"ruang" poems
Palembang, 3 November
Masih ingat ku di usia muda
Saat ku dikelilingi ruang hampa
Jari tetap menggoreskan tinta
Hati tetap menerawang asa
Di hati terdalam terselip doa indah
Permohonan gadis kecil yang kesepian
Aku berdoa tapi terus bekerja
Sendirian.. Tak ada seorangpun di sekitar
Merasa orang biasa tak kan mengerti
Susah pun tuk diungkap
Tak mampi lagi berucap
Malu pun yang ada di setiap kata
Berjanji kepada Tuhan
Akan berbuat baik jika diberi teman
Tipe yang langsung mengerti akan keadaan
Dan tak harus ku ucap lagi tuk Dia dengarkan
Bisa ku dengar semua sunyi
Ada kejutan dibalik kesunyian-Nya
Akan selalu ku nanti Soulmate Aridea
Hingga Tuhan percaya aku akan membutuhkannya
Created by. Aridea Purple a.k.a Erika Maya W Handoko
Nov 3, 2011
Nov 3, 2011 at 9:32 AM UTC
Sabtu, 14 Agustus 2010
Sekarang jam 1.21 pagi
Ku masih di ruang TV yang sekaligus dapur
Ku duduk di kursi meja makan
Masih tak mau tertutup mata ini
Ku membaca, membahas soal
Sendiri...
Terdengar suara-suara aneh
Kicauan burung, gemuruh atap
Cat cit cut tikus
Suasana, uh, terasa seram
Tapi aku tak peduli
Karena bulan ini adalah Ramadhan
Tak mungkin ada yang terlepas
Namun, kapan aku bisa terlelap?
Created by. Aridea .P
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 11:32 AM UTC
Ku terlelap seperti lalu lintas jakarta, berjalan dan berhenti, dari padat menjadi kosong. Yang tak tahu pergi kemana. Gambar-gambar yang lewat begitu saja seperti cepatnya kereta. Lampu-lampu jalan yang menerangi aspal hitam. penjual-penjual yang menjual minuman di lampu merah. Pengamen yang bermimpi membuat kemacetan menjadi hal musikal. Keringat-keringat dibalik helm dan jaket kulit. Tawa-canda dibaluti pendingin didalam mobil. Bis-bis kota dengan kepenuhan penumpang. Orang-orang yang mengumpat jika kau dengar dengan seksama, umpatan mereka begitu indah, tak ada seorangpun di bagian dunia lain mampu menirunya. para pedestrian yang semakin tergeser eksistensinya karena tak ada lagi ruang bagi mereka. Stasiun-stasiun yang nampak menakjubkan ketika sepi. Spanduk-spanduk keagamaan yang dipasang sembarangan sama layaknya dengan iklan-iklan yang berteriak ke telingamu tiap radius 10 meter. aku terlelap bagaikan lalu lintas jakarta. Aku tak tahu kemana.
Nov 17, 2013
Nov 17, 2013 at 1:55 AM UTC
*Kata demi kata
Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat
Demi melepas seikat rindu
Untuk seseorang berpandangan sayu
Yang telah lama diombang-ambing oleh gelombang kelabu
Seberat langit mendung yang sendu
Berpayung ia lama mencari lentera menuju ujung jalan
Sembari menanti hentinya rintik hujan
Tanah becek berlumpur tempat kakinya lama singgah
Di mana guntur tak ada lelahnya menumpah ruahkan gundah
Kata demi kata
Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat
Demi melekatkan seikat harapan
Untuk seseorang yang tengah dihuyung geramnya badai topan
Yang tak hentinya berharap agar matanya dibutakan mentari pagi
Jiwanya lama berkelana mencari, entah ke mana cahaya itu pergi
Jauh dalam sudut yang gelap ia dibiarkan sendiri*
-------------------------------------------------------------------------------------------
Telah kuleburkan kata demi kata menjadi beberapa helai untaian kalimat
Untuk kompas dalam hidupmu yang telah kehilangan arah
Dibutakan oleh gulungan-gulungan masalah
Juga dalam doa-doa malamku dan setiap sujudku di atas sajadah,
Kubisikkan sebuah pinta agar dirimu selalu dalam pentunjuk-Nya,
Agar kelak dapat kau baca helaian untaian kalimat penyamangatku,
Yang kusampirkan dalam saku jaketmu hari itu,
Dapat merontokkan seluruh perasaan kelabu dalam kalbumu,
Mendepakmu dari sudut gelap di ruang tergelap pikiranmu sendiri.
