"api" poems
Palembang, 22 Juni 2011
Api itu hampir merajai waktu
Merenggut harta benda tanpa ampun
Mangarang tubuh yang sesepuh
Duduk pun terdiam di kursi besi butut
Kekuatan api bagai Sang Supernova
Membumbung tinggi tak ada yang terjaga
Meletup-letup bagai haus dan lapar
Tinggallah hamparan abu di senja tiba
Sebelum fajar menyingsing indah
Berisik di tengah jalan sirine mengulang
Langkah kaki mondar-mandir yang tentu arah
Bergotong royong pun dengan peluh dan baju basah
Ku duduk terdiam terpaku
Setengah melamun di sebelum senja muncul
Ku tersadar pun di tengah padam lampu
Dan ku lihat Monalisa tersenyum pada ku
Ku duduk bersimpuh di kaki
Menunduk dan berharap ini hanya mimpi
Dan aku bangkit tuk lihat situasi
Ku dengar mayat rapuh bagai tiada arti lagi
Tak mampu tumpah air mata
Hanya tubuh kaku mati rasa
Pikiran yang ingin selalu waspada
Mental ini rapuh butuh udara
Abu terasa di mana-mana
Terinjak, menyatu dengan tanah
Menutup mata kini selaalu terjaga
Menjaga hari tanpa Supernova
9 Juni penuh cerita
Di bawah tangisan dan panikan
Wanita memasak dan menjaga anak
Pria bahu membahu membangun rumah
Oct 28, 2011
Oct 28, 2011 at 1:26 AM UTC
Palembang, Selasa 21 Juni 2011
Aku punya mimpi mulia
Butuh seribu tahun tuk menggapainya
Ku tak serius, hanya mengira
Karena ku selalu tak sempurna tuk jalaninya
Hingga betisku biru
Lututku lecet
Bobot tubuhky berlipat
Sampai pikiran ku sangat terbebani
Hanya dapatkan phobia sesaat
Saat api kulihat di mata tepat
Mulutku kelu ludahku kering dan aku berkeringat
Dan tersadar tak satupun peduli aku di malam pekat
Ingat hanya aku tahu semampunya
Tak buktikan apa-apa yang telah ku buat
Orangpun merendahkan aku bagai tersiksa
Tak bisa ku membela sendiri karna tlah telat
Sadar-sadar di hari nan senja
Bahwa ku makan hanya sisa saja
Ku terima karena ku akui aku memang suka
Berharap perbaikan akan datang mangubah semua
Nama-Nya selalu ku sebut di setiap masa
Meski aku dan Dia tahu bahwa aku masih salah
Namun salahkah aku masih ingin dicinta?
Kepalaku berat bagai hampir tak bernyawa
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:28 AM UTC
Jika aku berdosa Tuhan
Hati tak ingin disalahkan
Karena jiwa yang serakah
Telah terbelah menjadi dua
Ingin hati terbang ke Surga
Apadaya terbelenggu senja
Mentari panasi dunia
Bagai raga ku yang mulai gersang
Tuhan... Tolong...
Teriakan ku memohon
Hujanilah raga ku yang gersang ini
Beri tanda jiwa yang asli
Jiwa keras bagai karang
Terhempas ombak baru mengalah
Jiwa lembut bagai awan
Terhempas angin baru tersadar
Sadar akan 2 jiwa yang terbagi
Begitu berbeda bagai langit dan bumi
Amat berbeda bagai air dan api
Ku sadari, aku manusia yang Munafik
Created by Aridea Purple
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:39 AM UTC
“Real generosity towards the future lies in giving all to the present.”
― Albert Camus
Kung gusto may paraan, kung ayaw laging may dahilan. Pero may mga taong sadyang mahina kaya’t nahihirapan makahabol. May mga naghahabol naman na hindi talaga umaabot. Kahit anong gawin walang nasasambot, parang bunga na laging bubot at mukhang hindi na mahihinog. Hindi mo kailangan na maging alipin ng sistema kung ito ay iyong isinusuka. Kumawala ka at maging palaboy kung kinakailangan. Ibinabaon ka ng mga sama ng loob at ng matinding awa sa sarili. Hindi dapat maging ganito ang buhay.
