Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"teleponku" poems
sore itu dingin. kupandangi tetes-tetes air yang perlahan hinggap di atas permukaan kaca jendela secangkir teh dalam genggaman, berbalut tabahnya menahan rindu. kutunggu kabar namun tak juga kunjung datang duduk di atas kursi teras, menanti suaramu hadir di ujung pesawat. teleponku lagi-lagi kau abaikan, seperti tak pernah sekalipun terlintas minat untuk kau angkat. terlalu sibuk atau apa? biar kunanti lagi bersama rintik hujan. semenit lima menit sepuluh menit dua puluh menit lima puluh menit kutunggu telepon balasanmu namun belum juga kau izinkan aku mendengar suaramu aku diam bersama alunan musik yang dimainkan hujan, air mataku turun biarkan! aku letih berpura-pura merasa tidak sakit hati bersama lantunan rintik hujan, serta guntur yang belum pula lelah bersahutan, pada dunia mereka seolah mengatakan; alam pun bisa menyuarakan air matanya, dan memiliki jeda jujur yang panjang, berhenti berusaha ceria. kemudian aku sadar; seperti alam yang sedang menangis, aku benar-benar letih berpura-pura.
0
May 22, 2016
May 22, 2016 at 7:20 AM UTC
untuk segala hal yang letih berpura-pura
di rumahku pemandanganku semuanya kamu di teleponku pendengaranku tentang kamu pengerat berlari kamu sendiri pengerat pergi kamu tidak cari setelah kami ini ada lagi setelah kami pergi suaramu meninggi 8 pagi sampai 5 petang posisimu selalu terlentang dibelai-belai penuh kasih sayang bila telat jam makan kau mengerang sembari menonton sinetron di TV sembari menghitung sisa uang jajan kemarin sembari memakan indomie ketika pulang dini hari semuanya, kau jadi saksi
0
Jul 27, 2018
Jul 27, 2018 at 5:56 PM UTC
+bubu