"bahasa" poems
mana mungkin rindu aku terasa
jika diungkap dengan bait bahasa
sayang
dakaplah aku
rasakan rindu aku
kerna mana bisa ayat dan kata curah rasa ini
andai kau rasa perit dan pahit ini,
lepaskan lah.
biar aku bebas terokai dunia
tanpa rasa sekat dalam raga
aku penat
-menunggu sesuatu yang tidak pasti
dalam hal ini, adalah kamu
jalan yang dahulu kita lewati tengah malam kini kian sunyi
dulu, ada sahaja tawa kita kedengaran
entah
bukan aku tidak cuba untuk berhenti ada fikiran tentang kamu
tapi
bagai aku tersekat
sayang
andai kau rindu
andai kau rasa perit dan pahit ini
lepaskan lah aku
agar aku bebas teroka dunia
May 10, 2016
May 10, 2016 at 10:12 AM UTC
Palembang, Rabu 26 Juli 2011
Aku sayang dia
Aku jaga dia sejak pertama ku milikinya
Ku genggam erat dia seakan tak ingin berpisah
Ku selalu awasi dia tak ingin kehilangannya
Dia selalu ada di setiap ku butuh
Kawan terbaik mencurahkan inspirasiku
Tak terbayang jika dia pergi tinggalkan ku
Atau hanya hilang tanpa jejak atau pesan sekalipun
Yang pertama, tak bisa terganti
Sekali sayang, dan akan terus selamanya
Perasaanku tak tercurah tanpanya
Berhari-hari aku bersamanya dengan setia
Namun di hari itu aku kecewa
Yang aku sayang yang terus aku jaga
Dia mati di kala waktunya belum tiba
Aku kecewa ketika mereka membunuhnya
Aku marah, aku kesal
Aku minta mereka mengembalikannya
Tapi yang ku dapat hanya heningan
Tanda mereka tak mau berbuat apa-apa
Aku sudah tahu jawaban mereka
Meskipun belum terucap, hanya bahasa gerak
Mereka tidak mengerti rasanya kehilangan
Mereka tidak peduli dengan perasan orang
Ku hanya ingin pertanggungjawaban
Dan kembalikan dia kembali ke genggamanku
Tolong sekali saja Kalian mngerti perasaan seseorang
Dia adalah pena ungu yang paling ku sayang
"Pena Ungu ku tinggal kenangan"
Oct 28, 2011
Oct 28, 2011 at 1:40 AM UTC
Palembang, 3 November 2011
Aku bersabar . . .
Tetap berusaha dengan penuh harap
Supaya bisa melihat wajah mereka
Mendengar suara mereka
Menyaksikan kekompakan mereka yang sangat aku cinta
Aku tidak menangis . .
Hampir,
tetapi ku hapus air mata dan ku pasang senyum bahagia ku
tersenyum sesekali, tertawa bersama mereka
Aku tidak mengerti bahasa mereka
Tapi aku mengetahui yang mereka bicarakan
Aku tidak pernah bertemu mereka
Tapi aku bisa merasakan mereka sangat dekat
Aku tidak mengenal mereka
Tapi aku sangat mencintai mereka
Dari dulu hingga sekarang rasa ini tak akan berubah
Meskipun aku belum beruntung
Doa membantuku memberitahu-Nya
Bahwa aku sangat merindukan mereka
Sekarang,,,
Aku sedang memandang mereka
Merekam setiap kata, gerak, dan ekspresi mereka
Hal terindah yang pernah aku rasakan
Terima Kasih Tuhan, , ,
Hadiah ku datang
Created by. Aridea P
Nov 3, 2011
Nov 3, 2011 at 11:57 AM UTC
Jakarta, 13 Mei 2007
Ku pandang sisi-sisi sudut di sebuah ruangan
Tiada apapun yang dapat ku kenang
Selain seorang teman yang setia kawan
Ku harap ada seorang kawan yang menemaniku
Di kesunyian malam yang terus mengancam
Seolah tak peduli akan ketenangan
Namun
Ku mencoba untuk sabar menanti kerinduan
Pada seorang terkasih yang s’lalu ku dambakan
(Puisi ini dibuat untuk dinilai oleh guru bahasa pada tanggal 14 Mei 2007, dan mendapat nilai 8)
Jan 2, 2012
Jan 2, 2012 at 4:42 AM UTC
Jakarta, 28 Mei 2009
Suatu malam aku gelisah
Menunggunya tuk hadir di sini
Dia yang sangat ku cinta
Pangeran dari Kerajaan Inggris
Ya Tuhan
Maafkanlah aku
Aku t’lah mencintai orang yang salah
Tolong bangunkan aku
Aku diam seribu bahasa
Aku menangis, “Aku hanya bermimpi!”
