"menengadah" poems
Aku kerap melihat segerombolan
Anak kecil
Menengadah takjub
Pada keburukan rupa arakan
Berpuluh awan mendung.
Mereka terus menatap seolah
Tiap gumpalnya adalah punuk di punggung
Malaikat
Yang akan menghujani mereka
Dengan berpuluh hadiah kecil
Kecil
Kecil
Andai aku anak kecil
Bocah
Aku mungkin tahu apa yang
Disembunyikan
Tiap guratan murung awan itu.
Mungkin,
Aku akan dapat melihat hujan
Sebagai sesuatu yang lebih indah
Daripada isak tangis ketiadaan.
Sekarang,
Kita sudah tua
Murung lagi muram.
Akankah kita berlinang,
Dan sirna setelahnya?
Feb 8, 2016
Feb 8, 2016 at 10:06 AM UTC
Hai kamu...ya kamu...
Kucingku melihatku maju mengendus
Hmmm....kamu mau disayang kah
Kataku sambil mengelus-elus kepalanya
Errrrr....tertanda gembira
Baiklah sayang aku terus membelai
Errrrr....kepalanya menengadah
Baiklah ku cium kepalamu
Hitam warnamu tapi tak sehitam hatimu
Sungguh kau laksana anak yang baru
Mengerti sedikit, bergerak sedikit
Tidak marah atau membuat kesal
Kucingku....bicara dari hati ke hati
Mengerti mengapa aku menyayanginya
Merasakah setiap usapan dan kata2 sayangku
kepadanya....
Oct 31, 2017
Oct 31, 2017 at 11:23 PM UTC
ruang
pembatas
pendekam
membuat
kepalanya
menengadah
ke angkasa
melukiskan
seribu
tanda tanya.
Membubung ia pergi;
terbang meninggalkan pulang.
Sep 27, 2019
Sep 27, 2019 at 9:22 PM UTC
Bun,
susah sekali menjadi orang tengah.
Tahu kanan dan tahu kiri, tapi
tidak menganan, tidak mengiri.
Menengah adalah stagnan, Bun.
Menengah artinya mesti mau tahu banyak.
Menengah artinya pasrah.
Menengah dah.
Menengadah.
Meneng.
Mar 5, 2020
Mar 5, 2020 at 10:07 AM UTC
Sedari kecil, aku mendambakan sepasang sayap di belakang punggung.
Ingin aku arungi langit yang melintang dengan bebas. Ingin aku jelajahi awan yang seperti gumpalan kapas. Ingin aku miliki sepasang sayap agar anganku lepas.
Burung-burung yang mengambang melantunkan tawa bahagia. Ketika aku menengadah, pandangan mereka jatuh menimpa iris jelaga. "Kenapa kamu tidak terbang?" kicauan mereka membentuk kalimat tanya.
"Aku ingin, tapi takdir menyuruh aku menapaki tanah," timpalku sedikit berteriak.
Burung-burung tertawa, melingkari kepalaku dengan serangkai gelak. Aku termenung, menatap sayap-sayap yang terbang menjauh.
Andai aku bisa terbang, akan aku susul mereka yang mengambang. Akan aku lintasi awan sampai berlubang. Akan aku imbangi laju mereka tanpa secuil bimbang.
Sayangnya, aku tidak bisa terbang.
Aku cuma bisa menengadah, menatap biru dan biru dan biru yang membentang. Aku pandangi tirai biru sampai warnanya bergeser jadi abu.
Siang yang biru diganti malam yang kelabu. Mirip seperti mimpi-mimpi yang dengan cepat menjadi semu.
Pikirku, sedari dulu mimpiku selalu gagal bertaruh. Mungkin aku terlalu belagu? Terlalu banyak menaruh harap pada hidup?
Aku berusaha maklum, berdamai dengan gagal yang mengikuti aku seperti hantu. Namun, terbang seperti burung adalah satu-satunya mimpi yang tidak mau aku buat luruh.
Aku ingin terbang, menyapa semilir angin yang menerpa wajah. Aku ingin terbang, merangkai kapas di atas awan untuk menutup luka.
Aku ingin terbang. Aku ingin terbang. Aku ingin damai datang ketika tubuhku melayang di udara.
Maka, kepada Tuhan yang tinggalnya jauh di atas semesta, aku mohon dengan amat sangat agar aku bisa terbang.
Aku menaiki undakan, menatap gemerlap kota yang mengimitasi kawanan kunang-kunang. Kedua tangan aku rentangkan, berharap Tuhan menjahit sayap yang kilau gemilang. Aku melompat, menantang kelam yang memenuhi langit malam.
Aku terbang.
Apr 3, 2025
Apr 3, 2025 at 10:24 AM UTC