Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"temui" poems
Pukul satu, kakiku melangkah ke sudut warung kecil itu Sunyi, lalu ku pilih tempat duduk di ujung sana Setelah memesan kopi, pilot ku menggores kertas Yang sama putihnya dengan kulitmu Tak lupa kubakar ujung rokokku Yang namanya sehangat pelukanmu Lalu kuhembuskan kepulan asap tembakau Menguar sama harumnya dengan tubuhmu Sepekat nikotin di pembuluhku Ku tulis kisah kita, dari awal mula hingga akhir bersua Yang terdampar di sudut kenangan dan rindu, dan kupaksakan masuk ke dalam loker kerjaku Sehingga lupa ku adalah tabu, dan memoir adalah ***** Dirimu ku lukis dalam surat ini; "Di hingar bingar kota, dimanakah kau berada? Jika lelahmu beradu, dimakah kau berteduh? Aku disini kasih, Surabaya tempatmu lari Menolehlah jika kau ada di sudut persimpangan Mungkin, aku disitu mencari dan mencari Sisa-sisa cintamu jika itu memang terjatuh Menadah air matamu, jika itu memang tercecer. Temui aku, jika berkenan menjumpa nostalgia" Kuhembuskan uap-uap tar yang menguning Menerawang di bohlam remang-remang. Ketika kabut itu pergi, begitu pula aku Saat api ini padam, redup juga jiwaku Pukul tiga aku beranjak, Bayar dan pergi Surat itu kutinggalkan di atas meja.
0
Apr 7, 2016
Apr 7, 2016 at 2:05 AM UTC
Secarik Surat Cinta dan Sebatang Rokok Surya
Palembang, 31 Desember 2011 Ku tak berharap malam ini akan spesial Mengingat kembang api tak mau memperlihatkan sinarnya Terompet pun enggan mengumandangkan suara nyaringnya Apalagi, arang bersumpah takkan membara malam ini Jahat sekali mereka padaku  Aku sudah mengira malam ini akan menjadi bosan Ditinggal sendirian di rumah Dilarang pergi ke rumah teman Ditambah modem tak mau konek Jahat sekali kalian padaku  Baiklah Aku hanya bisa bermimpi saja Mendengar gemuruh kembang api Melihat cahaya indahnya Menghirup wangi jagung bakar Menyantap ayam panggang Dan ketika aku kenyang, aku tertidur Esok pagi Yang ku temui hanya sepi
0
Jan 2, 2012
Jan 2, 2012 at 4:39 AM UTC
Malam Tahun Baru 2012
The karvings of this awe-full fantasy amplifies, the throbbing of my freezing heart. The shapelessness of the kloud whispers, wonderful mysteries in inaudible murmurs. The blue-orange painted kanvas above. The silhouette of the mountains that hide, behind the undaunted smokes that forms. The opening that the heavens made,   to show the earth its dazzling threshold. Gradually. Sensationally. Approaching the land with unfathomable ardor. Devout of the seamless tenuous night, Gangas klangs echoes through the cold. Lumps of land deprive the moment of silence, as the people sing to the gods with reverence. Heareth me, O goddess of the krops! O god o'er all the mountains come see; How gracefully she stood before me. While the pyre gives emphasis to her figure. *Kurves of the kreseant resembles her smile; edges of her lips sink. Beautiful exkavation mark on her left cheek,* all in perfekt symmetry; perfektion in all she is. "Saya Suka Awak" I told her. that very moment: Sparkling of the stars devoured our eyes. Sweetest morose partings seeped in voiceless lullabies; in unison with symphonic notes lulling unsaid goodbyes. Through the last movement of vagueness the moment subsides. For the love that profess fades, with the chilly thin air it travels; back to the heart of the other. Oceans apart they were, yet atop the mountains. . . love blossomed.
0
Aug 16, 2014
Aug 16, 2014 at 9:33 AM UTC
Temui Cinta Di Gunung. (Love found on the mountains.)
