Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"menuju" poems
Jakarta, 25 Mei 2008 Kapan ku boleh ke sana Dunia terindah untuk semua Udara harum nan sejuk Tiada panas mentari yang menyengat Boleh kah aku melangkah Menuju ke pintu surge Impian semua manusia Sudikah Kau Tuhan? Bila ku pijakkan kaki di surge Merasakan hidup istimewa Penuh ayat-ayat doa Surga-Mu indah Tuhan… Bolehkah ku sentuh sejenak Merasa damai nan indah Ku mulai masuk ‘tuk selamanya
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:39 AM UTC
Surga
*Kata demi kata Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat Demi melepas seikat rindu Untuk seseorang berpandangan sayu Yang telah lama diombang-ambing oleh gelombang kelabu Seberat langit mendung yang sendu Berpayung ia lama mencari lentera menuju ujung jalan Sembari menanti hentinya rintik hujan Tanah becek berlumpur tempat kakinya lama singgah Di mana guntur tak ada lelahnya menumpah ruahkan gundah Kata demi kata Kuleburkan menjadi beberapa helai untaian kalimat Demi melekatkan seikat harapan Untuk seseorang yang tengah dihuyung geramnya badai topan Yang tak hentinya berharap agar matanya dibutakan mentari pagi Jiwanya lama berkelana mencari, entah ke mana cahaya itu pergi Jauh dalam sudut yang gelap ia dibiarkan sendiri* ------------------------------------------------------------------------------------------- Telah kuleburkan kata demi kata menjadi beberapa helai untaian kalimat Untuk kompas dalam hidupmu yang telah kehilangan arah Dibutakan oleh gulungan-gulungan masalah Juga dalam doa-doa malamku dan setiap sujudku di atas sajadah, Kubisikkan sebuah pinta agar dirimu selalu dalam pentunjuk-Nya, Agar kelak dapat kau baca helaian untaian kalimat penyamangatku, Yang kusampirkan dalam saku jaketmu hari itu, Dapat merontokkan seluruh perasaan kelabu dalam kalbumu, Mendepakmu dari sudut gelap di ruang tergelap pikiranmu sendiri.
0
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 7:28 AM UTC
ruang tergelap
Palembang, 21 Oktober 2012 Aku berjalan, menyusuri lorong gelap dan dingin Menatap lurus pada satu tujuan Pintu berukiran abstrak Tanpa kunci aku bisa masuk dengan mudahnya Tanpa kode aku lolos dari tes keamanan Aku terus berjalan, menapaki lantai yang lembap Menuju suatu benda tinggi besar yang datar Aku berhenti. Berdiam diri cukup lama Terpaku tanpa mampu berkata Aku berdiri di depan cermin Aku melihat diriku Lihat Dia! Dialah aku yang haus akan cinta Dialah aku yang menadah kasih sayang Aku berlutut dan meminta Bawa dia ke sini Tuhan Ke hatiku Aku masih terdiam terpaku Menyaksikan apa yang ada di hadapanku Berpikir, betapa bodohnya aku Aku berbalik tanpa berkata sepatah pun Dan pergi meninggalkan aku yang masih terperangkap di cermin itu Masih bisa kuubah, ucapku pada diriku Takkan ku biarkan penderitaan menyentuh hidupku, sedikitpun Aku akan berbalik dan melupakan semua Melanjutkan perjalanan hingga tugasku usai
0
Oct 21, 2012
Oct 21, 2012 at 12:49 PM UTC
Cermin Tarsah
Kesendirian menyelimuti tubuh Menarikku kembali menuju angan yang tak pernah usai Sampai kapan harus ku tahan? Gemuruh rasa rindu yang tak tertahan Lelah aku Sampai kapan ini akan berlangsung? Bayang-bayang wajah di masa lalu Tak pernah usai mengganggu Menampakkan kembali sebuah kisah yang telah lalu Kala ku titipkan rindu ini pada senja Melepas segala gundah yang akan membuncah Lisan tiada mampu berucap Hanya kata merangkai hati
0
