Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"bodo" poems
To speak all these languages: Assamese, Bengali, Bodo, Chhattisgarhi, Dogri , Garo - Oh, to be able to tongue, "Love" in Gajarati, Hini, Kannada, Kashmiri, Khasi, Kokborok, Konkani - Or lip, "Desire" in Maithili, Malayalam, Manipuri, Marathi, Mizo, Nepali - Or whisper, "Good night, Dear" in Oriya, Punjabi, Sanskrit, Santali, Sindhi, Telugu, Tamil, or Urdu.
0
Jan 17, 2011
Jan 17, 2011 at 10:49 PM UTC
To speak all these languages
O brother dwimalu! Why did you bring the white elephant? In the country of misfortune bodo race! One of the next one to the king Country attack in the feet of your own feet. How glad we had! You are in the country to increase! Like to give the flowers to god The king dwimal to give to the prize How much happiness was you The white elephant of burma country. But the knowledge of the bodo Knowledge in mud like a bath, Not to have mercy for the chief minister Tolerate can't be punished by the king! Not water to fire Not stick to elephant No gun molten to lead So much injustice did you finish! O brother dwimalu! Charlatan and scrooge Step up mother and then how to believe? But loved, had food for dinner!
0
Dec 8, 2016
Dec 8, 2016 at 10:03 PM UTC
Jwhwlao Dwimalu
Caste of language and literature to the eye You embrace the culture of Bodos The Bodo race in the world to introduce Sweet stories you wrote Great race and all of the field to watch You are the emperor of the short story The poem of you bikram Like brush many your creativity Your poem in the blooming flower Does embrace thousand poets You are screenplay writer of Bodo films You wrote alayaron in 1986 You written for 2002 film songali Wonder how much of your creation! Take only your creation We are lose you! Just said to me your philosophy Can human effort and can be successful Come on friend, let us go to try Caste and country for advancement
0
Feb 18, 2015
Feb 18, 2015 at 4:48 AM UTC
The Emperor of Bodo Short Story
Pada suatu hari yang kejam. Budi mau ke sekolah. Ganti baju, minum susu, tidak lupa gosok gigi. “Buk, Budi berangkat dulu ya.” Ibu pertiwi tidak menjawab. Budi melongok ke dapur lalu melihat ibu pertiwi. Tampangnya kusut, pakaiannya berantakan dan matanya sembab. Budi marah. Sosok bangsat macam mana yang telah membuat ibu pertiwi sedih ! Di mana bapak pertiwi? Ibu pertiwi sudah jadi janda dan masih dicabuli. Memang anjing ! Jadi siapa yang telah membuat ibu pertiwi sedih? Apakah si bangsat itu adalah mereka? Yang menanam beton raksasa dan mengambil semua dengan paksa? Atau apakah si bangsat itu adalah kalian? Yang menumpang dan mengotori air udara tanah, menggusur alam atas nama pembangunan? Atau apakah si bangsat itu adalah dia ? Yang berjalan angkuh dan tamak. Sesekali mencari peluang, sumber daya mana lagi yang bisa di sikat ? Babat terus tambang, sekalian laut, hutan, juga hewan! Atau apakah si bangsat itu adalah saya ? Bersembunyi di balik hati nurani yang katanya peduli, katanya cinta bumi, saya adalah omong kosong! Saya tidak benar-benar cinta. Jijik betul merasa ibu pertiwi sungguh berarti, ikut menjerit ketika ia ternodai, mana yang lebih munafik apakah diri saya atau aksi ? Pada suatu hari yang kejam, Budi tidak berangkat ke sekolah. Akal sehat budi meronta ingin lari selamatkan diri bersama ibu pertiwi. Anak cicit Adam dan Hawa terlalu goblok dan jahat. Manusia terlalu serakah dan merasa berkuasa. Lihat itu, Asap hitam pekat bergerak mendekat. Mampus kau! Ibu pertiwi sudah sekarat! Pada suatu hari yang kejam, malam datang dan manusia mulai buta. Ibu pertiwi gelap gulita, budi merangkak tanpa arah. Apa perlu listrik untuk buka mata? Atau cukup hanya sepercik bara? Budi bingung. Ibu pertiwi sedih. Bapak pertiwi bodo amat.
0
Jun 22, 2019
Jun 22, 2019 at 12:10 PM UTC
Pada Suatu Hari yang Kejam
Pada suatu hari yang kejam. Budi mau ke sekolah. Ganti baju, minum susu, tidak lupa gosok gigi. “Buk, Budi berangkat dulu ya.” Ibu pertiwi tidak menjawab. Budi melongok ke dapur lalu melihat ibu pertiwi. Tampangnya kusut, pakaiannya berantakan dan matanya sembab. Budi marah. Sosok bangsat macam mana yang telah membuat ibu pertiwi sedih ! Di mana bapak pertiwi? Ibu pertiwi sudah jadi janda dan masih dicabuli. Memang anjing ! Jadi siapa yang telah membuat ibu pertiwi sedih? Apakah si bangsat itu adalah mereka? Yang menanam beton raksasa dan mengambil semua dengan paksa? Atau apakah si bangsat itu adalah kalian? Yang menumpang dan mengotori air udara tanah, menggusur alam atas nama pembangunan? Atau apakah si bangsat itu adalah dia ? Yang berjalan angkuh dan tamak. Sesekali mencari peluang, sumber daya mana lagi yang bisa di sikat ? Babat terus tambang, sekalian laut, hutan, juga hewan! Atau apakah si bangsat itu adalah saya ? Bersembunyi di balik hati nurani yang katanya peduli, katanya cinta bumi, saya adalah omong kosong! Saya tidak benar-benar cinta. Jijik betul merasa ibu pertiwi sungguh berarti, ikut menjerit ketika ia ternodai, mana yang lebih munafik apakah diri saya atau aksi ? Pada suatu hari yang kejam, Budi tidak berangkat ke sekolah. Akal sehat budi meronta ingin lari selamatkan diri bersama ibu pertiwi. Anak cicit Adam dan Hawa terlalu goblok dan jahat. Manusia terlalu serakah dan merasa berkuasa. Lihat itu, Asap hitam pekat bergerak mendekat. Mampus kau! Ibu pertiwi sudah sekarat! Pada suatu hari yang kejam, malam datang dan manusia mulai buta. Ibu pertiwi gelap gulita, budi merangkak tanpa arah. Apa perlu listrik untuk buka mata? Atau cukup hanya sepercik bara? Budi bingung. Ibu pertiwi sedih. Bapak pertiwi bodo amat.
Continue reading...
35