Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
aku susun susun batu kujadikan sebuah benteng cukup kuat untuk beberapa waktu malam malam ada yang mengunjungiku datang datang memakai lonceng cukup gaduh jadinya tidurku coba kututup telingaku sial! tambah keras itu suara lonceng! sulit tidur, akhirnya kubangkit untuk cari tau dari benteng, kuambil sepotong batu terlihat sesosok manis tersenyum lebar bukan main, tidak karuan hatiku kutanya, "kenapa kamu kesini?" "aku ingin mengajakmu main, sepertinya akan seru" "aku tidak mau, aku lelah" "ayolah, nanti kita memetik buah beri liar di hutan" "aku lelah, lagipula siapa kamu?" "nanti kamu aku gendong. aku gabungan dari semangka dan tembakau, salam kenal" "aku tidak tanya kamu itu apa tapi siapa kamu!" lalu sosok itu mengambil beberapa batu yang ada di benteng "aku gabungan semangka dan tembakau, ayo ikut!" tanpa lama, sosok itu mengambil tanganku dan dibawanya lari menuju dalamnya hutan lalu aku? akupun juga heran kenapa tidak ada penolakan rambutnya yang tertiup angin hutan dan terkena cahaya matahari yang samar samar masuk dari banyaknya daun membuatku tersenyum sembari ikut berlari bersamanya "sudah sampai!" sosok itu tersenyum lebar dan puas "katanya kamu akan menggendong aku, mana?" "hehe maaf, lupa. habis saking semangatnya sih.. tunggu sini ya aku akan memetik beri" "aku tidak ikut?" "tidak usah, kamu istirahat di bawah pohon itu saja nanti aku menyusul" akupun duduk dan bersender dibawah pohon besar itu terlihat antusias sekali, padahal hanya memetik beri "lucu" kalimat itu keluar dengan mudah dari mulutku tunggu, kenapa aku pikir dia lucu? dia hanya gabungan semangka dan tembakau itu aneh, dasar gila "ini sudah selesai, ayo makan" nyaman sekali berada dekatnya senang sekali melihat matanya iya mata itu yang sesekali ikut tersenyum saat sosok itu menatapku aneh lagi, rasanya hatiku mau runtuh saat itu "sudah kenyang, ayo main lagi" "tidak mau, aku kan bilang aku capek" "oh baiklah, sini" sosok itu membawa kepalaku ke pangkuannya dengan lembut dan tiba tiba "eh?!" "sudah tidak apa apa, kamu tidur saja nanti aku yang berjaga" "tidak mau aku takut, aku belum kenal kamu" kecupan manis dan sedikit pahit meluncur di bibirku tuhan! aku seperti mau meledak "tidak usah takut, aku pemegang rekor" "hahahaha rekor apa? ngaco!" suaraku mulai terbata bata namun tidak ingin terlihat gugup "sudah ya kamu tidur saja, istirahat" kembali ia mengusap ngusap rambutku nyaman hangat tenang "brukkk!" suara keranjang jatuh tepat beberapa meter dibawah kakiku aku bangun melihat sekitar "kemana?" semangka tembakau sudah lenyap dari pandanganku ingin kuberanjak pulang namun tertahan "aku masih ingin menunggu" "tunggu, untuk apa?" "untuk temu bodoh" "apa gunanya temu?" "tapi aku masih ingin menunggu" "aku rindu" suara suara sialan itu menyeruak didalam kepala kududuk didekat pohon besar sambil menunggu memakan beri yang masih tersisa sedikit di keranjang tidak terasa sudah larut suara suara binatang, hmm ataukah monster itu sudah bersahut sahutan "aku takut" "tapi aku masih ingin temu" "aku harus menunggu" begitulah kebodohan aku malam malam di hutan sendirian menunggu orang siapa? akhirnya aku membangun benteng lagi di hutan itu walau bukan di dekat danau yang banyak suara katak dan bunga lili tapi aku coba berusaha membangun benteng lagi untuk sekedar menunggu sosok itu datang kususun lagi benteng barupun terbentuk cuma bedanya sedikit tidak nyaman karena banyak sekali batang batang pohon tajam masuk ke sela sela batu tapi aku tetap menunggu kususun lagi sampai tertutup aku masih menunggu untuk temu
0
Jun 9, 2021
Jun 9, 2021 at 11:12 PM UTC
aku tau aku harus apa
