Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"agustus" poems
Jumat, 13 Agustus 2010 Tlah beribu-ribu menit lalu Aku tak jumpa lagi catatanku Tak ku tumpahkan lagi pikiranku Tak ku kotori lagi kertas-kertas ku Dan aku rindu... Ingin menulis lagi Supaya aku bisa baca lagi Sambil tersenyum memuji Alangkah indahnya tulisanku Apa arti semua itu?? Entahlah, 2 tanda tanya untuk itu Ku tak akan pernah lelah menulis Aku janji, bila aku sempat- kan ku tulis beribu-ribu kata Agar terlukis kisah hidupku Yang penuh warna-warni kehidupan Created by. Aridea .P
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 11:42 AM UTC
Janji Ku
Sabtu, 14 Agustus 2010 Sekarang jam 1.21 pagi Ku masih di ruang TV yang sekaligus dapur Ku duduk di kursi meja makan Masih tak mau tertutup mata ini Ku membaca, membahas soal Sendiri... Terdengar suara-suara aneh Kicauan burung, gemuruh atap Cat cit cut tikus Suasana, uh, terasa seram Tapi aku tak peduli Karena bulan ini adalah Ramadhan Tak mungkin ada yang terlepas Namun, kapan aku bisa terlelap? Created by. Aridea .P
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 11:32 AM UTC
Elegi Pagi Buta
Inderalaya, 27 Agustus 2014 Seorang gadis kebingungan di antara kerumunan orang dewasa yang asyik menikmati pesta dansa yang diadakan penguasanya Matanya biru terang, namun jauh di lubuk hatinya, ia begitu kelam Seorang yatim yang ditinggalkan ibundanya tuk melayani pria yang bukan pasangannya Gadis itu terpaku, hanya sendiri di tengah-tengah manusia lain berdansa berpasangan Namun dia hanya sendirian Musik telah terlalu lama menyeberangi gendang telinganya Otot-otot di kepalanya mulai berontak tuk membuat gadis itu pergi meninggalkan tempat ia berada Namun ia hanya diam, matanya memancar sorot sangat kebingungan Pikirannya terbang jauh menelusuri kenangan saat ia masih balita dibawa Ayahnya pergi ke taman paling indah di negaranya Dentuman keras kaki-kaki manusia yang masih berdansa tanpa lelah dan tanpa jeda Menyadarkan sekali lagi bahwa gadis itu masih sendirian Kaki gadis itu serasa tak mampu lagi tuk melangkah Maka ia mulai membuat gerakan tak berarti pada kedua tangannya. ke kanan dan ke kiri, mengitari tubuhnya Semakin lama gerakan tangannya semakin cepat dan kini gadis itu menari pada akhirnya Sekali lagi, ia menari sendiri, berputar-putar bagai roda yang diputar pedal sepeda Kini semakin cepat gadis itu berputar-putar Semakin cepat Semakin cepat Semakin makin cepat Gadis itu menutup matanya, ia bahkan dapat merasakan detakan jantungnya Ia memutar makin cepat dan sangat cepat Sampai akhirnya di antara putaran yang cepat itu, ia berteriak AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH Ia kemudian terjatuh di pelukan Ayahnya Sang Ayah yang telah lama pergi meninggalkannya Sang Ayah kini kembali, namun tiada satupun manusia di sana menyadari kehadirannya Pesta dansa terhenti dan semua pasang mata tertuju pada pemandangan tak biasa di tengah-tengah mereka Sang Gadis sedang berdansa dengan Ayahnya Suasana menjadi hening, hentak kaki manusia yang sedang berdansa kini benar-benar sunyi Oh kelamnya hidup ini
0
Aug 27, 2014
Aug 27, 2014 at 12:43 AM UTC
Berdansa Lagu Sedih