Dalawang taon nang pagtitiis, dalawang taon na puro hinagpis at dalawang taon na panay tanggap ng mga galit at paninisi. Tama na, ito na ang panahon para wakasan ang lahat. Sapat na ang mga pagpapakumbaba at pagsasawalang kibo. Hindi ka aso, tao ka tandaan mo yan. ‘Hwag **** ipilit kung hindi naman talaga sukat dahil kahit anong pilit hindi ito babakat. Maging karapt-dapat ka sa paggalang na dapat ibigay mo sa’yong sarili. Tama lang yan magpahinga kana.
Ang mundo ay de-kahon hindi kapa isinisilang ganito na ito, wala ka nang magagawa para baguhin ito. Pero ‘pwede kang kumawala, maging rebelde at lagalag. Oo, maghimagsik ka laban sa mapang-dusta na sistemang umiiral. Patunayan sa kanila na kaya **** mabuhay sa labas ng sapot na bumabalot. Hindi ka balut kundi tao kaya hindi ka dapat na matakot kahit naglipana pa ang mga salot. Hindi ka dapat na lumuhod at magmaka-awa sa mga taong umaastang panginoon.
May mga nag-di-diyos-diyosan na mga kupal na nasa lipunan na ang paboritong tapakan ay ang mga mahihina at hampas-lupa na tulad mo; mga putang-ina sila na walang alam gawin kundi ang mang-api ng mga taong kapos sa dunong at pinag-aralan. Ganito ang sistema ng lipunan, ganito kabaho ang mundo na pinatatakbo nang mga walanghiyang tao na kung umasta ay aakalain **** mga kagalang-galang. Mga hindot sila na walang pakundangan sa damdamin ng iba maitanghal lamang nila ang huwad na kadakilaan ng kanilang nabubulok na mga sarili.
Tama lang ang ginawa mo, tama lang na kumalas ka sa naaagnas na sistema na nagkukubli sa loob ng mga magagarang opisina. Tama yan, itakwil mo ang mga panlalait na pinakikinis nang mga salitang Inglis na inilalagay sa mga dokumento. Panahon na para maging totoo ka sa iyong sariling damdamin at pagkatao. Binabati kita dahil sa wakas nagpasya ka ng may katapangan – sana noon mo pa ito ginawa. Ako na ang sasalo sa natitira **** kalat, ako na ang haharap sa mga halimaw na iyong tinakasan.
Nov 14, 2017
Nov 14, 2017 at 11:30 PM UTC
Pukul satu, kakiku melangkah ke sudut warung kecil itu
Sunyi, lalu ku pilih tempat duduk di ujung sana
Setelah memesan kopi, pilot ku menggores kertas
Yang sama putihnya dengan kulitmu
Tak lupa kubakar ujung rokokku
Yang namanya sehangat pelukanmu
Lalu kuhembuskan kepulan asap tembakau
Menguar sama harumnya dengan tubuhmu
Sepekat nikotin di pembuluhku
Ku tulis kisah kita, dari awal mula hingga akhir bersua
Yang terdampar di sudut kenangan dan rindu,
dan kupaksakan masuk ke dalam loker kerjaku
Sehingga lupa ku adalah tabu, dan memoir adalah *****
Dirimu ku lukis dalam surat ini;
"Di hingar bingar kota, dimanakah kau berada?
Jika lelahmu beradu, dimakah kau berteduh?
Aku disini kasih, Surabaya tempatmu lari
Menolehlah jika kau ada di sudut persimpangan
Mungkin, aku disitu mencari dan mencari
Sisa-sisa cintamu jika itu memang terjatuh
Menadah air matamu, jika itu memang tercecer.
Temui aku, jika berkenan menjumpa nostalgia"
Kuhembuskan uap-uap tar yang menguning
Menerawang di bohlam remang-remang.
Ketika kabut itu pergi, begitu pula aku
Saat api ini padam, redup juga jiwaku
Pukul tiga aku beranjak,
Bayar dan pergi
Surat itu kutinggalkan di atas meja.
