"menangisi" poems
Sifat jahat kembali lagi
Hancur hidup ku saat ini
Karena ucapan kali ini
Dan aku pun menangis
Gerah rasanya hidup ini
Aku di sini hanya lirih
Apa yang bisa aku akhiri
Bila semua takkan terakhiri
Akankah ku pergi lagi?
Diam tanpa harus bicara lagi?
Menangis di malam lagi?
Dan mendengar lagunya kembali?
Aku kangen Arlonsy lagi
Aku ingat Arlonsy lagi
Aku menangisi Arlonsy lagi
Dan aku mimpi Arlonsy lagi
Aku dengar suara dia
Aku dengar melodi dia
Aku dengar detak jantung dia
Dan aku dengar segala tentang dia
Aku menangisi dia lagi
Aku rindu dia lagi
Aku kenang dia lagi
Dan aku ingin dia kembali
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 10:19 AM UTC
Jakarta, 31 Desember 2009
Dulu aku cinta kamu
Kamu satu yang indah bagiku
Dirimu yang ku rindu dalam tidur ku
Tapi dulu…
Hanya dulu…
Entah…
Ku tak paham rasa ini
Alasan ku betapa cinta kamu
Tapi, cinta ku memang tanpa alas an
Sekarang, baying mu kabur
Cahaya mu redup
Tak tahu aku kemana mencari
Engkau berubah liar… kejam!
Tak sudi lagi air mataku
Menangisi makhluk seperti mu
Tapi memang, aku masih cinta kamu!
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 10:35 AM UTC
Hidup ku ini bukanlah permainan!
Yang bisa dimulai dan dihentikan kapan pun
Perasaan ku juga bukanlah medan perang!
Yang terus saja tertindas
Kau buat lemah!
Kau buat aku tak berdaya
Hati ku ini adalah emas
Yang apabila hilang, aku akan jatuh miskin
Miskin iman karena kehilangan arah
Miskin materi karena pikiran ku tak jalan
Aku ini bukanlah babu!
Yang selalu menuruti apa mau mu
Aku ini hanyalah pekerja lepas
Yang tak mau terkekang manghadapi mu
Aku ini hanyalah pasien rawat jalan
Meski sakit parah tapi tetap berjuan untuk hidup
Kau kira aku ini apa?
Kau membuat ku menjadi korban terparah
Aku pecundang di antara manusia
Mengapa kau tidak pergi saja dari hidup ku?
Hey, aku ini bukan papan catur 'tuk dipandangi
Aku juga bukan sarung tinju tuk menuruti mu
Lepaskan aku!
Ku mohon lepaskan aku
Aku tak ingin lagi menangisi hidup ku
Ku ingin berhenti mengasihani hidup ku
Tolong, damaikanlah hidup ku
Dec 30, 2011
Dec 30, 2011 at 11:52 AM UTC
Palembang, Kamis 10 November 2011
Siapa yang bisa disalahkan?
Ketika hasrat ku harus dikorbankan untuk menghargai orang lain
Apa yang bisa aku lakukan?
Ketika hati ini tersayat begitu dalam
Dan penuh penyesalan
Siapa yang bisa memprediksi?
Bahwa hati ku akan terus hancur setiap hari
Siapa yang bisa mengerti?
Bahwa aku menangisi mereka yang tidak ada
Siapa??
Tidak ada!
Kini ku hanya duduk terdiam
Menuliskan perasaan ku
Membanjiri wajah ku sendiri
Menahan hati yang begitu pedih
Siapa yang akan menghapus air mata ini?
Ketika tiada seorang pun di sini
Hanya tinggal sepi
Nov 10, 2011
Nov 10, 2011 at 8:05 PM UTC
Palembang, Jumat 13 Januari 2012
Aku Menangis
Terkadang aku ingin menangis
Aku tak tahu mengapa
Mungkin karena aku sedang merindukan seseorang
Ataukah aku menangis karena bahagia?
Ataukah aku menangisi hidupku saja?