Palembang, 27 Maret 2017 aku pernah bermimpi tentangmu kamu menggenggam erat tanganku menuntunku ke tempat yang belum pernah ku tuju sesaat kau hilangkan semua perasaan sesak dihatiku kita bergandengan berdua, ya, di dalam mimpiku kamu begitu tampan sehingga ku tak bisa berpaling memandangmu kamu seorang yang belum pernah ku temui sebelumnya kamu yang membuatku teringat kembali rasanya jatuh cinta kamu menghargai setiap aksiku kamu memandangiku bak perhiasan yang berharga kamu jua lah yang membuatku berharap ketika ku kembali ke dunia nyata
0
Mar 26, 2017
Mar 26, 2017 at 11:58 PM UTC
Untitled #3
istirahatlah untuk sejenak pendar hangatmu masih istimewa “selamat malam” mu masih ku simpan untuk malam malam yang tidak bisa ku jinak-kan jangan khawatir ibu istirahatlah untuk sejenak temui aku saat kau muda kembali dan kerut senyum mu pudar abadi
0
Apr 19, 2019
Apr 19, 2019 at 11:17 PM UTC
ibu
Dipulangmu tak kan kau temui aku Kau lupa, padaku kau hanya singgah Rumahmu bukan aku Atau kau memang belum punya rumah
0
Oct 21, 2018
Oct 21, 2018 at 1:28 PM UTC
Tempat Singgah
aku memang beda tidak seperti laki-laki yang sebelumnya kau temui aku... tidak pernah yang namanya setengah hidupku tidak pernah yang namanya setengah aku puas telah mencoba segala hal dengan tidak setengah setengah aku di ajari untuk menyelam bukan mengapung disaat ini aku membebaskan mu dengan sebebas bebasnya manusia aku membebaskan mu untuk memilih disaat aku sakit hati kau tau? itu sakit yang bukan setengah-setengah aku pernah di posisi yang serupa seperti ini mungkin sekarang aku bisa lebih menerima hal tersebut, pendewasaan mungkin? setidaknya kau tau, bagai mana perasaan laki-laki yang tidak setengah-setengah ini pecah bagai beling, dan ku injak beling tersebut sampai aku merasakan hal seperti ini lagi, bagai bunga lily aku kembali mekar.... disaat kau kembali... setidaknya kamu tahu, aku memaafkanmu tidak setengah dan tidak akan membiarkan mu sakit kembali, akibat berkelana terlalu jauh... kamu rapuh... tuhan masih baik menunjukan sesuatu itu padaku bukan kepadamu... mungkin kalo tuhan melihatkan padamu... hal yang kurasakan, akan kau rasakan juga... aku belajar untuk tidak ikut campur lagi soal hubungan barumu mungkin nanti... kamu akan sadar dan tergampar akan realita yang besar memar... bagai terkena tinju biru... bagai lebam terpukul amarah batin aku disini, berlatih menjadi laki-laki untuk bisa menerima kekuranganmu, mungkin nanti tatapan ku masih seperti pertama kita bertemu, harapan yang dulu kita bual-bualkan akan ku realisasikan, hati-hati dijalan, aku menunggu di rumah... menunggumu pulang dengan sejuta cerita yang telah kau lewati...
0
Mar 23, 2022
Mar 23, 2022 at 1:01 PM UTC
buka mata mu!!!
aku memang beda tidak seperti laki-laki yang sebelumnya kau temui aku... tidak pernah yang namanya setengah hidupku tidak pernah yang namanya setengah aku puas telah mencoba segala hal dengan tidak setengah setengah aku di ajari untuk menyelam bukan mengapung disaat ini aku membebaskan mu dengan sebebas bebasnya manusia aku membebaskan mu untuk memilih disaat aku sakit hati kau tau? itu sakit yang bukan setengah-setengah aku pernah di posisi yang serupa seperti ini mungkin sekarang aku bisa lebih menerima hal tersebut, pendewasaan mungkin? setidaknya kau tau, bagai mana perasaan laki-laki yang tidak setengah-setengah ini pecah bagai beling, dan ku injak beling tersebut sampai aku merasakan hal seperti ini lagi, bagai bunga lily aku kembali mekar.... disaat kau kembali... setidaknya kamu tahu, aku memaafkanmu tidak setengah dan tidak akan membiarkan mu sakit kembali, akibat berkelana terlalu jauh... kamu rapuh... tuhan masih baik menunjukan sesuatu itu padaku bukan kepadamu... mungkin kalo tuhan melihatkan padamu... hal yang kurasakan, akan kau rasakan juga... aku belajar untuk tidak ikut campur lagi soal hubungan barumu mungkin nanti... kamu akan sadar dan tergampar akan realita yang besar memar... bagai terkena tinju biru... bagai lebam terpukul amarah batin aku disini, berlatih menjadi laki-laki untuk bisa menerima kekuranganmu, mungkin nanti tatapan ku masih seperti pertama kita bertemu, harapan yang dulu kita bual-bualkan akan ku realisasikan, hati-hati dijalan, aku menunggu di rumah... menunggumu pulang dengan sejuta cerita yang telah kau lewati...
Continue reading...
34