Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"menggantung" poems
Aku tak mengenal dirimu sebelumnya kamu tak tahu diriku tapi saat itu.. Awan abu- abu menggantung dilangit menumpahkan isinya ya hujan.. hujanlah yang mengawali pertemuan kita pertemuan yang indah hujan jadi saksi cinta kita NA.2016
0
Jul 13, 2016
Jul 13, 2016 at 6:18 PM UTC
hujan yang indah
ada bulir-bulir hujan yang lesap di kedua pipimu ada mendung yang masih menggantung di kedua bola matamu tapi, sangsikah kau akan lengkung pelangi yang akan kupasangkan di bibirmu?
0
Mar 31, 2012
Mar 31, 2012 at 12:32 AM UTC
Hujan
Aku terdiam Dalam hati kuberteriak namamu kencang Melawan rindu yang tak dapat terucap Memendam rasa yang tak dapat terungkap Menggantung asa yang tak dapat terbalas
0
Nov 25, 2017
Nov 25, 2017 at 5:30 AM UTC
Terdiam
Ahh, judul... Kuliat ia akhir-akhir ini begitu menyebalkan Begitu merangah, berusaha mencolok Aku tidak yakin dia melakukannya dengan tidak sadar Aku tahu dia menginginkan sesuatu Kuasa! Aha, itu sudah pasti kuasa Kuliat ia begitu sombong hanya karena posisinya yang sedikit diatas Memandang rendah kata-kata serumpun yang ada di bawahnya Acuh melihat titik dan koma yang baginya tak ada apa-apanya Hanya karena font yang sedikit tebal dan size yang agak besar Membuat masyarakat kata memilihnya untuk mewakili suara mereka Pun merasa tak sebanding dengan apa yang dimiliki ‘Si Congkak’ itu Kata merasa rendah, titik koma tak berdaya Dan mereka... Kalah atas kedaulatannya sendiri Padahal judul hanya tak sadar Bahwa kuasa yang dimilikinya itu bukan karena dirinya sendiri Ia lahir karena keresahan kata Yang terombang-ambing bagai kapal di ganasnya lautan Menggantung bagai kepompong, terpenjara dalam ketidaksempurnaan Melayang-layang bak daun jatuh ditiup angin, tak tentu arah Mendambakan hidup yang bahagia dan tenteram untuk merdeka Karena ketakutan kata-lah Judul hadir sebagai jawaban Agar kata dilirik pembaca Agar kata digunakan dalam ruang diskusi Agar kata hidup dalam kepala Mengakar kokoh dan menjadi abadi Judul adalah cerminan pemimpin di negeri ini Seperti kacang yang acuh pada kulit, lupa diri Bahwa dirinya ada untuk mendengar keresahan Bukannya malah menjadi dalang kerusuhan Bahwa dirinya ada untuk mengerti suara yang dimarjinalkan Bukannya malah membuang muka, lalu lantas pergi meninggalkan Lihatlah ibu yang telah melahirkan Yang terpinggirkan mengandung harapan Yang menanti dengan merapal doa disetiap malam Anak baik jadilah baik Wahai kalian yang duduk manis di kursi tahta Bangkitlah! Kata-kata dan rakyat jelata yang dipandang sebelah mata Mendengarlah! Wahai judul "Si Congkak" juga para pemimpin negeri yang berlagak sok kuasa
0
Feb 27, 2021
Feb 27, 2021 at 11:55 AM UTC
JUDULNYA ADALAH JUDUL
