Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"ufuk" poems
Semusim ini ku jalani dengan bebas Hingga suatu hari di musim berikutnya aku tersesat Menanggung sakitnya duri kehidupan akibat perbuatanku sendiri Di saat begitu siapa yang ada bersamaku di jalanan sepi? Kalian bisa lihat sendiri betapa kehilangannya diriku Kehilangan akal sehatku Kalian tidak mengerti, kalian tidak mau mengerti Aku memang terlalu rumit Musim ini aku ditemani sepi Melanglang buana sendiri Mencoba tuk temukan ketenangan yang pernah aku miliki Aku duduk lama di tepi sungai dan menatap ke air seraya lirih Menggoyangkan kaki-kakiku yg beralas sepatu usang Merasakan angin sore menusuk hingga ke telapak kaki Aku menunggu mentari jatuh di ufuk barat Kemudian pulang berjalan kaki berharap pamrih Hari ini aku masih sendiri Musim masih lama berakhir
0
Nov 20, 2013
Nov 20, 2013 at 8:12 AM UTC
Musim Ini
kursi di bawah pohon kenari masih dengan setia duduk disana tidak peduli siapa yang mendudukinya atau siapa yang lewat di depannya ia tetap setia menunggu kedatangannya burung-burung dengan bebas menyuarakan nada-nada indah berisi pesan untuk diberikan kepadamu, tuan tanpa nama jangan berpura-pura tidak peduli kepada dunia di lubuk hatimu yang terdalam, sial, aku sangat yakin kau kesepian kau membutuhkan seorang teman yang rela mendengar ocehan mautmu sampai matahari tenggelam di ufuk barat nantinya kemarilah, tuan tanpa nama duduk bersamaku di bawah pohon kenari dan menikmati indahnya matahari senja
0
Aug 2, 2014
Aug 2, 2014 at 7:14 PM UTC
kau mendengarku
Kekasihku telah meninggal Tak ada lagi yang tersisa dari Rambut panjangnya Bahkan sekarang Senyumnya berbau masam Kekasihku telah meninggal Sudah tak dapat lagi ia ucap Sajak-sajak getir Laut di ufuk Apalagi senandung bintang atas kita Kekasihku telah meninggal Sentuhannya dingin Tubuhnya kaku Kelembutannya menjadi pisau Dan gurauannya antarkan duka Ia tetap tertawa dalam kematiannya Karena jasadnya dapat terus hidup Sebagai manusia lain Yang bagiku, entah siapa Yang bahkan tak kukenali danurnya Jika bisa Aku ingin mengembalikan tubuh itu padanya Akan kugali kuburan dalam hatinya Kutarik keluar jenazahnya dan kubangkitkan, Dalam sebuah peluk dan angan Akan kubiarkan ia merasuk Pada tubuh tak berhati Tak berjiwa itu Tubuh budak Peradaban lama Akan kubiarkan ia merasuk Panjang rambutnya yang fana Senyumnya yang binar Hatinya yang murni Harus ku kembalikan Pada Tubuh Hidup Gentayangan Itu
0
Apr 19, 2016
Apr 19, 2016 at 4:14 AM UTC
Pada Tubuh Hidup Gentayangan Itu
Hari berawal dari matahari menari di ufuk timur, tak perlu mengucap “hai” untuk sekedar hadir. Membias dengan apapun miliknya Tatapku kosong dengan sejumlah tanya apakah yang dibuatnya hari ini jadi perbedaan. Semoga kita dijauhkan dengan tanya yang sukar jawabnya. Semoga hangat pagi senantiasa dipihakmu. Selamat pagi hijau, biru, putih, bening dan zat lainnya
0
Jul 16, 2016
Jul 16, 2016 at 3:00 AM UTC
Perempuan yang Mengucap “Hai”
~a letter for you Kita, Dari daerah melangsir ke kota Dari kota berbalik ke daerah Dan takkan dapat lagi ke kota Lain sebab apa, lain sebab kenapa Kendatipun impresi memberontak kita Kota, Kita ingat tentang kota Kota takkan ingat kita Sebab kita tak miliki tahta Lain sebab apa, lain sebab kenapa Apa daya reminisensi meronta Kota, Kita ingat tentang kota Kawanan sutet di kota kita Menari menawan menara kota Dekorasi dari kita, gradasi ufuk dunia Persuasi para penguasa kota Prasasti Suwarnadwipa, pula Visualisasi ragam abiotik Tuhan Yang Esa Kota, Kita ingat tentang kota Hamparan ladang pabrik di kota Riasan pipa asap terus-menerus menyala, gradasi ufuk dunia Luas menggugah animo di daerah Meski honorarium tak seberapa Kita duga cukup tuk besar di kota Manalagi di daerah Kita, Telah lama tak singgah pada kota Lain sebab apa, lain sebab kenapa Kota kita indah katanya Kota, bilamana kita berjumpa pula? Kita takkan abaikan memori tentang kota Lain sebab apa, lain sebab kenapa Kota kita indah katanya Kota, bilamana kita berjumpa pula? Dari pengagummu di daerah Tuk segenap kenangan kota yang hampa.
0
May 14, 2020
May 14, 2020 at 10:40 AM UTC
KOTA KITA
1:50 AM, 29 Oct 2017 dunia kadang suka melucu entahlah aku sedang diambang bahagia bisakah aku sebut diriku sedang bahagia? ingin rasanya mengecup semesta merangkul ufuk timur dan memeluk ufuk barat selagi memandang eloknya fajar yang berputar lalu berucap sukur yang sebesar-besarnya entahlah semenjak keberadaanmu disisiku aku jadi selalu ingin berucap syukur dengan tulus dan mendalam kulihat lagi langit malam sekarang kuingin meresap kedalamnya dan ingin berkata kumohon jangan biarkan dia pergi ternyata aku memang bahagia
0
Oct 28, 2017
Oct 28, 2017 at 9:54 PM UTC
bahagia;