"memejamkan" poems
Jakarta, 1986
Wanita berambut cokelat muda sebahu itu terlihat sedang asyik mengamati asap rokok yang ia keluarkan sebelum membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya. Jalanan di Jakarta memang selalu ramai tapi tak satupun mobil-mobil yang sedang berlalu-lalang itu akan berhenti dan menghentikan apa yang akan ia lakukan setelah jam menunjukkan pukul lima pagi. Masih terngiang di kepala apa yang orang-orang katakan tentangnya selama ini.. sampah, pelacur memang tidak pantas hidup enak, ingat ya, kau itu cuma pelacur ia memejamkan mata sambil perlahan menghitung berapa kali ia telah mendengarkan cacian setiap pulang.
Jam yang berada di tangan kirinya masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, ya lima belas menit yang ia gunakan untuk akhirnya mengingat perkataan Abimanyu. Laki-laki terakhir yang memberikan segalanya, harta, kasih sayang, dan waktu tapi ia tak dapat menikmati itu semua walau sudah mencoba beribu kali aku tidak akan pernah berubah menjadi laki-laki yang sudah menyia-nyiakanmu ,kau tahu bahwa seberapapun mahalnya berlian apabila yang memakainya tidak pantas maka akan terlihat murah?, kau terlihat cantik dengan apapun, aku melakukan semua ini karena aku tak sanggup melihatmu sedih, aku akan terus mencintaimu walau kau tak akan pernah bisa membalas perasaanku yang hanya akan selalu ia balas dengan aku sudah tak percaya cinta atau aku sudah tak punya hati hatinya telah membeku dicabik-cabik sejak dulu, sebelum bertemu Abimanyu. Air mata perlahan mengalir dari mata yang tertutup itu, lima menit lagi batinnya sebelum mengusap air mata yang sudah membasah pipi dan meluruskan gaun putih rancangan desainer terkenal yang diberikan sebagai hadiah untuknya tak dipungkiri gaun itu bernilai lebih dari penghasilannya selama satu bulan namun apalah arti uang disini?
Ia kembali melirik jam yang sekarang menunjukkan dua menit sebelum pukul lima, diatas jembatan layang itu masih ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan. Tenanglah tak akan ada yang mampu menyelamatkanmu.
Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, tanpa berpikir panjang ia melepas pegangannya dari pagar yang menopang tubuh dan terjun bebas tanpa ada perlawanan terhadap gravitasi.
Tak semua bidadari hidup bahagia di surga
Mar 5, 2016
Mar 5, 2016 at 7:57 AM UTC
Gadis itu pulang dengan kepingan jiwanya
Berusaha untuk menahan segala rasa sakit
Semua ia simpan rapat-rapat walau tersirat dari matanya
Ia menghempaskan badan diatas tempat tidur
Sambil sesekali memijat keningnya, berharap rasa sakit tak akan hinggap kesana.
Lalu ia berusaha tak mengingat-ingat semuanya
Berharap entah bagaimana caranya agar ia mematikan perasaannya
Dalam hati ia bertanya "kapan terakhir kali kau bahagia?"
Tak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan itu
Ia hanya menatap langit-langit kamar sambil tersenyum pahit.
"Yah, begitulah realita hidupmu. Tersiksa karena jatuh berkali-kali untuk orang yang salah"
Otaknya berbicara pada hati yang masih kukuh membela perasaan yang ia punya
Ia tak bisa lagi menampik bahwa kepala dan hatinya setelah ini tak akan pernah ada di kubu yang sama
Karena kelalaian hatinya lah ia berada disini sehingga logika menghukum hati itu, menutup pintunya rapat-rapat dan menenggelamkan kuncinya kedalam samudera pemikirannya.
Suara hujan mengiringi gadis itu
Tak terasa satu demi satu tetes air mata mengalir
Ia hanya bisa memejamkan mata dan berkata
"Aku sudah tak punya hati lagi"
Dec 14, 2015
Dec 14, 2015 at 7:09 AM UTC
Malam itu lampu indah kelap-kelip
Jemari kita saling bertautan
Kau yang paling indah malam itu
Menebar semburat warna-warni di mataku
Genggamanmu hangat padaku
Daya pikatmu menciptakan ilusi
Kau, semerbak tubuhmu, warna-warni lampu
Perpaduan yang sempurna! Aku terlena
Kau menuntunku ke karnaval ini
Tempat yang indah dengan sejuta rasa
Di mana seorang pencuri hatinya telah dicuri
Seorang yatim piatu mendapatkan saudaranya
Apakah ini nyata?
Karena kau menciptakan
bumi berbentuk apel
Yang hanya menumbuhkan apel
Untuk kita berdua
Sungguh luar biasa, inikah rasanya karnaval?
Mari kita nikmati, kau berbisik
Menyuruhku memejamkan mata
Kuikut saja, penasaran di mana aku terbangun nanti
Sep 5, 2017
Sep 5, 2017 at 8:59 AM UTC
Bisakah kau lihat warna-warni hujan
Seperti kau melihat warna dalam suara
Bisikkan padaku warna langit
Karena langitku selalu hijau abu-abu
Bisakah kau melihat wajahku
Seperti aku bisa merasakan hela nafasmu
Bisikkan padaku warna dunia
Saat bibirmu menemukan tempatnya
Karena kau menyuruhku memejamkan mata
Bisakah kau melihat warna debu
Dari setiap omong kosong yang kau bakar
Bisikkan padaku warna hatimu
Karena milikku sewarna bara arang
Bisakah kau melihat warna malam
Tirai megah pentas hidupku
Kali ini biar kubisikkan padamu
Warna yang lebih gelap dari hitam
Dec 17, 2017
Dec 17, 2017 at 4:48 AM UTC
Sejenak kita tunda laju lalu-lalang kendaraan yang kebingungan di kota kecil yang mulai penuh sesak.
Menghentikan bising suara mesin di kepala.
Memejamkan mata dari keriuhan yang rumit dalam saku.
Menggantung gaun-gaun yang telah lama tak kita baringkan.
Barangkali kita terlalu sibuk melupakan.
Terlalu berusaha menjauh dari diri sendiri.
Mungkin kita ini tak pernah tersesat pada dunia yang menyesatkan siapa saja.
Tersedak tawa oleh lelucon yang mencekik mimpi-mimpi.
Kita terus berlari tanpa tahu arah, kebingungan dan gelisah.
Seperti kereta kuda di taman bermain yang sepi pengunjung.
Kita terus saja berbicara tanpa pernah merasa.
Seperti suara klakson yang meraung-raung di kota yang semakin sibuk.
Kita terlalu berapi-api memperdebatkan apa saja.
Terus berteriak dan terbakar.
Terlalu sering menertawai, tanpa tahu lelucon sesungguhnya.
Tanpa tahu upacara kematian telah dipersiapkan di akhir tawa.
Aug 1, 2020
Aug 1, 2020 at 12:21 AM UTC