Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"pingin" poems
Jam tujuh pagi tadi Ibu mengetuk pintu Bunyi ketukan itu sampai empat kali terulang Di ketukan empat setengah, Pintu terbuka setengah juga “Ya?” “Mandi, Mbak.” “Pingin tidur lagi.” “Tapi hari ini hari kemenangan.” Raut wajahnya yang telah menjadi warisanku tak sedikitpun menunjukkan bahwa dia telah memenangkan apapun. Tidak seperti kebanyakan orang, Untuknya hari ini bukanlah tentang seberapa kental kolam santan yang menyimbahi santapan-santapan Bukan juga tentang berpeluk-rindu dengan orang-orang sambil sesekali bertukar kabar Lelah mengutuk dirinya karena seumur hidup merasa kalah, Aku tahu bahwa sehari saja ia ingin merasa menang. Ia sendiri tahu betul saat hari ini berakhir dan tamu berpamit untuk pulang setelah semua habis terkunyah; ia akan kembali merasa kalah. Menang atas dan untuk apa? Seribu kata maaf pun ia telan begitu saja tanpa mencerna kata tersebut keluar dari mulut siapa Tanpa adanya hari kemenangan yang dibanjiri oleh teks bersampul maaf, Hidupnya memang sudah tentang meminta maaf dan memaafkan Tak ada pilihan lain. Hanya saja hari ini sinar sendu wajahnya menunjukkan bahwa akhirnya, Setidaknya untuk dia, Harapan pahitnya terhadap ‘maaf dan memaafkan’ akan diselebrasikan; Dan seperti dirinya, lebih dari sejuta orang akan melakukannya walaupun untuk sehari saja. Kepada siapa lagi ia harus meminta maaf dan meminta dimaafkan?
0
Jun 5, 2019
Jun 5, 2019 at 8:40 AM UTC
?
I was born on a border, a fence between The two places I might have belonged. I am the stranger in the doorway, The lightless flowers blooming in fissures, Two sides of a rusted pingin - My bones are not heavy enough To anchor me to any place - I float above, Watching scentless flowers bloom And records turn in silence, My limbs hanging limp as the others Dance below.
0
Aug 30, 2017
Aug 30, 2017 at 7:07 PM UTC
belonging