aku susun susun batu kujadikan sebuah benteng cukup kuat untuk beberapa waktu malam malam ada yang mengunjungiku datang datang memakai lonceng cukup gaduh jadinya tidurku coba kututup telingaku sial! tambah keras itu suara lonceng! sulit tidur, akhirnya kubangkit untuk cari tau dari benteng, kuambil sepotong batu terlihat sesosok manis tersenyum lebar bukan main, tidak karuan hatiku kutanya, "kenapa kamu kesini?" "aku ingin mengajakmu main, sepertinya akan seru" "aku tidak mau, aku lelah" "ayolah, nanti kita memetik buah beri liar di hutan" "aku lelah, lagipula siapa kamu?" "nanti kamu aku gendong. aku gabungan dari semangka dan tembakau, salam kenal" "aku tidak tanya kamu itu apa tapi siapa kamu!" lalu sosok itu mengambil beberapa batu yang ada di benteng "aku gabungan semangka dan tembakau, ayo ikut!" tanpa lama, sosok itu mengambil tanganku dan dibawanya lari menuju dalamnya hutan lalu aku? akupun juga heran kenapa tidak ada penolakan rambutnya yang tertiup angin hutan dan terkena cahaya matahari yang samar samar masuk dari banyaknya daun membuatku tersenyum sembari ikut berlari bersamanya "sudah sampai!" sosok itu tersenyum lebar dan puas "katanya kamu akan menggendong aku, mana?" "hehe maaf, lupa. habis saking semangatnya sih.. tunggu sini ya aku akan memetik beri" "aku tidak ikut?" "tidak usah, kamu istirahat di bawah pohon itu saja nanti aku menyusul" akupun duduk dan bersender dibawah pohon besar itu terlihat antusias sekali, padahal hanya memetik beri "lucu" kalimat itu keluar dengan mudah dari mulutku tunggu, kenapa aku pikir dia lucu? dia hanya gabungan semangka dan tembakau itu aneh, dasar gila "ini sudah selesai, ayo makan" nyaman sekali berada dekatnya senang sekali melihat matanya iya mata itu yang sesekali ikut tersenyum saat sosok itu menatapku aneh lagi, rasanya hatiku mau runtuh saat itu "sudah kenyang, ayo main lagi" "tidak mau, aku kan bilang aku capek" "oh baiklah, sini" sosok itu membawa kepalaku ke pangkuannya dengan lembut dan tiba tiba "eh?!" "sudah tidak apa apa, kamu tidur saja nanti aku yang berjaga" "tidak mau aku takut, aku belum kenal kamu" kecupan manis dan sedikit pahit meluncur di bibirku tuhan! aku seperti mau meledak "tidak usah takut, aku pemegang rekor" "hahahaha rekor apa? ngaco!" suaraku mulai terbata bata namun tidak ingin terlihat gugup "sudah ya kamu tidur saja, istirahat" kembali ia mengusap ngusap rambutku nyaman hangat tenang "brukkk!" suara keranjang jatuh tepat beberapa meter dibawah kakiku aku bangun melihat sekitar "kemana?" semangka tembakau sudah lenyap dari pandanganku ingin kuberanjak pulang namun tertahan "aku masih ingin menunggu" "tunggu, untuk apa?" "untuk temu bodoh" "apa gunanya temu?" "tapi aku masih ingin menunggu" "aku rindu" suara suara sialan itu menyeruak didalam kepala kududuk didekat pohon besar sambil menunggu memakan beri yang masih tersisa sedikit di keranjang tidak terasa sudah larut suara suara binatang, hmm ataukah monster itu sudah bersahut sahutan "aku takut" "tapi aku masih ingin temu" "aku harus menunggu" begitulah kebodohan aku malam malam di hutan sendirian menunggu orang siapa? akhirnya aku membangun benteng lagi di hutan itu walau bukan di dekat danau yang banyak suara katak dan bunga lili tapi aku coba berusaha membangun benteng lagi untuk sekedar menunggu sosok itu datang kususun lagi benteng barupun terbentuk cuma bedanya sedikit tidak nyaman karena banyak sekali batang batang pohon tajam masuk ke sela sela batu tapi aku tetap menunggu kususun lagi sampai tertutup aku masih menunggu untuk temu
belilah majalah bobo untuk melihat cerpen oki dan nirmala di swalayan terdekat!
notanasylum
Written by
18/F/Indonesia
Jun 9, 2021
Jun 9, 2021 at 11:12 PM UTC
Request permission to use this poem