Yang sangat rumit dan penuh derita?
Ataukah aku sedang merindukan keluargaku di rumah?
Aku tidak tahu
Aku yakin inilah jalanku
Aku harus tegar
Dan menunggu keajaiban datang
May 25, 2012
May 25, 2012 at 2:04 AM UTC
Mata itu membiru duka lama yang menderu
Badai dan lindu mengantar jasad tubuhku
Terbilang sudah berapa kali kau dan aku berjanji
Diantara pagi haru dan sedikit isak tangis merdu
Aku suka kala kau menangisi canda tawa
terbawa pula hawa panas diantara kata berlalu
Rapat-rapat tak ada dalam bisik-bisik mayat
Sedepak dari liang lahat berpijak,
jemari kaki peti-peti mati digusur pergi
Lelah lelaki itu bertelingkah
Membuang gelas yang telah dituang
Meracau melampau dari batas kewarasan
Disana dia merumput maut, meraut ribut
Pergi pulang membaur diantar lalu lalang kabut
Nov 16, 2016
Nov 16, 2016 at 12:39 PM UTC
pasal IV: tentang hujan yang tak kunjung reda, dan tangis yang tak kunjung berakhir.
- terkadang, ada beberapa hal yang datang, selain membawa berkah dan kebahagiaan, juga turut di dalamnya kesedihan yang berlarutlarut. seperti halnya hujan, yang datang membawa unsur kehidupan, tapi kemudian, dinginnya mengundang pilu, berusah mencari kehangatan. begitu pula dirimu, datang sekiranya membuatku bahagia walau di awal, namun akhirnya memilih pergi setelah membunuh setiap harapan baru yang tumbuh dengan tega.
- ada beberapa hal yang terjadi, namun datangnya tak dapat dihentikan, dan kepergiannya tak dapat dipaksakan, layaknya hujan ketika mentari tengah bersinar, membuat sebagian orang mendengus kesal, banyak hal rencana yang gagal. seperti halnya dirimu, ketika dirimu datang ketika ku tengah sedemikian rupa menata hati. kau datang mengambil setitik kecil potonganmu yang tertinggal, kemudian justru potongan kecil itu yang menghancurkan hati yang telah tertata rapi. hancur. kembali. lalu kau beranjak pergi, layaknya hujan badai yang reda, seolah tak terjadi apaapa.
- setelahnya, setelah sisasisa hujan pada dedaunan mengering, dan musim hujan telah berlalu, masih sesekali duakali ia datang, mebawa harapan sekilas, kemudian pergi seolah tak ingin kembali. sejenak menentramkan, meluruhkan kotoran di udara, namun tetesannyamengandung racun yang tak baik. seperti ketikamu datang tibatiba, seolaholah baikbaik saja, ternyata memang tidak ada apaapa, bukan benarbenar tidak ada, hanya saja, bukan untukku, tapi untuk dia yang lain.
- selalu ada akhir dari jutaan tetesan air yang jatuh ke bumi, dan semoga, hal itu juga berlaku pada diriku. entah kapan tangis akan reda, namun kau tetap saja berlalu, semoga kau tak lagi datang membawa harapan. maafkan keegoisanku memilih menangisi kepergianmu.
prdks.
Sep 25, 2017
Sep 25, 2017 at 8:52 AM UTC
Hancur tak selalu lebur
Jika hanya meradang
Karang yang teguh
Tak selalu gagah
Hingga masanya runtuh.