Inderalaya, 27 Agustus 2014 Seorang gadis kebingungan di antara kerumunan orang dewasa yang asyik menikmati pesta dansa yang diadakan penguasanya Matanya biru terang, namun jauh di lubuk hatinya, ia begitu kelam Seorang yatim yang ditinggalkan ibundanya tuk melayani pria yang bukan pasangannya Gadis itu terpaku, hanya sendiri di tengah-tengah manusia lain berdansa berpasangan Namun dia hanya sendirian Musik telah terlalu lama menyeberangi gendang telinganya Otot-otot di kepalanya mulai berontak tuk membuat gadis itu pergi meninggalkan tempat ia berada Namun ia hanya diam, matanya memancar sorot sangat kebingungan Pikirannya terbang jauh menelusuri kenangan saat ia masih balita dibawa Ayahnya pergi ke taman paling indah di negaranya Dentuman keras kaki-kaki manusia yang masih berdansa tanpa lelah dan tanpa jeda Menyadarkan sekali lagi bahwa gadis itu masih sendirian Kaki gadis itu serasa tak mampu lagi tuk melangkah Maka ia mulai membuat gerakan tak berarti pada kedua tangannya. ke kanan dan ke kiri, mengitari tubuhnya Semakin lama gerakan tangannya semakin cepat dan kini gadis itu menari pada akhirnya Sekali lagi, ia menari sendiri, berputar-putar bagai roda yang diputar pedal sepeda Kini semakin cepat gadis itu berputar-putar Semakin cepat Semakin cepat Semakin makin cepat Gadis itu menutup matanya, ia bahkan dapat merasakan detakan jantungnya Ia memutar makin cepat dan sangat cepat Sampai akhirnya di antara putaran yang cepat itu, ia berteriak AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH Ia kemudian terjatuh di pelukan Ayahnya Sang Ayah yang telah lama pergi meninggalkannya Sang Ayah kini kembali, namun tiada satupun manusia di sana menyadari kehadirannya Pesta dansa terhenti dan semua pasang mata tertuju pada pemandangan tak biasa di tengah-tengah mereka Sang Gadis sedang berdansa dengan Ayahnya Suasana menjadi hening, hentak kaki manusia yang sedang berdansa kini benar-benar sunyi Oh kelamnya hidup ini
Continue reading...
31
Jumat, 27 Agustus 2010 Satu lagi momen tak terelakkan Aku jatuh cinta lagi Lebih dari seorang kali ini Tak bisa aku memilih Hanya bisa menjalani hingga henti Menguap rasanya hatiku Hingga kini ku tak mampu berdiri Hanya terpaku dan terlarut dalam lamunan Yang begitu tinggi dan tak pantas ku lamuni Kini ragaku mulai mencair Sedikit demi sedikit mulai bercerai Mengarah sendiri tanpa tujuan Meninggalkan jiwaku yang tersiksa Jiwa ku sakit... sakit... Ragaku lenyap, perih, perih Datanglah... Sembuhkanlah... Ku mohon, Ku tak mampu hidup sendiri Created by. Aridea .P
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:53 PM UTC
Cinta Yang Lain
Palembang, 31 Agustus 2012 Bulan Bulat Kuning Terang Di dunia yang gelap, segelap hidupku Bulan Sendirian Berlari Mengejar mentari Membutuhkan sinar, sama seperti aku Aku masih bisa mendengar lagu di udara Hingga mentari tiba Bulan pun hilang, seperti akal ku Aku ditinggal sendiri Dan lagu pun berhenti
0
Sep 1, 2012
Sep 1, 2012 at 8:45 AM UTC
Bulan
Jumat, 13 Agustus 2010 Sekarang aku makin dewasa Bapak... Mamak... Aku... Anakmu kini 15 tahun Ya Allah Terima Kasih atas Rahmat-Mu Bapak, maaf bila esok ku tak berguna Mamak, maaf bila esok ku gagal Ya Allah, ampuni Hamba Semakin dewasa, semakin ku berdosa Tak sanggup aku melawan rasa itu Aku telah bercinta... Bercinta dengan nya Ku tahu dia tak pernah di sini Tuhan... Tuntunlah aku pada-Mu Aku merasa hina di hadapan-Mu Aku merasa hina di belakang orang tua ku Ampuni Hamba Ya Allah... Ku tahu t'lah berdosa Oh Tuhan, Aku bercinta dengannya di dalam khayal Creates by. Aridea .P
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 11:38 AM UTC