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 3:08 AM UTC
Buah Rindu
dibalik jendela pesawat terbang, ada bulan purnama bulat dan terangnya sempurna malam ini saya mengarungi awan yang bentuknya jelas karena pantulan cahaya bulan bergumpal, halus, keemasan indah terpantul pada retina mata, menakjubkan lalu saya tertidur dalam mimpi saya berkereta menuju cahaya bulan saya akan sampai disana, dibulan turbolensi membangunkan saya tepat pukul 11.42 malam diluar bayangan samudra masih gelap, tidak terlihat 1 jam lagi saya akan sampai di negeri cina, kata seseorang dengan pengeras suara tidak jadi kebulan? tak apa, berbeloklah dahulu baru ke bulan Diatas awan, 26 Februari 2013
0
Mar 10, 2013
Mar 10, 2013 at 1:34 AM UTC
berbelok dahulu
Jalan menuju hatiku Bagaikan jalan berliku Bagaikan jalan berbatu Yang tikungannya tajam Penuh rintangan Jalanan jalanan ini menjadi saksi Bagaimana cinta bisa membutakan, Membutakan kalian dari kebenaran Tempat kalian tikung menikung tanpa memikirkan lagi pertemanan. Jalanan jalanan ini menjadi saksi Bahwa cinta itu ada Dan untuk mendapatkannya Butuh banyak pengorbanan Butuh banyak waktu Jalanan jalanan ini pernah menjadi saksi sebuah kisah cinta Kisah cinta tentang dua orang Yang dulu saling menyayangi Kisah aku dan kamu.
0
Mar 2, 2017
Mar 2, 2017 at 2:58 AM UTC
JALAN
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
0
Sep 23, 2016
Sep 23, 2016 at 12:19 PM UTC
Sepenggal Cerita 68 tahun
pukul empat sore tadi seorang pria tua penuh keriput diwajahnya pergi melangkahkan kaki rentanya keluar dari pondok jati tempat semalam ia terlelap lengkap dengan pakaian rapih kebesarannya, sepatu boot dan tak lupa topi baret miliknya diambilnya sepeda jengki bercat kusam dengan sedikit bercak karat pada besi besinya yang disandarkan oleh empunya pada pagar kayu depan pondok digiringlah sang sepeda jengki menuju jalan sambil melangkah menuju tempat tujuannya selang beberapa saat, ia tunggangi sepeda jengki itu ia kayuh sambil berpeluh pada dahi sampai ke tubuh berbulir menetes tak ada ragu lirih ia dendangkan lagu yang telah ia hafal selama hidupnya saat ia masih muda yang dapat memacu semangatnya dulu saat akan hendak pergi berperang bersama kawan-kawannya dulu sesampainya ia di Jalan Kusumanegara di depan taman berpagar tembok putih di-remnya sepeda jengki kusam itu tepat di tepi seorang wanita yang sudah terduduk rapi menggelar dagangannya "Saya beli kembangmu, cukup lima ribu saja." itu katanya sang wanita penjual lekas membungkuskan permintaannya dengan senyum dibibir sembari memberikan bungkusan kembang kepada pria bersepeda jengki itu, ia lalu bertanya "Kalau boleh saya tahu, untuk siapa kembang ini Bapak beli?" ujarnya santun hormat sang pria bersepeda jengki terdiam, ia lalu tertawa kecil tawa khas seorang di usia senjanya "Saya mau jenguk kawan seperjuangan saya, hari ini 20 Desember, tepatnya 68 tahun yang lalu, ia berpamitan ingin menuju dunia Qadim milikNya saat kami sedang berjuang untuk Negara" jawabnya Pria bersepeda jengki itu lalu undur diri, dititipkannya sepeda tua miliknya pada sang wanita penjual kembang, ia lalu berjalan kaki memasuki gerbang tembok bercat putih bertuliskan Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Daerah Istimewa Yogyakarta dengan langkah mantap dan juga senyum mengembang di wajah keriputnya " Assalamu'alaikum, Aku njaluk sepuro yo Di Mas, Kepriye kabarmu? Ayo gek tak ceritani kabar Indonesia saiki! "
Continue reading...
