"pun" poems
Dusting off the rabbity
that squirrely tempo anxiety,
closing in with night.
The irresistible pattern
the irrational illogical fight
a battle with one’s discipline,
mirroring our might.
I make it home a fluttering
belly twirled and muttering,
I tell myself tis alright!
The damage done, and everyone,
I’m just like them and millions more
succumbing at the Devil’s door.
And the taste, the burn,
the healing calm,
the shaking and the thinking gone.
Knock one back, slam out another
night is early, rock it brother,
Tying on a swilly swirling
buzzed-out brain and mind a twirling. . .
“Ahhhh…”
I feel better now, exhilarated,
exasperation falls to stout resound;
I pour again and knock it down!
“Ahhhh…”
Spinning now, not to say I’m spun
but choosey choosing several a pun
I see myself an accomplished one!
Yes, that’s it, that is me,
look upon with thoughts of glory
yank open the freezer for glass that’s hoary. . .
How cool am I? certainly not boring
all night I’m here, pouring, pouring. . .
Buzz subsides, thoughts slow too,
lurid leering, slobbering swearing,
stupid actions and nothing new?
I lose the bottle,
I lose my shirt,
***** on myself,
pass out in dirt.
Another night of drunken hero,
time that’s wasted for kingly Nero.
But who am I to judge myself?
*I’m hardly worse than anyone else?* *
Jun 6, 2016
Jun 6, 2016 at 10:23 PM UTC
We can have fun if you lettuce.
Just tossing salad puns.
I'll try not to wilt.
For I'll try dressing these
Puns to your appetite.
If I promise to pepper my puns,
Maybe you won't throw salt.
I should leaf this alone
Because I'm no chef.
I am Caesar of salad puns!
You'd toss tomatoes at me if you could.
Are salad poems rotten yet?
I should compost these puns.
Is this like watching grass grow?
Salad puns can be cheesy.
How much green would you
Pay me to stop regurgitating
Food puns?
If you read this,
I owe you the rest of the meal,
Now that I wet your appetite.
Mar 2, 2013
Mar 2, 2013 at 7:42 PM UTC
Just how does one define friendship?
Oh, I already know what the Dictionary says.
It's far more than merely one word, or two.
You could apply many verbs to describe it.
Few, on their own will justice due.
It is more about one's emotional perception,
than a mere sentence of words, though descriptive.
For sure it's a feeling, a strong visceral response
evoked by respect, even love of a thing above all other's.
Friends come in many shapes, sizes and colors.
They can be inanimate or living breathing.
All inspire in us a near electrical resonance of reassurance,
a sense of peace, surely comfort. Maybe it starts with
the rhythmic beating of our own mothers heart,
the sound and vibration of our first true friendship.
A little later her breast and the nourishment it gave,
became our first outer world dearest best companion.
Mother's milk, served warm, sweet and tenderly,
Love's personification.
Yes of course Friendship can be an extension of a
strong lasting bond with other people, yet even more.
Our family's are our closest best friends, if we are lucky.
But what of the others?
I have been befriended by books, movies, dogs and
many other non human living friends, I even have
a old film camera I packed completely around the world,
that I count among my closest companions.
A soft warm favorite wool blanket acquired down in
New Zealand, also fits nicely that same description.
An old bamboo fly rod that belonged to my Father,
Is a friend I would not part with for any amount of dollars.
And less I forget (No pun intended) our memories too are
right there, with the best and oldest of our dearest, lasting friends,
Conjured up at a minutes notice.
And perhaps last of all, (you may have more on your list),
I can not leave out the most important friendship of all,
It's the friendship we have with our selves, to which I'm referring.
For if that very personal friendship is not strong and on going,
It's truly doubtful that we will have, or sustain for long, any others.