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 7:28 AM UTC
Aku memiliki seribu mimpi tapi ibu bilang aku tak tahu diri
Tak mengerti keadaan dan kondisi, akupun berhenti membicarakan itu dengannya.
Kopi panas yang ku seduh dengan kekecewaan kemarin pagi diseruput lega olehnya.
"Jadikan perkataan mereka cambuk bagimu"
Salah seorang teman pernah berkata begitu padaku.
Tapi kepalaku ini berisi setan-setan bengal!
Mereka hanya mengerti kesedihan dan kemarahan.
Aku tidur dengan tangan penuh tinta merah setiap malam,
berusaha memindahkan kotak-kotak terlarang dari sudut mimpi ke ruang kegagalan.
Mereka berhenti mencoba membunuhku tapi kali ini mereka menaruh racun disetiap gelas yang akan ku teguk
Bukan! Bukan racun mematikan
tapi cukup membuat jiwaku lumpuh untuk waktu yang tak menentu
Aku berhenti membicarakan mimpi-mimpiku kepada siapapun
Aku tak ingin mimpi yang tersisa hancur diinjak-injak oleh kaki yang bahkan tak peduli berapa lama aku membangunnya 'kembali'
Tahun-tahun tak bernyawa
Meludah kata-kata serapah seakan hatiku dinding beton dingin
Kecukupan seperti apa yang membuat mereka bahagia!
Atau biarkan aku tergeletak di kasur lembut itu
Jangan! Jangan coba bangunkan aku
Mungkin ketenangan di dalam sana mampu meredam kekacauan di kepala malamku
Jan 23, 2016
Jan 23, 2016 at 12:53 AM UTC
seluruh hidup, kau akan berdengung menyanyikan lagu selamat tidur ke telinga ini,
dan di tempat tidur mati ini akan menjadi semua saksi..
suatu hari ku kan memuat sebuah memoar di dalam genggaman tanganmu..diiringi sebuah melodi terputus-putus dan bergetar..
mereka menemukan cinta dan ketenangan seperti mereka belum pernah mengenalnya..seperti sebuah daging yang diangkat dari sinar matahari
mereka menemukan cinta dan ketenangan seperti mereka belum pernah mengenalnya..dan tulisan berakhir tanpa sebuah resolusi..sebuah revolusi
sebuah kesudahan perlahan, meleleh, melebur melalui ruang dan waktu ke dalam diri lagi..kebutuhan sebuah realita akan menjadi hampa..
mereka berteriak kepada kehampaan “oh wahai kosmos, oh cahaya suci!”..
ia akhirnya belajar dari sebuah bayangan tidak hanya pada kegelapan
dan kepada mereka yang tidak percaya pada sebuah proses, kelak akan menjadi akar yang busuk di dalam sebuah kandungan.
Mar 29, 2012
Mar 29, 2012 at 10:47 AM UTC
"Cahaya redup itu umpama semesta alam."
birunya naungan langit fajar
ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun
pada hari itu kau berujar
"Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?"
yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu
gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku
sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara
ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya
"Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?"
pernah
taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban
kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu
sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang
"Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?"
"Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan."
matamu mengerling menerawang memandang langit Juni
apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini?
"Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham."
jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat
ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan
dalam gelap dalam redup
lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua
"Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku."
diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa
bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya
apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini?
satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni
apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu?
lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras
seolah tak pernah ingin lepas.
