"pipinya" poems
Masih kubayangkan seperti apa jadinya aku apabila suatu saat aku benar-benar bisa memiliki dia. Mencintai dia begitu dekat. Sedekat tarikan napas dari setiap udara segar yang aku hirup di pagi hari. Masuk ke dalam paru-paru. Kemudian bercumbu di sana.
Benar apabila aku memang sangat ingin bisa memiliki, segala hal yang mungkin tidak pernah bisa aku miliki.
Begitu naif apabila kita sedang belajar mencintai seseorang.
O wajahnya. O matanya. O hidungnya. O pipinya. O bibirnya. O rambutnya yang panjang tergerai jatuh di bahunya. Begitu jelas, hingga mimpi seperti realita.
Dia begitu jelas terlihat. Dia begitu nyata, bahkan kurasakan sesuatu berdetak begitu cepat dan kencang, seperti angin yang menyibak rambutnya.
Senyumnya membuat segala yang hancur menyatu kembali, tetapi tidak, tidak untuk setiap kali.
Aku masih mencintainya, begitulah cinta yang semestinya aku akan katakan apabila memang dia benar ada di sini. Tetapi dia tidak di sini. Dan aku tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintainya.
Dia begitu dekat, tetapi juga begitu jauh. Dia jauh dari mataku. Dan dia begitu jauh untuk bisa merasakan perasaanku padanya.
Mar 23, 2021
Mar 23, 2021 at 5:57 AM UTC
Langit sore memerah malu
Saat ia menatap ketat lembayung senja
Sejurus angin bertiup lembut
Menggoda tiap helai rambutnya
Untaian awan paham akan isi hatinya
Melepaskan dahaga penikmat rindu
Pelipur lara di kala sendu
Tumpah ruah menghujani bumi
Rintik hujan memancing senyum di bibirnya
Butiran awan menggantung malas
Di antara bulu matanya yang lentik
Turun menyusuri sudut matanya
Pipinya merona tak peduli dinginnya senja
Tangannya terulur menyambut sang malam
Gadis hujan yang ingin mencintai malam
Malam yang menciptakan badai dari hujan
Apr 24, 2018
Apr 24, 2018 at 3:11 AM UTC
Langit memberi kesan
Bahwa kesedihan membawa
Warna ungu pucat di pipinya
Tanpa seorang teman
Tanpa awan kelabu untuk
Berkabung dengan kesendiriannya
Hujan dikenal sebagai pembawa sendu
Namun dia tak datang untuk bersyair
diantara gemuruh guntur yang berkilat
Diantara gemerlap air yang ditangisinya
Langit tetap merindu
Bersedu sedan dan menderu
Memanggil-manggil nama yang tidak diketahui oleh siapapun
Meninggalkan ruam ungu
Diantara pucat pasi di pipinya
Jun 15, 2017
Jun 15, 2017 at 2:27 PM UTC
Aku kenal wajah itu
Pipinya merah merona
Saat kutanya mengapa
Biarlah dunia penuh warna
Aku suka senyum itu
Dari jauh penuh rahasia
Kudekati manis menggoda
Biarlah dunia tersenyum untuknya
Aku setia pada malam dan bintang-bintangnya
Izinkan aku berlama-lama menatap matanya
Kelap-kelip langit malam di kala siang
Biarlah kau dan malam
Menjadi milikku
Mar 17, 2018
Mar 17, 2018 at 1:58 PM UTC