Sep 13, 2013
Sep 13, 2013 at 2:20 PM UTC
Befrilled Godfather, why tune Yours to mine
These Rightful Verses your Country observes
I, an Eastern Bun's Lord in Mind consign
Put my Pun in-place for their own Reserves
Now this, a Muse if your Clock does witness
Would burn me at stake or hang me condemned
All because such Organs defy Fitness
And thought the ****** I will reprehend
I grow tired of this evident Trough
Whilst you once scribbled Trademarks with your Quill
How, my Heart-Nosed Configure such enough
Yet wish to join you in your White Pipes, still.
Your Epitaph stays; I dare not complete
Just press these Roses your Approval, meet.
Mar 13, 2013
Mar 13, 2013 at 11:23 PM UTC
Sometimes I feel numb
It's a strange, kind of sad feeling.
I can feel it in my heart.
And I know it's strange to say that I can feel my numbness,
but isn't it also strange to feel the itch of a phantom limb,
or the sorrow that comes with the excitement of something new,
only to realize it won't last forever.
It's really hard for me to control it,
I don't know why I can't.
If I could just rip the pain,
or lack thereof out of my chest I would.
In a heart beat,
no pun intended.
No one told me this could happen,
I thought there was simply happy and sad,
I didn't know there was anything that could fall in between.
All I want to do is to feel everything,
I want to love everyone.
I want to care about everything,
but it's so hard when this numbness keep sneaking back into my veins,
pulsing through my body once again.
Telling me to sleep it off,
or to stay home,
because it's easier to avoid than confront.
That's why I try so hard in conversations,
because trying is all I can do when it comes through.
This doesn't happen everyday,
it sometimes doesn't even happen every week,
but it's still tough.
Some days I am bursting at the seams with my love for the world.
Some days I care so much,
and I try so hard.
Then some days I cry,
for stupid reasons.
Because it's healthy,
because I need to.
Because sometimes the weight of the world is pressing against every bone in my body,
and I need to release it.
But some days I don't feel anything at all,
and it's a scary and foreign feeling.
Because I'm bursting at the seams,
and I only have so much thread to patch the holes,
in this worn, and stretched body.
So please just let me feel for a few more minutes,
I'd rather that than continue in this abyss of numbness.
Oct 28, 2013
Oct 28, 2013 at 3:25 AM UTC
Palembang, 16 Maret 2013
Serasa aku kembali ke masa lalu
Membaca pesanmu, dan menerka bentuk wajahmu
Kamu kembali lagi
Menyirami kebun senyumku yang mekar kini
Membuatku ingin terus terjaga
Tuk menunggu pesan darimu lagi
Kini aku di sini lagi
Mengagumimu, untuk alasan yang tak pasti
Membanggakanmu, betapa kau peduli padaku
Aku hanya bayangan bagimu
Kamu hanya bayangan bagiku
Interaksi yang membuat kita jadi nyata
Aku mencintaimu,
untuk alasan yang tak masuk akal
Aku sungguh mencintaimu,
melebihi rasa yang kau berikan padaku
Aku sangat mencintaimu,
namun ku tak berharap memilikimu
Aku mencintaimu,
seperti dia mencintaimu
Dulu aku masih lugu
Menyatakan cinta padamu
Dan kau menertawakanku
hahahaha
Aku pun juga begitu
Lantas aku merasa malu,
Aku memutuskan komunikasi denganmu
Mencoba tuk berhenti mencintaimu
Berhenti mengagumimu
Ya, meski hanya beberapa bulan
Aku tak sanggup lama-lama mengacuhkanmu
"Thanks, we're friends again."
