Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"tempatku" poems
Sebetulnya tidak ada yang terlalu berbeda pada Jogja malam itu, namun memang spesial. Ada kamu di hadapanku, diterangi remangnya lampu kedai kecil tempat kita berdua berteduh dari gerimis dan dinginnya kota Jogja malam itu. Kamu tidak banyak bicara, sibuk dengan sepiring gudeg dan segelas wedang jahe favoritmu. Aku tidak bisa berhenti memandangi parasmu. Meski hanya diterangi lampu remang-remang, dan peluh yang basah akan air hujan, bagiku kamu tetap nomor satu. Sang pemilik kedai pun memutar piringan hitam miliknya, terlantunlah ‘Berdua Saja’. Aku masih ingat betul tatapanmu malam itu seiring dengan alunan lagu. Sederhana, teduh, dan penuh dengan kehangatan. Malam itu, aku sadar bahwa rumah tempatku pulang bukanlah bangunan bata beratap dengan satu pintu dan dua jendela. Malam itu aku sadar, Sepasang mata bola yang teduh dan hangat itulah tempatku pulang. Kamulah tempatku pulang.
0
Oct 22, 2016
Oct 22, 2016 at 12:20 AM UTC
11.00 - Aku, Kamu dan Jogja.
sungguhlah rumah adalah tempatku dan aku adalah tempat singgahmu aku tinggal dirumah rumah yang ku ciptakan agar kau bisa terus singgah aku tidak pernah lelah menjadi tempat singgahmu mendengar segala usahamu keluh kesahmu adalah hal yang kusuka saat kamu semak hati aku akan menjadi tempat bernaung membantumu menggapai rasa singgahlah jika sedang risau aku akan bersuka cita menjadi tempat singgahmu pergi lah jika sudah merasa cukup sungguh menunggu adalah hal biasa datang semaumu pergipun begitu aku adalah tempat singgahmu dan aku akan terus menyambutmu dengan meriah
0
Mar 16, 2019
Mar 16, 2019 at 2:11 PM UTC
Tempat Singgah
Jakarta, 25 April 2009 Kampung halamanku Di mana tempatku dilahirkan Di pagi hari di bulan Mei Tanggal 20 tahun 1995 Aku diberi nama Erika Ku dibesarkan Sampai aku berumur 7 tahun, aku pindah ke Ibu Kota Dengan keluargaku Ayah, Ibu, dan adik-adikku Aku tumbuh menjadi seorang remaja Dan mulai merasakan jatuh cinta Jatuh cinta pada seorang remaja pria di sekolah Dia sangat hebat dan pintar Dia adalah motivatorku Tuk meraih semua mimpiku
0
Feb 18, 2012
Feb 18, 2012 at 10:48 PM UTC
Mimpi Ku
Dia, Bagaikan angin yang menderu, Lembut dan tenang menyapaku. Bagaikan matahari, Menerangi hidupku. Di kala aku kesunyian, Dia menjelma. Di kala aku kesepian, Dia juga yg ada untukku. Di kala aku sedih, Dia tempatku mengadu. Dikala aku gembira, Dia yang aku mahu. Tidak bermakna hidupku, Tanpa dia di sisi ku.
0
Jan 16, 2015
Jan 16, 2015 at 12:12 AM UTC
Dia
"Bahwa bukan kesedihan yang nyala Di ruang mata, melainkan hakikat rela" (Kisah Soe Harry, 2 - Astrajingga Asmasubrata) aku datang padamu dengan surah yasin dan rasa ingin bertemu yang tak bisa dicukupkan oleh simpuh sujud seorang anak yang imannya sedang runtuh. ayat demi ayat menjelma percakapan kita tentang hakikat hidup dan mati: tentang hidup adalah seluruhnya ibadah dan mati adalah nikmat tertinggi. mad dan waqaf menjelma tempatku berhenti: tempat aku meluruhkan air mata saat terbayang wajahmu yang tak bisa lagi kupandangi. aku bertanya seberapa rindukah tuhan padamu tetapi tak ada jawaban meski telah aku cari di setiap lembar yang sebentar lagi menuju akhir. aku bertanya akankah kau bangun untuk sekadar menyapaku tetapi tak ada jawaban meski aku telah sampai di ayat kun fayakun.
0
Aug 3, 2017
Aug 3, 2017 at 9:47 AM UTC
ziarah