us fall in love .. measurable distance, treated flavor .. lest you get hurt .. i'm always right there ..* ┈┈┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶  ƦУ  »̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈┈┈┈┈┈┈ apakah aku pernah tiada datang kepadamu..? meskipun hanya sekejap malam..? saat gelap semesta terlihat menyulam.. saat bumi dan rembulan tiada mau bersatu.. tidakkah engkau mengetahui..? dan kenapa kita tak saling menerima..? meski aku selama berdegup masih ingin bersama..? perbedaan  yang membuat kita saling jatuh cinta.. jarak yang  terukur, rasa yang terobati.. jangan sampai engkau terluka.. aku kan selalu ada..
0
Dec 29, 2013
Dec 29, 2013 at 3:54 AM UTC
to you
Pada suatu hari yang kejam. Budi mau ke sekolah. Ganti baju, minum susu, tidak lupa gosok gigi. “Buk, Budi berangkat dulu ya.” Ibu pertiwi tidak menjawab. Budi melongok ke dapur lalu melihat ibu pertiwi. Tampangnya kusut, pakaiannya berantakan dan matanya sembab. Budi marah. Sosok bangsat macam mana yang telah membuat ibu pertiwi sedih ! Di mana bapak pertiwi? Ibu pertiwi sudah jadi janda dan masih dicabuli. Memang anjing ! Jadi siapa yang telah membuat ibu pertiwi sedih? Apakah si bangsat itu adalah mereka? Yang menanam beton raksasa dan mengambil semua dengan paksa? Atau apakah si bangsat itu adalah kalian? Yang menumpang dan mengotori air udara tanah, menggusur alam atas nama pembangunan? Atau apakah si bangsat itu adalah dia ? Yang berjalan angkuh dan tamak. Sesekali mencari peluang, sumber daya mana lagi yang bisa di sikat ? Babat terus tambang, sekalian laut, hutan, juga hewan! Atau apakah si bangsat itu adalah saya ? Bersembunyi di balik hati nurani yang katanya peduli, katanya cinta bumi, saya adalah omong kosong! Saya tidak benar-benar cinta. Jijik betul merasa ibu pertiwi sungguh berarti, ikut menjerit ketika ia ternodai, mana yang lebih munafik apakah diri saya atau aksi ? Pada suatu hari yang kejam, Budi tidak berangkat ke sekolah. Akal sehat budi meronta ingin lari selamatkan diri bersama ibu pertiwi. Anak cicit Adam dan Hawa terlalu goblok dan jahat. Manusia terlalu serakah dan merasa berkuasa. Lihat itu, Asap hitam pekat bergerak mendekat. Mampus kau! Ibu pertiwi sudah sekarat! Pada suatu hari yang kejam, malam datang dan manusia mulai buta. Ibu pertiwi gelap gulita, budi merangkak tanpa arah. Apa perlu listrik untuk buka mata? Atau cukup hanya sepercik bara? Budi bingung. Ibu pertiwi sedih. Bapak pertiwi bodo amat.
0
Jun 22, 2019
Jun 22, 2019 at 12:10 PM UTC
Pada Suatu Hari yang Kejam
Pada suatu hari yang kejam. Budi mau ke sekolah. Ganti baju, minum susu, tidak lupa gosok gigi. “Buk, Budi berangkat dulu ya.” Ibu pertiwi tidak menjawab. Budi melongok ke dapur lalu melihat ibu pertiwi. Tampangnya kusut, pakaiannya berantakan dan matanya sembab. Budi marah. Sosok bangsat macam mana yang telah membuat ibu pertiwi sedih ! Di mana bapak pertiwi? Ibu pertiwi sudah jadi janda dan masih dicabuli. Memang anjing ! Jadi siapa yang telah membuat ibu pertiwi sedih? Apakah si bangsat itu adalah mereka? Yang menanam beton raksasa dan mengambil semua dengan paksa? Atau apakah si bangsat itu adalah kalian? Yang menumpang dan mengotori air udara tanah, menggusur alam atas nama pembangunan? Atau apakah si bangsat itu adalah dia ? Yang berjalan angkuh dan tamak. Sesekali mencari peluang, sumber daya mana lagi yang bisa di sikat ? Babat terus tambang, sekalian laut, hutan, juga hewan! Atau apakah si bangsat itu adalah saya ? Bersembunyi di balik hati nurani yang katanya peduli, katanya cinta bumi, saya adalah omong kosong! Saya tidak benar-benar cinta. Jijik betul merasa ibu pertiwi sungguh berarti, ikut menjerit ketika ia ternodai, mana yang lebih munafik apakah diri saya atau aksi ? Pada suatu hari yang kejam, Budi tidak berangkat ke sekolah. Akal sehat budi meronta ingin lari selamatkan diri bersama ibu pertiwi. Anak cicit Adam dan Hawa terlalu goblok dan jahat. Manusia terlalu serakah dan merasa berkuasa. Lihat itu, Asap hitam pekat bergerak mendekat. Mampus kau! Ibu pertiwi sudah sekarat! Pada suatu hari yang kejam, malam datang dan manusia mulai buta. Ibu pertiwi gelap gulita, budi merangkak tanpa arah. Apa perlu listrik untuk buka mata? Atau cukup hanya sepercik bara? Budi bingung. Ibu pertiwi sedih. Bapak pertiwi bodo amat.