#>Umur;>Dosa#
Palembang, 31 Agustus 2014 Aku ingin segera menjadi dewasa Supaya aku bisa menikmati hidup lebih leluasa Minum kopi sambil mengobrol tentang politik dan penguasa Duduk di café menulis novel dan mengambar sketsa Aku ingin segera wisuda Memiliki pekerjaan sendiri yang aku damba Memiliki apartemen sendiri dengan konsep yang aku suka Membeli semua buku yang ku anggap menarik dan membuat sendiri ruang baca Aku ingin segera mengakhiri masa kesendirianku Ku harap aku bisa memilih sendiri pasanganku Seseorang yang selalu setia di saat apapun Seseorang yang bisa ku ajak “gila-gilaan” sepajang waktu Aku ingin segera mengandung Memiliki anak-anak yang manis yang akan ku panggil “sayang” Memanjakan mereka seperti aku dimanjakan bunda Membahagiakan orangtuaku dengan kehadiran mereka Aku ingin Aku ingin mati dikelilingi orang-orang yang ku cinta
0
Aug 31, 2014
Aug 31, 2014 at 10:04 AM UTC
Aku Ingin
Inderalaya, 27 Agustus 2014 Aku putus asa di tengah-tengah hiruk-pikuk kehidupan Di saat aku sedang sibuk menyemangati orang lain untuk bertahan Tepat di saat aku berceramah agar mereka terselamatkan Aku membela orang lain padahal aku sendiri seorang tahanan Aku sendiri tak mampu untuk mengembalikan kehidupan, hanya berangan Melewati waktu tanpa batas yang membuat aku tersesat di jalan Dengan berani ku telusuri labirin tak berujung di hari tak berawan Aku mampu menjadi lentera orang lain, di jalan gelap di ujung perapian Namun aku tetaplah lilin yang tak berapi, angin meniup api dan angan Aku masih tetap menjadi tahanan yang ingin terbakar di ujung perapian
0
Aug 26, 2014
Aug 26, 2014 at 10:29 PM UTC
Di Ujung Perapian
Jakarta, Minggu 31 Agustus 2008 Jika malam ini indah … Ku kan memuji bintang-bintang Tanpa sakit ku sementara Ku beri senyum indah tuk mereka Namun bila sebaliknya Ku kan jatuh dari langit Dan tertimpa sakit selamanya Aku kan menangis tuk mereka Dunia ku memang tak indah Bagai hancur saat bumi berputar Hati ku pun bertahan Tuk tetap indah selamanya Dan biarkan cinta Ku tunggu darinya
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 10:09 AM UTC
Cinta Dari-Nya
Jumat, 6 Agustus 2010 Tak lagi kini kata syukur pada diriku Tak ku sadari begitu bencinya Dia Hingga kini ku diberi kesempatan Yang tak ku sadari adalah cahaya-Nya Tak lagi kini ku terpanggil untuk-Nya Tak tahu aku ada apa dengan raga Dan jiwa pun kini ku tak tahu di mana berada Hanya ocehan kasar yang terucap Tingkah laku yang berdosa saja Perenungan yang membawa hasil Namun tak sanggup aku berkata maaf Sudah terlambat dan telah berlalu Ku hanya bisa menangis sedu Dan menanggung perasaan malu Ku harap kali ini Ku mampu memanfaatkan waktu Demi hatapan dan tujuanku Mengembalikan kata syukur pada diriku Dan ku ucap syukur itu setiap waktu Created by. Aridea .P
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 11:44 AM UTC
... Syukur
Jakarta, 12 Agustus 2009 Mengapa? Malu ku sendiri Yang telah ku buat sendiri Tak bisa ku simpan sendiri Terbungkus penyesalan tak berarti Mengapa? Tak bisa ku tutup roman ini Tak sanggup untuk sembunyi Tak tau harus kemana pergi Mengapa? Malu ku tak pernah pergi Masih menempel di jejak kaki Masih berayun dilambai angin Masih terlilit di asa mimpi Mengapa? Rasa ini keras sekali Serasa air raksa yang jernih Namun mampu mengelupas seluruh kulit ari Aku merasa terkelupas... Mati Tak ada lagi gairah bangkit Mengapa? Mengapa? Mengapa?