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 8:53 AM UTC
Waktu adalah sahabatku
Jarak adalah musuhku
Bersamamu adalah saat kesukaanku
Berjarak denganmu adalah keengananku
Terlintas di benak ingin membuat mesin waktu
Melintasi waktu
Teleportasi menuju duniamu
Menghabiskan waktu yang tersisa bersamamu
Berbicara segala hal
Mendengarkan segala hal
Mencintai segala hal tentangmu
Bersenggama selamanya denganmu
Tuhan telah menurunkan malaikat di hidupku
Setiap malam kubisikkan doa-doa ku kepadaNya agar diriku layak
Setiap hal di dirimu membuat segalanya sempurna untuk menjadi layak
Tuhan, jaga malaikat ini untuk tetap disisiku.
Dec 6, 2017
Dec 6, 2017 at 11:56 AM UTC
pengecut itu
hidup di sela huruf-huruf
yang diukir oleh jari mahirnya
sambil bersahut bunyi dengan si gadis
di medio sunyinya malam.
pengecut itu
dalam senyap ia merayap ke pucuk harapan
seorang gadis dengan
senyuman kecut.
sibuk sembari mabuk
si gadis membingkai peti mati
berbaring harapan si gadis
dorman tak tersemai
karena buaian sang pengecut perlahan menjadi
kata tanpa arti, janji tanpa bukti.
teruntuk:
sang pengecut yang pucat pelasi kala bertemu
namun terlampau berani di balik ruang semu
Nov 1, 2018
Nov 1, 2018 at 10:07 PM UTC
Palembang, 17 Desember 2011
Aku kehilangan emosi ku
Ketika semua terlepas hilang
Bukan aku
Bukan
Bukan
Bukan aku
Merenung . . .
Hanya ada aku
Di ruang hampa
Di negeri antah berantah
Menunggu cahaya
Tuk menarikku keluar
Ke terik sinar mentari terpanas
Tuk memerah peluh sendiri
Karena terlalu lama beku akan kesunyian
Pernah ku bermimpi nirwana
Indah, tak terharga
Dibuat dari batu ketaatan
Dilapisi emas keimanan
Dipagari kayu keikhlasan
Sederhana, tak menarik
Sulit pun tuk di huni
Aku sudah di sini
Di tempat aku berada
Di gedung mewah penuh kesenangan
Dibuat dari berlian kemusyrikan
Dilapisi perak kemunafikan
Dipagari besi keserakahan
Aku sudah terlanjur di sini
Mati rasa
Dec 19, 2011
Dec 19, 2011 at 1:39 AM UTC
Palembang, 31 Agustus 2014
Aku ingin segera menjadi dewasa
Supaya aku bisa menikmati hidup lebih leluasa
Minum kopi sambil mengobrol tentang politik dan penguasa
Duduk di café menulis novel dan mengambar sketsa
Aku ingin segera wisuda
Memiliki pekerjaan sendiri yang aku damba
Memiliki apartemen sendiri dengan konsep yang aku suka
Membeli semua buku yang ku anggap menarik dan membuat sendiri ruang baca
Aku ingin segera mengakhiri masa kesendirianku
Ku harap aku bisa memilih sendiri pasanganku
Seseorang yang selalu setia di saat apapun
Seseorang yang bisa ku ajak “gila-gilaan” sepajang waktu
Aku ingin segera mengandung
Memiliki anak-anak yang manis yang akan ku panggil “sayang”
Memanjakan mereka seperti aku dimanjakan bunda
Membahagiakan orangtuaku dengan kehadiran mereka
Aku ingin
Aku ingin mati dikelilingi orang-orang yang ku cinta
Aug 31, 2014
Aug 31, 2014 at 10:04 AM UTC
"Mudahnya buat janji, semudah ingkar janji"
Ke utara, selatan
kau ikut
kata kau, asal ada aku ada kau.
Ada waktu
naluri wanitaku meragui
setiap kata yang menari
di belahan mulutmu.
