Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"sederhana" poems
Sebetulnya tidak ada yang terlalu berbeda pada Jogja malam itu, namun memang spesial. Ada kamu di hadapanku, diterangi remangnya lampu kedai kecil tempat kita berdua berteduh dari gerimis dan dinginnya kota Jogja malam itu. Kamu tidak banyak bicara, sibuk dengan sepiring gudeg dan segelas wedang jahe favoritmu. Aku tidak bisa berhenti memandangi parasmu. Meski hanya diterangi lampu remang-remang, dan peluh yang basah akan air hujan, bagiku kamu tetap nomor satu. Sang pemilik kedai pun memutar piringan hitam miliknya, terlantunlah ‘Berdua Saja’. Aku masih ingat betul tatapanmu malam itu seiring dengan alunan lagu. Sederhana, teduh, dan penuh dengan kehangatan. Malam itu, aku sadar bahwa rumah tempatku pulang bukanlah bangunan bata beratap dengan satu pintu dan dua jendela. Malam itu aku sadar, Sepasang mata bola yang teduh dan hangat itulah tempatku pulang. Kamulah tempatku pulang.
0
Oct 22, 2016
Oct 22, 2016 at 12:20 AM UTC
11.00 - Aku, Kamu dan Jogja.
Palembang, 17 Desember 2011 Aku kehilangan emosi ku Ketika semua terlepas hilang Bukan aku Bukan Bukan Bukan aku Merenung . . . Hanya ada aku Di ruang hampa Di negeri antah berantah Menunggu cahaya Tuk menarikku keluar Ke terik sinar mentari terpanas Tuk memerah peluh sendiri Karena terlalu lama beku akan kesunyian Pernah ku bermimpi nirwana Indah, tak terharga Dibuat dari batu ketaatan Dilapisi emas keimanan Dipagari kayu keikhlasan Sederhana, tak menarik Sulit pun tuk di huni Aku sudah di sini Di tempat aku berada Di gedung mewah penuh kesenangan Dibuat dari berlian kemusyrikan Dilapisi perak kemunafikan Dipagari besi keserakahan Aku sudah terlanjur di sini Mati rasa
0
Dec 19, 2011
Dec 19, 2011 at 1:39 AM UTC
Mati Rasa
perjalananmu pasti cukup melelahkan, bahkan menjadi buta pun bisa melihatnya dengan baik. ini, disini, rebahkanlah kekhawatiranmu yang semakin hari menjadi gusar dalam doa-doa yang tabah. akan kuganti dari setiap amin yang kamu titipkan pada malam diam-diam. hati yang kemarin kamu pertaruhkan untuk menemukanku dalam mereka laut yang kesulitan kamu pelajari siapa Tuhannya, yang telah bersusah payah kamu coba taklukkan. tidak apa-apa. tenggelamlah sesekali, mungkin lima, teguk pilunya, dan pelajari dengan bijak. pada akhirnya, jiwamu yang diberi nama manusia akan piawai membawa diri. paling sedikit, penjaga yang tahu kapan dan untuk apa waktunya sepadan dengan raga yang tersedia. aku akan menerima sebutan sialan, menyebalkan! dalam hidup bagai keputusasaan jarum dalam jerami dengan senang hati, malah. setidaknya, kamu adalah pelaut yang cukup handal karena aku, dari jatuh-bangun-tenggelam-terbentur-salah nama dan angkatan telepon yang kesalnya harus diangkat. bahkan, syukurku akan terpenuhi menjadi sebuah tetes melengkapi lautanmu. aku adalah satu tetes yang akan cukup membuatmu rumpang kapan saja, yang akan kamu kejar dengan bodohnya kapan saja. katakan saja terdengar ganjil. siapa peduli. aku tidak akan menjadi mudah karena aku adalah pembalut kulit dan hati terlukamu dan akan selamanya menjadi tugasku. namaku lebih dari sebuah harap. aku tak akan pernah dan ingin menjadi harap, sebab payah adalah nama kedua dari harap. aku adalah, “kamu bisa mempunyai bagian besar dari kue ini.” atau, “tentu saja. aku punya alasan untuk mengemudi dengan hati-hati dan kembali.” namaku sederhana. sederhana dan akan selalu nyaman. setelah hari itu yang penuh prasangka dan tanda tanya dari dunia yang kamu kenal dan tidak. namaku adalah seorang pelindung dan pahlawan yang gigih nafasnya, nama yang ketika rindumu akan lapar dan kehausan menemui pelepasnya. aku adalah kemenangan dan hadiah kemurahan hati. rumah.