Apr 7, 2016
Apr 7, 2016 at 2:05 AM UTC
Palembang, 31 Desember 2011
Ku tak berharap malam ini akan spesial
Mengingat kembang api tak mau memperlihatkan sinarnya
Terompet pun enggan mengumandangkan suara nyaringnya
Apalagi, arang bersumpah takkan membara malam ini
Jahat sekali mereka padaku
Aku sudah mengira malam ini akan menjadi bosan
Ditinggal sendirian di rumah
Dilarang pergi ke rumah teman
Ditambah modem tak mau konek
Jahat sekali kalian padaku
Baiklah
Aku hanya bisa bermimpi saja
Mendengar gemuruh kembang api
Melihat cahaya indahnya
Menghirup wangi jagung bakar
Menyantap ayam panggang
Dan ketika aku kenyang, aku tertidur
Esok pagi
Yang ku temui hanya sepi
Jan 2, 2012
Jan 2, 2012 at 4:39 AM UTC
Palembang, 11 Juni 2012
Debu ini sudah lengket, tak bisa hilang
Meski ku usap dengan kain dari ulat sutra
Angin sudah terlanjur tertiup
Aku tak sempat lagi tuk pakai penutup
Petir sedari tadi mengamuk
Aku hanya bisa bersembunyi di bawah selimut
Banjir belum juga surut
Hujan tak pernah berhenti sedetikpun
Lampu belum juga padam
Padahal lilin dan api telah aku siapkan
Aku sudah siap menekan tombol Stop
Padahal lagu masih panjang untuk dinyanyikan
Aku belum juga tertidur
Padahal aku sudah menentukan mimpiku
Aku masih terjaga menunggu pagi
Meskipun malam belum akan berakhir
Jun 11, 2012
Jun 11, 2012 at 10:45 AM UTC
Awan hitam tersenyum telak
Hujan datang menyambut
Jari jemari yang biasa menari
Terlelap dalam dingin
Membeku membiru
Sinarnya telah hilang
Dibawa oleh lamunan
Dikandaskan oleh waktu
Api yang dulu merah meradang
Kini hilang ditelan sunyi
Bercak emas itu bukanlah dia
Dibiarkanlah semua membeku
Dengan begitu ia tak perlu tertatih berjalan
Biar waktu yang membunuhnya perlahan
Feb 24, 2016
Feb 24, 2016 at 4:28 AM UTC
sinusunog na mga bahay,
sinasamsam ang mga ari-arian,
sinasaktan pati ang mga bata,
ginagahasa ang mga babae,
at pinapatay ang mga lalake.
ganito araw-araw ang kanilang sinasapit,
hindi sa kamay ng mga tulisan o rebelde,
hindi sila ang salarin sa pang-aapi,
kundi ang estado at militar ang pasimuno.
sila ang pasistang halimaw na naninibasib,
pagkat gusto nilang maubos ang mga Rohingya.
hindi daw sila taga Burma,
latak daw sila ng mga Arabong dayo,
kaya kailangan na sila'y malipol.
walang magawa si Aung San Suu Kyi,
pati s'ya hawak sa leeg ng militar.
walang ginagawa ang Amerika at UN,
palibhasa wala silang mapapala sa mahirap na bansa.
isa na naman ba itong Rwanda,
o katulad sa Gaza?
walang gustong tumulong sa kanilang walang pakinabang.
maramot ang saklolo sa mga madaling maloko,
hindi kinakalinga ng langit ang mga tunay na api at kapos palad,
sapagkat ang mata ng kasaysayan ay nakatuon lagi sa Europa
at sa mga bansang masagana.
Dec 11, 2017
Dec 11, 2017 at 4:04 AM UTC
Maaf
Maaf
Maaf
Kau bukan secarik kertas
yang dibuang begitu saja setelah kupakai
Kusut, coreng-moreng
Bukan, kau adalah kartu pos
yang disimpan rapi di lemari jati
Meski usiamu tiada muda
Kau bukan terik matahari
yang dicaci orang ketika ada,
diabaikan ketika tiada
Bukan, kau adalah suara rintik hujan
yang dipuji, dikagumi, didengar
Meski kau membasahi baju mereka
Kau bukan jam rusak
yang digantung terlalu tinggi untuk diganti
Berdebu, usang
Bukan, kau adalah api
yang dicari orang sampai kalang-kabut
Meski kau membakar rumah mereka
Tapi maaf jika aku membuatmu merasa seperti
secarik kertas, terik matahari, dan jam rusak
Bukan niat ingin menyakiti
Tapi aku memang tak bisa dicintai
Maaf.