Namun
apalah daya kerak nasi
berlawan dengan air.
Dan saat aku
membuka seluas-luasnya pintu
kau jadi penghuni
setia
untuk sementara.
Sehingga tiba satu ketika
langkah kakimu dihayun
menapak keluar
dari ruang yang kau huni ini
Ingatlah
bukan aku yang menjemput kau
menghuni ruang ini
dan bukan aku juga lah
yang menghambat kau pergi.
Mar 26, 2015
Mar 26, 2015 at 1:41 PM UTC
Aku berdiri kaku di depan cermin menatap nanar dirimu.
Bertanya...
Berapa banyak malam yang kau habiskan untuk mencaci tubuh tak bersalah itu?
Mencabiknya agar kau tetap bisa merasa hidup.
Biru dan ungu selalu menjadi tanda bahwa kau menang melawanku.
Aku ingat beberapa orang
mengubahmu menjadi kelabu,
membunuhmu dengan kejam,
lalu membuangmu jauh ke jurang hitam.
Kita berjalan beriringan dengan kapak berlumur kata-kata tak dimaksudkan,
tapi kau bilang kau telah mati jauh sebelum kita berdamai.
Lalu bagaimana denganku?
Seperti ruang kosong yang hilang ditelan kesendiriannya,
aku berjalan menuju ujung lorong yang tak pernah sempat kau injak.
Menari-nari di bawah binar harapan seperti aku lupa bahwa kau tak lagi diam di sana.
Ingatkah kau saat kita duduk di meja makan bersama dua orang asing?
Kau sibuk bermain dengan gelisahmu,
sementara aku tersenyum lebar berperan sebagai hantu.
Kau melahap habis semua isi di sana, tetapi hanya berakhir pada kamar air yang sengaja kau sembunyikan.
Kau mati.
Lalu bagaimana denganku?
Oct 4, 2016
Oct 4, 2016 at 7:24 AM UTC
katakanlah, aku celaka
tersandung ke dalam lumbung asmara.
celaka kah aku
mengendap-endap di bawah rumah mu?
katakanlah, aku terkutuk
seorang yang tak diundang
tak semestinya duduk di ruang tamu.
terkutuk kah aku
membubung asa di atas hampa?
sadarkah aku
sedang menanti sekarat
dan karamnya harap?
dan ku akui,
aku ini binatang keparat
--berharap dua cincin akan enyah jua dimakan karat.
sampai jumpa cinta masa muda,
aku akan menanti di ujung tua
menyesal, sembari menatap
harap dan nyata
mustahil bersua.
maafkan aku menunggu hingga renta,
tak lain karena dirimu di relungku, sintas.
Oct 12, 2018
Oct 12, 2018 at 11:16 AM UTC
Bapak, aku ingin pulang
Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah
Tapi kau telah mempunyainya.
Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu
Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak.
Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan
Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan.
Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang
Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu;
yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini
Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini.
Kau tak akan menemukannya disana
Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu
Kau adalah rumahmu
Tapi kau adalah bukan tempat singgah
Badanmu bak ruang luas tak terbatas
Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja
Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka
Ribuan pintu tersebut tertutup adanya
Terkunci dengan rapat
Namun kuncinya telah kau telan
Dibalik pintu itu,
Lagi-lagi ribuan misteri
Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran
Tersimpan terlalu aman
Jiwamu adalah fondasi
Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang
Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang
Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama
Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan
Namun parasmu, anakku sayang,
Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap
Hati-hati dalam memberi izin
Jaga rumahmu
Bersihkan
Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 1:23 AM UTC
Ruang-ruang kosong di jiwa
Sangat merindukanmu
Langit berbintang memelukku erat
Hingga sendiri menjadi nyaman
Terbanglah bersamaku bila kau mau
Kau tahu hanya butuh memanggil namaku
Genggamlah tanganku
Kau tahu kau tidak sendiri melawan dunia ini
Hati akan berbicara
Bila kegundahan menerpa
Meski tak sempurna
Cintaku akan mengisi gema ruang-ruang hatimu
Disisimu, akan kubawa kau berlayar
Menuju dunia tanpa kesedihan
Disisiku, akan kubuat kau bahagia
Membuat dirimu merangkum rasa.