0
Jan 18, 2019
Jan 18, 2019 at 8:53 AM UTC
Akan Ku Peluk Apa yang Berantakan Darimu
perjalananmu pasti cukup melelahkan, bahkan menjadi buta pun bisa melihatnya dengan baik. ini, disini, rebahkanlah kekhawatiranmu yang semakin hari menjadi gusar dalam doa-doa yang tabah. akan kuganti dari setiap amin yang kamu titipkan pada malam diam-diam. hati yang kemarin kamu pertaruhkan untuk menemukanku dalam mereka laut yang kesulitan kamu pelajari siapa Tuhannya, yang telah bersusah payah kamu coba taklukkan. tidak apa-apa. tenggelamlah sesekali, mungkin lima, teguk pilunya, dan pelajari dengan bijak. pada akhirnya, jiwamu yang diberi nama manusia akan piawai membawa diri. paling sedikit, penjaga yang tahu kapan dan untuk apa waktunya sepadan dengan raga yang tersedia. aku akan menerima sebutan sialan, menyebalkan! dalam hidup bagai keputusasaan jarum dalam jerami dengan senang hati, malah. setidaknya, kamu adalah pelaut yang cukup handal karena aku, dari jatuh-bangun-tenggelam-terbentur-salah nama dan angkatan telepon yang kesalnya harus diangkat. bahkan, syukurku akan terpenuhi menjadi sebuah tetes melengkapi lautanmu. aku adalah satu tetes yang akan cukup membuatmu rumpang kapan saja, yang akan kamu kejar dengan bodohnya kapan saja. katakan saja terdengar ganjil. siapa peduli. aku tidak akan menjadi mudah karena aku adalah pembalut kulit dan hati terlukamu dan akan selamanya menjadi tugasku. namaku lebih dari sebuah harap. aku tak akan pernah dan ingin menjadi harap, sebab payah adalah nama kedua dari harap. aku adalah, “kamu bisa mempunyai bagian besar dari kue ini.” atau, “tentu saja. aku punya alasan untuk mengemudi dengan hati-hati dan kembali.” namaku sederhana. sederhana dan akan selalu nyaman. setelah hari itu yang penuh prasangka dan tanda tanya dari dunia yang kamu kenal dan tidak. namaku adalah seorang pelindung dan pahlawan yang gigih nafasnya, nama yang ketika rindumu akan lapar dan kehausan menemui pelepasnya. aku adalah kemenangan dan hadiah kemurahan hati. rumah.
Continue reading...
11
kau putar lagi satu lagu bernada manis dan mudah didengar itu, sederhana. berbeda dengan musik-musik yang biasa kusimpan di playlist-ku, yang nadanya keras dan isinya tak mudah dicerna. kumpulan seni berisi teka-teki. sejenis indie, mereka bilang. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda; kamu yang begitu lembut dan aku yang mereka beri label seorang laki-laki berwajah datar, tak berperasaan. salah. kukatakan sekali lagi, salah. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda, yang juga saling tarik-menarik tak pernah mau lepas pada waktu yang sama. dengan segala perbedaan yang mereka pikir terlalu sulit untuk dipersatukan, logika dan imajinasi, bagai minyak dan air, aku dan kamu memilih untuk saling membenahi satu sama lain. isi pikiranmu adalah buku berjalan bagiku dan ruang kosong dalam sudut otakku yang biasa kau sebut sebagai ‘ruang khayal’-ku, kau jadikan ia sebagai salah satu guru dalam hidupmu. dari sana kau pelajari bagaimana caranya mengenali berbagai nada musik dan segala makna dari balik kiasannya yang beresonansi, kisah-kisah yang hanya dapat hidup dalam dimensi imajinasi, serta inspirasi-inspirasi yang dapat kau cari dari peristiwa sehari-hari. aku dan kamu tak pernah sama, kamu satu perempuan berambut lembut dengan suara yang lembut, isi pikiran yang berjalan mulus. orang-orang bilang kamu perempuan berpendidikkan, jenis perempuan berwawasan luas, berjiwa luas. sementara aku laki-laki penggila musik yang menganggap seni adalah satu hal yang perlu ditekuni seuntuhnya. menjadi musisi adalah satu impian besar yang membuatku tak pernah berhenti berlari untuk mencapainya dan kamu pendukungnya, nomor satu. kamu ingin jadi jurnalis dan aku ingin jadi pemusik. aku dan kamu berasal dari ranah yang jauh berbeda, namun disatukan karena cinta.
