Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"rusuk" poems
"Dalam segala manis dan tragisnya perkawinan, Kami sebagai perempuan, mati berkali-kali Dan lahir pula kembali— Tentu juga berkali-kali Disaat kau menyaksikan puluhan katup bibir yang mengatakan “Sah.” Disaat itu pula, Kau seakan disadarkan Bahwa kau tak lebih dari pisau yang harus terus diasah Bukan supaya tajam untuk dapat menikam, Namun supaya siap mencacah manis-pahitnya peristiwa kehidupan menjadi dadu-dadu kecil Lalu menanyakan untuk menyerapnya kembali Untuk diri sendiri Kau, Mati dan lahir lagi, Bukan sebagai isteri, Namun seutuhnya sebagai wanita yang mengayomi Sampai akhirnya kematian itu berdiri di depan pintu Untuk menjemputmu lagi Disaat kau duduk dan melihat pandangan puluhan manusia Yang seakan-akan mengatakan, “Berpandailah dengan urusan dapur.” Mereka dengan bodohnya menutup mata kepada fakta Bahwa sekarang, kau adalah busur Yang dengan senantiasa akan mengarahkan kemana anak-anak panahmu melaju Kau, bertulang rusuk dan adalah tulang rusuk Bukan tulang rusuk dari lanangmu, Namun dari rumah segala rumah Disaat insan keci itu menangis lahir, Disitulah Tuhan dengan segala kuasa-Nya menyemukakanmu Dengan kelahiran yang absolut. Mutlak. Nyata. Tanpa majas atau embel-embel. Kau, bukan hanya wanita bersusu yang menyusui; Walau serapanmu terhadap puji-kejinya kehidupan Akan juga diserap oleh ‘anak panah’ mu Melalui air susu dan tutur katamu Disaat kau melahirkan anak manusia, Tentunya tanpa tanda tanya, Kau betul-betul Lahir kembali."
0
Apr 18, 2019
Apr 18, 2019 at 10:25 PM UTC
Lahir Matinya Perempuan
"Dalam segala manis dan tragisnya perkawinan, Kami sebagai perempuan, mati berkali-kali Dan lahir pula kembali— Tentu juga berkali-kali Disaat kau menyaksikan puluhan katup bibir yang mengatakan “Sah.” Disaat itu pula, Kau seakan disadarkan Bahwa kau tak lebih dari pisau yang harus terus diasah Bukan supaya tajam untuk dapat menikam, Namun supaya siap mencacah manis-pahitnya peristiwa kehidupan menjadi dadu-dadu kecil Lalu menanyakan untuk menyerapnya kembali Untuk diri sendiri Kau, Mati dan lahir lagi, Bukan sebagai isteri, Namun seutuhnya sebagai wanita yang mengayomi Sampai akhirnya kematian itu berdiri di depan pintu Untuk menjemputmu lagi Disaat kau duduk dan melihat pandangan puluhan manusia Yang seakan-akan mengatakan, “Berpandailah dengan urusan dapur.” Mereka dengan bodohnya menutup mata kepada fakta Bahwa sekarang, kau adalah busur Yang dengan senantiasa akan mengarahkan kemana anak-anak panahmu melaju Kau, bertulang rusuk dan adalah tulang rusuk Bukan tulang rusuk dari lanangmu, Namun dari rumah segala rumah Disaat insan keci itu menangis lahir, Disitulah Tuhan dengan segala kuasa-Nya menyemukakanmu Dengan kelahiran yang absolut. Mutlak. Nyata. Tanpa majas atau embel-embel. Kau, bukan hanya wanita bersusu yang menyusui; Walau serapanmu terhadap puji-kejinya kehidupan Akan juga diserap oleh ‘anak panah’ mu Melalui air susu dan tutur katamu Disaat kau melahirkan anak manusia, Tentunya tanpa tanda tanya, Kau betul-betul Lahir kembali."
Continue reading...
39
Aku menciptakan bingkisan berbentuk hati, membungkusnya dalam rusuk rapat melengkung agar tidak ada celah sedikitpun untuk kesedihan itu terlihat padamu. Puisi-puisi kita pernah menjadi hadiah untuk duka dan luka yang samar-samar, lalu air mata adalah bentuk kebahagiaan itu sendiri. Kita adalah kado untuk perayaan perpisahan di tiap hidup seseorang. Awal kita adalah degup jantung kencang yang membuat rasa penasaran, sebelum akhirnya napas kita tersengal-sengal.
0
Jan 31, 2021
Jan 31, 2021 at 1:59 AM UTC
KITA ADALAH KADO UNTUK PERAYAAN PERPISAHAN