Jan 2, 2018
Jan 2, 2018 at 10:00 AM UTC
Ketika pagi beranjak malam
Memutar seribu kenangan di angan
Menelusuri ruang ruang berkarat
Hingga berhenti disatu titik
Teringat asam manis kehidupan
Jiwaku terenyuh
Hanyut dalam ombak mendayu dayu
Itukah kamu cinta
Sayang yang melekat seperti nadi
Suara jangkrik menjadi iringan
Berlari, tertawa, menangis bersama
Aku tau aku tak bisa
Menarik memorimu dan berdansa
Kasih lain telah membawamu
Ketempat suci
Yang bahkan tak bisa ku raih
Dec 24, 2016
Dec 24, 2016 at 10:42 PM UTC
Bangunkan aku, aku pemulung yang tak punya rumah
Tapi aku masih punya hati tuk merasa
Usirlah aku, aku mengotori ruang ini
Bagaimanapun, aku masih punya hati
Tinggalkan aku, jika tak ada lagi yg mau menungguku di belakang sini
Jangan kejar aku, jika ada kesempatan tuk ku berlari
Kenanglah aku, seseorang yang berbuat malu
Ingatlah aku, sebagai seseorang yang pernah kamu tahu
Jun 1, 2013
Jun 1, 2013 at 8:34 AM UTC
Kuharap ingatanku tidak
Berjalan mundur perlahan
Dengan keteguhan
Lalu berdiam
Melebur
Hancur
Seperti
Jam
Jam
Di
Ran
Ting
Ranting
Lukisan Dali
Kuharap aku
Disalib
Melayang
Tanpa
Lihat
Duka
Mu
Hantu-hantu
Vermeer
Dalam
Ruang
Ter
Tutup
Menjelma
Meja
Menopang
Detik
Demi
Detik
Dali,
Mungkin begitu
Seru dunianya
Tanpa kau di dalam sana
Sep 8, 2016
Sep 8, 2016 at 9:06 AM UTC
kepala berkecamuk
menumpahkan isinya
tumpah ke dalam ruang di sekitarnya
tak pernah benar-benar terbebas
sehelai demi sehelai terajut
semakin semrawut hingga kusut
mencoba diselesaikan
tak pernah benar-benar selesai
akhirnya terbaring dalam kalut
terbangun karena kusut
benar-benar tak pernah lucut
bagaimana bisa kepala ini
menampung lebih banyak dari apa yang terlihat
membawa lebih berat dari massaa badannya
Oct 4, 2022
Oct 4, 2022 at 1:47 AM UTC
Sepenuh rasa
Hati ingin berbicara
Bahwa mencintaimu
Rahasia terbesar yang kumiliki
Kerah bertegak dirimu hadir
Sempurna ciptaan Tuhan
Memanjakan kedua mata
Membungkam mulut dari perlakuan liar
Hakikat kemurnian yang sangat dijunjung
Bicara keindahan
Meluangkan ruang imajinasi
Bunga - bunga mawar berterbangan
Lukisan manisnya
Tersenyum dalam lamunan nya
Sudikah engkau mengetahui isi hati
Lebih dari yang kau tahu selama ini.
Dec 16, 2017
Dec 16, 2017 at 10:37 AM UTC
Kadang jarak membuat cinta merekah
Kadang pula membuat lupa
Tentang kepada siapa cinta itu bersandar
Dan apa perasaan itu sendiri
Segalanya itu memiliki batas
Kau membutuhkan jarak untuk saling menghargai
Pun untuk saling rindu
May 31, 2018
May 31, 2018 at 11:18 AM UTC
1/
Biasanya aku melihatmu di pojokan ruang itu. Melamun betapa sedih dan merananya jika jadi dirimu. Senyummu usang, sudah selayaknya kau buang. Atau paling tidak, kau gadaikan ke pasar loak. Pertimbangkan, aku bahkan menawarkan diri untuk jadi gerobak rombengnya.
