Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"teras" poems
sore itu dingin. kupandangi tetes-tetes air yang perlahan hinggap di atas permukaan kaca jendela secangkir teh dalam genggaman, berbalut tabahnya menahan rindu. kutunggu kabar namun tak juga kunjung datang duduk di atas kursi teras, menanti suaramu hadir di ujung pesawat. teleponku lagi-lagi kau abaikan, seperti tak pernah sekalipun terlintas minat untuk kau angkat. terlalu sibuk atau apa? biar kunanti lagi bersama rintik hujan. semenit lima menit sepuluh menit dua puluh menit lima puluh menit kutunggu telepon balasanmu namun belum juga kau izinkan aku mendengar suaramu aku diam bersama alunan musik yang dimainkan hujan, air mataku turun biarkan! aku letih berpura-pura merasa tidak sakit hati bersama lantunan rintik hujan, serta guntur yang belum pula lelah bersahutan, pada dunia mereka seolah mengatakan; alam pun bisa menyuarakan air matanya, dan memiliki jeda jujur yang panjang, berhenti berusaha ceria. kemudian aku sadar; seperti alam yang sedang menangis, aku benar-benar letih berpura-pura.
0
May 22, 2016
May 22, 2016 at 7:20 AM UTC
untuk segala hal yang letih berpura-pura
Untuk yang merindukan Rumah, lebih dari apapun. Rumah bukan lah tentang bangunan, ruang, pintu-pintu yang kokoh, atau jendela-jendela yang ditata. Bukan tentang jenis kayu apa yang digunakan untuk pintu-pintu, jendela-jendela, entah itu jati, sigi atau mahoni. Ini tentang apa yang hidup di dalam sana. Aku pernah memiliki rumah, dan selalu ingin kembali pulang kesana, tapi seseorang yang memiliki peranan sangat penting di rumah, pergi meninggalkan, anggaplah ia sebagai jantungnya, dan ketika jantung tersebut sudah berhenti berdetak, mati lah yang akan kau temukan. Barangkali ia sudah menemukan rumah barunya, dan benar saja. Baginya aku dan ibu hanyalah tamu, dan kau tidak pernah benar-benar menerima tamu, mereka lalu lalang disana, ia menemukan rumah barunya, bukan aku bukan juga ibu. Saat aku berusaha sekuat tenaga untuk kembali pulang dan mengingat-ingat jalan menuju rumah, aku menemukannya, namun rumah itu sudah terkunci sangat rapat, aku megetuknya, tak juga si pemilik membukakan pintunya, beberapa waktu aku masi mencobanya, mungkin tidur di teras rumah ini dan berharap suatu waktu pintunya akan dibuka oleh sang pemilik, namun waktu yang ku tunggu itu tak pernah datang. Aku mencoba mengintip lewat jendela-jendela yang kokoh, aku melihat seorang anak kecil laki-laki berlarian di ruang tengah dekat perapian. Aku tersingkir. Hujan turun dengan derasnya, bukan dari langit, melainkan dari pelupuk mataku, sepertinya awan hitam menyelimuti seluruh ruang hatiku, aku tersadar bahwa ia sudah benar-benar pergi meninggalkan rumah lamanya, dan sudah benar-benar juga menemukan rumah barunya. Saat ini aku sedang mencoba untuk membangun rumah yang lebih kuat, kokoh, dan indah. Aku tidak akan kembali pulang atau kembali mengingat-ingat jalan menuju rumah lamaku. Aku akan membuatnya sendiri, dan semoga rumah baruku tidak pergi lagi.