Oct 21, 2013
Oct 21, 2013 at 6:17 AM UTC
Inderalaya, 27 Agustus 2014
Aku putus asa di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan
Di saat aku sedang sibuk menyemangati orang lain untuk bertahan
Tepat di saat aku berceramah agar mereka terselamatkan
Aku membela orang lain padahal aku sendiri seorang tahanan
Aku sendiri tak mampu untuk mengembalikan kehidupan, hanya berangan
Melewati waktu tanpa batas yang membuat aku tersesat di jalan
Dengan berani ku telusuri labirin tak berujung di hari tak berawan
Aku mampu menjadi lentera orang lain, di jalan gelap di ujung perapian
Namun aku tetaplah lilin yang tak berapi, angin meniup api dan angan
Aku masih tetap menjadi tahanan yang ingin terbakar di ujung perapian
Aug 26, 2014
Aug 26, 2014 at 10:29 PM UTC
Segenap usia t'lah ku pegang. Namun, akankah telepas? Usia akhir hampirkah dekat. Apakah raga akan terbunuh?
Cintaku belum tergapai. Bisik hasut baik, terngiang di telinga. menyerukan kata indah tentang cinta. Agar ku tak merasa terikat usia.
Belum lama ku cicipi dunia. Akankah kandas bagai tergilas. Tiupan angin menjadi puing. Terbakar api menjadi debu.
Nyawa kini menjadi asap. Tak berguna tanpa cinta. Menangis haru karena suara indah. Dan tersenyum bahagia bermimpi cinta.
Created by. Aridea Purple
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:55 AM UTC
# Tanda Ahli Neraka, Omongannya Pedes #
“…Rosulullah ditanya tentang seorang wanita yang masyallah. Wanita ini ibadahnya jangan ditanya. sholat malamnya,kemudian puasa sunnahnya sedekahnya juga banyak. Tapi yang jadi masalah,dia itu PEDES NGOMONGNYA.
Ada yang pedes. Kalo ngomong itu NYLEKIT katanya. BIKIN SAKIT HATI.
Apa kata rosul shollallahu alaihi wasallam tentang perempuan yang suka ganggu orang dengan ucapannya ?
ﻻ ﺧﻴﺮ ﻓﻴﻬﺎ ﻫﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ....
NGGAK ADA KEBAIKAN DI WANITA SEPERTI INI. TEMPAT DIA DI NERAKA. Kata rosul shollallahu alaihi wasallam.
Jadi kita harus memperhatikan, mengevaluasi diri kita ini terkadang sebagian kalo disuruh ibadah jangan ditanya.
datang kajian jangan ditanya. Tapi kalo ngomong suka nyakitin orang. Maka hati-hati orang yang seperti ini dia TIDAK AKAN SELAMAT DARI API NERAKA…”
Ust DR Syafiq Reza Basalamah menjelaskan
Astagfirulloh
hati2... mari menjaga lisan dari perkataan yang menyakiti orang lain.
jangan jadi
Mar 23, 2015
Mar 23, 2015 at 2:55 AM UTC
sobrang hinahangaan Kita dahil napakagaling **** gumawa ng mga istorya,
mga istoryang tila talo na pero sa huli ay naipanalo Mo pa.
sa una'y aping api ang bida
pero di nakakapagtaka na sa huli sila ay naging masaya
dahil pangako Mo na hindi kami mag-iisa.
Hindi kami magiisa dahil Ikaw ay kasama,
kasama sa hirap at ginhawa, sa lungkot at tuwa,
talikuran man kami ng madla Ikaw ay hindi mawawala.
Ikaw ang napako hindi ang Iyong mga pangako
kasalanan naming lahat ay Iyong inako
Iyong pagmamahal ay damang dama saan mang dako.
Daan mang tinatahak ay bako bako
Direksyon mang sinusunod ay liko liko
Walang sapat na rason para kami'y sumuko
Dahil pinaglaban mo kami at hindi isinuko.
