Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"nomor" poems
You, Me don't jello we bow cup noah 'ello Teks nomor nomor nomor noah 'ello You, Me don't jello we bow cup noah 'ello *
0
Nov 9, 2018
Nov 9, 2018 at 3:12 PM UTC
BLOCKED
Sebetulnya tidak ada yang terlalu berbeda pada Jogja malam itu, namun memang spesial. Ada kamu di hadapanku, diterangi remangnya lampu kedai kecil tempat kita berdua berteduh dari gerimis dan dinginnya kota Jogja malam itu. Kamu tidak banyak bicara, sibuk dengan sepiring gudeg dan segelas wedang jahe favoritmu. Aku tidak bisa berhenti memandangi parasmu. Meski hanya diterangi lampu remang-remang, dan peluh yang basah akan air hujan, bagiku kamu tetap nomor satu. Sang pemilik kedai pun memutar piringan hitam miliknya, terlantunlah ‘Berdua Saja’. Aku masih ingat betul tatapanmu malam itu seiring dengan alunan lagu. Sederhana, teduh, dan penuh dengan kehangatan. Malam itu, aku sadar bahwa rumah tempatku pulang bukanlah bangunan bata beratap dengan satu pintu dan dua jendela. Malam itu aku sadar, Sepasang mata bola yang teduh dan hangat itulah tempatku pulang. Kamulah tempatku pulang.
0
Oct 22, 2016
Oct 22, 2016 at 12:20 AM UTC
11.00 - Aku, Kamu dan Jogja.
Antara aku dan Beethoven Tidak ada kamu Aku tidak mendengarmu dalam Sonata Terang Bulan Kamu tidak meredam dan menelan Kesedihan, pun kepedihan Kamu tidak memantulkan Wajah remang bulan Kala gugurnya di Hilir redup sungai Kamu berteriak Terlalu lantang Di malam hari Sedang antara aku dan Beethoven Tidak ada kamu Kami menjalin kesedihan Berdua saja Aku dalam kata Beethoven, Dalam denting Kamu berteriak Terlalu lantang. Sayangnya Kami tidak mendengar Jeritanmu Kami tidak mau mendengar Amukmu Piano Sonata nomor empat belas, Kuhanyutkan surat tak berbalas. Di C kres minor, Aku takut ia terdampar, Opus dua puluh tujuh nomor dua, Karena kau jeritkan amuk tanpa duka.
0
Jun 23, 2016
Jun 23, 2016 at 8:18 AM UTC
Antara Aku dan Beethoven
Seteguk apapun, semua tak akan berakhir Aku adalah seorang pemabuk yang selalu menguarkan harum arak kemanapun aku pergi. Anggur, dan berbotol-botol ***** telah kutenggak pagi ini. Dan hanya hari ini pula aku ingin bicara, tentang segenggam racun yang kalian semua suntik ke dalam nadi dan pembuluhku. Topeng yang dengan bangga kalian pakai tak ubahnya ketelanjangan hanya mengumbar malu dan aib Tawa yang sesenggukan kalian jeritkan hanyalah tangis jiwa kalian yang memudar memutihkan kejujuran dan kebajikan Oh, beginikah cara kerja dunia berduri dan berbatu, sama saja disetiap lajurnya kemanapun aku pergi, dijejali mulutku dengan dusta dan hanya dusta belaka Menghitamnya jiwaku, seandainya bagai langit malam tak ada chandra di ufuknya Sudah selayaknya aku berkabung atas jiwaku, dimana dia merintih penuh sesal dan tanya. Apakah lalu lalang motor dan diesel itu memusingkan kepala atau hanya sebuah kesibukan belaka. Dan dengan itu pula jiwaku berakhir, terdiam, dalam kematian. Kukubur dia dengan layak, diantara nisan-nisan lain disekitarku, yang diberi nomor, sesuai urutannya. Jiwaku tersungkur di nomor tujuh. Beruntung sekali! Kukubur dia, pelan sekali dengan tertidur. Tak berharap bangun lagi di keesokan pagi. Kutaburi bunga-bunga dan prosa yang harum, dan kusiram dengan sebotol Martini dan bir. Harum. Seharum embun yang kau injak ditepian jalan. Wangi. Sewangi sukmamu yang kuingat telah pergi. Aku adalah pemabuk. Yang selalu menenteng sebotol arak, bermabuk di tepian jalan kehidupan. Mengambil jeda diantara kalimat-kalimat mencela dan busuk, yang tergelincir masuk ke dalam telingaku. Botol-botol inilah sang penawar, berminum pula para nabi terdahulu menyesali umatnya, sedangkan aku? Menyesali kalian.
