"segar" poems
Palembang, 17 Desember 2011
Aku hidup dengan nafas mu Bapak, Ibu
Aku ada karena Dia Yang Maha Satu
Namun raga ini aku yang bawa
Jiwa ini aku yang menjaga
Hidup ini aku yang memilih
Cerita ini aku yang jalani
Aku tumbuh bersama nafas mereka
Aku termotivasi karena mereka juga
Nafas kita menyatu
Mereka menghela nafas kebahagianku
Aku menghela nafas kebahagian-Mu
Nafas kami juga nafas mu, Bapak.. Ibu..
Kau pelita kehidupan
Obor benderang di gelap ku
Bekal mengenyangkan di lapar ku
Oasis indah nan segar di dahaga ku
Tak akan ada aku tanpa-Nya
Tak akan hidup aku hingga sekarang tanpa Bapak dan Ibu
Tak akan aku bertahan tanpa diriku sendiri
Dan aku hidup tuk bersama mereka
Aku yang menentukan
Dia tinggal menyetujuinya
Bapak Ibu hanya bmendoakan
Dan sebentar lagi mereka ku gapai
(it’s because I Love Shane, Mark, Kian and Nicky)
Dec 19, 2011
Dec 19, 2011 at 1:41 AM UTC
Kudengar adzan berkumandang
Ah! Subuh datang
Membangunkanku dari istirahat malam
Mengecoh mimpi indah malam itu
Belum, kubelum siap bangun
Tapi semesta mendoktrinku
Kuharus bangun dan terjaga
Kuiyakan saja mereka
Sesaat pagi tiba
Kelembutan angin memuaskanku
Segar aroma udara memenuhiku
Pipit mericau ramai
Sesal tak ada dalam benakku
Hanya puas dan sentosa
Kutak menyesal bangun subuh
Aku ingin pagi ini bujur
Tiba-tiba sengat datang
Tolong! Tolong aku
Siang datang mencuri pagiku
Aku mulai belingsatan
Panas matahari mengantup
Aku bergidik
Meratap
Siang jahat!
Aku kutuk siang
Namun ia tak mau pergi
Ia malah semakin menjadi-jadi
Aku hilang kendali
Aku marah
Kembalikan pagiku!
Aku memohon pada siang
Aku menangis
Bahkan aku bersujud
"Siang, aku rindu pagiku"
Aku rindu ricauan pipit pagi itu
Aku kehilangan angan-angan
Novita Olivera.
Apr 30, 2016
Apr 30, 2016 at 1:19 PM UTC
Blues Haiku
Freddie King’s guitar
Waits for a big leg woman
Fishnets adorn mine
Self Portrait LIII
Reading street hieroglyphics
comfortable in it’s dark caress
Buildings like promises
Broken and lost
The wheels spinning
My mp3 jazz loop
Sing that skit skat baby
The things I tell my pillow makes it blush
Self Portrait 54
Weekend
Books at half mast
Reading a book on Af Am essays
Wondering what happened to
The ‘Dream”
Monday
Listening to Bob Segar and Snoop
Tatas at attention mode
Bopping to the
Unemployment office
to see a lady about a check
and a “Dream Deferred”
Sep 16, 2012
Sep 16, 2012 at 11:10 AM UTC
Tergetar nadi ku saat teriakanmu
Tersenyum aku saat melihatmu
Bagai mentari pelawan gelap
Bagai jiwa ku yang amat tenang
Saat terjunan air membasuh raga
Alangkah indahnya pelangi melingkar
Bercahaya terang amat indah warnanya
Begitu segar sambil menatapnya
Tatapan itu tak sama
Dengan saat aku menatapmu
Di hati ku hanya kau yang terindah
Tak tertandingi dari apapun
Cinta...
Segelas darah ku buang
Selaut air mata ku tumpahkan
Saat ku lihat kini kau berada di Surga
Created by Aridea Purple
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:45 AM UTC
Masih kubayangkan seperti apa jadinya aku apabila suatu saat aku benar-benar bisa memiliki dia. Mencintai dia begitu dekat. Sedekat tarikan napas dari setiap udara segar yang aku hirup di pagi hari. Masuk ke dalam paru-paru. Kemudian bercumbu di sana.
Benar apabila aku memang sangat ingin bisa memiliki, segala hal yang mungkin tidak pernah bisa aku miliki.
Begitu naif apabila kita sedang belajar mencintai seseorang.