Oct 31, 2017
Oct 31, 2017 at 11:43 AM UTC
jika sebuah botol berisi api harus dilemparkan ke wajah-wajah anonimus sebagai bentuk pembelaan terhadap kaum-kaum marjinal. akan kuisi botol ini berisi bunga dan kulemparkan kepada dirimu sebagai bentuk pembelaan diriku terhadap benih-benih benci dirimu kepadaku.
Mar 29, 2012
Mar 29, 2012 at 7:16 AM UTC
Panas terpapar auramu
Menggeliat menyapu menyeluruh
Hingga gugur kalbu
Terbakar oleh angan para penyelatu
Hilang perlahan menggugur
Berasap menghilang semu
Layaknya debu-debu tertiup sang bayu
Memudar seperti bayang nafsu
Dari pemilik warna warna itu
Menjajakan aksara palsu
Mendulang manis ucap rindu
Membiaskan maki dalam untaian lagu
Menerkam mangsa yang diam terpaku
Sampai penuh hasrat itu
”Oh, Jadi seperti ini rupa asli kawan kawanku? sugguh lucu”
Oct 1, 2016
Oct 1, 2016 at 10:13 AM UTC
Dirimu bagaikan api yang membara
Panas jika disentuh sembarang,
Tapi indah jika aku menatapnya dengan benar.
Dirimu bagaikan lautan yang luas
Tenggelam jika tidak berhati-hati,
Tapi bisa membuatku menghargai keindahanya.
Bagiku dirimu adalah keindahan
Tapi bagimu diriku hanyalah sepotong cerita masa lalu.
Jun 23, 2018
Jun 23, 2018 at 1:14 PM UTC
*there is no implied right to dim the sun ..
there is no sign most solemn moon ..
when wood was burn by the fire until melted charcoal,
then earth sincerely embracing ember without a groan..*
┈┈┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶ ƦУ »̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈┈┈┈┈┈┈
"tiada tersirat sang mentari kan meredup,
tiada tersurat rembulan kan tersyahdu..
bila kayu terbkar oleh api hingga melebur arang,
maka bumi kan tulus merangkul bara tanpa mengerang.."
Dec 21, 2013
Dec 21, 2013 at 5:45 PM UTC
Pertama kalinya kugenggam tanganmu
Satu kembang api dipantik dari ulu hatiku
Seribu lainnya menyusul saat jemari kita saling bertaut
Menghiasi langit malam dengan pendar menggoda
Hitam pekat dibasuh percik api warna-warni
Kusaksikan dengan jelas saat kutatap wajahmu lekat-lekat
Kala itu tak satupun kata berhasil kita ucapkan
Namum dalam hati, tiap detik kulayangkan ribuan doa
dan segala mantra :
"Tuhan sang empunya dunia ini, hendaklah hentikan waktu sejenak untuk hambamu ini. Atau panjangkanlah malam sebelum mentari terbit nanti. Terima kasih Engkau turunkan bidadari, tepat disebelah hambamu ini".
Rambutmu bagaikan ombak musim panas
Bergulung-gulung indah harum manis bergairah
Namun dadaku layaknya laut dikala badai
Gemuruh layaknya seribu ksatria berkuda
Inginku berteriak sekencang-kencangnya
Gemanya terdengar sampai kampung Ayah-Ibuku
Jikalau nun jauh di belahan dunia sana
Seseorang berhasil menginjakkan kakinya di bulan
Inginku umumkan pada dunia
Malam itu akulah manusia pertama yang berhasil menggenggam bulan
Akulah pungguk yang melawan seluruh hukum gravitasi
Akulah pungguk yang tak lagi merindukan bulan
Kalau saja bisa, saat itu juga
Ingin kutuliskan berlembar-lembar puisi cinta
Ingin kupetik gitar dan bersenandung mesra
Karena bisikan lembutmu melantunkan hasrat hidup
Tatapan sayumu membiaskan mimpi-mimpiku
Senyuman indahmu melukiskan harapan-harapanku
Mimpi dan harapan seorang lelaki biasa
Menghabiskan hidup dengannya, tuan putriku ratuku, malaikatku, wanitaku yang istimewa
Jun 4, 2018
Jun 4, 2018 at 12:31 PM UTC
membingkai itu ada tujuannya
dilapisi kaca biar tidak terkotori
aku mengamplas ingatan yang sempat luntur
terbawa pada lamunan utuh & seruan sendu
silam, bertumpu berapi-api enggan berkeputusan asal
sampai kini, aku masih patuh pada prinsipku
kamu memintaku,
namun hatiku berprasangka itu rancangan induk
bukan asli pemintaanmu
kupilih menepikan diri
diam-diam berharap kamu bercerita lebih dalam
tapi nihil, malah indukmu maju
aku mau, tapi apa keputusan ini benar
pepetan restu, tekanan waktu
dihimpit ketakutan indukmu atas cemooh
orang, siapa? tetangga? saudara?
