"bersandar" poems
Palembang, 19 Juni 2012
Apa yang salah pada diriku?
Membuka lembaran lama, mengenangmu
Menangis lagi, mengingat kamu
Membayangkan wajahmu
Mengingat raut senyum indahmu
Apa yang salah pada diriku?
Mencuri bagian hidupmu
Menyimpannya di memoriku
Apa yang salah pada diriku?
Bergerak pun enggan
Berjalan pun aku tak mampu
Pikiran ini tak terfokus
Karena tergenangi kenangan yang lalu
Apa yang salah pada diriku?
Menunduk bersandar dagu pada lutut
Berdoa, meminta pada-Nya
Apa yang salah pada diriku?
Berucap pun aku tak sanggup
Hanya bisa mendengar lagu, dan aku ingat kamu
Untuk berbaring lagi punggungku hampir runtuh
Duduk pun tak bisa lagi
Apa yang salah pada diriku?
Melototi layar putih
Hanya ada putih
Apa yang salah pada diriku?
Mata ini tak mau tertutup, tak bisa tidur
Terjaga siang dan malam
Aku bernafas seakan tak ada lagi udara
Aku melihat seakan tak ada lagi hal yang nyata
Jun 18, 2012
Jun 18, 2012 at 3:36 PM UTC
Palembang, 11 Januari 2015
Aku jatuh cinta lagi
Benarkah ini cinta?
Mengapa rasanya begitu berbeda?
Tak ada rasa takut saat aku menatap matanya
Tak ada rasa sungkan untuk menyentuh kulitnya
Dan aku sangat menyukai bau tubuhnya
Aku suka bersandar di punggungnya
Menyandarkan keningku di tengkuknya
Memainkan jemariku menyentuh punggungnya
Mencium aroma parfumnya
Aku suka berjalan di belakangnya, menunduk
Memandangi langkah kakinya ketika berjalan
Sangat lebar dari langkah kakiku
Aku tak mampu menyusulnya
Di saat seperti itu aku membutuhkan tangannya
Tuk menggenggam tanganku
Menuntunku tuk berada di sampingnya
Agar aku tidak tertinggal
Apa benar aku mencintainya?
Tapi tunggu dulu
Apa itu cinta?
Bagaimana rasanya mencintai seseorang?
Apa yang akan aku lakukan ketika mencintai seseorang?
Inikah cinta?
Jan 10, 2015
Jan 10, 2015 at 12:34 PM UTC
Lalu ia sadar.
Ia menggenggam erat juwita pujaannya,
menyediakan tempat bersandar
serta kebutuhan pokok.
Semua indah, semua nyenyak.
Ia dan juwita melampaui batas,
menghasilkan surga di atas bumi.
Namun suatu titik membangunkannya.
Alam sadarnya kini berfungsi,
seraya berbisik
'surga di atas bumi itu tidak pernah ada'.
Ia bangun dari tidurnya yang nyenyak.
- - Lalu ia sadar.
Ia beranjak meninggalkan
dalam senyap tak berencana
Ia sadar; ia pergi.
Tanpa ada kata kembali.
Nov 8, 2015
Nov 8, 2015 at 1:03 AM UTC
Kadang jarak membuat cinta merekah
Kadang pula membuat lupa
Tentang kepada siapa cinta itu bersandar
Dan apa perasaan itu sendiri
Segalanya itu memiliki batas
Kau membutuhkan jarak untuk saling menghargai
Pun untuk saling rindu
May 31, 2018
May 31, 2018 at 11:18 AM UTC
Tentang kopi pekat
yang baru mengantar ku pulang
dengan mata setengah terpejam
Lalu,
dirimu yang mulai hilang
diantara inginku yang terlalu dipenuhi angan
serta kalimat-kalimat basi
yang datang pelan dan ringan
Dan jarak,
Jarak menjelma menjadi tubuh yang menggantikan
diriku di lenganmu
gadis bermata terang
yang bersandar malas di dadamu
May 29, 2022
May 29, 2022 at 9:31 AM UTC
Mahluk Tuhan yang begitu murni
Menutup diri untuk tak terlihat
Melihat hanya dengan doa
Menggincu disisi akhlaknya
Dusta bahwa dia tiada lain dari sempurna
Dia lah arti kata sempurna
Dusta bahwa dia tidak berjalan dengan arahanNya
Dia lah jalan untuk diriku berpulang
Rajutan luka perih di jiwa
Penyembuh kesepian
Reinkarnasi seorang malaikat
Permata yang paling berharga
Kau adalah jantungku
Berdetak di setiap detik kematianku
Kau adalah darahku
Berjalar renang disekujur tubuhku
Membuatku merasa hidup.