Itu kata pertama yang kamu ucapkan padaku
Setelah aku memutuskan untuk kembali mengagumimu
Mencintaimu adalah hal yang selalu membuatku rindu
Aku selalu malu jika mendapatkan pesan darimu
Aku takut selalu salah jika membalas pesanmu
Tapi ku coba apa adanya dihadapanmu
Terima kasih kamu mau menjadi temanku
Andai aku bisa mengerti perasaan ini
Aku ingin sekali saja mencintaimu, yaitu kali ini
Aku tak ingin berlama-lama mengagumimu
Itu hanya akan membawa dukaku di kemudian hari
Aku beruntung bisa mencintai orang sepertimu
Kamu tahu? Tak sedetikpun aku tidak memikirkan kamu
Andai aku bisa mengerti perasaan ini
Mar 16, 2013
Mar 16, 2013 at 2:58 AM UTC
Palembang, 22 Juni 2011
Api itu hampir merajai waktu
Merenggut harta benda tanpa ampun
Mangarang tubuh yang sesepuh
Duduk pun terdiam di kursi besi butut
Kekuatan api bagai Sang Supernova
Membumbung tinggi tak ada yang terjaga
Meletup-letup bagai haus dan lapar
Tinggallah hamparan abu di senja tiba
Sebelum fajar menyingsing indah
Berisik di tengah jalan sirine mengulang
Langkah kaki mondar-mandir yang tentu arah
Bergotong royong pun dengan peluh dan baju basah
Ku duduk terdiam terpaku
Setengah melamun di sebelum senja muncul
Ku tersadar pun di tengah padam lampu
Dan ku lihat Monalisa tersenyum pada ku
Ku duduk bersimpuh di kaki
Menunduk dan berharap ini hanya mimpi
Dan aku bangkit tuk lihat situasi
Ku dengar mayat rapuh bagai tiada arti lagi
Tak mampu tumpah air mata
Hanya tubuh kaku mati rasa
Pikiran yang ingin selalu waspada
Mental ini rapuh butuh udara
Abu terasa di mana-mana
Terinjak, menyatu dengan tanah
Menutup mata kini selaalu terjaga
Menjaga hari tanpa Supernova
9 Juni penuh cerita
Di bawah tangisan dan panikan
Wanita memasak dan menjaga anak
Pria bahu membahu membangun rumah
Oct 28, 2011
Oct 28, 2011 at 1:26 AM UTC
I think tonight is a
Drink wine, discuss life
And smoke-cigarettes-while-I-fume
Kind of night,
Pun intended.
Apr 10, 2014
Apr 10, 2014 at 12:23 AM UTC
Palembang, 3 November
Masih ingat ku di usia muda
Saat ku dikelilingi ruang hampa
Jari tetap menggoreskan tinta
Hati tetap menerawang asa
Di hati terdalam terselip doa indah
Permohonan gadis kecil yang kesepian
Aku berdoa tapi terus bekerja
Sendirian.. Tak ada seorangpun di sekitar
Merasa orang biasa tak kan mengerti
Susah pun tuk diungkap
Tak mampi lagi berucap
Malu pun yang ada di setiap kata
Berjanji kepada Tuhan
Akan berbuat baik jika diberi teman
Tipe yang langsung mengerti akan keadaan
Dan tak harus ku ucap lagi tuk Dia dengarkan
Bisa ku dengar semua sunyi
Ada kejutan dibalik kesunyian-Nya
Akan selalu ku nanti Soulmate Aridea
Hingga Tuhan percaya aku akan membutuhkannya
Created by. Aridea Purple a.k.a Erika Maya W Handoko
Nov 3, 2011
Nov 3, 2011 at 9:32 AM UTC
You were so hot I spun twice to see, call me a fan
Your regal youth made my blood boil, call you peter pan
*You were like a boomerang I wanted to throw away but you kept* coming back to me,
*And maybe I've always been scared of hurdles and you were my biggest one, 'cause I just can't* get over you, you see
I thought you were like a paradox:
Cool as ice and hot as molten rock
You were like a magician with words, drove me so crazy I was pulling out my hare,
You steal my heart like a pirate captain when I sea you standing there,
But you didn’t have any morals, I deserve to call you whoreible
Yet you still think you're cute. you know? leaving my house the way you came would be adooreble
I discovered your texts to her on my birthday, the cake was ruined with my tiers
You caught my Eye with your animal magnetism, but you’ve been a cheetah for years
What? you think this is a game? No, you don't have a clue!