0
Dec 9, 2017
Dec 9, 2017 at 9:34 AM UTC
satu lagi kisah singkat yang sempat terbuang
kau putar lagi satu lagu bernada manis dan mudah didengar itu, sederhana. berbeda dengan musik-musik yang biasa kusimpan di playlist-ku, yang nadanya keras dan isinya tak mudah dicerna. kumpulan seni berisi teka-teki. sejenis indie, mereka bilang. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda; kamu yang begitu lembut dan aku yang mereka beri label seorang laki-laki berwajah datar, tak berperasaan. salah. kukatakan sekali lagi, salah. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda, yang juga saling tarik-menarik tak pernah mau lepas pada waktu yang sama. dengan segala perbedaan yang mereka pikir terlalu sulit untuk dipersatukan, logika dan imajinasi, bagai minyak dan air, aku dan kamu memilih untuk saling membenahi satu sama lain. isi pikiranmu adalah buku berjalan bagiku dan ruang kosong dalam sudut otakku yang biasa kau sebut sebagai ‘ruang khayal’-ku, kau jadikan ia sebagai salah satu guru dalam hidupmu. dari sana kau pelajari bagaimana caranya mengenali berbagai nada musik dan segala makna dari balik kiasannya yang beresonansi, kisah-kisah yang hanya dapat hidup dalam dimensi imajinasi, serta inspirasi-inspirasi yang dapat kau cari dari peristiwa sehari-hari. aku dan kamu tak pernah sama, kamu satu perempuan berambut lembut dengan suara yang lembut, isi pikiran yang berjalan mulus. orang-orang bilang kamu perempuan berpendidikkan, jenis perempuan berwawasan luas, berjiwa luas. sementara aku laki-laki penggila musik yang menganggap seni adalah satu hal yang perlu ditekuni seuntuhnya. menjadi musisi adalah satu impian besar yang membuatku tak pernah berhenti berlari untuk mencapainya dan kamu pendukungnya, nomor satu. kamu ingin jadi jurnalis dan aku ingin jadi pemusik. aku dan kamu berasal dari ranah yang jauh berbeda, namun disatukan karena cinta.
Continue reading...
1
"Apa benar, khayalan bisa menjadi kenangan sekuat kenangan dari kenyataan?" Aku berandai-andai menanyakan itu pada Tuan Lalu sekiranya Tuan bertanya, "Puan, perihal apakah gerangan?" Akan kujawab, "Tuan, tak sadarkah kita terjebak?" Tuan bergeming. "Tuan, jika saja kau tahu; perihal kita tiada sederhana”
0
Aug 24, 2019
Aug 24, 2019 at 7:00 AM UTC
Kepada: Tuan
Aku membencimu, karena kau buatku benci akan diri. Ya, benci tidak bukan adalah rasa yang buruk. Tetap saja kubenci. Aku benci Untuk semua indera kesepian yang kerap kau tebar, oh hanya untukku. Atas semua rasa ketidakbisaan yang tentu diberi tanpa sadarmu. Kepada semua cita keserupaan yang dengan sederhana menyeret sendu. Dalam semua ragam roman yang buatku mati kutu. Lalu yang terpenting... dengan semua daya tarikmu. Tidak, kau keliru. Aku tidak memujimu, sudah jelas tertera; aku membencimu. Ugh, kau buatku sesak sampai kepayang Tersengal-sengal, girang.
0
Jan 19, 2015
Jan 19, 2015 at 9:41 AM UTC
Roman Kepunyaanmu
Andaikata aku adalah seekor burung Terbang membentangi praja Menapaki ribuan ruang impian Melekang langit senja nan dekat Tak akan kulakukan Andaikata aku adalah seekor burung Yang tentu ialah Aku rindu dengan potret otentikku Kedua kaki, kedua tangan, akal dan pikiran Andaikata aku adalah manusia Menyandang kedua sayap putih bak malaikat Tanpa lelah, tanpa sakit, tanpa keluh Peran satria menjaga fisik juga hati Angan jauh sebab manusia itu aku Andaikata aku berjaya nanti Ada di puncak emas dengan berlian sebagai udaraku Seraya senyum lagak hormat Akankah aku merindu sosokku yang sederhana kala itu?