Dec 4, 2017
Dec 4, 2017 at 7:52 AM UTC
Pada dasarnya, langit bukan tempat untuk bulan bersandar dan bulan bukan satu-satunya tempat untuk berbagi.
Mereka hebat dengan karismanya masing-masing dan takluk dengan kehebatan satu sama lain, saling membutuhkan.
Bersama menghasilkan keindahan yang terkesan tidak diperdulikan dikala hilang.
Menciptakan sekitar damai dihiasi sunyi malam yang tenang.
Cerita sama yg dimiliki matahari.
Oct 5, 2019
Oct 5, 2019 at 1:14 PM UTC
Silau mobil menabrak kelopak mataku
Bersandar pada jendela kenangan
Sambil tangan berpeluk pada ruang hampa
Aku melewati bekas tapakan kita, lagi
Aku langsung mengembara melewati waktu
Masa itu, kita duduk berdampingan
Sangat jelas diingatanku
Didalam bis, kita mengobrol
Kau duduk bersandar di bangku mu
Dan aku yang bersandar di jendela
Kau hanya fokus padaku
Menatap ku dengan sabar sambil mendengarkan cerita ku
Bahkan, kalau boleh jujur, pada masa sekarang pun aku masih ingin tatapan itu, lagi
Bagaimana kau tersenyum melihatku berimajinasi
Menyambut segala harapanku
Tuan, aku ingin melihatmu lagi
Adakah celah kesempatan itu?
Masihkah kau sama seperti isi memori ku?
Sep 6, 2019
Sep 6, 2019 at 10:40 AM UTC
Kalau bisa sebenarnya aku ingin mencintaimu dengan sederhana saja
Seperti mendapatimu belum sepenuhnya sadar di sampingku, lalu mengecup lembut keningmu.
Tak peduli waktu yang terus memburu,
jarak yang tak terlipat oleh rindu yang demikian banyaknya.
Namun sayangnya.. hidup tak bisa sesederhana itu
Kalau bisa sebenarnya aku ingin mencintaimu dengan sederhana saja
Bersandar kapanpun yang ku inginkan tak perlu lebih dulu mengundang temaram,
Mendekat kapanpun bibirku rindu di kecup,
Memeluk kapanpun aku rindu detakmu yang cepat.
Namun sayangnya, ingin tak bisa semuanya terpuaskan.
Kalau bisa sebenarnya aku ingin mencintaimu dengan sederhana saja
Siap sedia di sampingmu membisikkan bahwa kamu tak pernah sendirian,
Kamu tak akan ku biarkan gundah tanpa kawan.
Namun sayangnya, kita bukan ikatan pasti.
Maka sayangku, dengan segala kerumitan dan keadaan yang tidak menguntungkan inginku
Aku berusaha tetap mencintaimu
Dengan keberadaanmu yang jarang aku jadi menghargai setiap pertemuan,
Dengan temaram yang menyenangkan aku mencoba berteman dengan gulita.
Dengan ikatan yang tak pernah ada aku berusaha setia
Bukankah itu intinya?
Aku tak akan pernah mencintaimu dengan terpaksa
Kamu tak merantai kaki-kakiku,
Kamu tak menutup mataku,
Aku bisa pergi kapanpun yang aku inginkan.
Namun lihatlah sayang, aku tetap tinggal di sisimu.
Sep 7, 2018
Sep 7, 2018 at 7:46 AM UTC
Seakan terbiasa sudah aku ditinggalkan
Pun kau yg kuanggap sebagai selamanya tempat bersandar kini pergi jua
Inginku menahan tuan untuk tinggal sedikit lebih lama
Namun tidak sampai hati memberatkan jalanmu
Lagipula apalagi gunaku bagimu?
Tidak perlu bertanya kabar atau sekedar memikirkan, aku terluka tapi aku tidak mengapa
Kan sudah ku bilang,
Aku sudah terbiasa.
Jul 15, 2019
Jul 15, 2019 at 10:23 PM UTC
seperti biasa..
suatu rutinitas yang kupikir
tidak akan berubah
hari kemarin, sekarang, ataupun esok
aku melihat mu
duduk di kursi yg sama
di samping jendela yang sama
lelah, tertidur lalu terbangun
lalu bersandar dan menatap langit luar
menantikan sebuah perhentian
tapi hari ini kamu berbeda
aku menangkapmu melirik padaku
lalu membuangnya kearah yg lain
tersipu malu..
dibalik rambutmu
kamu menyembunyikan senyummu
aku pun mulai menerka-nerka
sesuatu yang kupikir tidak biasa
bertanya dalam hati "kamu ini kenapa?"
ya. kita memang selalu bersama
namun tidak pernah bercengkrama
"apakah ini saatnya kita untuk
saling mencairkan suasana?"
Feb 28, 2020
Feb 28, 2020 at 6:24 PM UTC