Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
Rasanya seperti ingin muntah, perutku bergerumul, dadaku bergemuruh, hatiku penuh amarah, tubuhku lemas tak bertenaga. Aku lelah. Air mata di ujung pelupuk mata, mengalir deras sekali terpicu. Sumbu kesabaran yang kian pendek, terus menerus terbakar oleh amarah. Aku lelah. Hari-hari berlalu begitu saja seolah tak bermakna, yang kutunggu hanya Sabtu Minggu saat tak perlu kutatap layar terang itu 12 jam sehari. Detik-detik lewat tak memandang lara dan amarah yang terus membakar hati Apa aku bisa bertahan, atau sebentar lagi hati ini mati? Aku lelah. Bakar. Bakar. Terbakar. Bila hati ini kemudian mati dan dipenuhi kebencian dan kegusaran, bila kemudian ia dikuasai oleh kegelapan, bila hatiku mati... Aku bagaimana?
0
Nov 18, 2021
Nov 18, 2021 at 5:53 AM UTC
Terbakar
Rasanya seperti ingin muntah, perutku bergerumul, dadaku bergemuruh, hatiku penuh amarah, tubuhku lemas tak bertenaga. Aku lelah. Air mata di ujung pelupuk mata, mengalir deras sekali terpicu. Sumbu kesabaran yang kian pendek, terus menerus terbakar oleh amarah. Aku lelah. Hari-hari berlalu begitu saja seolah tak bermakna, yang kutunggu hanya Sabtu Minggu saat tak perlu kutatap layar terang itu 12 jam sehari. Detik-detik lewat tak memandang lara dan amarah yang terus membakar hati Apa aku bisa bertahan, atau sebentar lagi hati ini mati? Aku lelah. Bakar. Bakar. Terbakar. Bila hati ini kemudian mati dan dipenuhi kebencian dan kegusaran, bila kemudian ia dikuasai oleh kegelapan, bila hatiku mati... Aku bagaimana?
porakporanda
Written by
23/F/Indonesia
Nov 18, 2021
Nov 18, 2021 at 5:53 AM UTC
Request permission to use this poem