keengganan bersepaham
kuuji kamu dari belakang
menantang setara, seimbang, sejajar
lontaran kata pengundang debat
berlindung atas wejangan duda muda yang baik
"dua jenis prinsip tujuan pernikahan"
satu, untuk memulai keluarga baru
dua, untuk menyatukan keluarga
dengan kesadaran kupilih yang bertolak denganmu
karena saat itu aku belumuran ragu
sejauh mana kedewasaanmu?
kamu gagal pada tesmu,
tapi aku tetap bertahan kala itu,
setelah semua berjarak, mungkin kamu sadar ikatan pernikahan bukanlah hal main-main
kubedah diriku, ada setitik kekecewaan
seumpama semesta menghajarku dengan keras
tapi Ia tidak melepaskanku pada maut
disadarkanNya pula, inilah jawaban doa
"jauhkanlah aku dari yang jahat & dekatkanlah dengan yang baik"
jari manisku takkan tersemat cincin duri sebab ranting emas berbunga daisy telah memekarkan diri
Jul 23, 2019
Jul 23, 2019 at 7:37 AM UTC
Lihat..
Kamu hanya berdiri seorang sendiri
Tak takut dan tetap berani
Bahkan api merah itupun melelehkanmu
Angin menyentuhmu dengan lembut
Tapi itu akan membunuhmu
Namun kau masih bahagia
Kau menerimanya dengan senang hati
memutuskan dengan percaya dirimu
Memberikan cahaya di tempat yang gelap dan dingin
Kamu rela dibakar habis
Meskipun kamu sudah tahu bahwa kamu ..
Tidak akan mendapatkan apapun, mungkin hanya sakit yang kau dapat
Bahkan kamu tau akan dilupakan dan lenyap
Tapi ini adalah pilihanmu
Ingin tetap diam atau bertindak
Memberikan cahaya ajaib pada kegelapan ..
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 12:05 PM UTC
Apa yang terjadi ketika
minyak tanah bertemu api?
Kebakaran.
Itulah yang terjadi pada kami
Saling menghabisi sampai terlalu sering.
Tapi terkutuklah!
Tiada habis-habisnya sumber daya kami,
mungkin baru habis kala reyot nanti!/
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Saat-saat kami melebur
menghasilkan bunga api yang berkobaran—
saling mengadu tinggi lidah api,
hingga disembur air mata
dari mulut sang jawara,
itu lebih berharga dalam sarekat ini
dibandingkan bercokol bagai sahaya di kelas./
Sungguh absurd.
Sepertinya kami harus jauh-jauh
dari lahan gambut,
biar tak ada lagi karhutla bersengkarut.
Sebab Lautan pun
membara dekat-dekat kami./
Tapi
Jangan serius-serius betul lah
Kami lucu benar, percayalah.
Kami lebih suka berkelakar,
daripada diciduk karena jadi makar.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
#ReformasiDikorupsi
Sep 27, 2019
Sep 27, 2019 at 9:23 PM UTC
COME VIENE...VIENE!
(WHAT COMES...COMES!)
The sun is
preaching her sermon
to the town
of Praiano
that clings to the cliffs
in wonder.
Here in her hand
of light & water
she tells the parables
of pebbles.
One wave waves to another
as she walks upon the water.
Bells undress Time
disrobe her of her hours.
Lemons grow
big-bellied on branches
pregnant
with yellow.
The juice
of the Future
praying in a church
of trees.
Here, a congregation
of butterflies & bees.
Grapes dream of being
turned into wine.
Figs ripen
with pleasure.
The gods of pagan times
survive
disguised as statues.
