Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"perih" poems
Palembang, Kamis 6 Januari 2011 Hari ini aku seneng banget Aku sedang dekat dengan seseorang Dan aku tak yakin menyebutnya cinta Karena aku tuk saat ini tak percaya dengan cinta Cinta memang indah sih Tapi aku sedang tidak beruntung saat aku dengan mantan Aku sekarang bisa merasakan dua belas rasa cinta Sayang, kangen, senang, kecewa, cemas, marah, perih, sedih, menyesal, bimbang, benci, dan lain-lain Oleh karena iti aku tak sanggup bertemu cinta Lebih baik tunggu saja hingga aku siap Tapi bila aku mendapatkan satu kesempatan lagi Aku berjanji tuk mengambilnya Tak akan ku sia-siakan kesempatan itu Sungguh aku berjanji Aku tak sanggup untuk bercerita tentang nya Karena ku takut rasa itu akan berubah Dan yang ku rasa akan berbeda Pasti itu akan menyakiti hatiku Sangat Dan yang manusia tahu Mereka tidak mau tersakiti Apalagi oleh cinta :)
0
Nov 4, 2011
Nov 4, 2011 at 2:06 AM UTC
12 Rasa Cinta
Yang mengutarakan salam pagi ini Hanya sesayat keheningan Dari reruntuhan nafas yang tiap isapnya Riuh dirundung rindu Perhatikan, Ini salah satu pertanda Soal dekadensi kidung Yang biasanya, tanpa kita sadari Teralun lemas tiap pagi Lembut tanpa gemericik Kidung itu bisa jadi sudah keterlaluan Bisa jadi ia terlalu sadis pada sepi tiap subuh. Senandung itu, memang benar, Sebatas bisikan-bisikan lantang Yang gemar memuja sepi dengan memporak-porandakannya, Yang gemar menghantui sunyi agar  terlelap sebelum terbit. Mungkin, kidung itu terlalu masokis Bernyanyi sendiri tanpa ada yang Peduli pada dendangnya yang kelewat mengusik Dan kelewat menggoda, sehingga semua lebih memilih Terlelap saja. Bukan berdansa. Ini salah satu pertanda Soal dekadensi kidung perih Yang biasanya teralun malas tiap pagi Menggerakkan setan-setan kecil Untuk membutakan mata dan membuat tuli dalam sekejap. Jangan berdansa. Tak ada yang peduli, semua masih tertidur. Dan itu bisa jadi salahmu sendiri. Tapi tak apa, iblis masih menyayangimu Dengan sangat manusiawi. Lagipula, seperti pagi ini, Kesunyian kembali bersila pada permadaninya Ditemani kicauan mencibir burung rohani. Selamat pagi, Senyap. Anda yakin tidak ingin bangun Dan menanggapi kidung yang terus memanggil Untuk berdansa setengah jiwa? Subuh hanya datang seterbit sekali. Tuhan hanya merindu lima kali sehari.
0
Feb 16, 2016
Feb 16, 2016 at 11:02 AM UTC
Dekadensi Kidung Tiap Pagi
Jumat, 27 Agustus 2010 Satu lagi momen tak terelakkan Aku jatuh cinta lagi Lebih dari seorang kali ini Tak bisa aku memilih Hanya bisa menjalani hingga henti Menguap rasanya hatiku Hingga kini ku tak mampu berdiri Hanya terpaku dan terlarut dalam lamunan Yang begitu tinggi dan tak pantas ku lamuni Kini ragaku mulai mencair Sedikit demi sedikit mulai bercerai Mengarah sendiri tanpa tujuan Meninggalkan jiwaku yang tersiksa Jiwa ku sakit... sakit... Ragaku lenyap, perih, perih Datanglah... Sembuhkanlah... Ku mohon, Ku tak mampu hidup sendiri Created by. Aridea .P
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:53 PM UTC
Cinta Yang Lain
Terkadang raga ini lelah melangkah Berjalan tanpa tahu pasti kemana Apakah akan singgah sebentar di sudut itu Atau mungkin akan berhenti di pelabuhan timur Malam itu aku tertatih Menahan perih dan luka Tanpa ada satupun yang sadar Dalam hati mengumpat watak manusia yang acuh Namun aku juga manusia Aku.. manusia yang tak akan pernah berhenti belajar Walau harus merajut asa dalam sakit Ditemani oleh temaram lampu kota aku menari Hingga raga ini tak sanggup Dan jiwa ini hilang dibawa angin malam
0
Apr 4, 2016
Apr 4, 2016 at 10:20 AM UTC
Temaram Lampu