O wajahnya. O matanya. O hidungnya. O pipinya. O bibirnya. O rambutnya yang panjang tergerai jatuh di bahunya. Begitu jelas, hingga mimpi seperti realita.
Dia begitu jelas terlihat. Dia begitu nyata, bahkan kurasakan sesuatu berdetak begitu cepat dan kencang, seperti angin yang menyibak rambutnya.
Senyumnya membuat segala yang hancur menyatu kembali, tetapi tidak, tidak untuk setiap kali.
Aku masih mencintainya, begitulah cinta yang semestinya aku akan katakan apabila memang dia benar ada di sini. Tetapi dia tidak di sini. Dan aku tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintainya.
Dia begitu dekat, tetapi juga begitu jauh. Dia jauh dari mataku. Dan dia begitu jauh untuk bisa merasakan perasaanku padanya.
Mar 23, 2021
Mar 23, 2021 at 5:57 AM UTC
hembus aku nafas kelelahan
membaca bait cinta yg ditulis para muda
masing-masing melempar rasa
namun siapalah aku
mengatakan tidak pada rasa indah itu?
resah kamu mungkin tenang untuk aku
tatkala dunia goncang berebut harta
aku disini masih keliru tentang rasa
kemudiannya, aku melihat lirik mata anak muda yang sedang bebas teroka dunia
indah dan segar matanya
bersinar umpama harapan cerah sentiasa menanti mereka
sempat aku pesan anak muda,
teruslah berjuang demi rasamu
sematkan cinta kepada setiapnya
agar mudah kita kemudian hari kelak
kerana aku pasti
cinta yang tumbuh itu akan bersemi
dan terus ramai...
hingga satu hari, kan seluruh dunia tersenyum.
maka, teruslah.
teruslah...menulis..
944pm
oct 2nd 17
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 9:49 AM UTC
Diantara waktu pergi dan pulang
Selamat pagi sapanya dan demikian juga balasku
Segar melihat senyum dipagi yang kelabu
Mendung mengantung seolah siap untuk terjun
Silahkan wahai hujan
basahi bumi ku tercinta ini dengan kesegaran
tapi kalau bisa jangan terlalu banyak
kasihan mereka yang selalu susah
dengan kehidupan banjir dan kuyup
Sore kembali pulang juga dengan hujan
seolah mau berkata
Tidak ada yang dapat menahanku
kecuali Tuhan Sang Khalik
Dec 2, 2016
Dec 2, 2016 at 5:21 AM UTC
Dia yang memberikan irama obrolan begitu hangat di penghujung fajar,
Aku terlarut di dalamnya
Aku meminta lagi irama itu di fajar selanjutnya
Aku adalah oasis yang membantu melepaskan dahaganya,
kala ia berkelana di gurun nan tandus
Namun setelah segar kembali ia menyumbat mata air dengan pasir
Lalu ia berkelana kembali
Tuk mencari oasis selanjutnya, tuk menyumbat yang lain-lainnya
Dia lalu kembali ke jalan berkerikil menuju rumahnya
Dikala ia harus memilih di antara menyimpan kucing yang ia temukan di dalam sebuah peti emas di pinggir jalan
Atau dia akan pergi dengan peti emas dan meninggalkan kucing itu tak bertuan
May 6, 2017
May 6, 2017 at 11:12 AM UTC
Living now only on prior imagery I summon them up from their bed
Visions of how they looked to me when they were dead
Thinking of how they must now look their filling my head.
Waiting for the day when I can make my life complete
Exhuming his bones I want the bag back that I put at his feet
Inside you will find trinkets, pictures and also a devil’s treat.
Opening your casket because you’re inside and I want to see
Giving you a fresh breath of air like the times I refilled your A/C
The crypt keeper they say I was dog dollar and you Richie Rich to me.
I remember the song when I was told you died at 45 years of age
To the hospital drinking in the back seat I’m angry and need to rage
Turn up the volume please so I can hear Bob Segar’s Turn The Page.
If I knew then just what it is I know now you brother would be proud
Keeping you alive I tell everyone about you I say it clear and I say loud
I love blending in public places like a chameleon I hide in the crowd.
Happy Birthday, Rest in Peace, See you Soon!
(SirCARSr 4-21-12)
Apr 24, 2013
Apr 24, 2013 at 11:47 AM UTC
Ya se han roto las ataduras,
sólo la noche me rodea,
me va robando la memoria,
me acuna para que me duerma.
Ahora que ya no la contemplo
para robarle su belleza.
Ahora que siento en mí el cansancio
de nuestras pobres razas viejas.