35
Waktu adalah sahabatku Jarak adalah musuhku Bersamamu adalah saat kesukaanku Berjarak denganmu adalah keengananku Terlintas di benak ingin membuat mesin waktu Melintasi waktu Teleportasi menuju duniamu Menghabiskan waktu yang tersisa bersamamu Berbicara segala hal Mendengarkan segala hal Mencintai segala hal tentangmu Bersenggama selamanya denganmu Tuhan telah menurunkan malaikat di hidupku Setiap malam kubisikkan doa-doa ku kepadaNya agar diriku layak Setiap hal di dirimu membuat segalanya sempurna untuk menjadi layak Tuhan, jaga malaikat ini untuk tetap disisiku.
0
Dec 6, 2017
Dec 6, 2017 at 11:56 AM UTC
Ruang lintas.
*Kuharap renggang antara kita hanya sejauh epsilon, sayangku. Tak ada sela bahkan tuk menilik pelupuk mata masing-masing. Dan jika limit epsilon menuju nol Maka ini tenggat kita, sayangku Bekukan ponsel pintarmu Abaikan saja waktu menyiram tanaman petang ini Lebih-lebih biarkan jemuran dibasahi gerimis Kita tak punya banyak waktu, sayangku Mari nikmati Sedemikian sehingga gairah renjana menemani percakapan masa lalu kita*
0
May 17, 2016
May 17, 2016 at 9:11 PM UTC
Epsilon
Aku berdiri kaku di depan cermin menatap nanar dirimu. Bertanya... Berapa banyak malam yang kau habiskan untuk mencaci tubuh tak bersalah itu? Mencabiknya agar kau tetap bisa merasa hidup. Biru dan ungu selalu menjadi tanda bahwa kau menang melawanku. Aku ingat beberapa orang mengubahmu menjadi kelabu, membunuhmu dengan kejam, lalu membuangmu jauh ke jurang hitam. Kita berjalan beriringan dengan kapak berlumur kata-kata tak dimaksudkan, tapi kau bilang kau telah mati jauh sebelum kita berdamai. Lalu bagaimana denganku? Seperti ruang kosong yang hilang ditelan kesendiriannya, aku berjalan menuju ujung lorong yang tak pernah sempat kau injak. Menari-nari di bawah binar harapan seperti aku lupa bahwa kau tak lagi diam di sana. Ingatkah kau saat kita duduk di meja makan bersama dua orang asing? Kau sibuk bermain dengan gelisahmu, sementara aku tersenyum lebar berperan sebagai hantu. Kau melahap habis semua isi di sana, tetapi hanya berakhir pada kamar air yang sengaja kau sembunyikan. Kau mati. Lalu bagaimana denganku?
0
Oct 4, 2016
Oct 4, 2016 at 7:24 AM UTC
Bagaimana Denganku?
Setia ku hingga akhir waktu Cinta ku tak mati meski hancur Kasih ku tak habis slalu merindu Diriku kan mati ditinggal mu Suara hati ini bisu Jejak langkah ini lumpuh Tapi tetap kepakkan sayap Menuju surga hidup kebahagiaan Lagu cinta hilang Berasa hening kali ini Suara indah berhenti Hatipun bersedih Luapan cintaku tak berakhir Sampai nanti, sampai aku mati
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:50 AM UTC
Untitled
Acara dalam rangka memperingati hari lahir (harlah) Ke-65 PW Fatayat NU itu diikuti hampir 38 peserta se-Jatim yang meliputi perwakilan seluruh pimpinan cabang Fatayat NU. Hasil desain peserta diperagakan model andalan mereka. Tak kalah dengan model profesional, para model Fatayat NU ini juga tampak percaya diri berlenggak-lenggok di atas caltwalk. Dalam lomba fashion show ini, peserta dari PC Fatayat Bojonegoro meraih juara pertama, sedangkan pemenang kedua diraih oleh peserta dari Nganjuk dan pemenang ketiga dari Fatayat Bangil. Menurut desainer muslimah yang dinobatkan jadi juri lomba ini, Ana Farhasy, ada beberapa poin dimiliki peserta Bojonegoro sehingga meraih juara. "Kendati bertemakan busana pesta muslimah, namun desainnya simpel dan elegan. Itu menjadi kelebihan sendiri daripada peserta lain yang banyak menonjolkan aksesoris sehingga tampak