Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"menguap" poems
Jumat, 27 Agustus 2010 Satu lagi momen tak terelakkan Aku jatuh cinta lagi Lebih dari seorang kali ini Tak bisa aku memilih Hanya bisa menjalani hingga henti Menguap rasanya hatiku Hingga kini ku tak mampu berdiri Hanya terpaku dan terlarut dalam lamunan Yang begitu tinggi dan tak pantas ku lamuni Kini ragaku mulai mencair Sedikit demi sedikit mulai bercerai Mengarah sendiri tanpa tujuan Meninggalkan jiwaku yang tersiksa Jiwa ku sakit... sakit... Ragaku lenyap, perih, perih Datanglah... Sembuhkanlah... Ku mohon, Ku tak mampu hidup sendiri Created by. Aridea .P
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 12:53 PM UTC
Cinta Yang Lain
Penghujung hari tiba Kau menutup tirai panggung Mengganti naskah dan cerita Siap untuk kau mainkan kembali Penghujung hari tiba Hangat sentuhanmu menguap Kecupanmu memudar Kau rebut kembali rasa yang kau titipkan Namun kitalah kepura-puraan yang sempurna Dua tokoh utama dalam naskah drama Aku cermin pecah yang berkali-kali direkatkan Kaulah sang pandai kaca Malam akan segera berlalu Kau tutup tirai, siapkan panggung baru Rias kembali wajah serta tubuhmu Aku siap melupakan hari semalam
0
Dec 23, 2018
Dec 23, 2018 at 5:20 AM UTC
Kaca Ujung Hari
Aku suka kata-kata ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ begitu pun kamu tapi bukankah Seno pernah mengutuk kata-kata karena mereka sudah terlalu banyak di dunia?* .kata-kata tak punya makna apalagi jiwa kata-kata mudah menguap sampai kita harus (mengurungnya) sebelum terevaporasi entah-berentah tak lagi dipahami! Apa arti 'kita' jika kata-kata tak punya makna? Aku cukup payah mencari kata 'kita' di antara tumpukan buku yang tak selesai kubaca. Kamu pernah bilang aku membiusㅡmembisukan tapi bukankah kata hanya sampai bila diutarakan? tidak ke selatan, 'kan? Kata-kata memang tak punya makna apalagi yang tak tersampaikan kata-kata mudah dilupakan meski kamu pandai meramu kata menjadi sajak-sajak cinta, dan menyuapiku: semua terasa getir, aku tak punya selera. Aku hanya bisa menelan perasaan penasaran yang tak kunjung habis. Hingga aku kepayahan merapal kata-kata 'kita,' entah-berentah Aku belum paham.
0
Dec 13, 2019
Dec 13, 2019 at 9:44 AM UTC
padam rasa
Obrolan ceria menyambut pagi Memaksaku menguap untuk terakhir kalinya Suaramu bergetar lembut melalui sambungan telepon Kau menceritakan mimpi semalam Sambil menyanyikan sebuah lagu Tak kau biarkan dunia melihatmu bersedih Walau aku tahu, Semalam tak sedikitpun kau mampu pejamkan mata Derik jangkrik bertukar dengan kicau burung Namun aku tak ingin apapun menukar dirimu Kau adalah malaikat kala mimpi burukku Kau layaknya bintang di siang hariku, Surya pada malam-malamku Kau nyanyikan sebuah lagu cinta Suaramu menghangatkan sejuknya embun Nafasmu menghidupkan diriku Memberi warna pada duniaku Membirukan langitku yang selalu hitam Memerahkan hatiku yang biru Kita akhiri percakapan hari ini Kau menutup panggilan telepon dan melanjutkan harimu Aku meresap sisa-sisa suaramu yang menggema dalam kepalaku Kubawa suara itu dalam doa-doaku Semoga suara itu masih bisa kudengar lagi nanti Semoga masih ada lagu cinta untukku
0
Sep 13, 2018
Sep 13, 2018 at 1:40 AM UTC
Lagu cinta
Nyatanya aku masih terjaga Disaat kuucapkan selamat tidur untukmu Setiap jengkal serat tubuhku tak ingin berpisah darimu Sekalipun malam telah membelaimu dengan lembut, siap sedia menyanyikan lagu tidur untukmu Aku tak rela Nyatanya aku masih bermimpi, di pagi hari kau membangunkanku Tak ingin kulepaskan genggaman tanganku Tak ingin kusudahi wajah kita yang saling menatap Takkan kubiarkan hangat tubuhmu menguap Aku tak ingin terjaga Nyatanya aku merindukan dirimu Saat aku mengurungkan niat untuk berkabar Saat amarah memberi mata pada cinta, hingga ia tak lagi buta Ketika tawa tak lagi terdengar Ketika kata tak mampu terucap Aku tak ingin berpisah Nyatanya kau tetap setia Sekalipun cintamu berlayar dalam diam Kala sumpah serapah yang membabi buta, mengawali malam kejam yang tak membiarkanmu terlelap Meskipun air mata telah menggantikan suara Dan dua surga yang tak bisa bersatu Maafkan aku
0
Sep 9, 2018
Sep 9, 2018 at 9:21 PM UTC
Nyata Kita
Jiwa yang berlalu lalang Dibawah ratusan ataupun ribuan Payung hitam yang mengembang Berlindung dari jeritan nestapa . Hanya tersisa kantuk yang menguap Di sepanjang trotoar jalan ataupun dalam kemacetan dan asap rokok yang mengepul di pinggir halte bus yang ramai tak jelas . Sesekali, seseorang akan menoleh Dari jendela mobil dan berkata "Aku tak melihat apa-apa" Lalu tenggelam dalam sinisnya Diantara bising klakson mobil Ataupun kesibukan siluet kota . Layaknya seperti papan reklame Yang terpampang nyata Dengan warna monokrom "Selamat datang bagi pendatang baru, dan Selamat tinggal."
0
May 9, 2019
May 9, 2019 at 1:38 PM UTC
Sang Makhluk Sosial.
KAMU MENGAKU CINTA AKU-Oklasasadu, yang seisi ruh berdiri melamun. Oklasasadu, yang biasanya menaruh tangan kananmu di telinga kiriku. Oklasasadu, pendek pun kali luas menguap berbisa tubuh bukan lagi ruh. Oklasasadu, mana guna jika mungkin tersisa iri, ruh ini sebagai bukti, HANYA tuhan YANG MEMBENCIKU. Tadi adalah mimpi, saat Oklasasadu terdapat sapa. Keluar masuk tanpa rasa, Oklasasadu di saat masa yang hening lagi menyapa dia. Melihat Oklasasadu sepertinya berubah mentega diantara saya. Setahuku Oklasasadu hanya benci padanya. Dia pikir Oklasasadu tidak pernah sadar, adanya dia berulah saja. Bangun siang di tengah malam, ada Oklasasadu berbunyi (a ku la mu nan mu) diulang hingga benar-benar tenang dalam dirinya. Him. Membunuh dengan halusnya empati.
0
Apr 9, 2020
Apr 9, 2020 at 12:00 PM UTC
OKLASASADU, BANGUN SIANG DI TENGAH MALAM