Continue reading...
35
Semburat lembayung mewarnai cakrawala Hawa senja mendekap sisa asa yang masih ada Tak seorangpun berani berbicara Terbungkam oleh angan menembus masa Mentari lambat laun kembali ke persembunyiannya Bumi seolah bernafas kembali Setelah terengah-engah berlari bersama waktu Mencambuk manusia untuk selalu mengejar sesuatu --------- *Tinge of violet washes over the horizon The breath of dusk embraces the remnants of hope No one dares to speak a word Stifled by desires that pierce through the ages The Sun slowly returns to its lair As Earth begins to breathe again After a winded race against Time Lashing Man into a perpetual pursuit of Things*
0
Jul 22, 2014
Jul 22, 2014 at 11:43 AM UTC
Menjelang Malam
Halo, hari ini hari Sabtu, tanggal 27 Juli. Mungkin di atas bumi bulan sebentar lagi tak terlihat dan beberapa hari lagi akan muncul kembali, namun sepertinya di kehidupan Bumi; Bulan akan sirna sebentar lagi. Bulan bingung, bagaimana cara Bulan tetap tinggal di sisi Bumi sementara Bumi tidak memberikan ruang untuk Bulan singgahi, sementara Bumi tidak memberikan kesempatan untuk Bulan mengasihi. Apa yang pernah Bumi sampaikan pada Bulan terdengar seperti omong kosong belaka saat ini. Terima kasih ya, untuk hal apa pun yang pernah kita bagi. Maaf jika Bulan akan tetap menjadi Bulan untuk selamanya, bukan Matahari yang menjadi pusat perhatian dan gravitasimu, Bumi. Bulan izin pamit ya, sampai jumpa jika alam semesta merestui.
0
Jul 20, 2019
Jul 20, 2019 at 3:56 AM UTC
bulan pamit
Diantara waktu pergi dan pulang Selamat pagi sapanya dan demikian juga balasku Segar melihat senyum dipagi yang kelabu Mendung mengantung seolah siap untuk terjun Silahkan wahai hujan basahi bumi ku tercinta ini dengan kesegaran tapi kalau bisa jangan terlalu banyak kasihan mereka yang selalu susah dengan kehidupan banjir dan kuyup Sore kembali pulang juga dengan hujan seolah mau berkata Tidak ada yang dapat menahanku kecuali Tuhan Sang Khalik
0
Dec 2, 2016
Dec 2, 2016 at 5:21 AM UTC
Hujan
izinkan  saja angin bertiup dan kamu jatuh tak mengapa jika rintik rintik hujan membuatmu begitu basah karena bumi tetap memelukmu
0
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 11:39 AM UTC
daun
Malam itu lampu indah kelap-kelip Jemari kita saling bertautan Kau yang paling indah malam itu Menebar semburat warna-warni di mataku Genggamanmu hangat padaku Daya pikatmu menciptakan ilusi Kau, semerbak tubuhmu, warna-warni lampu Perpaduan yang sempurna! Aku terlena Kau menuntunku ke karnaval ini Tempat yang indah dengan sejuta rasa Di mana seorang pencuri hatinya telah dicuri Seorang yatim piatu mendapatkan saudaranya Apakah ini nyata? Karena kau menciptakan bumi berbentuk apel Yang hanya menumbuhkan apel Untuk kita berdua Sungguh luar biasa, inikah rasanya karnaval? Mari kita nikmati, kau berbisik Menyuruhku memejamkan mata Kuikut saja, penasaran di mana aku terbangun nanti
0
Sep 5, 2017
Sep 5, 2017 at 8:59 AM UTC
Karnaval
pasal IV: tentang hujan yang tak kunjung reda, dan tangis yang tak kunjung berakhir. - terkadang, ada beberapa hal yang datang, selain membawa berkah dan kebahagiaan, juga turut di dalamnya kesedihan yang berlarutlarut. seperti halnya hujan, yang datang membawa unsur kehidupan, tapi kemudian, dinginnya mengundang pilu, berusah mencari kehangatan. begitu pula dirimu, datang sekiranya membuatku bahagia walau di awal, namun akhirnya memilih pergi setelah membunuh setiap harapan baru yang tumbuh dengan tega. - ada beberapa hal yang terjadi, namun datangnya tak dapat dihentikan, dan kepergiannya tak dapat dipaksakan, layaknya hujan ketika mentari tengah bersinar, membuat sebagian orang mendengus kesal, banyak hal rencana yang gagal. seperti halnya dirimu, ketika dirimu datang ketika ku tengah sedemikian rupa menata hati. kau datang mengambil setitik kecil potonganmu yang tertinggal, kemudian justru potongan kecil itu yang menghancurkan hati yang telah tertata rapi. hancur. kembali. lalu kau beranjak pergi, layaknya hujan badai yang reda, seolah tak terjadi apaapa. - setelahnya, setelah sisasisa hujan pada dedaunan mengering, dan musim hujan telah berlalu, masih sesekali duakali ia datang, mebawa harapan sekilas, kemudian pergi seolah tak ingin kembali. sejenak menentramkan, meluruhkan kotoran di udara, namun tetesannyamengandung racun yang tak baik. seperti ketikamu datang tibatiba, seolaholah baikbaik saja, ternyata memang tidak ada apaapa, bukan benarbenar tidak ada, hanya saja, bukan untukku, tapi untuk dia yang lain. - selalu ada akhir dari jutaan tetesan air yang jatuh ke bumi, dan semoga, hal itu juga berlaku pada diriku. entah kapan tangis akan reda, namun kau tetap saja berlalu, semoga kau tak lagi datang membawa harapan. maafkan keegoisanku memilih menangisi kepergianmu. prdks.