berlebihan," katanya. Selain itu, peserta dari Bojonegoro menampilkan tema gold kayu jati. "Batik yang digunakan asli Bojonegoro," jelas Ana. Sementara itu, Ketua Fatayat NU Jatim Hikmah Bafaqih mengatakan selain lomba fashion show, kegiatan lain juga digelar dalam rangkaian harlah Fatayat NU itu. "Ada lomba menulis artikel, lomba menjadi presenter, dan bazar produk unggulan (handycraft) kreasi kader Fatayat di seluruh cabang Fatayat se-Jatim," katanya. Ia menambahkan, puncak peringatan Harlah Fatayat NU dilaksanakan di kantor PWNU Jatim pada Minggu, 17 Mei 2015. Rencananya, acara puncak dihadiri Menpora Imam Nahrawi, Wagub Jatim Saifullah Yusuf, dan Ketua DPRD Jatim. "Ketua Umum PP Fatayat NU Hajah Ida Fauziyah tidak bisa hadir karena berbarengan dengan acara prakongres Fatayat di Bandung," katanya. Mbak Hikmah, sapaan akrabnya, mengemukakan tema yang diambil harlah kali ini adalah "Ikhtiar Fatayat NU menuju Indonesia Berkeadaban". "Karenanya kita akan terus berusaha untuk melakukan berbagai karya nyata, tentu kita bangun ulang keadaban kita dengan Islam ahlussunnah wal jamaah atau yang kita kenal dengan Islam Nusantara," katanya.Read more here:www.marieaustralia.com/mermaid-trumpet-formal-dresses | www.marieaustralia.com/one-shoulder-formal-dresses
0
May 17, 2015
May 17, 2015 at 10:37 PM UTC
Fatayat NU Jatim Gelar Fashion Show Batik Muslimah
Acara dalam rangka memperingati hari lahir (harlah) Ke-65 PW Fatayat NU itu diikuti hampir 38 peserta se-Jatim yang meliputi perwakilan seluruh pimpinan cabang Fatayat NU. Hasil desain peserta diperagakan model andalan mereka. Tak kalah dengan model profesional, para model Fatayat NU ini juga tampak percaya diri berlenggak-lenggok di atas caltwalk. Dalam lomba fashion show ini, peserta dari PC Fatayat Bojonegoro meraih juara pertama, sedangkan pemenang kedua diraih oleh peserta dari Nganjuk dan pemenang ketiga dari Fatayat Bangil. Menurut desainer muslimah yang dinobatkan jadi juri lomba ini, Ana Farhasy, ada beberapa poin dimiliki peserta Bojonegoro sehingga meraih juara. "Kendati bertemakan busana pesta muslimah, namun desainnya simpel dan elegan. Itu menjadi kelebihan sendiri daripada peserta lain yang banyak menonjolkan aksesoris sehingga tampak berlebihan," katanya. Selain itu, peserta dari Bojonegoro menampilkan tema gold kayu jati. "Batik yang digunakan asli Bojonegoro," jelas Ana. Sementara itu, Ketua Fatayat NU Jatim Hikmah Bafaqih mengatakan selain lomba fashion show, kegiatan lain juga digelar dalam rangkaian harlah Fatayat NU itu. "Ada lomba menulis artikel, lomba menjadi presenter, dan bazar produk unggulan (handycraft) kreasi kader Fatayat di seluruh cabang Fatayat se-Jatim," katanya. Ia menambahkan, puncak peringatan Harlah Fatayat NU dilaksanakan di kantor PWNU Jatim pada Minggu, 17 Mei 2015. Rencananya, acara puncak dihadiri Menpora Imam Nahrawi, Wagub Jatim Saifullah Yusuf, dan Ketua DPRD Jatim. "Ketua Umum PP Fatayat NU Hajah Ida Fauziyah tidak bisa hadir karena berbarengan dengan acara prakongres Fatayat di Bandung," katanya. Mbak Hikmah, sapaan akrabnya, mengemukakan tema yang diambil harlah kali ini adalah "Ikhtiar Fatayat NU menuju Indonesia Berkeadaban". "Karenanya kita akan terus berusaha untuk melakukan berbagai karya nyata, tentu kita bangun ulang keadaban kita dengan Islam ahlussunnah wal jamaah atau yang kita kenal dengan Islam Nusantara," katanya.Read more here:www.marieaustralia.com/mermaid-trumpet-formal-dresses | www.marieaustralia.com/one-shoulder-formal-dresses
Continue reading...
