Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"penumpang" poems
Ku terlelap seperti lalu lintas jakarta, berjalan dan berhenti, dari padat menjadi kosong. Yang tak tahu pergi kemana. Gambar-gambar yang lewat begitu saja seperti cepatnya kereta. Lampu-lampu jalan yang menerangi aspal hitam. penjual-penjual yang menjual minuman di lampu merah. Pengamen yang bermimpi membuat kemacetan menjadi hal musikal. Keringat-keringat dibalik helm dan jaket kulit. Tawa-canda dibaluti pendingin didalam mobil. Bis-bis kota dengan kepenuhan penumpang. Orang-orang yang mengumpat jika kau dengar dengan seksama, umpatan mereka begitu indah, tak ada seorangpun di bagian dunia lain mampu menirunya. para pedestrian yang semakin tergeser eksistensinya karena tak ada lagi ruang bagi mereka. Stasiun-stasiun yang nampak menakjubkan ketika sepi. Spanduk-spanduk keagamaan yang dipasang sembarangan sama layaknya dengan iklan-iklan yang berteriak ke telingamu tiap radius 10 meter. aku terlelap bagaikan lalu lintas jakarta. Aku tak tahu kemana.
0
Nov 17, 2013
Nov 17, 2013 at 1:55 AM UTC
Elegi Jakarta
Sejengkal rindu dalam bogor Dahulu kudengar sebuah dongeng tentang Kota diatas awan, Bogor, Kota yang tiada hari tanpa hujan Kota tiada pemandangan gedung kaca Kota tiada pemandangan selain Gunung Salak Perkenalan kala itu mengantarkan mengenal lebih jauh tentang Bogor Tatkala itu Bogor sungguh sebagaimana kota diatas awan Kini rupanya tak begitu indah, tak seperti masa itu Namun, Bogor tentu setia dengan beribu kenangannya Bogor tetap saja Kota yang setia menyimpan ingat, Bogor tetap melangkah seperti biasanya, Sayur tetap disediakan pedagang di pagi gelap Angkot tetap tabah menunggu penumpang Tugu kujang tetap setia di tempatnya berada Bogor, kenang itu selamanya. Terimakasih. Muhammad Iqbal Ramadhan Bogor, 22 Agustus 2021
0
Aug 23, 2021
Aug 23, 2021 at 2:02 AM UTC
Sejengkal Rindu