0
Sep 7, 2016
Sep 7, 2016 at 12:30 PM UTC
Sebotol Penawar
Seteguk apapun, semua tak akan berakhir Aku adalah seorang pemabuk yang selalu menguarkan harum arak kemanapun aku pergi. Anggur, dan berbotol-botol ***** telah kutenggak pagi ini. Dan hanya hari ini pula aku ingin bicara, tentang segenggam racun yang kalian semua suntik ke dalam nadi dan pembuluhku. Topeng yang dengan bangga kalian pakai tak ubahnya ketelanjangan hanya mengumbar malu dan aib Tawa yang sesenggukan kalian jeritkan hanyalah tangis jiwa kalian yang memudar memutihkan kejujuran dan kebajikan Oh, beginikah cara kerja dunia berduri dan berbatu, sama saja disetiap lajurnya kemanapun aku pergi, dijejali mulutku dengan dusta dan hanya dusta belaka Menghitamnya jiwaku, seandainya bagai langit malam tak ada chandra di ufuknya Sudah selayaknya aku berkabung atas jiwaku, dimana dia merintih penuh sesal dan tanya. Apakah lalu lalang motor dan diesel itu memusingkan kepala atau hanya sebuah kesibukan belaka. Dan dengan itu pula jiwaku berakhir, terdiam, dalam kematian. Kukubur dia dengan layak, diantara nisan-nisan lain disekitarku, yang diberi nomor, sesuai urutannya. Jiwaku tersungkur di nomor tujuh. Beruntung sekali! Kukubur dia, pelan sekali dengan tertidur. Tak berharap bangun lagi di keesokan pagi. Kutaburi bunga-bunga dan prosa yang harum, dan kusiram dengan sebotol Martini dan bir. Harum. Seharum embun yang kau injak ditepian jalan. Wangi. Sewangi sukmamu yang kuingat telah pergi. Aku adalah pemabuk. Yang selalu menenteng sebotol arak, bermabuk di tepian jalan kehidupan. Mengambil jeda diantara kalimat-kalimat mencela dan busuk, yang tergelincir masuk ke dalam telingaku. Botol-botol inilah sang penawar, berminum pula para nabi terdahulu menyesali umatnya, sedangkan aku? Menyesali kalian.
Continue reading...
27
Penyair itu melangkahi pengemis pincang yang lelap itu. Kasurnya adalah trotoar dan mimpinya ntah apa. Jangan bahas mimpi jadi jutawan dengan kemeja dasi rambut klimis. Mimpi basah saja harus sembunyi sembunyi. Kan takut toh masturbasi di pinggir kali ? Soalnya guys, coli itu pun harus pake tangan kanan selain soal tekanannya yang konstan .. KALAU TANGAN KIRI KIRI KIRI, Disangka PKI ! Ini perihal dosa Illahi saudara saudari! — Lalu pengemis itu Menatap angannya setinggi bintang di lantai 53 menara menara ibu kota. Mengelus ngelus perut kurusnya. Alhamdullilah, hari ini bisa santap sisa paha ayam dari restoran kebarat baratan itu. Mungkin baginya, Tuhan menjelma dalam bentuk tempat sampah. Menyediakan pangan sisa sisa umat kesayangan-Nya. Dan dia, umat yang lupa ia punya. Pagi datang. Ia terus berjalan tanpa alas kaki. Sekelibat melihat lamborgini, berkawal polisi. Presiden mungkin ah? Nomor satu, atau duah? Dia tidak pernah berharap pada Tuhan. Atau presiden. Mungkin ia harus tetap berjalan saja. Atau mungkin ia harus berharap pada ratu adil. Entah kapan ia munculnya. Apa ketika jari-jari kakinya lepas. Hingga tidak bisa melangkah lagi. Atau lelah menguasai tubuh. Hingga enggan melangkah lagi. Atau seluruh kakinya patah Pun ia tidak peduli lagi? Apa ratu adil sedang sibuk memasang konde besarnya Takut takut tidak terlihat cantik saat hadir sebagai pahlawan kesiangan. Atau ratu adil sedang sibuk Memutuskan hukuman adil untuk penyair ini yang mempertanyakan kuasa Ilahi dia punya? Atau mungkin ratu adil berhati dingin. Seharusnya iya karena mana mungkin beliau yang welas asih membiarkan hambanya pontang panting, malah sibuk mengurus penyair mengkritik program kerja-Nya tahun ini. Yah .. Memperhatikan pengemis itu terpincang-pincang lebih asyik daripada mengurus Tuhan. Presiden. Atau ratu adil. Apakah Mas Aristoteles meramalkan distopia pada nusantara?