Dear Heart. Janganlah kamu terlalu berharap Cinta itu bukan harapan tetapi kepastian Jangan pula kamu terlalu menyimpan rasa Rasa itu bisa saja tak tepat bahkan salah Bersikaplah seperti akal, yang mengalah Tidak mengharap pada kebahagiaan cinta Tetapi senantiasa waspada jikalau terluka Akal menjagamu, Heart Dari sakitnya dilukai cinta Dari perih kejamnya perasaan Dear Heart, jiwa ini tahu kau mencintainya Tetapi akal ini yang paling tahu mana yang tepat Jangan gegabah, Heart Jangan terlalu senang dulu, kau bisa saja salah Kau bisa saja terluka Kau bisa saja jatuh Akal akan terus melindungimu Dear Heart, Simpan saja rasamu untuknya Jangan sekali-kali kamu membongkarnya Maka akal akan bertindak Ia akan berbohong untuk melindungimu Ia akan menutupi kebenaranmu Itulah yang akan dilakukan akal untuk melindungimu, Heart (Palembang, 12 Januari 2015)
0
Jan 12, 2015
Jan 12, 2015 at 12:59 AM UTC
Dear Heart
Darah Biasanya keluar rumah Saat tengah malam Sambil menangis Hanya Untuk bermandikan Seseguk amis Setelah itu, Ia lanjut merajut Duka Atas air maut Yang tak kunjung jatuh Darinya Sama, Suaramu Terdengar kala malam Terisak-isak perih Dan masih berbau darah Tapi setelah kuratapi Sekarang makin legam Lagi-lagi Suaramu dibebani Pagi yang merekah-rekah Dan pada saat selalu saja, Ia akan tergesa membisu basi Menunggu sambutan gulita Keduanya tidak sadar Bahwa Mereka saling Beradu pekat Suaramu tapi Masih percuma Alunannya mengais pedih Langkahnya meringkuk mati Seolah tak tahu Terus tanya Siapakah tuannya Mungkin Ternyata Memang bukan kamu Dan di saat seperti ini Gelap biasanya Keluar terbahak Terbatuk Tertatih meracau rindu Kalau ia lumpuh Dan tak dapat lagi menghentak Suara liar yang kerap Bersenandung pedih Mungkin ini sekedar hantumu Menyanyi Main-main dengan duka malamku
0
Sep 20, 2015
Sep 20, 2015 at 7:19 AM UTC
Sesikat Sakit Gentayangan
Hati sang dewi kembali pulih Tak lagi pedih, tak lagi perih Berbumbung cinta bertirai kasih Berambang cita suci bersih Sang dewi setia menanti Sang bulan mengambang di malam hari Sebagai teman penyejuk hati Menghapus sepi yang memakan diri Bisikan malam bulan dan dewi Memecah sunyi dari langit ke bumi Berjanji setia sehidup semati Selagi bulan mengambang lagi
0
Sep 26, 2015
Sep 26, 2015 at 2:23 PM UTC
Sang Dewi
Palembang, 20 Januari 2013 Rasanya kalau sudah bicara denag-Nya, Seperti menempelkan goresan luka di hati dengan hansaplas Pedih, tapi lekas sembuh Tak berdarah, tak berbekas Rasanya kalau selesai mengadu pada-Nya, Seperti membersihkan darah yang menetes dari ujung jari Perih, dan darah kan berhenti Luka tertutup kembali Rasanya kalau belum menghadap-Nya, Seperti menunggu pengumuman juara kelas di sekolah Detak jantung berirama kencang Perut mual bak naik Halilintar Malah tangis memecah
0
Jan 20, 2014
Jan 20, 2014 at 10:02 AM UTC
Rasanya
teruntuk atau kepada engkau atau kamu tersayang atau terkasih taukah kamu? bulan berdesir pelan menyelusup ke sela- sela kabut hitam malam yang pekat aku tak sendiri, ada sepi yang mememani aku mengisahkan padanya perihal perih tapi tidak sakit, tentang rindu yang tak berujung temu aku ingin memberitahunya aku senang jika ia mendengarkan cerita- ceritaku aku akan menunggu biar waktu yang akan membawamu disini aku memelukmu dengan mantra sakti yang aku miliki
0
Jan 16, 2019
Jan 16, 2019 at 7:17 PM UTC
pertemuan
kau tahu tentang rasa? rasa kesal yang bisa ku luapkan dengan amarah, rasa sedih yang bisa ku gambarkan dengan tangisan, rasa bahagia yang bisa ku lukis dengan tersenyum, bahkan tertawa. namun bagaimana dengan rindu? aku harus apa? menahannya? perih.
0
Oct 7, 2016
Oct 7, 2016 at 11:36 AM UTC
Rasa
Mahluk Tuhan yang begitu murni Menutup diri untuk tak terlihat Melihat hanya dengan doa Menggincu disisi akhlaknya Dusta bahwa dia tiada lain dari sempurna Dia lah arti kata sempurna Dusta bahwa dia tidak berjalan dengan arahanNya Dia lah jalan untuk diriku berpulang Rajutan luka perih di jiwa Penyembuh kesepian Reinkarnasi seorang malaikat Permata yang paling berharga Kau adalah jantungku Berdetak di setiap detik kematianku Kau adalah darahku Berjalar renang disekujur tubuhku Membuatku merasa hidup.