0
Apr 25, 2019
Apr 25, 2019 at 5:39 AM UTC
Rumah
Untuk yang merindukan Rumah, lebih dari apapun. Rumah bukan lah tentang bangunan, ruang, pintu-pintu yang kokoh, atau jendela-jendela yang ditata. Bukan tentang jenis kayu apa yang digunakan untuk pintu-pintu, jendela-jendela, entah itu jati, sigi atau mahoni. Ini tentang apa yang hidup di dalam sana. Aku pernah memiliki rumah, dan selalu ingin kembali pulang kesana, tapi seseorang yang memiliki peranan sangat penting di rumah, pergi meninggalkan, anggaplah ia sebagai jantungnya, dan ketika jantung tersebut sudah berhenti berdetak, mati lah yang akan kau temukan. Barangkali ia sudah menemukan rumah barunya, dan benar saja. Baginya aku dan ibu hanyalah tamu, dan kau tidak pernah benar-benar menerima tamu, mereka lalu lalang disana, ia menemukan rumah barunya, bukan aku bukan juga ibu. Saat aku berusaha sekuat tenaga untuk kembali pulang dan mengingat-ingat jalan menuju rumah, aku menemukannya, namun rumah itu sudah terkunci sangat rapat, aku megetuknya, tak juga si pemilik membukakan pintunya, beberapa waktu aku masi mencobanya, mungkin tidur di teras rumah ini dan berharap suatu waktu pintunya akan dibuka oleh sang pemilik, namun waktu yang ku tunggu itu tak pernah datang. Aku mencoba mengintip lewat jendela-jendela yang kokoh, aku melihat seorang anak kecil laki-laki berlarian di ruang tengah dekat perapian. Aku tersingkir. Hujan turun dengan derasnya, bukan dari langit, melainkan dari pelupuk mataku, sepertinya awan hitam menyelimuti seluruh ruang hatiku, aku tersadar bahwa ia sudah benar-benar pergi meninggalkan rumah lamanya, dan sudah benar-benar juga menemukan rumah barunya. Saat ini aku sedang mencoba untuk membangun rumah yang lebih kuat, kokoh, dan indah. Aku tidak akan kembali pulang atau kembali mengingat-ingat jalan menuju rumah lamaku. Aku akan membuatnya sendiri, dan semoga rumah baruku tidak pergi lagi.
Continue reading...
10
She says she's fine Draws a smile from a line The secret thoughts inside All the feelings she hides Everything she wishes she could tell Every reason that she fell She smiles her life way Through each and every day Wear the mask again Like when everything began Laugh like there is no pain Live to see what she can gain Though she wears a happy face Her eyes are in a cold distant place She tries with all of her heart But she can't just be happy from the start It's going to take time She needs to let herself unwind. She's trying to let it all out Teras on her face, for help she shouts A cry heard by seemingly no one But she son't give up; She's not done She'll try to fight the battle Hope to make the world rattle To tell her story she strives Trying hard to stay alive But this is not what they see That's not who she's allowed to be Well, she's sorry, But her real life's a different story. "Look inside and who will see What it's really like to be me" She cries out loud But she's silent in the crowd When will they understand This fallen girl needs a helping hand The life you see day-to-day Is not the life she lives in every way That is a fake face, laugh, smile She's broken all the while Sorry, but you don't know the details gory Her real life is a different story.
0
Dec 20, 2011
Dec 20, 2011 at 2:03 PM UTC
a different story
she was fooled she was missunderstood she was betrayed they filled her life with tears and hatred teras ran down her cheeks like a river yet there wasnt anyone to stop that pain full river the meaningless words of other pricked her heart like fragment of a broken mirror she walked down the street alone holding her head down to the ground as she walked a drop of blood fell from her heart teras poured from her eyes like a rain but the people around enjoyed the crumbling pain no longer could she remain with the painfull past as her last tear rolled down her cheek she prayed "let me the last" and she past away from her painfull life
0
Jul 22, 2013
Jul 22, 2013 at 5:35 AM UTC
Final Tears
Sore, pasca hujan turun. Kami menyusuri setapak di pinggir hampar padi demi beberapa bungkus mi. Seperjalanan kami hanya membicarakan hal-hal kecil yang belum pernah diperhatikan masing-masing dari kami. Seakan paus di laut begitu penting dibahas dari perjalanan kecil itu. Kami bawa payung satu-satu, tapi tanpa payung sepertinya teduh sudah hadir. Kami juga pernah pulang lewat jalan kecil yang berakhir di muka ungaran setelah makan siang. Dia; temanku menatap nanar muka ungaran. Wajah kecilnya tersapu rambutnya yang mengikut angin. Ia teringat teras rumah, teh hangat, dan ibunya yang tiada. Udara bukan main sejuk, tapi ceritanya bukan main menusuk. Aku suka petrikor. Ia selalu berhasil mengundang rona juga lara. Salah satu anugerah tersederhana yang pernah tercipta seakan hanya untuku saja.
0
Apr 17, 2018
Apr 17, 2018 at 7:06 AM UTC
Petrikor