Ahh, judul... Kuliat ia akhir-akhir ini begitu menyebalkan Begitu merangah, berusaha mencolok Aku tidak yakin dia melakukannya dengan tidak sadar Aku tahu dia menginginkan sesuatu Kuasa! Aha, itu sudah pasti kuasa Kuliat ia begitu sombong hanya karena posisinya yang sedikit diatas Memandang rendah kata-kata serumpun yang ada di bawahnya Acuh melihat titik dan koma yang baginya tak ada apa-apanya Hanya karena font yang sedikit tebal dan size yang agak besar Membuat masyarakat kata memilihnya untuk mewakili suara mereka Pun merasa tak sebanding dengan apa yang dimiliki ‘Si Congkak’ itu Kata merasa rendah, titik koma tak berdaya Dan mereka... Kalah atas kedaulatannya sendiri Padahal judul hanya tak sadar Bahwa kuasa yang dimilikinya itu bukan karena dirinya sendiri Ia lahir karena keresahan kata Yang terombang-ambing bagai kapal di ganasnya lautan Menggantung bagai kepompong, terpenjara dalam ketidaksempurnaan Melayang-layang bak daun jatuh ditiup angin, tak tentu arah Mendambakan hidup yang bahagia dan tenteram untuk merdeka Karena ketakutan kata-lah Judul hadir sebagai jawaban Agar kata dilirik pembaca Agar kata digunakan dalam ruang diskusi Agar kata hidup dalam kepala Mengakar kokoh dan menjadi abadi Judul adalah cerminan pemimpin di negeri ini Seperti kacang yang acuh pada kulit, lupa diri Bahwa dirinya ada untuk mendengar keresahan Bukannya malah menjadi dalang kerusuhan Bahwa dirinya ada untuk mengerti suara yang dimarjinalkan Bukannya malah membuang muka, lalu lantas pergi meninggalkan Lihatlah ibu yang telah melahirkan Yang terpinggirkan mengandung harapan Yang menanti dengan merapal doa disetiap malam Anak baik jadilah baik Wahai kalian yang duduk manis di kursi tahta Bangkitlah! Kata-kata dan rakyat jelata yang dipandang sebelah mata Mendengarlah! Wahai judul "Si Congkak" juga para pemimpin negeri yang berlagak sok kuasa
Continue reading...
43
Langit sore memerah malu Saat ia menatap ketat lembayung senja Sejurus angin bertiup lembut Menggoda tiap helai rambutnya Untaian awan paham akan isi hatinya Melepaskan dahaga penikmat rindu Pelipur lara di kala sendu Tumpah ruah menghujani bumi Rintik hujan memancing senyum di bibirnya Butiran awan menggantung malas Di antara bulu matanya yang lentik Turun menyusuri sudut matanya Pipinya merona tak peduli dinginnya senja Tangannya terulur menyambut sang malam Gadis hujan yang ingin mencintai malam Malam yang menciptakan badai dari hujan
0
Apr 24, 2018
Apr 24, 2018 at 3:11 AM UTC
Gadis Hujan
Bahkan, mimpi mu itu butuh ruang. Ia lelah jika harus terus menggantung pada harap.
0
Aug 7, 2019
Aug 7, 2019 at 10:30 AM UTC
Mimpi
Sejenak kita tunda laju lalu-lalang kendaraan yang kebingungan di kota kecil yang mulai penuh sesak. Menghentikan bising suara mesin di kepala. Memejamkan mata dari keriuhan yang rumit dalam saku. Menggantung gaun-gaun yang telah lama tak kita baringkan. Barangkali kita terlalu sibuk melupakan. Terlalu berusaha menjauh dari diri sendiri. Mungkin kita ini tak pernah tersesat pada dunia yang menyesatkan siapa saja. Tersedak tawa oleh lelucon yang mencekik mimpi-mimpi. Kita terus berlari tanpa tahu arah, kebingungan dan gelisah. Seperti kereta kuda di taman bermain yang sepi pengunjung. Kita terus saja berbicara tanpa pernah merasa. Seperti suara klakson yang meraung-raung di kota yang semakin sibuk. Kita terlalu berapi-api memperdebatkan apa saja. Terus berteriak dan terbakar. Terlalu sering menertawai, tanpa tahu lelucon sesungguhnya. Tanpa tahu upacara kematian telah dipersiapkan di akhir tawa.
0
Aug 1, 2020
Aug 1, 2020 at 12:21 AM UTC
Undangan Pesta Untuk Orang-Orang Kesepian.