0
Sep 25, 2017
Sep 25, 2017 at 8:52 AM UTC
sajaksajakrasa
pasal IV: tentang hujan yang tak kunjung reda, dan tangis yang tak kunjung berakhir. - terkadang, ada beberapa hal yang datang, selain membawa berkah dan kebahagiaan, juga turut di dalamnya kesedihan yang berlarutlarut. seperti halnya hujan, yang datang membawa unsur kehidupan, tapi kemudian, dinginnya mengundang pilu, berusah mencari kehangatan. begitu pula dirimu, datang sekiranya membuatku bahagia walau di awal, namun akhirnya memilih pergi setelah membunuh setiap harapan baru yang tumbuh dengan tega. - ada beberapa hal yang terjadi, namun datangnya tak dapat dihentikan, dan kepergiannya tak dapat dipaksakan, layaknya hujan ketika mentari tengah bersinar, membuat sebagian orang mendengus kesal, banyak hal rencana yang gagal. seperti halnya dirimu, ketika dirimu datang ketika ku tengah sedemikian rupa menata hati. kau datang mengambil setitik kecil potonganmu yang tertinggal, kemudian justru potongan kecil itu yang menghancurkan hati yang telah tertata rapi. hancur. kembali. lalu kau beranjak pergi, layaknya hujan badai yang reda, seolah tak terjadi apaapa. - setelahnya, setelah sisasisa hujan pada dedaunan mengering, dan musim hujan telah berlalu, masih sesekali duakali ia datang, mebawa harapan sekilas, kemudian pergi seolah tak ingin kembali. sejenak menentramkan, meluruhkan kotoran di udara, namun tetesannyamengandung racun yang tak baik. seperti ketikamu datang tibatiba, seolaholah baikbaik saja, ternyata memang tidak ada apaapa, bukan benarbenar tidak ada, hanya saja, bukan untukku, tapi untuk dia yang lain. - selalu ada akhir dari jutaan tetesan air yang jatuh ke bumi, dan semoga, hal itu juga berlaku pada diriku. entah kapan tangis akan reda, namun kau tetap saja berlalu, semoga kau tak lagi datang membawa harapan. maafkan keegoisanku memilih menangisi kepergianmu. prdks.
Continue reading...
6
*there is no implied right to dim the sun .. there is no sign most solemn moon .. when wood was burn by the fire until melted charcoal, then earth sincerely embracing ember without a groan..* ┈┈┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶  ƦУ  »̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈┈┈┈┈┈┈ "tiada tersirat sang mentari kan meredup, tiada tersurat rembulan kan tersyahdu.. bila kayu terbkar oleh api hingga melebur arang, maka bumi kan tulus merangkul bara tanpa mengerang.."
0
Dec 21, 2013
Dec 21, 2013 at 5:45 PM UTC
sincere straight forward
Aku akan mengatakannya sekali lagi Pada matahari tengah malam di belahan bumi lain Ada tapi tak pernah kau lihat Siapa di dalam benakmu ketika terdengar kalimat pahit itu Aku akan mengatakannya sekali lagi Hujan di tengah langit cerah biru sekilas awan bergerak pelan Nyata tapi kebencianmu padanya Lagi aku mengatakannya padamu Aku cinta kamu Terakhir kali sebelum melepas yang harusnya bebas Selamat tinggal, cintaku yang konyol.
0
Jun 20, 2018
Jun 20, 2018 at 9:15 AM UTC
Salam Terakhir Untukmu