You had a monopoly on my life and now your name is taboo
You said you needed some time and space to yourself you were the only one in the galaxy I Wanted,
I guess life never turns out how you planet and since you left I've been feeling haunted,
Why did I believe you were a great catch? Just because you **master *****
You made me think we could smash; every second felt like a brawl
Loving you was no gouda, though I swiss you now that you’re gone, it isn’t easy,
I said goodbye, It’s not you it’s brie, sorry that was cheesy.
You gave my life flavor but you were just a masked spyce that made my life sour like limes
I know I need to chili but you have really bad taste and we’re out of thyme
I need a holiday *from your lies, my patience is running short
I’m better off with you gone, and leaving you is my last* resort
I guess we didn't have that spark no need to be astunished,
all I know now is: IT IS TIME YOU WERE PUNISHED.
Jan 7, 2015
Jan 7, 2015 at 9:52 PM UTC
As the semester closes,
Exams are stressing our minds.
To help us relax and not stress(as much),
let us pray to the 12 Olympians.
To Athena, grant us the wisdom required.
To Apollo, let our knowledge shine brighter than before.
To Zeus, help our marks swore to the skies.
To Poseidon, don't let our grades fall deep into the seas.
To Demeter, let us take our exam naturally.
To Ares, that we win the *Exam war without* bloodshed.
To Aphrodite, gives us the marks we desire.
To Hephaestus, help us forge perfect study notes.
To Artemis, may our heads be a full moon.
To Dionysus, let our freedom be sweeter than your grapes.
And to Hera ... ... please don't turn me into a peacock for not having a pun for you.
Best of luck to all, may the Olympians help us get through our exams
And may the odds be ever in your favour.
Jun 13, 2014
Jun 13, 2014 at 5:44 PM UTC
waktu itu kita jalan keluar malam-malam
awalnya sedikit hangat didalam ruangan yang temaram
lalu kita melangkah keluar, dan dinginnya malam buat semuanya menjadi suram
sepertinya angin kencang menjalar dengan kejam
malam menjadi bisu, sambil berjalan pun kita berdua diam
lalu kamu menunjuk-nunjuk bangunan dengan lampu-lampu dan dinding kayu
sepertinya hangat disitu, kalau tidak salah kamu bilang begitu
saya setuju
dengan kamu saya selalu setuju
dijalanan kecil kita melangkah kesitu buru-buru
didalam sana udara dingin sudah tidak terasa lagi
dengan hati yang riang saya pilih coklat panas dari menu yang kamu beri
kata orang coklat bisa menghasilkan hormon endorfin
bisa membuat hari yang sedang bermuram durja menjadi tersenyum kembali
lalu saat itu coklat panas sudah ada didepan saya
saya sentuh pinggiran gelasnya
hangat
saya minum perlahan-lahan
sedikit demi sedikit, tanpa tergesa-gesa
sengaja
karena tidak terlalu besar ukurannya
kalau cepat habis bagaimana?
lama kelamaan habis, semuanya juga akan habis
saya ingin gelas kosong bekas coklat panas ini tidak digubris
tapi akhirnya pelayan itu datang dan mengambilnya sambil tersenyum manis
kehangatan kembali terkikis dan menipis
kita kembali berdiri dan keluar menelusuri malam yang dingin
kembali bergelut dengan angin
ingin saya bawa satu gelas coklat panas itu lagi
tapi dia akan membeku seiring berjalannya waktu, mungkin
tanpa suara, saya tahu kamu mendengar
tanpa cahaya, saya tahu kamu melihat
tanpa kata, saya tahu kamu mengerti
maka, terimakasih untuk ‘coklat panas’ nya.
