Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"berpijak" poems
Mata itu membiru duka lama yang menderu Badai dan lindu mengantar jasad tubuhku Terbilang sudah berapa kali kau dan aku berjanji Diantara pagi haru dan sedikit isak tangis merdu Aku suka kala kau menangisi canda tawa terbawa pula hawa panas diantara kata berlalu Rapat-rapat tak ada dalam bisik-bisik mayat Sedepak dari liang lahat berpijak, jemari kaki peti-peti mati digusur pergi Lelah lelaki itu bertelingkah Membuang gelas yang telah dituang Meracau melampau dari batas kewarasan Disana dia merumput maut, meraut ribut Pergi pulang membaur diantar lalu lalang kabut
0
Nov 16, 2016
Nov 16, 2016 at 12:39 PM UTC
Diantar Pulang Kabut
Lahir dan besar di desa yang bisa dibilang sangat sejuk Tumbuh dengan aman, nyaman dan bahagia Bermain ke ladang, kebun, sungai, bahkan hampir seperti hutan Selalu aman dan tetap jauh dari bahaya Teman-teman berdatangan ke rumah untuk bermain dan berbagi cerita Berkumpul seperti keluarga besar Lalu aku pergi dari desa dimana aku dilahirkan dan mulai tinggal di tempat yang baru di desa yang baru dengan situasi yang berbeda Aku tumbuh disana dan mengenal berbagai pembaharuan Hari demi hari hingga bertahun-tahun aku menyaksikan berbagai perubahan Dimana banyak perubahan yang sulit dipercaya Hampir segala sesuatu yang aku lihat dan alami sulit dipercaya Hingga timbul perasaan tidak nyaman, gerah, takut, sesak, terancam, tertindas di tempat yang ku sebut rumah Rumah, bukan bangunan yang aku tinggali Tapi disini, di tanah aku berpijak Semua sudah tak lagi sama Hingga muncul dalam otakku Haruskah aku tinggal atau aku tinggalkan? Rumah, Aku merindukanmu
0
Feb 10, 2017
Feb 10, 2017 at 1:46 AM UTC
Rumah
Tak perlu pergi ke tengah hutan belantara tak bertuan Atau tempat semak belukar tumbuh dengan liarnya Alam bawah laut dimana air udaranya Untuk merasa kesepian Coba bercokol di tempatmu berpijak Satu bulan dan ribuan bintang bertabur layaknya salju di musim dingin Satu surya dan semburat awan yang bergerak pelan serta tenang Angin tak lagi mampu menemani Satu persatu hilang Orang, cinta, mimpi, juga impian Betapa inginnya terbangun dari alam bawah sadar yang panjang Namun takdir tidak dapat diubah Layaknya kesepianmu yang tidak berubah.
0
Jun 2, 2018
Jun 2, 2018 at 3:13 AM UTC
Ranah Hampa
Lari dan lompatlah setinggi yang kau bisa, agar kau jatuh di tempat yang layak kau perjuangkan. Bahkan jika bumi menarikmu dengan gravitasinya, jangan ragu melawan, teruslah melompat. Selama harapan masih bersemayam di dada, tak ada yang terlalu sepele untuk diperjuangkan. Terlebih, jika itu membawa kebaikan, maka berlarilah, melompatlah dengan keyakinan. Lewati batas, tantang ketinggian, namun ingat, kita manusia, tak selamanya di ketinggian. Karena itu, jangan lupakan daratan, tempat di mana kaki berpijak, dan diri menemukan keseimbangan.
0
Mar 27, 2025
Mar 27, 2025 at 2:23 PM UTC
Melompati Ketinggian