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 9:19 AM UTC
Mengapa?
Jakarta, Jumat 31 Agustus 2007 Ya Allah … Segala puji bagi-Mu Untuk hamba sujud kepada-Mu Berdoa meminta ampunanmu Dari khilaf yang terus muncul Ya Allah … Bila hamba berdosa Tunjukkanlah jalan-Mu Bukan hamba yang kau siksa Namun, syaitan-syaitan yang terkutuk Ya Allah … Hamba ingin hidup kekal Menikmati dunia hingga akhir hayat Merasakan indahnya kebahagiaan Sekalipun hamba berdosa Hamba siap menuju akhirat
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 10:15 AM UTC
Doa Hamba (Manusia)
Jakarta, Jumat 31 Agustus 2009 Adakah ucapan syukur bagi-Nya Yang mencipta Adam Hawa Hingga hadir manusia Yang hidup di dunia Bukan mensyukuri Namun.. mengingkari Manusia memang serakah Ingin lebih dari yang diberikan Bukan berdoa Malah berbuat curang Hingga tiba di akhirat Tak mau bertanggung jawab
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 10:12 AM UTC
MANUSIA
Palembang, 1 Oktober 2010 Kemerdekaan t'lah diraih Indonesia bebas dari penjajah Tiap tahun mari kita rayakan 'Tuk mengingat jasa para Pahlawan Pahlawan Kemerdekaan Yang tak kenal balas jasa Hanya harap akan kejayaan bangsa 17 Agustus yang bersejarah Di 65 tahun lalu yang menguras darah Created by. AP
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:41 PM UTC
Dirgahayu RI
Palembang, 29 Agustus 2012 Kamu dimana? Di sini? Tidak! Tapi mengapa kamu sedekat ini?
0
Sep 3, 2012
Sep 3, 2012 at 4:30 AM UTC
tidak!
"It would be a privilege to have my heart broken by you." -Agustus Waters The Fault In Our Stars
0
Jul 12, 2014
Jul 12, 2014 at 12:10 AM UTC
The Fault In Our Stars
Gadis kecil berpipi bulat senang menari di taman. Kadang sendiri, kadang bersama kawan. Suatu hari gadis kecil berpipi bulat bertemu seekor singa. "Jangan dekati dia! Dia sedang terluka!" Teriak seorang teman. Gadis kecil berpipi bulat memperhatikan Raja Hutan. Luka bekas sayatan menganga lebar di dada. Ia bermandikan darah dan air mata. Gadis kecil berpipi bulat terkesima. "Tuan Singa, Tuan Singa! Siapa yang melukai anda?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Seekor singa dengan bulu kecokelatan lebat sekilas mendongak, lalu kembali tergolek lemas. Sekilas bola cokelat mengintip dibalik mata sipitnya. "Tuan Singa, Tuan Singa ! Apa anda kesepian atau ingin mencari mangsa ?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Ia terpesona dan ingin mengobati Raja Hutan. Tapi bisa saja ia disantap sekali lahap. Gadis kecil berpipi bulat tetap tidak beranjak.                   Semoga gadis kecil berpipi bulat tidak dalam bahaya. [Jakarta, 17 Juni 2019.] _________ Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Seekor betina pernah singgah dan mempermainkan luka. Tuan Singa pandai bersandiwara! Sesekali tertawa di selipan duka. Gadis kecil berpipi bulat melihat. Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Tuan Singa pernah kesepian dan ketakutan. Takut menengok ke belakang dan diterkam dosa. Seekor raja hutan meninggalkan banyak korban, pun selamatkan diri sendiri ia lupa. Gadis kecil berpipi bulat terdiam. "Semudah itu manusia mati dan semudah itu manusia hidup." Dongeng Tuan Singa. Si Raja Hutan lelah, dan mulai menyanyikan lagu "Bangunkan Aku ketika September Usai" dari Hari Hijau. Gadis kecil berpipi bulat menikmati senandung minor luka pengantar tidur. "Tuan Singa, aku