Lalu ku lihat seorang pria
Berdiri di depanku
“Ya Tuhan, aku bermimpi lagi”
Dia menyentuh tanganku
Sekali lagi...
“Ya Tuhan, ini nyata!”
Aku memeluknya
Dan kemudian aku benar-benar sadar
Inilah kenyataannya
Pangeran dari Kerajaan Inggris
Feb 18, 2012
Feb 18, 2012 at 10:52 PM UTC
dan ada apa pula dengan rindu
rasa yang sesak di dalam
yang tak mungkin bisa kau ungkap guna bait-bait bahasa
biar bunga mahupun terus
apa itu rindu?
sakit. perit. pahit..
May 6, 2016
May 6, 2016 at 2:10 AM UTC
sudah kuceritakan pada senja
tentang hari yang kulewati
bersama mentari bahkan hujan
dan aku merangkai kisahku
tapi kadang aku bercerita pada malam
malah, bulan dan bintang juga ikut bercengkrama
iya, jika hari tak hujan
mereka berani menemuiku
aku mencoba mengerti bahasa mereka
sama hal nya yang mereka lakukan
tapi kuakui mereka pendengar yang baik
aku masih berdiri didekat jendela
memahami gestur dan menunggu jawaban mereka
atas pertanyaan yang kuajukan tentang seseorang
dan menitip pesan rahasia untuknya
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 11:27 AM UTC
1/
Biasanya aku melihatmu di pojokan ruang itu. Melamun betapa sedih dan merananya jika jadi dirimu. Senyummu usang, sudah selayaknya kau buang. Atau paling tidak, kau gadaikan ke pasar loak. Pertimbangkan, aku bahkan menawarkan diri untuk jadi gerobak rombengnya.
2/
Mengamatimu bagai meneliti susunan arsitektur sarang semut, bercabang rumit walau sekelumit rahasiamu tak terungkit, atau paling tidak cerita masa lalu mu tak pernah terkuak.
Omong-omong, sudah tiga hari aku datang dan duduk di bangku yang sama, bahkan meja dan kursinya tak segan menyapaku dari kejauhan "kawan, mari duduk sini dan amati keindahan". Aku tak begitu paham bahasa furnitur, jadi ku jawab seadanya.
3/
Duduk diam mengawasi kerumunan, siapa tahu kau kembali terlihat, tanpa terhalangi punggung, atau ransel. Pintu maupun kerudung. Jangan bilang aku penguntit, karena aku tak bermaksud buruk. Aku hanya tak tahu apa yang harus ku lakukan untuk sekedar bertukar sapa, atau paling tidak tatapan mata. Menurut ku matamu cukup layu jika tak ada kawanmu yang menemani. Air mukamu tak pernah kulihat benar-benar menikmati hidup merdeka, mereka tetap saja terjajah. Entah karena sedih atau kecewa.
4/
Hari ini kau tak ada di antara kerumunan, tak ada dalam ruang, tak ada diantara rekan, tak pula hadir dalam lamunan. Aku takut telah menculikmu tanpa sengaja dengan tatapan. Aku terus memandang kedepan, mendengar percakapan.
5/
Tak ada. Aku tahu. Tak berharap pula aku akan tibamu di dalam ruang.
6/
Aku mendengar gosip dan rumor, bahwa kau yang di ujung ruang telah berpindah ke lain ruang. Ujung koridor. Aku bergegas kesana.
7/
Hari ini aku berhasil mengejarmu, berbicara padamu. Tapi kau tampak tak senang, dan hanya mengulang kata-kataku. Aku juga tak sengaja menemuimu di toilet. Masih mengulang kata-kataku. Sore ini aku berjanji akan menemuimu di ruang ujung koridor.
Kala itu, dia menghadap cermin. Menyapa citranya sendiri. Di ruang ujung koridor.
Oct 18, 2017
Oct 18, 2017 at 11:08 PM UTC
bagimu
sengsaraku lucu
dipijak ragu, dirundung pilu
bagiku
semesta hanya mu
ditertawai rindu, ditelan waktu
bagimu
masih saja tentang ku
bagiku
gelagat semu
Jan 12, 2018
Jan 12, 2018 at 8:57 PM UTC
aku mencoba memahami
setiap isyarat yang terbentuk
menerjemahkan tanda- tanda
pada tiap tiap elemen yang ada
menafsirkan tak semudah itu
teoripun wajib diacu
belum, aku harus menyelam lebih dalam
ini belum cukup untukku
aku masih haus akan pengertian
bagaimana ini bisa?
bagaimana itu bisa?