0
Dec 4, 2017
Dec 4, 2017 at 7:52 AM UTC
Wanita Bersandar.
Diamku itu sebentuk kedewasaan hasil tempaan semesta Pura-pura rabunku itu sebentuk kedewasaan bisikan suruhan semesta Jarak tubuhku yang sengaja kujauhkan itu sebentuk kedewasaan kesadaran yang ditumbuhkan semesta Mungkin bumi terlalu banyak diputari bulan mungkin juga ini jawaban doamu sampai akhirnya membawaku padamu lagi aku bisa saja menghampiri & menhakimimu atau memuntahkan segala rasa & pikiran saat itu Kedewasaanku itu bukan hanya cerdiknya lidah bertutur manis kau saksikan sendiri matangku Memang masih sedikit perih hantu kenangan buruk yang terpanggil dadakan Kedewasaanku itu adalah sebentuk ikhlas adalah bentuk penepatan janjiku bahwa tidak akan kuganggu dirimu Kau tahu tidak?
0
Mar 1, 2020
Mar 1, 2020 at 8:15 AM UTC
Bukan Tidak Bisa Bergerak
Teruntuk jiwa yang begitu hampa, Cinta dicari untuk mengisi Mengapa luka yang malah ditorehkan? Ku menghela dan bertanya lagi Bagaimana mengisi, Bila yang indah berujung perih? Malam berlarut gelap memudar, Mendalam pikiran yang tak terlelap, Kembali bertanya tentang rasa, Apakah sepi itu nyata? Lembayung langit dikala petang, Menyendiri bukan cara ku, Namun sakit yang pernah singgah, Rasa takut telah tertanam.
0
Apr 28, 2018
Apr 28, 2018 at 3:14 PM UTC
Sendu
Tenang namun menghanyutkan Nyaman dengan gelap namun menerangi Dia yang senyap menyaksikan badai Seperti malam-malam yang dicintainya Mengumbar senyum namun terluka Gersang tandus namun menjamu tamu Dia yang kering namun melepaskan dahaga Seperti khianat yang ditanggungnya Lelah raga namun selalu terjaga Menahan perih namun membalut luka Dia yang tersengat namun menawar racun Seperti kecewa yang ditintakannya
0
Dec 9, 2017
Dec 9, 2017 at 11:32 AM UTC
Setelah Gelap
Jatuh jatuh jatuh jatuh jatuh Luka luka luka luka luka Perih perih perih perih perih Mati.
0
Apr 8, 2019
Apr 8, 2019 at 10:25 AM UTC
Tak ada kata
Aku rasa aku naif bila percaya memiliki sepanjang masa bersamamu, Suatu saat kau akan pergi, hal ini kusadari Bahkan sejak waktuku denganmu masih terlalu sedikit. Namun aku tidak mau mengirit, aku mau menghabiskan selamanya samamu. Hatiku, perih, sendiri Tertinggal - Maka aku memintamu, tolong bawalah aku selalu Kalau tidak, Aku takut rinduku semakin berat Sehingga tidak dapat diobati.
0
Feb 24, 2021
Feb 24, 2021 at 6:02 PM UTC
Tanpamu, Rinduku
Mana pernah kau paham tentang perasaanku walau berulang kali sudah kusampaikan. Sekedar mendengar saja tidak. Sudah tau begitu, masih pula aku menaruh pengharapan yang besarnya melebih-lebihi besar nafsu makanku. Kasihan ya melihat naifku ini. Memaksakan sesuatu yang sudah mati. Aku ini kadang ingin terbahak karena lucunya kisah kamu dan aku, tapi anehnya masih selalu membuatku terpana, seperti terhipnots. Kepalaku yang sekeras batu dan hatiku yang serapuh kulit telur disanding dengan kepalamu yang pula berisikan batu, juga hatimu yang sedingin kutub utara sebelum global warming. Aku dan diriku, dan kamu dengan dirimu. Memang benar mungkin, kita hanya ditemukan untuk saling belajar, bukan untuk berakhir bersatu. Sebenar-benarnya, kamu adalah yang aku mau. Tapi rasanya permintaanku ini terlalu bertele-tele jika yang ku minta adalah kamu dan tidak ada luka. Karena memilih bersamamu akan selalu satu paket dengan luka dan perih. Aku saja yang sombongnya setengah mati, menutup mata dari ratusan pertanda yang Tuhan berikan.
0
Dec 4, 2019
Dec 4, 2019 at 11:12 PM UTC
Sudah
Pikirku, untuk bisa memahami kata pelihara, tidak harus aku mengalami perih dan lara. Memang, burung tidak dikurung, semestinya, burung bebas mengarung semestanya.
0
May 17, 2022
May 17, 2022 at 2:18 PM UTC
Perih Lara Burung