mungkin bisa kita seduh kembali suatu saat nanti
Jakarta, 27 Desember 2012
(puisi ini bukan tentang apa-apa. puisi ini tidak berarti apa-apa. puisi ini tidak ada yang mengerti selain saya dan satu orang lagi. puisi ini tentang sebuah Rahasia)
Feb 13, 2013
Feb 13, 2013 at 12:59 AM UTC
Gua sama sekali gak maksudbuat ngejelekin, ngejatuhin cowo gua yang sekarang
gua punya cerita yang mungkin lu semua pernah ngadapin dengan kejadia yang sama
gua punya cowo, asli gua sayang banget sama dia, gua pengen ngebahagia in dia kayak gua pengen ngebahagian keluarga gua. Tapi, ada banyak hal yang selalu buat gua ragu sama dia.
1. dia gak pernah sms ato nelponin gua duluan alesan tidur.
2. gak pernah bilang sayang sama gua, kecuali waktu nembak
3. kalo di ajakin alesan nya segudang, mungkin penuh kali tu gudang
pasti lu semua punya pikiran kalo dia Cuma mainin gua, ato pun gak sayang sama gua?
tapi biarpun dia kayak gitu, gak tau kenapa gua tetep aja sayang. Gua ikut aturan dia, gua ikut apa maunuya dia. Pokoknya semua maunya dia gua jabanin deh
karena ada satu hal di diri dia yang sulit banget gua lupain selama ini adalah KENYAMANAN kalo dideket dia.
Padahal yah, gua punya seseorang yang jelas.jelas sayang sa,ma gua, bias ngasih apa aja yang gua mau, yang bias ngebahagia in gua dengan semua hal yang dia punya, dia adalah mantan gua yang pacaran sama gua 2 tahun lebih.
gua udah banyak ngelewatin hari sama dia, susah maupun senang, dia mungkin satu.satu cowo yang paling ngerti siapa gua.
cowo yang paling care sama gua, pokok nya cowo yang paling sempurna deh dia
meskipun kayak gitu tetep aja gua gak bisa boongin ati mgua sendiri, pacaran sama dia tapi inget orang lain buat apa coba?
lagian gua harus nurut apa kata orang tua gua gak boleh pacaran sama dia, toh gua gak bias ngelawan.
*buat kamu cowo yang jadi pacar aku : please donk sayang, jangan cuek sama aku.
jangan suka banyak alesan, aku tuh sayang banget sama kamu.
coba deh kamu yang ngertiin aku sekali.kali jangan akunya terus donk
*buat kamu cowo yang aku sakitin : maapin aku udah nyakitin kaamu, semoga diluar sana kamu bakal ketemu cewe yang syang banget sama kamu.
maapin aku
#sekarang gua Cuma pengen satu hal yaitu lepas dari kedua.duanya.
gua mau orang baaru, tapi gua takut tuk memulai itu semua
sangat.sangat btakut
Apr 19, 2012
Apr 19, 2012 at 5:16 AM UTC
Untukmu Cinta
Sejuta kata tercipta untukmu
Segenap jiwa ku serahkan padamu
Hingga akhir waktu ku sembahkan hanya untuk mu
Meski tak kau terima
Cinta dalam hati ku
Terhempas begitu saja
Bagai dari langit ku jatuh
Ingin ku berenang di lautan
Arungi samudera bersama ombak
Desir pasir melagukan alunan daun
Lambaian tangan untuk berselancar
Indah cinta mengikat raga
Satu aliran nadi di salam darah
Mulut mengucap selalu kata cinta
Hati pun akan selalu bahagia
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:53 AM UTC
Someone once said,
"A good pun is it's own reword."
But a bad pun
makes me want to strangle a newborn kitten
and then dropkick it into the Cretaceous Period
where it will hopefully be eaten by a Velociraptor
then **** out in a pool of molten lava
and preserved under the earth for the rest of time
but forgotten and ignored by all.