2/
Mengamatimu bagai meneliti susunan arsitektur sarang semut, bercabang rumit walau sekelumit rahasiamu tak terungkit, atau paling tidak cerita masa lalu mu tak pernah terkuak.
Omong-omong, sudah tiga hari aku datang dan duduk di bangku yang sama, bahkan meja dan kursinya tak segan menyapaku dari kejauhan "kawan, mari duduk sini dan amati keindahan". Aku tak begitu paham bahasa furnitur, jadi ku jawab seadanya.
3/
Duduk diam mengawasi kerumunan, siapa tahu kau kembali terlihat, tanpa terhalangi punggung, atau ransel. Pintu maupun kerudung. Jangan bilang aku penguntit, karena aku tak bermaksud buruk. Aku hanya tak tahu apa yang harus ku lakukan untuk sekedar bertukar sapa, atau paling tidak tatapan mata. Menurut ku matamu cukup layu jika tak ada kawanmu yang menemani. Air mukamu tak pernah kulihat benar-benar menikmati hidup merdeka, mereka tetap saja terjajah. Entah karena sedih atau kecewa.
4/
Hari ini kau tak ada di antara kerumunan, tak ada dalam ruang, tak ada diantara rekan, tak pula hadir dalam lamunan. Aku takut telah menculikmu tanpa sengaja dengan tatapan. Aku terus memandang kedepan, mendengar percakapan.
5/
Tak ada. Aku tahu. Tak berharap pula aku akan tibamu di dalam ruang.
6/
Aku mendengar gosip dan rumor, bahwa kau yang di ujung ruang telah berpindah ke lain ruang. Ujung koridor. Aku bergegas kesana.
7/
Hari ini aku berhasil mengejarmu, berbicara padamu. Tapi kau tampak tak senang, dan hanya mengulang kata-kataku. Aku juga tak sengaja menemuimu di toilet. Masih mengulang kata-kataku. Sore ini aku berjanji akan menemuimu di ruang ujung koridor.
Kala itu, dia menghadap cermin. Menyapa citranya sendiri. Di ruang ujung koridor.
Oct 18, 2017
Oct 18, 2017 at 11:08 PM UTC
Sore senja
Sunyi
Rindu akan rumah
Ruang hampa
Kedua mata menatap jendela
Terlihat sepasang burung bersemayam
Saling bersenderan
Memiliki sesama
Cemburu akan kehidupan sepasang burung
Naif kah jiwa ini mengelak dari itu?
Rindu akan hal yang mustahil
Mustahil untuk dirindukan.
Nov 10, 2017
Nov 10, 2017 at 7:48 AM UTC
Halo, hari ini hari Sabtu, tanggal 27 Juli.
Mungkin di atas bumi bulan sebentar lagi tak terlihat dan beberapa hari lagi akan muncul kembali, namun sepertinya di kehidupan Bumi; Bulan akan sirna sebentar lagi.
Bulan bingung, bagaimana cara Bulan tetap tinggal di sisi Bumi sementara Bumi tidak memberikan ruang untuk Bulan singgahi, sementara Bumi tidak memberikan kesempatan untuk Bulan mengasihi.
Apa yang pernah Bumi sampaikan pada Bulan terdengar seperti omong kosong belaka saat ini.
Terima kasih ya, untuk hal apa pun yang pernah kita bagi.
Maaf jika Bulan akan tetap menjadi Bulan untuk selamanya, bukan Matahari yang menjadi pusat perhatian dan gravitasimu, Bumi.
Bulan izin pamit ya, sampai jumpa jika alam semesta merestui.
Jul 20, 2019
Jul 20, 2019 at 3:56 AM UTC