12
Senyum itu, dari mana datangnya Tolong beritahu aku rahasianya Agar nanti bisa kulakukan lagi Biar mereka tahu, manisnya kau kala itu Senyum itu, bisakah lebih lama? Maafkan aku ini ingatannya lemah Jadi tolong tersenyumlah lebih lama Biar aku ingat, manisnya kau kala itu Senyum itu, di hari yang sunyi tanpa kabar Apakah senyum itu ada di kala hujan? Aku ingin tahu, jadi bisikkan padaku Di mana senyum itu saat malam menuju Minggu Senyum itu, semanis kala itu Tapi, siapa yang dituju senyum itu Mungkinkah senyum semanis itu Menyisakan pahit yang teramat pahit? Tetaplah semanis itu, kalaupun pahit cukup aku yang tahu Tetaplah semanis itu, aku masih ingin membagi malamku padamu
0
Sep 1, 2017
Sep 1, 2017 at 1:06 PM UTC
Kau Manis Kala Itu
Ruang-ruang kosong di jiwa Sangat merindukanmu Langit berbintang memelukku erat Hingga sendiri menjadi nyaman Terbanglah bersamaku bila kau mau Kau tahu hanya butuh memanggil namaku Genggamlah tanganku Kau tahu kau tidak sendiri melawan dunia ini Hati akan berbicara Bila kegundahan menerpa Meski tak sempurna Cintaku akan mengisi gema ruang-ruang hatimu Disisimu, akan kubawa kau berlayar Menuju dunia tanpa kesedihan Disisiku, akan kubuat kau bahagia Membuat dirimu merangkum rasa.
0
Jan 2, 2018
Jan 2, 2018 at 10:00 AM UTC
Merindu Untuk Mengerti.
Jakarta, Jumat 31 Agustus 2007 Ya Allah … Segala puji bagi-Mu Untuk hamba sujud kepada-Mu Berdoa meminta ampunanmu Dari khilaf yang terus muncul Ya Allah … Bila hamba berdosa Tunjukkanlah jalan-Mu Bukan hamba yang kau siksa Namun, syaitan-syaitan yang terkutuk Ya Allah … Hamba ingin hidup kekal Menikmati dunia hingga akhir hayat Merasakan indahnya kebahagiaan Sekalipun hamba berdosa Hamba siap menuju akhirat
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 10:15 AM UTC
Doa Hamba (Manusia)
Daniel, Waktu panorama nyata cerah merona Aku termenung dungu Malu, cemas tak pernah begini Atau entah pernah namun kulupa Kala aku berlari menuju hilang Cerah itu muncul, kupikir selesai semua Berpapasan sosokmu, membelai pipimu Ku tak becus Yang terasa dijiwa makin bermakna yang ada dihati makin berarti Tak harap lebih berjumpa denganmu Dimimpiku Dipelaminan Atau dirumah kita nanti Rasa cintamu sudah cukup Sungguh, Terima kasih Buatmu, 2017.
