Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"restu" poems
kita bertemu dikala petang dua jari saling bersilang aku minta izin bertualang kau beri restu penuh sayang dengan itu ku bertualang tak peduli akan halang rintang semua halang aku terjang dan diujung senja aku menang wajah penat berganti riang sang aku menjadi sang petualang semua halang kan ku kenang untuk diceritakan kepada sang sayang sebelum sang senja hilang kupenuhi janji untuk pulang dan dikalau aku datang aku disambut sang mata berlinang
0
Mar 2, 2019
Mar 2, 2019 at 12:49 AM UTC
MAMA
membingkai itu ada tujuannya dilapisi kaca biar tidak terkotori aku mengamplas ingatan yang sempat luntur terbawa pada lamunan utuh & seruan sendu silam, bertumpu berapi-api enggan berkeputusan asal sampai kini, aku masih patuh pada prinsipku kamu memintaku, namun hatiku berprasangka itu rancangan induk bukan asli pemintaanmu kupilih menepikan diri diam-diam berharap kamu bercerita lebih dalam tapi nihil, malah indukmu maju aku mau, tapi apa keputusan ini benar pepetan restu, tekanan waktu dihimpit ketakutan indukmu atas cemooh orang, siapa? tetangga? saudara? keengganan bersepaham kuuji kamu dari belakang menantang setara, seimbang, sejajar lontaran kata pengundang debat berlindung atas wejangan duda muda yang baik "dua jenis prinsip tujuan pernikahan" satu, untuk memulai keluarga baru dua, untuk menyatukan keluarga dengan kesadaran kupilih yang bertolak denganmu karena saat itu aku belumuran ragu sejauh mana kedewasaanmu? kamu gagal pada tesmu, tapi aku tetap bertahan kala itu, setelah semua berjarak, mungkin kamu sadar ikatan pernikahan bukanlah hal main-main kubedah diriku, ada setitik kekecewaan seumpama semesta menghajarku dengan keras tapi Ia tidak melepaskanku pada maut disadarkanNya pula, inilah jawaban doa "jauhkanlah aku dari yang jahat & dekatkanlah dengan yang baik" jari manisku takkan tersemat cincin duri sebab ranting emas berbunga daisy telah memekarkan diri
0
Jul 23, 2019
Jul 23, 2019 at 7:37 AM UTC
Wejangan Duda
Bukan sinonim matahari atau mentari, namun, sama-sama menyinari. Jika aku harus memilih untuk menghirup satu aroma, dengan lantang akan ku jawab "aroma tubuh mungilnya, wahai saudara." Seakan tersihir oleh cengkih khasnya, lekuk tubuhmu buatku merona. Sungguh, kau buatku sakit jiwa. Aku ingin terus menghisap tubuh indahnya. Menikmati setiap rasa manis yang ada disana. Karena manismu absolut, tertinggal dalam bibir penuh asap kabut. Kiranya bisa ku putar kembali waktu, nampaknya akan ku salami orangtuamu, meminta restu untuk hidup lebih lama bersamamu. Kiranya diberi nyawa, nampaknya ku terpesona jatuh cinta. Kiranya bisa kau tebak, sedang ku nikmati tubuh surya dalam malam nan panjang.
0
Feb 13, 2025
Feb 13, 2025 at 11:49 AM UTC
Surya