Apr 25, 2013
Apr 25, 2013 at 7:54 AM UTC
tidak disadari, langit yang biru berubah
menjadi warna oranye dan ungu muda.
perpaduannya pun sangat indah,
ditemani pula oleh kicauan burung yang sunyi.
selang waktu berjalan, hati semakin berat,
pena dan kertas, aku bertemu lagi denganmu.
langit yang indah tiba tiba berteriak,
seperti singa yang mengaung ditengah ladang.
apakah mungkin, bahwa kita melihat langit yang sama?
perbedaan waktu yang tidak masuk akal, ingin membuatku
menguras air di lautan yang biru,
yang menghalangi pertemuan kita.
gila, bukan?
aku berbicara kepada kertas putih,
layaknya kertas ini adalah sahabatku,
atau kuping yang selalu mendengar.
tangisan hati pun terlalu keras, malam ini.
langit yang indah, sekarang bersaturasi,
menjadi warna abu abu yang gelap,
jadi ini, toh.
ini, yang dinamakan
berbicara kepada kertas,
saat air mata milik senja,
turun dari langit.
Feb 20, 2019
Feb 20, 2019 at 8:15 AM UTC
"So the pen is mightier? who'da'thunk'it."
He said to the bleeding man tied down
to a messed, stained, bed.
The bound man figured,
even though he just got
to an LA plagued
by criminals, killers, and copy-cats,
that he wasn't getting out of here whole,
finally.
Holding a pen knife,
red-faced and sweating,
was his captor.
It had been a struggle
to awake and realize
who stood before him:
Quill.
The exact killer he'd been looking for.
He had heard about him in the Halo Herald,
An LA pun, it's not very popular,
but he liked the funny section.
"Are you just going to stand there?"
The bound man says, eagerly,
"Hey bud, you're the hanged man,
I'll do the talking."
"It's about time!"
"huh?"
"I'd been waiting.
heard you'd be at that
open mic. Knew you liked
the mealy type."
"Shuddup or I'll write you off."
Quill runs his pen knife over the bound man's right cheek.
"Stings a little.
Usually, I start with a rufie
and emotional damage.
But it looks like you
want to cut to the chase.
I'm a man of a similar mind.
spirit.
problem."
"Nobody's like me dude."
The bound man locks eyes with Quill.
"What're your trophies? huh?
I read you like to drain your victims,
cook'em dry.
don't you use their blood and powdered remains as ink?
Short stories or something?"
"Oh, an avid reader?! it's your lucky day:
you get to be part of the collection!"
The lamp nearby tumbles
to the floor as Quill lunges,
ready to ****
"Wait! Don't you want to know who I am!"
"Not really."
"I'm a ser-"
The sentence is finished by
nothing but the sound of blood
and air
gurgling
into places it was never meant to be
as Quill's blade passes through flesh.
"Pfft, what, you think you're special?"
Quill saunters over to the sink.
"I'd hate to waste ink.
but there'll be more.
there's always more.
isn't that right, Celine."
he says to no one
and stands there with a smirk
as if listening to her.
Oct 15, 2022
Oct 15, 2022 at 2:22 AM UTC
Jakarta, Rabu 23 Mei 2007
Malamku penuh kerinduan
Sat itu pun ku mulai ...
Menitikkan air mata ...
Sehingga membasahi pipi ku
Rinduku ini ...