Ahora que lucho y me rebelo
contra su mansedumbre eterna
y me acuerdo de que algún día
fui tan sin tiempo como ella,
¡qué monólogo desbordado,
qué soliloquio sin respuesta,
qué deseo de renacerme,
de entender y de que me entienda,
de borrar pasado y futuro,
de segar mi memoria entera!
Luego, arrojar al ***** pozo
lo que de mí evoca y recuerda:
cojín de nieblas matinales
donde apoyaba la cabeza.
Repetimos las mismas cosas,
recorremos aquellas sendas
por donde todos los humanos
dejaron gritos, ecos, huellas.
Son las palabras angustiadas
que un día oyó al nacer la tierra:
«húmedo beso, vida, muerte,
nada importa, me voy y quedas,
ayer desnudos en el campo
y hoy se caen solas las cerezas».
Palabras viejas y cansadas
que nosotros creímos nuevas,
recién nacidas para el canto,
para una dicha siempre nuestra.
Y la noche me va matando,
me acuna para que me duerma.
En cada instante mío pone
siglos de luna, alta y sangrienta.
Nada me importa que yo siembre
y que otros cojan la cosecha.
Pero morirme sin rebelarme,
someterme sin resistencia,
ser por los siglos de los siglos
sólo luz o sólo tinieblas,
irme cegando de hermosura
hasta dejar de ser materia,
aunque mi premio sea un día
mirar por dentro las estrellas...
Hoja de chopo, onda de río,
sangre mezclada con la tierra.
Y que mi forma sea el barro
que una mano mortal modela.
Niño que juega desnudito,
mínima brizna de la hierba,
todos los peces de los mares,
los animales de la tierra.
Saber que vivo, que palpito,
que me enloquezco en la carrera,
que nado mares y anchos ríos,
que escalo cimas, salto cercas,
que desde el fondo de las noches
hay pesadumbre que me acecha.
Sentir en mí todos los soles,
todos los gozos y las penas,
todos los vientos que me mueven,
los dolores que en mí hacen presa…
Sentir, por fin, llegar el alba,
su melodía limpia y fresca,
y barrernos las sombras turbias
que oscurecen nuestras cabezas,
y beber las lejanas brisas
que nos alejan de la tierra
maniatados y adormecidos,
sin saber a dónde nos llevan...
1k
¿Quién me compra una naranja
para mi consolación?
Una naranja madura
en forma de corazón.
La sal del mar en los labios
¡ay de mí!
La sal del mar en las venas
y en los labios recogí.
Nadie me diera los suyos
para besar.
La blanda espiga de un beso
yo no la puedo segar.
Nadie pidiera mi sangre
para beber.
Yo mismo no sé si corre
o si deja de correr.
Como se pierden las barcas
¡ay de mí!
como se pierden las nubes
y las barcas, me perdí.
Y pues nadie me lo pide,
ya no tengo corazón.
¿Quién me compra una naranja
para mi consolación?
786
Teary eyes
Walking bodies
Working stiffs
Echoing
Losing
Everything
Originality
Disappears
Factory motions
Zoloft emotions
One sidewalk
Looks the same
One uniformed man
Looks the same
Loosing names
For sign in numbers
Citizens are just social security cards
Like Bob Segar said
I feel like a number
And every stranger is just a digit more
Jan 14, 2015
Jan 14, 2015 at 1:31 PM UTC
MALAM yang indah, bulan sabit tiba-tiba hilang dari pandangan.
KLISE; bunyi burung malam dibarengi meong kucing-kucing kecil, bunyinya seperti +-@$"'=,/::!
aku diam, aku tak sanggup gugup atas dua jiwa yang sudah ditelan bersama potongan tuna setengah segar. kutukan penantang tuhan. nging
Sep 21, 2020
Sep 21, 2020 at 8:54 AM UTC
merah jambu bukan lagi warnaku
meski masih ada putih
hitam juga yang aku pilih
7 tahun telah aku rasakan mati
cukup tiga, mungkin jiwaku tiada lagi baki
sering ku ingin pulang
bertinta di atas muka surat yang sama
tiap kali itu juga lemas aku berperang
tenat kepalaku melawan apa yang di minda
rapat aku tutup mata yang segar
mendambakan saat ia terbuka
sepi di dalam penuh di luar
melakar noktah di sudut sengsara
kerana begitu aku rindu
waktu diriku dihiasai merah jambu.
May 3, 2020
May 3, 2020 at 2:31 PM UTC