Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"merayakan" poems
*Berderap tegap nyaring bersuara Saat pertama ku pajang jakun menutup pundak dan dada **"Universitasku universitas Indonesia. " "Terangkum dalam frasa 'buku pesta dan cinta'"** Sayang hanya dalam nyanyian belaka Isi kisahku hanya buku, tanpa pesta dan cinta Jangan kurang jangan lebih jua Pesta dan cinta punya takar unik pas tuk dicoba Seperti kopi kelebihan kekurangan gula Ada takaran pas 'tuk tiap lidah yg meminta Kisah uiku kisah pesta Pesta merayakan kebahagiaan,  kejayaan,  atau mungkin lepasnya keperjakaan Kisah uiku kisah cinta Cinta teman sebaya,  cinta maba alat pelampiasan atau cinta kakak tingkat kece mempesona Jika kisah uimu belum ada pesta dan cinta Maka jangan paksa diri menyeret kaki lepas dari skripsi dan tugas yang ada **Entah malang atau baik nasib akhir kisahnya Jangan mau lulus jika belum mencoba***
0
Oct 24, 2016
Oct 24, 2016 at 1:09 PM UTC
Pesta dan Cinta dalam Kisah UI-ku
Kemarin aku mengajakmu melihat senja. Katanya kamu suka warnanya merah jambu bercampur oranye seperti jeruk mandarin kesukaan ibu. Kamu selalu ceriwis membahas senja ini dan itu. “Jangan lupa kopi dan puisi! Kita harus merayakan isi bumi.” Celotehmu. “Kamu mau kan melihat senja bersamaku?” Kemarin aku mengajakmu melihat senja. Telah kupersiapkan sekian lama. Aku rakit sendiri senjaku dengan kopi manis dan puisi cinta yang kau sebut - sebut itu. Aku merangkai pelan-pelan sambil menghayal bola mata emas yang berbentuk kenari kesukaanku dan lengkung pelangi bibirmu. Cukup lama buatnya, tapi senjaku sangat cantik. Dan sedikit rapuh. Aku harap kamu senang. Kemarin aku mengajakmu melihat senja. Tapi kau pergi ke laut dan menjelajahi waktu. Terhanyut malam. Aku tidak ada di sana. Kamu menolak senjaku. Katamu ada senja yang lebih bagus. — Senja, senja, senja. Muak dengan puisi senja. Aku bukan anak indie regional, aku pendengar Ed Sheeran, top 50 ,Danilla Riyadi dan Sapardi ! Aku ya begini begini begini!
0
May 15, 2019
May 15, 2019 at 3:13 PM UTC
Bukan Puisi Senja
Pagi ini kugantung kemeja favoritmu depan pintu Sambil menarik satu senyuman Menahan apa yang tertahan di kerongkongan Yang seakan jika kuhembuskan saja Bisa sampai merobek paru-paru Lalu aku memakai serba hitam Merayakan kepergian ini sendirian Atas dirimu yang tak lagi ada untuk menyapa.
0
Oct 6, 2020
Oct 6, 2020 at 10:39 PM UTC
Satu Paruh Pertama di Bulan Desember
Hati dirantai sepi Sedih tertata rapi Jiwa dipasung waktu Pilu makin membiru Gelap menggrogoti batas imaji Cemas memeluk diri Melihat yang mulai redup Sirna kini tujuan hidup Tergopoh... Jelas langkah kian lelah, kian lemah Tersungkur raga sepertinya kalah Bersamanya putus asa Tangis menyatakan sesal Ingatan meremuk dada Hening memeluk semesta Ada yang mati di ruang hampa Barangsiapa enggan merayakan kehilangan Bersiaplah abadi dalam ketiadaan
0
Feb 22, 2021
Feb 22, 2021 at 9:35 AM UTC
NELANGSA ADALAH TAKDIR