0
Sep 18, 2017
Sep 18, 2017 at 12:15 PM UTC
Buat sayangku, Daniel
Dalam kerlap kerlip dunia malam Debuman musik keras menggema dalam telinga Menggeliat diantara tubuh para adam Mengumbar buah dada Menebar wewangian erotis Menarik para lebah mendekat Jalang bukan sembarang jalang Mendesah indah hanya bermodalkan tubuh molek Selembar uang sengaja tersangkut dalam lingerine Senyuman diberikan Membuat libidoku tak terbendung lagi Mengoyak pakaian minim yang menghalang akses untuk menjelajah tubuhmu Kau mendesah lagi Melodi indah mengiringku menuju surga dunia Peluh yang menyatu malam itu menjadi saksi Betapa indahnya tubuhmu bak bidadari Kuhantam titik titik nikmat dalam tubuhmu Kau bernyanyi, nyanyian erotis terindah yang pernah kudengar Kutatap wajahmu, rona merah dan peluh menyatu Wajah sempurna Penglihatanku berkabut Sekelebat cahaya putih menyilaukan terlihat Ketika kita bersama menikmati indahnya surga dunia Benih benih janin tak sanggup kubendung lagi Kau pun mendesah lagi Ah, kau memang bukan sembarang jalang
0
Dec 30, 2016
Dec 30, 2016 at 10:38 PM UTC
MALAM
Pelipur dalam kesedihan Penyejuk dalam kehausan Arah menuju tujuan Sumber kebahagiaan Ibu, Engkaulah segalanya
0
Jul 20, 2019
Jul 20, 2019 at 12:40 PM UTC
Ibu
Puisikan Semerbak hujan Merangsang ingatan Menggantikan kelam Menunggu Sang Surya datang Namun lelah menunggu ketidakpastian Kini yang tersisa luapan tangisan Hingga merasa distorsi yang tidak terbendung Membius raga dengan memori kelam Rasa ingin sendiri Terbang menuju dunia baru Meninggalkan realita
0
Oct 25, 2017
Oct 25, 2017 at 9:55 AM UTC
Hujan.
Untuk yang merindukan Rumah, lebih dari apapun. Rumah bukan lah tentang bangunan, ruang, pintu-pintu yang kokoh, atau jendela-jendela yang ditata. Bukan tentang jenis kayu apa yang digunakan untuk pintu-pintu, jendela-jendela, entah itu jati, sigi atau mahoni. Ini tentang apa yang hidup di dalam sana. Aku pernah memiliki rumah, dan selalu ingin kembali pulang kesana, tapi seseorang yang memiliki peranan sangat penting di rumah, pergi meninggalkan, anggaplah ia sebagai jantungnya, dan ketika jantung tersebut sudah berhenti berdetak, mati lah yang akan kau temukan. Barangkali ia sudah menemukan rumah barunya, dan benar saja. Baginya aku dan ibu hanyalah tamu, dan kau tidak pernah benar-benar menerima tamu, mereka lalu lalang disana, ia menemukan rumah barunya, bukan aku bukan juga ibu. Saat aku berusaha sekuat tenaga untuk kembali pulang dan mengingat-ingat jalan menuju rumah, aku menemukannya, namun rumah itu sudah terkunci sangat rapat, aku megetuknya, tak juga si pemilik membukakan pintunya, beberapa waktu aku masi mencobanya, mungkin tidur di teras rumah ini dan berharap suatu waktu pintunya akan dibuka oleh sang pemilik, namun waktu yang ku tunggu itu tak pernah datang. Aku mencoba mengintip lewat jendela-jendela yang kokoh, aku melihat seorang anak kecil laki-laki berlarian di ruang tengah dekat perapian. Aku tersingkir. Hujan turun dengan derasnya, bukan dari langit, melainkan dari pelupuk mataku, sepertinya awan hitam menyelimuti seluruh ruang hatiku, aku tersadar bahwa ia sudah benar-benar pergi meninggalkan rumah lamanya, dan sudah benar-benar juga menemukan rumah barunya. Saat ini aku sedang mencoba untuk membangun rumah yang lebih kuat, kokoh, dan indah. Aku tidak akan kembali pulang atau kembali mengingat-ingat jalan menuju rumah lamaku. Aku akan membuatnya sendiri, dan semoga rumah baruku tidak pergi lagi.