0
Jun 4, 2018
Jun 4, 2018 at 12:01 PM UTC
Realitas Bunga Tidur
Merengkuh Derita ini Derita dunia yang kotor ini Merasa angkuh Diriku berbicara Depanku menatap kaca Tatapan itu penuh pilu Tak dapat ku gunakan kata Tak mengerti aku akan metafora Aku hanya mencari indahnya dunia Walau itu keindahan sederhana
0
Sep 4, 2014
Sep 4, 2014 at 9:09 PM UTC
(INA) Merengkuh
Untukmu selembar kertas Tidakkah kamu pernah berpikir Ini tak semudah ketika aku menggambar garis atau titik Ini lebih rumit dari pada gulungan tali Aku bahkan tidak bisa membuat sketsanya Tapi aku coba merangkai kata demi kata dengan pena kesukaanku Itu semua adalah mimpiku mungkin hanya Dia dan kau saja yang paham aku menulis semuanya, sederhana saja namun ku tahu itu tak akan cukup selalu kuselip dalam doa semua harap Aku hanya percaya.. suatu hari, suatu saat mimpiku yang pernah ku pahat akan terwujud
0
Aug 20, 2017
Aug 20, 2017 at 1:00 PM UTC
Menulis Mimpi
benar adanya, bahagia itu sederhana. seperti berlarian di pekarangan monumen nasional sore itu. seakan kita ada di sana untuk yang pertama dan; mungkin untuk yang terakhir kali. kumohon, jangan ada yang berubah. tetap lah menjadi sederhana. seperti kala kau tersenyum setelah melahap makanan kesukaanmu. seperti kala kau bersenandung ketika mendengarkan lagu idola lamamu.
0
Feb 26, 2018
Feb 26, 2018 at 5:39 AM UTC
sederhana
Kalau bisa sebenarnya aku ingin mencintaimu dengan sederhana saja Seperti mendapatimu belum sepenuhnya sadar di sampingku, lalu mengecup lembut keningmu. Tak peduli waktu yang terus memburu, jarak yang tak terlipat oleh rindu yang demikian banyaknya. Namun sayangnya.. hidup tak bisa sesederhana itu Kalau bisa sebenarnya aku ingin mencintaimu dengan sederhana saja Bersandar kapanpun yang ku inginkan tak perlu lebih dulu mengundang temaram, Mendekat kapanpun bibirku rindu di kecup, Memeluk kapanpun aku rindu detakmu yang cepat. Namun sayangnya, ingin tak bisa semuanya terpuaskan. Kalau bisa sebenarnya aku ingin mencintaimu dengan sederhana saja Siap sedia di sampingmu membisikkan bahwa kamu tak pernah sendirian, Kamu tak akan ku biarkan gundah tanpa kawan. Namun sayangnya, kita bukan ikatan pasti. Maka sayangku, dengan segala kerumitan dan keadaan yang tidak menguntungkan inginku Aku berusaha tetap mencintaimu Dengan keberadaanmu yang jarang aku jadi menghargai setiap pertemuan, Dengan temaram yang menyenangkan aku mencoba berteman dengan gulita. Dengan ikatan yang tak pernah ada aku berusaha setia Bukankah itu intinya? Aku tak akan pernah mencintaimu dengan terpaksa Kamu tak merantai kaki-kakiku, Kamu tak menutup mataku, Aku bisa pergi kapanpun yang aku inginkan. Namun lihatlah sayang, aku tetap tinggal di sisimu.
0
Sep 7, 2018
Sep 7, 2018 at 7:46 AM UTC
Untitled
Kenanganku dalam bayangan itu sederhana Seolah semesta tak ingin aku disakiti Memberi kejutan dibawah sadarku Kamu pasti tahu pangeran beruangku Dia memegang tanganku Dan tidur di dekatku Seolah aku ini orang yang berharga untuknya Entah kenapa malah pangeran beruang Bukan pangeran kimia yang muncul Mungkin semesta memang suka bercanda
0
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 11:37 AM UTC
Mimpi tentang pangeran
aku ingin lebih banyak lagi, lebih banyak menangis menangis oleh sekeping lagu yang melintas, komidi gambar dengan alur sederhana, buku dengan pancawarna cerita aku ingin lebih banyak lagi, mencecap segala rasa yang tak sempat kuarungi bukankah, seniman begitu hebat?
0
Aug 15, 2022
Aug 15, 2022 at 12:08 AM UTC
Menangis
Pak Sapardi, tolong ajari aku cara mencintai dengan sederhana. Ketika segala hal adalah rumit dan kesedihan berada di ujungnya.
0
Jul 19, 2020
Jul 19, 2020 at 12:23 PM UTC
Selamat Jalan Pak Sapardi