akupun masih terus menggali
untuk ku tuai jawaban
semua punya maksud dibelakangnya
warna, gerak, ujaran, tulisan
bahkan titik dan garis
aku mencari arti dalam arti
mengupas tanda didalam tanda
ini tentang makhluk berbahasa
aku, bahkan tiap insan punya identitas
ada makna yang harus kusampaikan
ada arti yang harus dipahami
aku memang bukan ahli
tapi ku mau pelajari
Aug 21, 2017
Aug 21, 2017 at 11:05 AM UTC
memang aku tak pantas
aku bukan yang bisa dimiliki
memiliki pasangan jiwa yang bisa
yang mampu..
selalu kuingat kamu
malam ini yang penuh dengan hati gegana..
aku sekarang percaya
kamu adalah bisa..
berbohong bukanlah pilihanku
hati ini berteriak seolah berkata
..bahwa memang tidak ada yang layak
setelah setahun berlalu sudah kulihat yang ada..
tidak ada dan tidak ada
aku tak mengerti mengapa hati ini terus berteriak..
seolah tidak ingin tidak ada kamu disini
hati memang membutuhkanmu
hati memang tidak bisa menolak
..karena hanya kamu yang mampu berjalan hingga kiamat nanti
dan hanya dirimu yang mampu menyakiti jiwa dan ragaku
takkan ada yang bisa
takkan pernah.
Oct 7, 2016
Oct 7, 2016 at 2:27 PM UTC
tuan menjejak
nona mendongak
'apa?' Nona bertanya
nafas tuan dihela
'tidak apa-apa'
'nona, sudah berapa lama kau disini?'
nona berdiri
mengintip dari balik dinding
'cukup lama. yang jelas, aku sendiri'
tuan tersenyum
nona berubah ranum
dinding perantara, runtuh
'sampai nanti, nona'
'sampai mati, tuan'
sekatmu, dekatku
jarakmu, ragaku
tawamu, tangisku
gelakmu, senduku
'hendak kemana tuan?'
menoleh pun enggan
nona tertahan
nona kembali bertatapan
dengan puing-puing dinding yang berserakan
Aug 4, 2018
Aug 4, 2018 at 10:51 AM UTC
mungkin aku gila
semua tidak ada yang sempurna..
bagaimana hati ini bisa berlabuh di kamu?
aku tak ingin mengiginkanmu
lebih dari apapun aku ingin sendiri..
aku tak mau mengulangi kesalahan itu lagi
memang aku harus akui jikalau..
bahwa aku tidak bisa menerima dengan apa adanya
itu bukanlah hal yang buruk
karena aku memang layak..
pantas mendapatkan cinta yang sebenarnya
Feb 14, 2017
Feb 14, 2017 at 10:27 AM UTC
Maafkan aku air mata
Seringkali kau jatuh sia-sia
Maafkan aku air mata
Yang selalu aku buang dengan sengaja
Jangan salahkan aku
Salahkan luka-luka itu
Luka-luka yang tidak pernah kering
Menganggap ia selalu penting
Hingga selalu menetap di sini
Membekas tanpa peduli
Sesakit apa rasanya
Hingga harus menjatuhkan air mata
Dec 9, 2016
Dec 9, 2016 at 8:19 AM UTC
Tiga musim berturut-turut aku berupaya keras menggila
Di saat kewarasanku sedang ambruk
Pada saat yang sama aku tidak tahu apakah kau sadar bahwa aku sedang merasa
Atau jangan-jangan kau memang tidak pernah memerdulikannya
Sedikit banyak aku berharap semoga kau tidak perlu membaca ini
Jika iya, artinya aku sudah tiada di sini
Meskipun aku harus melihatmu mengenakan kaus hitam dengan rambut sepanjang itu—tentunya aku tak tahu bahwa rambutmu bisa tumbuh sepanjang itu
Dengan bunga berwarna kuning di telinga
Kau nampak seperti orang asing di mataku dan itu membawa ketersengsaraan sendiri
Suara-suara teriakan temanmu yang membuatku tertunduk layu
Semoga kau sadar bahwa—ya, aku keliru, tapi bukan itu harapanku
Aku tak pernah berburu air mata
Cacatnya tindak-tanduk
Dambaan-dambaan fana
Janjimu menjadi cerminan bahwa semuanya tak semestinya terjadi
Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini
Mengenai ibuku—kau tahu dia tak paham bahasa tubuhku
Tak paham raut lukaku
Untuk perundingan hening pada pagi buta lain nya
Sepertinya kita terbiasa mengemasi firasat
Untuk senyuman tanpa arti dan tangisan tanpa rupa yang masih saja dipertimbangkan
Akankah kau halang aku untuk menghembus telapak kaki nya?
Jika ya, artinya aku sudah tiada di sini
Si Manis, yang tutur kata nya lembut
Namun siap untuk memecahkan piring makan kesukaanmu
Ruam pada tubuhmu
Bukan salahmu
Masihkah kau berdiam mematung?
