Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"rumahmu" poems
Palembang, 28 Juni 2012 Haruskah ku hapus semua fotomu dari folderku? Haruskah ku buang semua gambarmu dari kotakku? Haruskah ku remove kamu dari teman facebookku? Haruskah ku unfollow kamu dari twitterku? Haruskah ku kubur dalam-dalam kertas puisi untukmu? Haruskah ku tutup semua jejaring sosialku? Haruskah ku berjalan ke seluruh dunia, menghafal semua nama negara tuk melupakan namamu? Haruskah ku menyelami seluruh samudera, mengingat semua rupa makhluk laut agar bisa melupakan rupa wajahmu? Haruskah aku menyusuri padang pasir serta pegunungan, berjalan tanpa arah supaya melupakan jalan rumahmu? Haruskah aku terjun dari tebing tertinggi, atau dari jurang terdalam, supaya kepalaku terbentur dan melupakan semua tentangmu? Haruskah? Karena aku sudah tak sanggup lagi di sini Hidup denganmu, dengan kamu
0
Jul 6, 2012
Jul 6, 2012 at 9:06 PM UTC
Haruskah?
Bapak, aku ingin pulang Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah Tapi kau telah mempunyainya. Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak. Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan. Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu; yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini. Kau tak akan menemukannya disana Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu Kau adalah rumahmu Tapi kau adalah bukan tempat singgah Badanmu bak ruang luas tak terbatas Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka Ribuan pintu tersebut tertutup adanya Terkunci dengan rapat Namun kuncinya telah kau telan   Dibalik pintu itu, Lagi-lagi ribuan misteri Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran Tersimpan terlalu aman Jiwamu adalah fondasi Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan Namun parasmu, anakku sayang, Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap Hati-hati dalam memberi izin Jaga rumahmu Bersihkan Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
0
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 1:23 AM UTC
RUMAH
Bapak, aku ingin pulang Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah Tapi kau telah mempunyainya. Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak. Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan. Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu; yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini. Kau tak akan menemukannya disana Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu Kau adalah rumahmu Tapi kau adalah bukan tempat singgah Badanmu bak ruang luas tak terbatas Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka Ribuan pintu tersebut tertutup adanya Terkunci dengan rapat Namun kuncinya telah kau telan   Dibalik pintu itu, Lagi-lagi ribuan misteri Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran Tersimpan terlalu aman Jiwamu adalah fondasi Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan Namun parasmu, anakku sayang, Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap Hati-hati dalam memberi izin Jaga rumahmu Bersihkan Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
Continue reading...
36
Aku pernah menjadi angin Menyusuri tingkap-tingkap rumahmu Membawa sejuknya pagi ke kamarmu Semilir menyentuh kulitmu, membangunkanmu Aku pernah menjadi awan Melayang-layang mengikutimu Menahan risau sampai menghitam Mendung kala itu Aku pernah menjadi lagu Kala kau menatap melalui kaca jendela Beradu dengan deru hujan Sayup menemani lamunanmu Aku pernah menjadi nada Suara yang kau beri warna Yang terus kau latih Selalu kau nyanyikan Aku pernah menjadi naskah Cerita indah di balik luka Dan kau adalah ratunya Drama yang kau pentaskan Aku pernah menjadi malam Dingin namun memberimu kebebasan Mengakhiri harimu yang lelah Menemanimu terlelap
0
Sep 8, 2017
Sep 8, 2017 at 5:10 AM UTC
Pernah
Pasar dan pasir yang bersatu Dipisahkan oleh janji Ditiadakan oleh kilau emas Yang berkilat padanya akal warasmu Pasir adalah asamu, Yang kau bagikan pada mereka Untuk membangun genting bocor Pastilah tak bisa kami genggam Rumahmu adalah pasar Yang saling menjual suara Cobalah untuk menimbang Besaran keadilan dan kejahatan Kami hanyalah ternak Yang tiap tetes darah kami kau tukar Dengan sendok dan garpu perak Dan kau biarkan kami menggelepar? Harga tiap tetes darah itu Tak pernah kau bayar Namun selalu kau tawar.
0
May 11, 2016
May 11, 2016 at 9:59 PM UTC
Harga Tiap Tetes Darah Itu
Dipulangmu tak kan kau temui aku Kau lupa, padaku kau hanya singgah Rumahmu bukan aku Atau kau memang belum punya rumah
0
Oct 21, 2018
Oct 21, 2018 at 1:28 PM UTC
Tempat Singgah
kamu menjauh. itu bukan salahku aku tak lagi rindu aneh.. tapi nyaman. dingin, sunyi tapi aku suka. ketidakpastianmu aku tak rasa lagi aku sudah aman pastinya.. tapi, ada beberapa pertanyaanku tak kau jawab . . sudah kau jumpa tempat nyamanmu? apakah sama empuk bahu itu? apa kau menangis lepas seperti dulu? apa kau jumpa rumahmu? ketawamu sudah girang? bagaimana hatimu? baikkah orang-orang disana? indahkah permandangan tempat barumu? apa kau tak lagi sedar? . . tempat nyamanmu bukanlah rumah, tapi orang yg memberi kau rasa cinta. empuk bahu itu bukan tentang siapa, tapi nyaman yg kau rasa. menangis lepas itu bukan tentang malu, tapi jujurkah kau pada dirimu sendiri? apa kau tak lagi sedar? . . . takkan kau temu kan apa yang kau cari selagi kau tak berbaik pada semesta . berbaik hatilah
0
Aug 15, 2022
Aug 15, 2022 at 1:58 AM UTC
doa buat seluruh kamu