"menyelimuti" poems
Kesendirian menyelimuti tubuh
Menarikku kembali menuju angan yang tak pernah usai
Sampai kapan harus ku tahan?
Gemuruh rasa rindu yang tak tertahan
Lelah aku
Sampai kapan ini akan berlangsung?
Bayang-bayang wajah di masa lalu
Tak pernah usai mengganggu
Menampakkan kembali sebuah kisah yang telah lalu
Kala ku titipkan rindu ini pada senja
Melepas segala gundah yang akan membuncah
Lisan tiada mampu berucap
Hanya kata merangkai hati
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 3:08 AM UTC
Mendung gelap kala itu
Angin yang berlari-lari
Kilat petir mengambil alih langit
Kegelapan menyelimuti
Burung yang terbang diantaranya
Satu diantara membuat perbedaan
Burung yang duduk diatas pagar
Seakan kelelahan melawan
Meratapi kegelapan menerpa
Hujan deras menyelimutinya
Duduk terdiam
Lelah akan melawan.
Oct 25, 2017
Oct 25, 2017 at 10:00 AM UTC
Palembang, 6 Januari 2011
Dewasa ini
Awan hampir menipis
Takkan lagi menyelimuti langit
Tak mampu lagi menutupi terik
Di masa ini
Udara tak bersahabat lagi
Tak ingin didekati
Dan selalu berlari-lari
Sekarang ini
Penjahat bagai belut yang licin
Tak mampu tersentuh dengan tangan kosong
Selalu bisa lolos dari jeruji
Dunia ini, hari ini
Semakin tidak adil menghakimi
Tak berdaya, miskin, mudah tuk dijatuhi
Tinggal menunggu dunia ini berakhir
Jan 6, 2012
Jan 6, 2012 at 1:34 AM UTC
Untuk yang merindukan Rumah, lebih dari apapun.
Rumah bukan lah tentang bangunan, ruang, pintu-pintu yang kokoh, atau jendela-jendela yang ditata.
Bukan tentang jenis kayu apa yang digunakan untuk pintu-pintu, jendela-jendela, entah itu jati, sigi atau mahoni.
Ini tentang apa yang hidup di dalam sana.
Aku pernah memiliki rumah, dan selalu ingin kembali pulang kesana, tapi seseorang yang memiliki peranan sangat penting di rumah, pergi meninggalkan, anggaplah ia sebagai jantungnya, dan ketika jantung tersebut sudah berhenti berdetak, mati lah yang akan kau temukan. Barangkali ia sudah menemukan rumah barunya, dan benar saja.
Baginya aku dan ibu hanyalah tamu, dan kau tidak pernah benar-benar menerima tamu, mereka lalu lalang disana, ia menemukan rumah barunya, bukan aku bukan juga ibu.
Saat aku berusaha sekuat tenaga untuk kembali pulang dan mengingat-ingat jalan menuju rumah, aku menemukannya, namun rumah itu sudah terkunci sangat rapat, aku megetuknya, tak juga si pemilik membukakan pintunya, beberapa waktu aku masi mencobanya, mungkin tidur di teras rumah ini dan berharap suatu waktu pintunya akan dibuka oleh sang pemilik, namun waktu yang ku tunggu itu tak pernah datang. Aku mencoba mengintip lewat jendela-jendela yang kokoh, aku melihat seorang anak kecil laki-laki berlarian di ruang tengah dekat perapian. Aku tersingkir.
Hujan turun dengan derasnya, bukan dari langit, melainkan dari pelupuk mataku, sepertinya awan hitam menyelimuti seluruh ruang hatiku, aku tersadar bahwa ia sudah benar-benar pergi meninggalkan rumah lamanya, dan sudah benar-benar juga menemukan rumah barunya.
Saat ini aku sedang mencoba untuk membangun rumah yang lebih kuat, kokoh, dan indah. Aku tidak akan kembali pulang atau kembali mengingat-ingat jalan menuju rumah lamaku.