Tak bisa tergantikan apapun
Karna yang ku mau hanyalah dirimu
Seseorang yang selalu menemaniku
Setiap malam setiap waktu
Aku rindu segala yang ada di dirimu
Termasuk belaian sayang di rambutku
Serta pelukan hangat di tubuhku
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:44 AM UTC
Tangan ku kaku ketika menulis
Kaki ku lumpuh ketika melangkah
Mata ku buta ketika memandang
Raga ku pun mati karena merindukan
Langit amat luas
Hidup bahagia bersama awan
Tapi, langit tak berikan aku
Aku pun menangis
Air laut menampung kesedihan ku
Meluap menjadi awan
Dan menenggelamkan jagat raya
Termasuk hati ku yang sudah rentan
Rentan, karena terik mentari yang menyengat
Raga ku roboh terhempas angin menjadi puing
Jiwa ku lari saat takut desiran pasir
Darah ku habis saat berlari mengejar semua
Sumpah mati takkan tergapai
Cinta sejati dalam hati yang tulus
Dengan ocehan yang melukai
Dan kata cinta yang omong kosong
Created by Aridea Purple
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:48 AM UTC
i find myself eating with the thought in mind of how it will feel coming up
i find myself staring at the toilet when i go to the bathroom
wishing i had the guts to do something about it
what a pun
Feb 28, 2014
Feb 28, 2014 at 11:16 AM UTC
Jakarta, 10 Mei 2008
Lirik lagu tentang cinta itu
Buatku seakan dia ciptakan untukku
Padahal dia ciptakan untuk yang lain
Tapi kenapa harus dia
Yang indah buatku luluh
Angin bawakan sejuk untukku
Karenanya suara lirik itu terdengar
Aku pun menangis
Begitu indahnya sampai ku bermimpi
Tak henti mimpi sampai saat ini
Yang tak ingin ku akhiri
Percuma, dia takkan tahu aku di sini
Meski ku kuras s’luruh air mata
Ku ucapkan seluruh kata cinta
Hingga tak tersisa lagi
Berulang kali angin bawakan lagu itu
Sekali lagi untukku, dari dia yang indah
Selamanya sungguh ku cinta
Karna sampai kini tak pernah ku lupa
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 9:18 AM UTC
Kau... membenciku kah?
tidak menyukaiku? atau mungkin kau iri padaku?
Kau begitu munafik!
dulu aku selalu bercerita tentangnya padamu, meskipun aku dan dia sudah tak lagi bersama kau pun tahu aku masih sangat sangat menyukainya. Kau tahu aku mengaguminya berbulan bulan, kau juga tahu untuk mendapatkan hatinya seperti berlari mendapatkan satu bintang kecil. Walau pada akhir nya aku hanya jadi pelampiasan perasaannya, tapi aku masih sangat menyukainya pada waktu itu meski kenyataannya harus seperti itu.
Aku teman mu, dan aku juga tahu kau juga temannya lebih dekat dari sekedar pertemananku denganmu.
tapi apa kau tak bisa mengahargai perasaanku sebagai temanmu?
kau tahu semua isi hatiku tentangnya, tapi mengapa kau sekarang?
memadu kasih dengan dirinya yang sampai detik ini kau tahu aku masih sangat mengaguminya!
kau jahat! kau benar-benar penghianat bertopeng pertemanan!
kau bukan lagi temanku sekarang. Itu terlalu sakit, sangat sakit untuk ku percaya.
kau bahkan hanya mengatakan maaf hanya untuk sekali seumur hidupmu?! itukah dirimu yang sebenarnya? menikamku tanpa ampun.
kalian berdua sama saja, tak ada gunanya aku mempertahankan seorang teman penghianat, dan sorang pengagum yang gila perempuan.
'seorang pencuri kekasih sesungguhnya mencuri seorang penghianat!'
Oct 10, 2013
Oct 10, 2013 at 11:30 PM UTC
Perasaan ini terus bergelung
Bersembunyi di dalam relung.
Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung.
Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya
Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya
Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama.
Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah,
Ia tak pernah bosan untuk membendungnya
Dan menunggu,
Menunggu datangnya hujan.
Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya.
Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang.
Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit,
yang dengan setia mendengar celotehannya.
Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami.
Mendongak menatap langit, dan bercerita.
Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar
dan menemukan ketenangannya sendiri.
Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan.
Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya.
Ia tersenyum.
Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat.
Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras.
Inilah kebahagiaannya.
Namun juga kesedihannya.
Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis.
Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka,
namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya.
“Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 3:15 AM UTC