Hancur tak selalu lebur
Saat kamar kecilmu
Dijejali oleh,
Beribu-ribu partikel biru
Haru, kau nanti
Hingga mereka bereaksi
Bersenyawa,
Dengan tawa dan bahagia
Takjublah
Pada sang karang
Yang akhirnya menangisi
Kenangan
Apr 16, 2016
Apr 16, 2016 at 6:31 AM UTC
Tulisan tanganmu
Surat darimu
Membuat ku terbangun dari mimpi indah yang panjang
Kutarik simetris bibir ini
Tak sanggup
Ketika kucoba menampakkan raut bahagia
Tak bisa
Hati ini terus menjerit
Menangisi segalanya
Menerjang batas logika
Emosi seorang wanita
Jan 5, 2017
Jan 5, 2017 at 3:00 PM UTC
"Kelak kamu akan mengerti; setelah tenggelam dalam sepi lalu menangisi apa yang sudah pergi"
Jun 13, 2020
Jun 13, 2020 at 12:37 PM UTC
Nak
Ibumu lahir saat gawat ekonomi seluruh semesta
Saat gawat sebumi memikirkan nilai
Saat dunia ditimpa wabah tak ternampak
Tapi dunia masih cantik
Nak
Ibumu saksi dunia sedang gusar
Saksi pemimpinan goyah
Rebutkan yg tak pasti
Matanya buta
Telinga nya tuli
Tak terdengar rintihan kasta bawahan
Tak terpeduli dan lari meninggalkan hakiki
Ibumu tegak ditengah
Saat mereka berkelahi
Bercemuhan
Hai, ibu saksi saat mereka tak waras
Nak,
Ibumu saksi peninggalan ramai org
Mata kepala ibu melihat org rebah tak bermaya
Ibumu saksi bapak menangisi anak
Bayi lahir tak bersusu ibu
Adik pergi tak berpeluk abang
Dan
Ibumu saksi org tak bisa menjamah nasi
Bukan kerna tak upaya
Tapi kerna rakus ahli prejudis
Dan anjing ditaktor
.
.
Nak
Ibumu saksi saat propaganda dilaungkan
"Demokrasi ini adalah kita semua
Suara kamu kami dengar"
.
.
Anakku
Dengarlah
Ibumu saksi saat dunia tak adil tapi dihias indah
Ibumu saksi saat negeri kita kacau tapi dirai aman
Ibumu saksi nak...
Ibumu saksi perit itu tak cuma kehilangan
Tapi rindu yg bakal tak terubatkan
Salam yg takkan tersampaikan
Dan sebelum kau hingga ke saat itu
Harus lah kau tau
Setiap sisi kita tertanam secebis sedikit hati
Maka harus kau cari yg baik baik sentiasa
.
Kerna mmg sifat dunia begitu
Rebut yg tak pasti
Bertelinga dan tuli
Bergeliga tapi rakus
Dan punyai mata tapi buta
Dan harus kau ingat yg merbahaya sekali
Punyai iman tapi tak berTuhan
Oct 23, 2021
Oct 23, 2021 at 12:00 PM UTC
Pada gersangnya bibir, kerongkongan merengek tersedu-sedu seperti laki-laki kecil sepulang sekolah.
Seiring dengan semakin mencekamnya kantung mata yang menghitam, dan kemarau yang tak kunjung usai bersemayam pada kelopak yang lelah, gadis kecil menyandarkan jiwanya pada ayunan yang rapuh di halaman belakang rumah tua.
Di seberang persimpangan jalan, laki-laki kecil menggerutu tentang udara yang mencekik seluruh tubuhnya.
Ia menyusuri jalanan tempat orang-orang kehilangan rasa.
Terus berjalan di belakang waktu.
Waktu yang menggerogoti jiwa orang-orang di sekitarnya.
Di atas rumah pohon, di awal musim penghujan, gadis kecil bersedih.
Ia menangisi bekas luka yang tak jua sembuh.
Luka yang menghidupkan kembali ketakutannya.
Dan ketakutan yang pada akhirnya akan memenggal kakinya di akhir musim.
Musim berlalu-lalang, orang-orang datang dan pergi dengan pasti.
Tapi apakah pergi selamanya tentang menghilang?
Musim baru selalu tiba, sesekali tepat waktu, seringkali sulit terprediksi.
Seperti kedatangan dan kepergian, kapanpun ia akan mengetuk pintu kewarasan.
Aug 1, 2020
Aug 1, 2020 at 12:07 AM UTC