I only believing
in the religion of
a woman's
laughter.
And even now
as darkness
grows
upon the rose
it's as if
the sunlight never leaves
only changes
colour
and the sunlight darkens
only to blossom
into the next morning
in love with Time.
****
CHE COSA SI FA
Il sole
sta predicando
alla citta
di Praiano
che miracolosamente
si aggrappa alle scogliere.
Qui nella sua mano
di luce ed acqua
racconta le parabole
di ciottoli.
Un' onda fluttua verso un'altra
come cammina sull'acqua.
Le campane spogliano il Tempo
la svestono delle sue ore.
I limoni crescono
rigonfi sui rami
gravidi di giallo.
Il succo
del Futuro
che prega in una chiesa
di alberi.
Qui una congrgazione
di farfalle ed api.
L'uva sogna di essere
trasformata in vino.
I fiche maturano
con piacere.
Le divinita dell'epoca pagana
sopravivono
transvestite in statue.
Io credo solo
nell religione
di una risata di una donna.
E anche ora
come il buio
aumenta
sopra la rosa
e come se
la luce del sole non andasse mai via
ma cambia
solo colore
e la luce del sole si oscura
per fiorire
la mattina dopo
innamorata del Tempo.
Mar 28, 2015
Mar 28, 2015 at 7:22 AM UTC
sulutan api mengubah abu
menjadi seikat amarah
rembesan air dari balik kelopak mata
disulap menjadi rintik air hujan
dan bumi pun berdansa
pada mereka yang bersenang-senang
bergembira
menepuk-nepuk tanah melalui kaki riang
suka cita
dalam pesta pora
satu ruang sesak berisi
terompet seruan hura-hura
menjerit dan meronta
lalu tertawa
dalam kebohongan
tersedak dan tersedu
ketika bintang pergi dan hilang
hanya untuk punah sementara
untuk datang dan
terlempar kembali ke dunia nyata
menyambut kesolekan-kesolekan
dan kemunafikan-kemunafikan
kepura-puraan
topeng-topeng dalam sandiwara,
seluruh umat manusia.
Feb 24, 2020
Feb 24, 2020 at 12:10 PM UTC
Tace ora, mi chiedo se oppressa dal suo Karma,
(so della sua vita, del nome che le dà, e del senso)
mentre mostra a lungo lo schermo
sul selciato una moltitudine
stecchita in una posa tra sonno e morte
levarsi a stento in preghiera e spulciarsi nell'alba.
Né forse la colpisce il primo aspetto
ma un altro più recondito, e vede
una giustizia di diverso stampo
in quella sofferenza di paria
orrida eppure non abietta, e nella sua che le scende addosso.
"Avere o non avere la sua parte in questa vita"
riemerge in parole il suo pensiero - ma solo un lembo.
E io ne tiro a me quella frangia
ansioso mi confidi tutto l'altro,
attento non mi rubi niente
di lei, neppure l'amarezza, ed attendo.
S'interrompe invece. Seguono altre immagini dell'India
e nel loro riverbero le colgo
un sorriso estremo tra di vittima e di bimba
quasi mi lasci quella grazia in pegno
di lei mentre si eclissa nella sua pena
e l'idea di se stessa le muore dentro.
"Perché porti quel giogo, perché non insorgi"
mi trattengo appena dal gridarle,
soffrendo perché soffre, certo,
ma più ancora perché lascia la presa
della mia tenerezza non saziata e piglia il largo piangendo;
"Ascoltami" comincio a mormorarle
e già penso al chiarore della sala dopo il technicolor
e a lei che sul punto di partire
mi guarda da dietro la lampada
della sua solitudine tenuta alzata di fronte.
"Mario" mi previene lei che indovina il resto. "Ancora
levi come una spada, buona a che?,
lo sdegno per le cose che ti resistono.
Uomo chiuso all'intelligenza del diverso,
negato all'amore: del mondo, intendo, di Dio dunque"
e indulge a una smorfia fine di scherno
per se stessa salita sul pulpito, e quasi si annulla.
"Davvero vorrei tu avessi vinto"
le dico con affetto incontenibile, più tardi,
mentre scorre in un brusio d'api, nel film senza commento, l'India.
846