Aku akan membuatnya sendiri, dan semoga rumah baruku tidak pergi lagi.
Apr 25, 2019
Apr 25, 2019 at 5:39 AM UTC
jakarta jumat malam pukul satu lebih empat puluh tiga,
aku menyusuri sejuknya kota jakarta sehabis hujan.
semua tenang
seakan-akan sepi menyelimuti lembabnya jalanan,
seakan-akan semuanya sepi dan dinginnya menusuk,
seakan-akan semuanya tidak pernah cukup,
seakan-akan semuanya tidak akan pernah terjadi,
aku egois, sampai-sampai aku tidak pernah memberi tahu mu tentang ini
begini, bagiku kau adalah nirwana terindah.
sayangnya, kau bukan rumah yang aku cari.
Apr 26, 2019
Apr 26, 2019 at 10:21 PM UTC
Dalam lembut cahaya hidup yang temaram,
Dengan yang tercinta di dekat, hati tetap bimbang.
Di balik senyum, ada kehampaan,
Saat malam tiba, menyelimuti kesunyian,
Engkau berdiri sendiri dalam kesulitan,
Jiwa terombang-ambing di lautan kehidupan.
Di ruang riuh, sulit memeluk percaya,
Seribu wajah, namun jiwa tetap waspada.
Pada akhirnya, hanya dirimu,
Yang menanggung langit biru.
Dalam kesendirian, kita belajar menangis,
Karena kesepian tak pernah habis.
Aug 18, 2024
Aug 18, 2024 at 10:55 PM UTC
Kala itu diriku terasa letih
Coba tuk berlari walau tertatih
Rasa ragu menyelimuti diri
Apa mampu tegak berdiri?
Kini aku sedang berjuang
Melewati jalan yang berlubang
Meski sulit mengejar peluang
Ku yakin akan benderang
Mar 16, 2023
Mar 16, 2023 at 4:35 PM UTC
Setetes, dua tetes, tiga tetes, empat tetes
Air hujan akhirnya kembali pulang ke kampung halamannya
Ke tanah kering,
Berisi hamparan debu dan keluhan para penghuni kota yang melebur jadi satu
Melagu, menyelimuti atmosfer kota yang dihinggapi kebosanan dan ketergesaan
Kemajemukan dan kesamaan-kesamaan
Kebebasan dan keterbatasan
Kesempatan dan hambatan-hambatan
Jalan panjang menuju rumah
Dihuni sepi, tetesan hujan di jendela bus, dan pikiran-pikiran tak lumrah
Trotoar basah dan langit gelap
Berhenti di satu halte,
Seorang laki-laki berkemeja kotak-kotak datang menghampiri
Tanyanya,
“Hai, di sini kosong?”
Perempuan itu diam, mengangguk.
“Kosong.”
Laki-laki itu duduk di sebelahnya, memangku tas ransel hitam, dan bertanya lagi,
“Tahu kenapa langit tiba-tiba menangis?”
Perempuan itu menggeleng.
“Kenapa?”
Laki-laki itu bicara lagi, mendekatkan kepalanya,
“Karena langit sedang mencari rumahnya yang lama hilang.”
Tepat saat itu,
Si perempuan tersadar,
Terlalu lama ia tenggelam,
Dalam percakapan yang hanya hidup di ruang imajinasinya.
Aug 26, 2019
Aug 26, 2019 at 7:30 AM UTC
Ku merindukan kata-kata hangatmu
yang menembus dinginnya malam
menyelimuti raga yang gugup
Apr 21, 2020
Apr 21, 2020 at 2:21 PM UTC
Dini hari
Gelap gulita menyelimuti
Mimpi-mimpi yang hampir mati
Mungkin akan bangkit kembali
Gadis pemerhati ulung sedang memeluk riuh suara kembang api
Tak ada yang peduli, selain dirinya sendiri
dan nadi yang sedang berdenyut
Dec 27, 2020
Dec 27, 2020 at 11:59 AM UTC