0
Apr 25, 2019
Apr 25, 2019 at 5:39 AM UTC
Rumah
Untuk yang merindukan Rumah, lebih dari apapun. Rumah bukan lah tentang bangunan, ruang, pintu-pintu yang kokoh, atau jendela-jendela yang ditata. Bukan tentang jenis kayu apa yang digunakan untuk pintu-pintu, jendela-jendela, entah itu jati, sigi atau mahoni. Ini tentang apa yang hidup di dalam sana. Aku pernah memiliki rumah, dan selalu ingin kembali pulang kesana, tapi seseorang yang memiliki peranan sangat penting di rumah, pergi meninggalkan, anggaplah ia sebagai jantungnya, dan ketika jantung tersebut sudah berhenti berdetak, mati lah yang akan kau temukan. Barangkali ia sudah menemukan rumah barunya, dan benar saja. Baginya aku dan ibu hanyalah tamu, dan kau tidak pernah benar-benar menerima tamu, mereka lalu lalang disana, ia menemukan rumah barunya, bukan aku bukan juga ibu. Saat aku berusaha sekuat tenaga untuk kembali pulang dan mengingat-ingat jalan menuju rumah, aku menemukannya, namun rumah itu sudah terkunci sangat rapat, aku megetuknya, tak juga si pemilik membukakan pintunya, beberapa waktu aku masi mencobanya, mungkin tidur di teras rumah ini dan berharap suatu waktu pintunya akan dibuka oleh sang pemilik, namun waktu yang ku tunggu itu tak pernah datang. Aku mencoba mengintip lewat jendela-jendela yang kokoh, aku melihat seorang anak kecil laki-laki berlarian di ruang tengah dekat perapian. Aku tersingkir. Hujan turun dengan derasnya, bukan dari langit, melainkan dari pelupuk mataku, sepertinya awan hitam menyelimuti seluruh ruang hatiku, aku tersadar bahwa ia sudah benar-benar pergi meninggalkan rumah lamanya, dan sudah benar-benar juga menemukan rumah barunya. Saat ini aku sedang mencoba untuk membangun rumah yang lebih kuat, kokoh, dan indah. Aku tidak akan kembali pulang atau kembali mengingat-ingat jalan menuju rumah lamaku. Aku akan membuatnya sendiri, dan semoga rumah baruku tidak pergi lagi.
Continue reading...
10
setiap arah yang kita lalui itu adalah berbeza. tiap kali takdir akan menemukan kita tanpa sedar. pada satu saat itu. bila kita berpaling antara satu sama lain. kita akan bertentang mata. setiap langkah yang menuju ke arah cinta itu. tiap kali takdir akan menemukan kita tanpa sedar. pada saat itu juga. kita akan berjalan pada arah yang sama. dan sekali lagi kita bertemu. betapa takdir itu tidak bisa disangkal. dan kita anggap cinta itu seperti jenaka. kita tidak bisa menafikan hati kita berdua. bolehkah kita mengisi jawapan bersama? di tempat kosong iaitu hati kita berdua.
0
Nov 28, 2014
Nov 28, 2014 at 4:57 PM UTC
Cinta I
Dia yang memberikan irama obrolan begitu hangat di penghujung fajar, Aku terlarut di dalamnya Aku meminta lagi irama itu di fajar selanjutnya Aku adalah oasis yang membantu melepaskan dahaganya, kala ia berkelana di gurun nan tandus Namun setelah segar kembali ia menyumbat mata air dengan pasir Lalu ia berkelana kembali Tuk mencari oasis selanjutnya, tuk menyumbat yang lain-lainnya Dia lalu kembali ke jalan berkerikil menuju rumahnya Dikala ia harus memilih di antara menyimpan kucing yang ia temukan di dalam sebuah peti emas di pinggir jalan Atau dia akan pergi dengan peti emas dan meninggalkan kucing itu tak bertuan
0
May 6, 2017
May 6, 2017 at 11:12 AM UTC
All I Ask
Carilah di antara benci dan cinta Di sela-sela malam menuju pagi Di belakang tirai megah pentas kehidupan Akan kau dapati diriku Kumpulkan semua amarah dan kecewa Ambil jari kelingkingku, tautkan milikmu Sembari ucapkan omong kosong dan ilusi Akan kau dapati diriku Berbaringlah di lantai, pejamkan matamu Sibaklah kemelut seribu bayangan hitam Terbanglah bersama awan lara bersayapkan derita Akan kau dapati mimpiku
0
Mar 19, 2018
Mar 19, 2018 at 12:12 AM UTC
Segenggam Rasa Malam