0
May 14, 2019
May 14, 2019 at 1:28 PM UTC
Penyair Setelah Tahun '65
Penyair itu melangkahi pengemis pincang yang lelap itu. Kasurnya adalah trotoar dan mimpinya ntah apa. Jangan bahas mimpi jadi jutawan dengan kemeja dasi rambut klimis. Mimpi basah saja harus sembunyi sembunyi. Kan takut toh masturbasi di pinggir kali ? Soalnya guys, coli itu pun harus pake tangan kanan selain soal tekanannya yang konstan .. KALAU TANGAN KIRI KIRI KIRI, Disangka PKI ! Ini perihal dosa Illahi saudara saudari! — Lalu pengemis itu Menatap angannya setinggi bintang di lantai 53 menara menara ibu kota. Mengelus ngelus perut kurusnya. Alhamdullilah, hari ini bisa santap sisa paha ayam dari restoran kebarat baratan itu. Mungkin baginya, Tuhan menjelma dalam bentuk tempat sampah. Menyediakan pangan sisa sisa umat kesayangan-Nya. Dan dia, umat yang lupa ia punya. Pagi datang. Ia terus berjalan tanpa alas kaki. Sekelibat melihat lamborgini, berkawal polisi. Presiden mungkin ah? Nomor satu, atau duah? Dia tidak pernah berharap pada Tuhan. Atau presiden. Mungkin ia harus tetap berjalan saja. Atau mungkin ia harus berharap pada ratu adil. Entah kapan ia munculnya. Apa ketika jari-jari kakinya lepas. Hingga tidak bisa melangkah lagi. Atau lelah menguasai tubuh. Hingga enggan melangkah lagi. Atau seluruh kakinya patah Pun ia tidak peduli lagi? Apa ratu adil sedang sibuk memasang konde besarnya Takut takut tidak terlihat cantik saat hadir sebagai pahlawan kesiangan. Atau ratu adil sedang sibuk Memutuskan hukuman adil untuk penyair ini yang mempertanyakan kuasa Ilahi dia punya? Atau mungkin ratu adil berhati dingin. Seharusnya iya karena mana mungkin beliau yang welas asih membiarkan hambanya pontang panting, malah sibuk mengurus penyair mengkritik program kerja-Nya tahun ini. Yah .. Memperhatikan pengemis itu terpincang-pincang lebih asyik daripada mengurus Tuhan. Presiden. Atau ratu adil. Apakah Mas Aristoteles meramalkan distopia pada nusantara?
Continue reading...