mengantuk. Tapi izinkan aku menemani tuan sampai tuan tidak butuh aku lagi, ya. Selamat tidur dan bermimpi. Semoga mimpi malam ini indah." Ucap Gadis kecil berpipi bulat sebelum pulas. [ Jakarta, 22 Juni 2019 ] —— Gadis kecil berpipi bulat sudah terjebak. Gawat. Raja hutan mempermainkan teka-tekinya. Gadis kecil berpipi bulat sibuk mengobati hingga lupa ia pun melukai diri sendiri. “Tuan singa. Tuan singa. Apa yang tuan inginkan? Sebuah hati lagi, atau aku beranjak pergi?” [5 Agustus 2019] —— Raja Singa sedang terluka. Ia gelisah. Tapi gadis kecil berpipi bulat tidak bisa mengobati. Atau, bukan dia, yang sang raja cari ? [19 September 2019] ____ Cukup. Waktunya telah tiba. Gadis kecil berpipi bulat harus pergi. Semoga kamu bisa tidur. [04 Oktober 2019]
0
Jun 18, 2019
Jun 18, 2019 at 11:16 AM UTC
Buku Harian Gadis Kecil Berpipi Bulat
Gadis kecil berpipi bulat senang menari di taman. Kadang sendiri, kadang bersama kawan. Suatu hari gadis kecil berpipi bulat bertemu seekor singa. "Jangan dekati dia! Dia sedang terluka!" Teriak seorang teman. Gadis kecil berpipi bulat memperhatikan Raja Hutan. Luka bekas sayatan menganga lebar di dada. Ia bermandikan darah dan air mata. Gadis kecil berpipi bulat terkesima. "Tuan Singa, Tuan Singa! Siapa yang melukai anda?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Seekor singa dengan bulu kecokelatan lebat sekilas mendongak, lalu kembali tergolek lemas. Sekilas bola cokelat mengintip dibalik mata sipitnya. "Tuan Singa, Tuan Singa ! Apa anda kesepian atau ingin mencari mangsa ?" Tanya gadis kecil berpipi bulat penasaran. Ia terpesona dan ingin mengobati Raja Hutan. Tapi bisa saja ia disantap sekali lahap. Gadis kecil berpipi bulat tetap tidak beranjak.                   Semoga gadis kecil berpipi bulat tidak dalam bahaya. [Jakarta, 17 Juni 2019.] _________ Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Seekor betina pernah singgah dan mempermainkan luka. Tuan Singa pandai bersandiwara! Sesekali tertawa di selipan duka. Gadis kecil berpipi bulat melihat. Gadis kecil berpipi bulat menemani Tuan Singa bercerita. Tuan Singa pernah kesepian dan ketakutan. Takut menengok ke belakang dan diterkam dosa. Seekor raja hutan meninggalkan banyak korban, pun selamatkan diri sendiri ia lupa. Gadis kecil berpipi bulat terdiam. "Semudah itu manusia mati dan semudah itu manusia hidup." Dongeng Tuan Singa. Si Raja Hutan lelah, dan mulai menyanyikan lagu "Bangunkan Aku ketika September Usai" dari Hari Hijau. Gadis kecil berpipi bulat menikmati senandung minor luka pengantar tidur. "Tuan Singa, aku mengantuk. Tapi izinkan aku menemani tuan sampai tuan tidak butuh aku lagi, ya. Selamat tidur dan bermimpi. Semoga mimpi malam ini indah." Ucap Gadis kecil berpipi bulat sebelum pulas. [ Jakarta, 22 Juni 2019 ] —— Gadis kecil berpipi bulat sudah terjebak. Gawat. Raja hutan mempermainkan teka-tekinya. Gadis kecil berpipi bulat sibuk mengobati hingga lupa ia pun melukai diri sendiri. “Tuan singa. Tuan singa. Apa yang tuan inginkan? Sebuah hati lagi, atau aku beranjak pergi?” [5 Agustus 2019] —— Raja Singa sedang terluka. Ia gelisah. Tapi gadis kecil berpipi bulat tidak bisa mengobati. Atau, bukan dia, yang sang raja cari ? [19 September 2019] ____ Cukup. Waktunya telah tiba. Gadis kecil berpipi bulat harus pergi. Semoga kamu bisa tidur. [04 Oktober 2019]
Continue reading...