Untuk anjing-anjing yang terus kau rawat
Noda pada kamar mandi yang kau bersihkan
Dan kaki-kaki yang kau pijat
Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini
Jan 22, 2021
Jan 22, 2021 at 11:45 PM UTC
Hampir lebih separuh hidupku
Tidak ada hati yang ada..
Ya, hati ini sudah terisi sebuah batu yang amat keras
Tetapi bukannya Aku tidak mau ada..
Terkadang Aku termenung sendiri di dalam kesendirian
Sesambil menatap pemandangan yang ada di depan mata
Hati ini terus bertanya-tanya
Sebenarnya apa..
Apa yang Aku inginkan?
Apa yang Aku butuhkan?
Lelaki seperti apa?
Siapa dia?
Kepala ini selalu berbisik bahwa ada saatnya akan hadir
Jiwa ini juga mengatakan untuk tetap menjaganya
Menjaga jiwa dan hati ini untuk suatu raga..
Raga yang tidak bisa ku sentuh keberadaanya
Rasa ini selalu meyakini dia ada
Ya, mungkin di suatu sudut yang sangat tidak terlihat..
Bahkan mugkin tidak ada
Dan tidak pernah..
Jun 20, 2017
Jun 20, 2017 at 2:31 PM UTC
Jemari mulai gemulai
Dikala ia mulai melambai
Bahasa tubuhku tidak diragukan lagi
Lika likunya sudah tertebak dari haluan pertama bapak satpam
Dia mulai menyapa
Aku teriak keras
hatiku yang teriak
Hawa panas tubuh beriringan membara bersama
Peluh terbawa jatuh dipipi
bisa bayangkan, bagaimana wujudku waktu itu....
Kini, segala fana itu harus di nikmati, entah menarik, suram, dan basi
Aku pikir, kapan lagi akan bertemu dan beradu argument sedekat itu
Kapan lagi berdialog serius dengan elokan tubuh cukup dekat
Kapan lagi aku bisa pandangi wajahnya 4 cm lebih dekat dengannya....
Jadi kupikir, aku harus syukuri, jika nanti tak bisa lagi. Yasudah ku kenang saja....
Nanti senja jadi pelengkap saat mulai mengenang moment itu, sudah ku jadwalkan
Apr 14, 2018
Apr 14, 2018 at 5:25 AM UTC
lampu lampau telah mati.
dicekik bahasa-bahasa cinta
yang menguar dari mulutmu.
ruang penuh raung itu maka
padam. aku diselimuti hangat
tenang dan bara senang.
lihat, setelah punggung
yang kauberi kemarin,
kembang-kembang api
kini tak mau meledak di langit.
pucuknya selalu pecah
sebagai kesunyian
di kepalaku.
kanya, 2017
Aug 5, 2017
Aug 5, 2017 at 12:49 PM UTC
Aku jatuh cinta kepada apapun yang bebas.
Bebas yang bukan seperti layangan-layang di langit lapangan. Terlihat bebas namun angin dan benang tak terlihat oleh mata. Menggerakkan yang apa ada di udara.
Bebas yang bukan seperti para ikan. Mereka berenang di dalam lautan, menyusuri lautan yang sepertinya tak terbatas. Mereka berenang ke air mana pun yang mereka mau. Mereka berenang tanpa tanpa tahu, terdapat langit di atas lautan, yang merampas dan mengembalikan air laut mereka.
Bebas bukan seperti aku. Menulis ini dengan bahasa, yang katanya bahasa dari bangsa yang telah merdeka. Kemerdekaan bukan sembarang kemerdekaan. Bangsa yang merebut kemerdekaan, namun rasanya kemerdekaan ku hanya berpindah lengan.
Jun 30, 2022
Jun 30, 2022 at 2:30 AM UTC
rasa itu masih ada
meski raga tak lagi bersama
kau diam seribu bahasa
aku yang dalam nestapa
peluk hangat itu menghujam
aku pun terdiam
rasa itu jelas ada
kita yang anggap tiada
Dec 21, 2020
Dec 21, 2020 at 11:46 AM UTC
"Cik" to "Puan"
"Encik" to "Tuan"
"Cik" to unwedded,
seemingly chaste,
selectively-sweet
glorified young women.
Men as "Encik"
regardless of marriage,
status or demeanour—
but only those
with higher,
superior
authority
as, "Tuan"?
"Bahasa jiwa bangsa,
kenapa kau nak terasa.”
These are some
of the patriarchy
in a white-collar vocabulary
that it is not so much
of the vocabulary
but the society.
Jadi aku unbottle
them all out in this rant.
Nov 30, 2020
Nov 30, 2020 at 8:27 AM UTC