45
kau putar lagi satu lagu bernada manis dan mudah didengar itu, sederhana. berbeda dengan musik-musik yang biasa kusimpan di playlist-ku, yang nadanya keras dan isinya tak mudah dicerna. kumpulan seni berisi teka-teki. sejenis indie, mereka bilang. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda; kamu yang begitu lembut dan aku yang mereka beri label seorang laki-laki berwajah datar, tak berperasaan. salah. kukatakan sekali lagi, salah. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda, yang juga saling tarik-menarik tak pernah mau lepas pada waktu yang sama. dengan segala perbedaan yang mereka pikir terlalu sulit untuk dipersatukan, logika dan imajinasi, bagai minyak dan air, aku dan kamu memilih untuk saling membenahi satu sama lain. isi pikiranmu adalah buku berjalan bagiku dan ruang kosong dalam sudut otakku yang biasa kau sebut sebagai ‘ruang khayal’-ku, kau jadikan ia sebagai salah satu guru dalam hidupmu. dari sana kau pelajari bagaimana caranya mengenali berbagai nada musik dan segala makna dari balik kiasannya yang beresonansi, kisah-kisah yang hanya dapat hidup dalam dimensi imajinasi, serta inspirasi-inspirasi yang dapat kau cari dari peristiwa sehari-hari. aku dan kamu tak pernah sama, kamu satu perempuan berambut lembut dengan suara yang lembut, isi pikiran yang berjalan mulus. orang-orang bilang kamu perempuan berpendidikkan, jenis perempuan berwawasan luas, berjiwa luas. sementara aku laki-laki penggila musik yang menganggap seni adalah satu hal yang perlu ditekuni seuntuhnya. menjadi musisi adalah satu impian besar yang membuatku tak pernah berhenti berlari untuk mencapainya dan kamu pendukungnya, nomor satu. kamu ingin jadi jurnalis dan aku ingin jadi pemusik. aku dan kamu berasal dari ranah yang jauh berbeda, namun disatukan karena cinta.
0
Dec 9, 2017
Dec 9, 2017 at 9:34 AM UTC
satu lagi kisah singkat yang sempat terbuang
kau putar lagi satu lagu bernada manis dan mudah didengar itu, sederhana. berbeda dengan musik-musik yang biasa kusimpan di playlist-ku, yang nadanya keras dan isinya tak mudah dicerna. kumpulan seni berisi teka-teki. sejenis indie, mereka bilang. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda; kamu yang begitu lembut dan aku yang mereka beri label seorang laki-laki berwajah datar, tak berperasaan. salah. kukatakan sekali lagi, salah. aku dan kamu tak lain hanyalah dua kutub magnet yang berbeda, yang juga saling tarik-menarik tak pernah mau lepas pada waktu yang sama. dengan segala perbedaan yang mereka pikir terlalu sulit untuk dipersatukan, logika dan imajinasi, bagai minyak dan air, aku dan kamu memilih untuk saling membenahi satu sama lain. isi pikiranmu adalah buku berjalan bagiku dan ruang kosong dalam sudut otakku yang biasa kau sebut sebagai ‘ruang khayal’-ku, kau jadikan ia sebagai salah satu guru dalam hidupmu. dari sana kau pelajari bagaimana caranya mengenali berbagai nada musik dan segala makna dari balik kiasannya yang beresonansi, kisah-kisah yang hanya dapat hidup dalam dimensi imajinasi, serta inspirasi-inspirasi yang dapat kau cari dari peristiwa sehari-hari. aku dan kamu tak pernah sama, kamu satu perempuan berambut lembut dengan suara yang lembut, isi pikiran yang berjalan mulus. orang-orang bilang kamu perempuan berpendidikkan, jenis perempuan berwawasan luas, berjiwa luas. sementara aku laki-laki penggila musik yang menganggap seni adalah satu hal yang perlu ditekuni seuntuhnya. menjadi musisi adalah satu impian besar yang membuatku tak pernah berhenti berlari untuk mencapainya dan kamu pendukungnya, nomor satu. kamu ingin jadi jurnalis dan aku ingin jadi pemusik. aku dan kamu berasal dari ranah yang jauh berbeda, namun disatukan karena cinta.
Continue reading...
1
mencintai tanpa memiliki. klasik, ya, apa boleh buat? aku tak pernah menganggapmu adalah milikku, pun aku adalah milikmu. namun rasa itu tumbuh di antara kita, tanpa satu pun yang memaksa. aku tau kau masih memiliki seseorang dalam daftar prioritasmu, terlebih, mungkin dirinya lah yang nomor satu. tunggu, bukan berarti aku senang dijadikan yang ke-sekian; lagi-lagi, apa boleh buat? aku hanya bisa menunggu sampai sang waktu memberiku lelah yang luar biasa hingga rasa sabarku perlahan habis, karena ku tau rasa cintaku takkan pernah.
0
Jun 12, 2019
Jun 12, 2019 at 11:25 AM UTC
apa boleh buat?