58
Yang kau cari di seberang waktu, namun langkahmu ragu melihat lampau yang lalu-lalang. 24 Agustus 2018
0
Aug 24, 2018
Aug 24, 2018 at 6:05 PM UTC
Sore Itu di Jalan Jakarta
Sejengkal rindu dalam bogor Dahulu kudengar sebuah dongeng tentang Kota diatas awan, Bogor, Kota yang tiada hari tanpa hujan Kota tiada pemandangan gedung kaca Kota tiada pemandangan selain Gunung Salak Perkenalan kala itu mengantarkan mengenal lebih jauh tentang Bogor Tatkala itu Bogor sungguh sebagaimana kota diatas awan Kini rupanya tak begitu indah, tak seperti masa itu Namun, Bogor tentu setia dengan beribu kenangannya Bogor tetap saja Kota yang setia menyimpan ingat, Bogor tetap melangkah seperti biasanya, Sayur tetap disediakan pedagang di pagi gelap Angkot tetap tabah menunggu penumpang Tugu kujang tetap setia di tempatnya berada Bogor, kenang itu selamanya. Terimakasih. Muhammad Iqbal Ramadhan Bogor, 22 Agustus 2021
0
Aug 23, 2021
Aug 23, 2021 at 2:02 AM UTC
Sejengkal Rindu
Jika Tuhan tidak pernah sampai Lalu aku ada dimana? Ditumpukan sisa rautan pensil, katamu Habis, kandas menyisakan kehitaman diujung-ujung tajamnya Jika Tuhan tidak pernah mengirim pesan Lalu aku bercerita dimana? Pada kerumunan isi kota yang melenakan Padat, riuh semua ingin berbicara Tuhanku mendengar, Tuhanmu juga Kemudian bagaimana dengan kebebasan? Ia ada, tanpa diminta. B_A 24 Agustus 2022
0
Aug 23, 2022
Aug 23, 2022 at 7:34 PM UTC
Jika
Tepat di hari kedua sebelum akhir Agustus, entah repetisi yang keberapa kali--aku bertanya pada aku. Sedang aku meninggalkan apa yang aku tunggu, sebagian lain dari aku membiarkan apa yang datang menuju. Tepat di peralihan pagi dan khotbah Jumat, ia datang lagi. Yang harusnya kubiarkan pergi sendiri dengan maunya Ntah akan kusambut kembali atau nanti menjadi babak tercanggung. Ntah, kali ini jawaban entah telah ditolak sepersekian lebih awal sebelum ditanyakan. Aku menolak mengikhlaskan apa yang aku sendiri tidak tau apa inginnya. Melalui percakapan rutin beberapa kali sehari, seminggu dan sudah masuk separuh tahun. Tepat menuju penghujung hari, aku membiasakan apapun ia boleh lakukan. Aku biarkan semaunya menghirup-hirup apa yang sudah dilewati. Agar jika pada bagian akhir yang awal nanti ia tak salah langkah, kembali kesini atau mengantar kabar lain yang lebih ia senangi. 30 Agustus 2019 B_A
0
Aug 30, 2019
Aug 30, 2019 at 1:17 AM UTC
-
the first one his name was agustus and he tasted like freshly fallen snow he used to sing for me random songs he composed he'd play on the guitar with only 3 strings and his hair would fall over his eye his hair like straw blown soft by that wind that wind of winding mountains and when he sang to me of me even the trees strained to listen him and his broken down guitar
0
Dec 20, 2015
Dec 20, 2015 at 11:31 AM UTC
Day 3