"merapal" poems
Katanya langit akan berbintang malam ini, "Pulanglah dalam remangmu dan duduklah termangu. Berdoalah menghadap langit; jika sungguh kau berdoa, barulah ia akan berpijar."
Katanya langit akan berbintang malam ini. Bisa jadi doaku yang kurang hening. Bisa jadi aku salah merapal namamu dalam doa.
Katanya,
langit akan berbintang malam ini. Katanya juga, kau akan pulang, kembali ke dalam remangku.
Aku lihat langit.
Aku intip karam malam dalam diriku.
Di langit tak ada bintang. Di gelapku tak ada kau. Di doaku sajalah namamu disebut-sebut sekian kali.
Katanya langit akan berbintang malam ini. Bisa saja mereka berbohong, dan aku tak akan pernah tahu.
Seperti dahulu, kau beri aku bintang.
Dahulu bintang cumalah batu.
Sep 8, 2016
Sep 8, 2016 at 9:15 AM UTC
Siang ini, jam tidak berputar terbalik
Angin juga memutuskan untuk
Berhembus ke satu arah saja
Burung jalak di hening mulai menyanyi
Berlagak galak
Dan merapal sebuah lagu
Hanya rerumputan yang lupa
Tajamnya kidung mentari
Pikirnya,
Sakit tak akan membakar borok
Yang dimiliki
Apabila tak dirasa
Lupakan saja,
Jangan buat lagu apapun lagi
Untuk mentari
Biarlah ia murka sepuasnya
Siapa tahu rumput
Barangkali sedang impikan hujan
Yang tak kunjung lebur
Dalam lubuk hatinya
Aku ingat kau pernah
Beralasan:
Aku tak mungkin berdiri
Di bawah mentari,
Dalam nadi dan degupku
Mengalir bulir hujan
Terlampau
Getir dan gelap
Apr 19, 2016
Apr 19, 2016 at 3:38 AM UTC
Ibu mengajarkanku menerima biru
Agar pada setiap simpuh hanya ada bisu
Dan pada 777600 tak tersisa pilu
Ibu mengingatkanku merapal namamu
Agar padamu, Ia angkat abu dan biru
Agar kamu, terlupa apa yang lalu lalu
Jun 16, 2020
Jun 16, 2020 at 3:01 AM UTC
Aku suka kata-kata
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ begitu pun kamu
tapi bukankah
Seno pernah mengutuk kata-kata karena
mereka sudah terlalu banyak di dunia?*
.kata-kata tak punya makna
apalagi jiwa
kata-kata mudah menguap
sampai kita harus (mengurungnya)
sebelum terevaporasi entah-berentah
tak lagi dipahami!
Apa arti 'kita'
jika kata-kata tak punya makna?
Aku cukup payah
mencari kata 'kita' di antara tumpukan buku
yang tak selesai kubaca.
Kamu pernah bilang
aku membiusㅡmembisukan
tapi bukankah kata hanya sampai
bila diutarakan? tidak ke selatan, 'kan?
Kata-kata memang tak punya makna
apalagi yang tak tersampaikan
kata-kata mudah dilupakan
meski kamu pandai meramu kata
menjadi sajak-sajak cinta, dan menyuapiku:
semua terasa getir, aku tak punya selera.
Aku hanya bisa
menelan perasaan penasaran
yang tak kunjung habis.
Hingga aku kepayahan
merapal kata-kata 'kita,'
entah-berentah
Aku belum paham.
Dec 13, 2019
Dec 13, 2019 at 9:44 AM UTC
Ahh, judul...
Kuliat ia akhir-akhir ini begitu menyebalkan
Begitu merangah, berusaha mencolok
Aku tidak yakin dia melakukannya dengan tidak sadar
Aku tahu dia menginginkan sesuatu
Kuasa!
Aha, itu sudah pasti kuasa
Kuliat ia begitu sombong hanya karena posisinya yang sedikit diatas
Memandang rendah kata-kata serumpun yang ada di bawahnya
Acuh melihat titik dan koma yang baginya tak ada apa-apanya
Hanya karena font yang sedikit tebal dan size yang agak besar
Membuat masyarakat kata memilihnya untuk mewakili suara mereka
Pun merasa tak sebanding dengan apa yang dimiliki ‘Si Congkak’ itu
Kata merasa rendah, titik koma tak berdaya
Dan mereka... Kalah atas kedaulatannya sendiri
Padahal judul hanya tak sadar
Bahwa kuasa yang dimilikinya itu bukan karena dirinya sendiri
Ia lahir karena keresahan kata
Yang terombang-ambing bagai kapal di ganasnya lautan
Menggantung bagai kepompong, terpenjara dalam ketidaksempurnaan
Melayang-layang bak daun jatuh ditiup angin, tak tentu arah
Mendambakan hidup yang bahagia dan tenteram untuk merdeka
Karena ketakutan kata-lah
Judul hadir sebagai jawaban
Agar kata dilirik pembaca
Agar kata digunakan dalam ruang diskusi
Agar kata hidup dalam kepala
Mengakar kokoh dan menjadi abadi
Judul adalah cerminan pemimpin di negeri ini
Seperti kacang yang acuh pada kulit, lupa diri
Bahwa dirinya ada untuk mendengar keresahan
Bukannya malah menjadi dalang kerusuhan
Bahwa dirinya ada untuk mengerti suara yang dimarjinalkan
Bukannya malah membuang muka, lalu lantas pergi meninggalkan
Lihatlah ibu yang telah melahirkan
Yang terpinggirkan mengandung harapan
Yang menanti dengan merapal doa disetiap malam
Anak baik jadilah baik
Wahai kalian yang duduk manis di kursi tahta
Bangkitlah!
Kata-kata dan rakyat jelata yang dipandang sebelah mata
Mendengarlah!
Wahai judul "Si Congkak" juga para pemimpin negeri yang berlagak sok kuasa
Feb 27, 2021
Feb 27, 2021 at 11:55 AM UTC